PUSTAHA • KESEHATAN

Dampak Asap Karhutla terhadap Kesehatan: Kemenkes Catat 13.449 Kasus ISPA di Wilayah Terdampak

Kementerian Kesehatan mencatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif dari 63 kabupaten/kota di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Paparan asap dan partikulat halus menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Dipublikasikan 6 September 2026 • Armando Sinaga
Dampak Asap Karhutla terhadap Kesehatan: Kemenkes Catat 13.449 Kasus ISPA di Wilayah Terdampak

Dampak kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Data Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan pada 6 September 2026 mencatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla. PUSTAHA menelusuri apa arti angka tersebut, bagaimana asap dapat memengaruhi saluran pernapasan, kelompok yang paling rentan, serta langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat.

Karhutla Bukan Hanya Persoalan Hutan yang Terbakar

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan pada Minggu, 6 September 2026 mempublikasikan pembahasan mengenai kesiapan menghadapi dampak kesehatan karhutla.

Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026 yang dikutip dalam publikasi tersebut, karhutla berdampak terhadap 10.674.201 penduduk di tujuh provinsi.

Pada tanggal yang sama tercatat 4.082 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sehingga jumlah yang dilaporkan secara kumulatif mencapai 13.449 kasus dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.

Angka tersebut perlu dibaca dengan tepat.

13.449 bukan jumlah kasus baru pada 6 September 2026, melainkan angka kumulatif dalam Situation Report Kementerian Kesehatan hingga 27 Agustus yang kemudian dipublikasikan BKPK pada 6 September 2026.

Perbedaan tanggal kejadian, periode pengumpulan data dan tanggal publikasi menjadi penting agar angka kesehatan tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.

Lebih dari 10 Juta Penduduk Terdampak

Jumlah penduduk terdampak yang mencapai lebih dari 10 juta menunjukkan bahwa konsekuensi karhutla tidak hanya berada di lokasi tempat api membakar vegetasi atau lahan.

Asap dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin.

Artinya, seseorang tidak harus berada tepat di dekat titik kebakaran untuk mengalami penurunan kualitas udara.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat menempuh jarak sangat jauh dan membawa campuran partikulat serta berbagai polutan udara.

Karena itu, dampak kesehatan karhutla dapat meluas jauh melampaui kawasan yang secara langsung mengalami kebakaran.

Apa yang Sebenarnya Ada di Dalam Asap Kebakaran?

Asap kebakaran bukan hanya kumpulan asap yang menghalangi pandangan.

WHO menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat mengandung campuran kompleks berbagai polutan, termasuk:

  • particulate matter atau partikulat,
  • PM10,
  • PM2.5,
  • partikel ultrahalus,
  • nitrogen dioksida,
  • sulfur dioksida,
  • ozon,
  • berbagai polutan udara berbahaya,
  • serta senyawa lain yang bergantung pada material yang terbakar.

Salah satu komponen yang menjadi perhatian utama dalam kesehatan masyarakat adalah PM2.5.

PM2.5 merupakan partikulat dengan diameter sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Ukurannya sangat kecil sehingga partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. WHO juga menjelaskan bahwa partikulat halus dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan sebagian dapat memasuki aliran darah.

Itulah sebabnya kualitas udara tidak dapat dinilai hanya berdasarkan apakah asap terlihat tebal atau tidak.

Udara yang tampak lebih jernih belum tentu berarti konsentrasi partikulat telah berada pada tingkat yang aman.

Mengapa PM2.5 Menjadi Perhatian?

WHO menyebut partikulat sebagai ancaman kesehatan masyarakat utama dalam asap kebakaran.

Paparan partikulat dapat memberikan dampak pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.

Dalam jangka pendek, paparan asap kebakaran dapat berhubungan dengan berbagai keluhan seperti:

  • iritasi mata,
  • iritasi hidung dan tenggorokan,
  • batuk,
  • mengi,
  • sakit kepala,
  • kesulitan bernapas atau sesak,
  • serta memburuknya gejala penyakit pernapasan yang sudah dimiliki seseorang.

Pada kondisi tertentu, paparan juga dapat berkaitan dengan efek yang lebih serius pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.

Karena itu, persoalan kesehatan akibat asap tidak hanya terbatas pada ISPA.

Lalu Apa Itu ISPA?

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut.

Istilah tersebut mencakup kelompok infeksi akut yang menyerang bagian saluran pernapasan.

Namun ada satu hal yang perlu diluruskan.

Paparan asap tidak berarti setiap orang yang menghirup asap otomatis mengalami ISPA.

Asap dan polusi udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan serta memperburuk penyakit pernapasan yang telah ada. Dalam kondisi populasi yang terpapar, peningkatan gangguan pernapasan menjadi salah satu hal yang perlu diawasi oleh sistem kesehatan.

Karena itu, angka 13.449 kasus yang dilaporkan Kementerian Kesehatan sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pemantauan dampak kesehatan di wilayah terdampak karhutla, bukan sebagai bukti bahwa setiap kasus tersebut dapat ditelusuri secara individual hanya kepada satu sumber paparan.

Ini penting agar hubungan antara polusi udara dan penyakit tidak disederhanakan secara berlebihan.

Siapa yang Lebih Rentan terhadap Asap?

Asap kebakaran dapat memengaruhi siapa saja, tetapi tingkat risikonya tidak sama.

WHO memasukkan beberapa kelompok sebagai populasi yang membutuhkan perhatian lebih besar, antara lain:

  • anak-anak,
  • lansia,
  • ibu hamil,
  • orang dengan penyakit paru,
  • orang dengan penyakit jantung,
  • pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,
  • serta orang yang berada lebih dekat dengan kawasan kebakaran.

Anak-anak menjadi perhatian karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang.

Mereka juga dapat menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya dan sering memiliki aktivitas fisik lebih tinggi.

Sementara pada lansia, kemampuan fisiologis tubuh dapat menurun dan prevalensi penyakit jantung maupun paru kronis lebih tinggi.

Orang dengan asma atau penyakit paru kronis juga dapat mengalami perburukan gejala ketika terpapar asap.

Jangan Tunggu Langit Menjadi Gelap

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi ketika menghadapi kabut asap adalah menggunakan penglihatan atau penciuman sebagai satu-satunya indikator.

Jika langit terlihat biru, seseorang mungkin menganggap udara telah aman.

Padahal PM2.5 tidak dapat dilihat satu per satu dengan mata manusia.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang sedang mengalami masalah kualitas udara sebaiknya memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara dan konsentrasi partikulat.

Pemantauan seperti ini menjadi semakin penting bagi orang yang memiliki penyakit pernapasan, penyakit jantung atau anggota keluarga yang termasuk kelompok rentan.

Bagaimana Mengurangi Paparan Asap?

Ketika kualitas udara memburuk, tujuan utama bukan membuat masyarakat panik, tetapi mengurangi jumlah polutan yang terhirup.

Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya memantau kualitas udara, mengurangi paparan dan mengikuti informasi resmi.

WHO juga menganjurkan masyarakat mengikuti pembaruan dan rekomendasi dari otoritas setempat.

Jika asap sedang berat, aktivitas fisik luar ruangan yang tidak diperlukan dapat dikurangi, terutama bagi kelompok rentan.

Semakin berat aktivitas seseorang, semakin banyak udara yang dihirup. Akibatnya, jumlah polutan yang masuk ke sistem pernapasan juga dapat meningkat.

Karena itu, berolahraga berat di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk bukan pilihan yang ideal.

Bagaimana dengan Masker?

Masker juga perlu dipahami berdasarkan fungsi dan jenisnya.

Partikel PM2.5 sangat kecil.

Untuk situasi asap kebakaran, CDC Amerika Serikat merekomendasikan respirator yang terpasang dengan baik seperti N95 yang memenuhi standar terkait apabila seseorang harus berada di luar ketika terjadi paparan asap.

Namun efektivitas respirator sangat bergantung pada kecocokan dan cara penggunaannya.

Masker yang longgar atau tidak menutup hidung dan mulut dengan baik tidak memberikan perlindungan yang sama dengan respirator yang dipasang secara tepat.

Masker juga bukan alasan untuk tetap melakukan aktivitas luar ruangan yang sebenarnya dapat ditunda ketika kualitas udara sedang sangat buruk.

Mengurangi paparan tetap menjadi langkah penting.

Menjaga Udara di Dalam Ruangan

Berada di dalam bangunan dapat membantu mengurangi paparan apabila udara di dalam ruangan dijaga agar tidak banyak terkontaminasi asap dari luar.

CDC menyarankan, ketika asap kebakaran berat, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya asap.

Jika tersedia, pembersih udara dengan filter yang sesuai seperti HEPA dapat membantu mengurangi partikulat di dalam ruangan.

Pada bangunan dengan sistem pendingin atau ventilasi tertentu, penggunaan mode resirkulasi dapat membantu mengurangi masuknya udara luar ketika kondisi di luar sedang buruk, sepanjang penggunaannya sesuai dengan sistem yang dimiliki.

Aktivitas yang menghasilkan partikulat tambahan di dalam rumah juga sebaiknya dikurangi.

Tujuannya sederhana: ketika udara luar sudah tercemar, jangan menambah beban polusi di ruang tempat keluarga berlindung.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Tidak semua orang yang terpapar asap membutuhkan perawatan rumah sakit.

Namun beberapa gejala tidak sebaiknya diabaikan.

Seseorang perlu mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan yang berat atau memburuk, terutama bila memiliki penyakit jantung atau paru sebelumnya.

Keluhan seperti kesulitan bernapas, sesak yang memburuk, nyeri dada atau kondisi lain yang terasa berat membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.

Untuk penderita penyakit kronis, rencana pengobatan yang telah diberikan dokter tetap perlu diikuti.

Artikel kesehatan di internet, termasuk PUSTAHA, tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis individual.

Kemenkes Siapkan Puskesmas hingga Rumah Sakit Rujukan

Besarnya jumlah penduduk yang berpotensi terpapar juga membutuhkan kesiapan fasilitas kesehatan.

Berdasarkan publikasi BKPK Kementerian Kesehatan, hingga 27 Agustus 2026 sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi di tujuh provinsi terdampak.

Kementerian Kesehatan juga mencatat kesiapan:

  • 1.691 puskesmas,
  • 360 rumah sakit rujukan,
  • dan 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas).

Kesiapan tersebut penting karena dampak kesehatan karhutla tidak hanya ditangani setelah pasien datang.

Pemantauan penyakit, komunikasi risiko, kesiapan obat dan logistik serta perlindungan kelompok rentan merupakan bagian dari respons kesehatan masyarakat.

Dari Menunggu Orang Sakit Menjadi Mencegah Paparan

Ada pesan penting dalam publikasi BKPK Kementerian Kesehatan.

Respons karhutla tidak seharusnya dimulai ketika jumlah masyarakat yang sakit sudah meningkat.

Risiko dapat dipantau lebih awal melalui kombinasi berbagai informasi seperti:

hotspot → cuaca → arah angin → kualitas udara → jumlah penduduk terpapar → surveilans penyakit.

Informasi tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi peringatan kesehatan dan tindakan perlindungan.

Misalnya, jika kualitas udara mulai memburuk, masyarakat tidak hanya membutuhkan angka PM2.5.

Mereka juga perlu mengetahui apa arti angka tersebut dan apa yang harus dilakukan.

Sekolah dapat menyesuaikan aktivitas luar ruangan.

Tempat kerja dapat mempertimbangkan perlindungan bagi pekerja lapangan.

Fasilitas kesehatan dapat meningkatkan kesiapsiagaan.

Kelompok rentan dapat mengurangi paparan lebih awal.

Dengan pendekatan tersebut, sistem kesehatan bergerak dari sekadar merawat dampak menjadi mencegah dampak.

Karhutla Adalah Persoalan Kesehatan Masyarakat

Ketika hutan atau lahan terbakar, ukuran kerusakan sering dibicarakan dalam hektare.

Angka tersebut memang penting.

Namun dari perspektif kesehatan masyarakat, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

Berapa banyak manusia yang menghirup udara tercemar?

Berapa anak yang aktivitasnya harus dibatasi?

Berapa pekerja yang tetap harus berada di luar ruangan?

Berapa penderita asma yang mengalami perburukan gejala?

Dan seberapa siap fasilitas kesehatan menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan?

Perspektif tersebut mengubah cara melihat karhutla.

Mencegah kebakaran bukan hanya tindakan perlindungan lingkungan. Pencegahan karhutla juga merupakan tindakan perlindungan kesehatan.

Asap Dapat Melintasi Batas Wilayah

WHO menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat bergerak sangat jauh dari sumbernya dan memengaruhi kualitas udara di wilayah lain.

Fenomena tersebut terlihat relevan dengan perkembangan kualitas udara di kawasan Asia Tenggara pada awal September 2026.

Sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan mengalami persoalan kualitas udara, sementara Singapura juga meningkatkan pemantauan terhadap kabut asap lintas batas.

Namun PUSTAHA menekankan bahwa hubungan sebab-akibat untuk setiap lokasi tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan kemunculan asap atau tingginya PM2.5 pada waktu yang bersamaan.

Untuk mengetahui sumber dan pergerakan polusi dibutuhkan kombinasi data hotspot, citra satelit, plume asap, arah angin dan kondisi meteorologi.

Dalam kesehatan masyarakat, yang paling penting bagi masyarakat yang sedang terpapar adalah mengetahui kualitas udara di lokasinya dan mengambil tindakan perlindungan yang sesuai.

Catatan PUSTAHA

Angka 13.449 kasus ISPA menjadi perhatian, tetapi angka tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang benar.

Angka itu merupakan jumlah kumulatif kasus yang dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan hingga 27 Agustus 2026, sebagaimana dipublikasikan BKPK Kemenkes pada 6 September.

PUSTAHA tidak menyimpulkan bahwa seluruh kasus tersebut semata-mata disebabkan oleh asap karhutla.

Yang dapat dikatakan berdasarkan sumber kesehatan adalah bahwa paparan asap dan PM2.5 merupakan risiko kesehatan yang nyata, terutama terhadap sistem pernapasan dan kardiovaskular, dan dapat memperburuk kondisi kesehatan tertentu.

Perbedaan ini penting.

Data kesehatan harus digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan untuk menciptakan ketakutan.

Karhutla memang terlihat sebagai api dan asap.

Tetapi dampaknya akhirnya kembali kepada sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia: udara yang masuk ke paru-paru setiap kali kita bernapas.

Karena itu, keberhasilan menghadapi karhutla tidak cukup diukur dari berapa cepat api dipadamkan.

Keberhasilan juga perlu dilihat dari seberapa cepat masyarakat mendapat peringatan, seberapa sedikit paparan yang terjadi, seberapa baik kelompok rentan terlindungi, dan seberapa siap sistem kesehatan mencegah masyarakat jatuh sakit.

Informasi dalam artikel ini diperiksa hingga 6 September 2026. Data kasus dapat berubah mengikuti pembaruan resmi Kementerian Kesehatan dan instansi terkait.

Sumber & Referensi

  1. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Kementerian Kesehatan Republik IndonesiaKarhutla di Indonesia: Saat Asap Datang, Kita Siap, diterbitkan 6 September 2026. Data Situation Report Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026 mengenai penduduk terdampak, kasus ISPA, tenaga kesehatan dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

  2. World Health Organization (WHO)Wildfires, pembaruan 31 Juli 2026. Rujukan mengenai kandungan asap kebakaran, PM2.5, dampak kesehatan dan kelompok masyarakat yang lebih rentan.

  3. World Health Organization (WHO)Air Quality, Energy and Health: Types of Pollutants. Rujukan mengenai partikulat PM10 dan PM2.5 serta dampaknya terhadap sistem pernapasan dan kardiovaskular.

  4. World Health Organization (WHO)Public Health Advice During Wildfires. Panduan mengenai pengurangan paparan dan perlindungan kesehatan ketika terjadi asap kebakaran.

  5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC)How Wildfire Smoke Affects Your Body dan Safety Guidelines: Wildfires and Wildfire Smoke. Rujukan mengenai gejala akibat paparan asap, pengurangan paparan di dalam ruangan dan penggunaan respirator.

Catatan kesehatan: Informasi dalam artikel ini ditujukan untuk edukasi dan informasi umum, bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dengan dokter maupun tenaga kesehatan. Jika mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, atau kondisi kesehatan yang memburuk selama paparan asap, segera cari pertolongan medis.

Catatan PUSTAHA

Informasi kesehatan di PUSTAHA disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi umum, bukan sebagai pengganti diagnosis, pemeriksaan, atau saran langsung dari tenaga kesehatan profesional.

Dampak Asap Karhutla: Kemenkes Catat 13.449 Kasus ISPA | PUSTAHA