PUSTAHA CATATAN

Jejak Sejarah Batak — Catatan #008: Barusai dalam Geographia Ptolemy Abad II, Benarkah Jejak Barus yang Lebih Tua?

Sekitar abad II Masehi, Claudius Ptolemaeus menyusun Geographia, sebuah karya besar yang merangkum pengetahuan geografis dunia kuno. Di dalam tradisi teksnya muncul nama Barusai, yang kemudian pernah dihubungkan sejumlah peneliti dengan Barus di pantai barat Sumatra. Jika identifikasi itu benar, jejak nama yang berkaitan dengan Barus dapat mundur hampir empat abad dari sumber Tiongkok abad VI–VII dan lebih dari seribu tahun sebelum Pa-t’a dalam Catatan #001. Catatan #008 menelusuri apa yang sebenarnya ditulis Ptolemy, di mana Barusai ditempatkan dalam geografi kuno, siapa yang menghubungkannya dengan Barus, apa dasar argumennya, serta apakah identifikasi tersebut cukup kuat atau justru harus tetap dianggap sebagai hipotesis.

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul Jejak Sejarah Batak — Catatan #008: Barusai dalam Geographia Ptolemy Abad II, Benarkah Jejak Barus yang Lebih Tua?

JEJAK SEJARAH BATAK

Catatan #008 — Barousai dalam Geographia Ptolemy Abad II, Benarkah Jejak Barus yang Lebih Tua?

Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga


Dari Abad VI Kembali Menuju Abad II

Catatan #007 membawa Jejak Sejarah Batak kepada sumber Tiongkok abad VI–VII.

Nama dan istilah seperti:

P'o-lü

dan

P'o-lu-shih

telah dihubungkan oleh sejumlah peneliti dengan Barus dan perdagangan kamper.

Tetapi penelusuran tidak berhenti di sana.

Beberapa penelitian mengenai sejarah awal Barus menunjuk kepada sebuah sumber yang sekitar empat abad lebih tua:

Claudius Ptolemaeus — Ptolemy.

Ia hidup pada abad II Masehi dan menyusun sebuah karya geografis besar yang sekarang dikenal sebagai:

Geographia

atau

Geōgraphikḕ Hyphḗgēsis.

Dalam karya tersebut terdapat sebuah nama yang kemudian menarik perhatian para peneliti sejarah Sumatra:

BAROUSAI

Nama tersebut kadang-kadang ditulis dalam literatur modern sebagai:

Barusai

atau

Baroussai.

Kemiripannya dengan nama:

Barus

memang sangat menarik.

Tetapi Catatan #008 menemukan sesuatu yang harus diluruskan sejak awal:

Ptolemy tidak secara eksplisit menulis bahwa Barousai adalah Kota Barus di pantai barat Sumatra.

Bahkan yang ditulisnya bukan sebuah kota.

Yang muncul dalam sumber adalah:

lima pulau Barousai.


Siapa Ptolemy?

Claudius Ptolemaeus merupakan seorang astronom, matematikawan dan ahli geografi yang bekerja di lingkungan Alexandria pada masa Kekaisaran Romawi.

Ia hidup kira-kira pada abad II Masehi.

Karyanya Geographia berusaha menyusun dunia yang diketahui melalui daftar:

  • negeri;
  • kota;
  • sungai;
  • pegunungan;
  • tanjung;
  • pulau;
  • serta koordinat geografis.

Ptolemy tidak mengunjungi sendiri seluruh tempat yang dicatatnya.

Informasi geografisnya dibangun dari pengetahuan yang telah beredar sebelumnya.

Ia menggunakan:

  • laporan perjalanan;
  • informasi pedagang;
  • tradisi geografis Yunani-Romawi;
  • perhitungan jarak;
  • serta sumber yang lebih tua.

Karena itu keberadaan suatu nama dalam Geographia tidak berarti Ptolemy sendiri pernah mengunjungi tempat tersebut.


Dunia Asia Tenggara dalam Geographia

Ptolemy mengenal sebuah kawasan yang disebut:

Chryse Chersonesos

atau:

Golden Chersonese — Semenanjung Emas.

Identifikasi tradisional menghubungkannya terutama dengan Semenanjung Melayu.

Lebih jauh ke timur dan selatan terdapat berbagai pulau dan nama geografis yang telah lama menjadi bahan perdebatan.

Salah satunya adalah:

Iabadiou / Iabadiou nesos.

Nama tersebut sering dihubungkan dengan:

Yavadvipa

dan kemudian dengan Jawa atau bagian dari dunia kepulauan Indonesia.

Dalam perjalanan geografis menuju Iabadiou, Ptolemy menyebut beberapa kelompok pulau.

Di antara nama-nama tersebut terdapat:

Barousai.


Apa yang Sebenarnya Ditulis?

Dalam Geographia, Buku VII, Bab 2, bagian 28, terdapat keterangan mengenai:

lima pulau Barousai.

Ptolemy juga menyebut kelompok pulau lain dalam lingkungan geografis tersebut.

Dalam tradisi teksnya, Barousai dikaitkan dengan masyarakat yang disebut:

anthropophagoi

atau:

pemakan manusia.

Jane Drakard merangkum sumber tersebut dengan menyatakan bahwa Ptolemy menyebut:

lima Barousai Islands

serta kepulauan lain yang dilewati menuju Iabadiou.

Ini penting karena dalam beberapa tulisan populer informasi tersebut berubah menjadi:

“Ptolemy mencatat pelabuhan Barus pada abad II.”

Setelah sumber diperiksa, formulasi tersebut terlalu pasti.

Yang lebih tepat adalah:

Ptolemy mencatat lima pulau bernama Barousai; sejumlah peneliti kemudian menghubungkan nama tersebut dengan kawasan Barus di Sumatra.

Perbedaannya sangat besar.


Barousai Bukan Sebuah Bandar dalam Teks Ptolemy

Hal ini harus dicatat secara khusus.

Ptolemy tidak menulis:

“pelabuhan Barus.”

Ia tidak menulis:

“kota Barus.”

Ia tidak menulis:

“kerajaan Barus.”

Dan tentu saja ia tidak menulis:

“negeri Batak.”

Objek geografis yang terdapat dalam sumber adalah:

LIMA PULAU BAROUSAI

Identifikasi dengan Barus muncul dari penelitian kemudian.

Karena itu Jejak Sejarah Batak tidak akan mengubah interpretasi modern menjadi kalimat Ptolemy.


Mengapa Kemudian Dihubungkan dengan Barus?

Alasan pertama sangat jelas:

kemiripan nama.

Barousai.

Barus.

Keduanya mempunyai kemiripan fonetik yang sulit diabaikan.

Tetapi kemiripan nama saja tidak cukup.

Para peneliti kemudian mencoba membandingkannya dengan:

  • posisi geografis;
  • sumber India;
  • sumber Tiongkok;
  • tradisi perdagangan Sumatra;
  • serta nama Barus yang muncul kemudian.

Dari sinilah lahir hipotesis:

Barousai → Barus.


N.J. Krom Mendukung Hubungan tersebut

Sejarawan dan arkeolog N.J. Krom termasuk peneliti yang menghubungkan Barousai dengan kawasan Barus.

Jane Drakard mencatat bahwa Krom dan kemudian O.W. Wolters sama-sama menghubungkan:

Barousai Islands

dengan kawasan yang kemudian dikenal sebagai:

Barus.

Krom juga harus menghadapi persoalan yang sangat jelas:

Ptolemy berbicara tentang pulau-pulau, sedangkan Barus berada di daratan Sumatra.

Menurut penjelasan yang dirangkum Drakard, Krom tidak menganggap perbedaan tersebut fatal.

Ia berpendapat bahwa pengetahuan pelaut kuno mengenai geografi kawasan tersebut dapat sangat tidak sempurna.

Wilayah pesisir dan pulau-pulau di sekitarnya dapat dipahami secara keliru sebagai kumpulan pulau.


O.W. Wolters Juga Menghubungkannya dengan Barus

O.W. Wolters memberikan dukungan penting terhadap identifikasi tersebut dalam penelitiannya mengenai perdagangan awal Indonesia.

Ia menulis bahwa:

Barousai

jelas mempunyai hubungan dengan toponim:

Barus

di bagian utara Sumatra.

Wolters menempatkan berita Ptolemy dalam konteks hubungan dagang awal antara India dan kepulauan Asia Tenggara.

Menurut rekonstruksinya, Iabadiou kemungkinan berasal dari bentuk Prakrit/Sanskerta yang berhubungan dengan Yavadvipa.

Dalam kerangka perjalanan tersebut, para pedagang menuju kawasan Indonesia melewati kelompok-kelompok pulau yang dikenal Ptolemy.

Salah satunya adalah:

Barousai.

Dengan demikian Wolters melihat kemiripan nama tersebut bukan sebagai kebetulan semata.


Ada Kandidat Pulau Nyata di Depan Pantai Barat Sumatra

Jika Barousai berhubungan dengan kawasan Barus, muncul pertanyaan:

mengapa Ptolemy menyebutnya lima pulau?

Pantai barat Sumatra memang berhadapan dengan banyak pulau.

Di sebelah barat dan barat laut kawasan Barus terdapat berbagai gugusan pulau.

Karena itu sejumlah rekonstruksi modern mencoba menghubungkan Barousai dengan pulau-pulau di lepas pantai barat Sumatra.

Dalam penelitian yang lebih baru bahkan pernah diajukan kemungkinan bahwa lima Barousai berkaitan dengan Kepulauan Banyak, yang secara geografis berada di lepas pantai barat bagian utara Sumatra.

Tetapi identifikasi seperti ini tetap merupakan:

rekonstruksi modern.

Ptolemy sendiri tidak menulis “Kepulauan Banyak”.


Tetapi Kemudian Datang Bantahan

Di sinilah Catatan #008 menjadi lebih menarik.

Tidak semua peneliti menerima:

Barousai = Barus.

Salah satu bantahan yang cukup serius datang dari:

W.J. van der Meulen.

Dalam kajiannya mengenai geografi Ptolemy di Asia Tenggara, Van der Meulen membahas secara langsung identifikasi yang digunakan Wolters.

Ia mengakui bahwa:

kemiripan bunyi Barousai dan Barus memang dapat menjadi petunjuk.

Tetapi menurutnya terdapat masalah besar:

POSISI GEOGRAFISNYA TIDAK COCOK.


Masalah Posisi Barousai

Van der Meulen mencoba merekonstruksi susunan geografis Ptolemy dengan memperhatikan posisi relatif berbagai pulau.

Menurut analisisnya, posisi Barousai terhadap:

  • Fortuna Island;
  • Maniolai;
  • dan kelompok pulau lainnya,

tidak cocok jika Barousai langsung ditempatkan di Barus.

Menurutnya, posisi tersebut akan menjadi:

terlalu jauh ke selatan

untuk identifikasi Barus.

Dengan kata lain:

nama memang mirip, tetapi petanya bermasalah.

Ini adalah bantahan yang tidak boleh diabaikan.


Van der Meulen Menawarkan Kemungkinan Lain

Van der Meulen kemudian memperhatikan kemungkinan hubungan Barousai dengan kata Sanskerta yang secara bunyi mendekati nama tersebut.

Ia membahas bentuk yang mempunyai arti seperti:

kasar, keras, atau berbonggol.

Ia membandingkannya dengan kata Melayu yang berkaitan dengan:

bangka/bangkar.

Dari sini terbuka kemungkinan bahwa Barousai mungkin tidak berhubungan dengan Barus sama sekali.

Catatan #008 belum menganggap interpretasi Van der Meulen sebagai jawaban akhir.

Tetapi keberadaannya cukup untuk menggugurkan pernyataan:

“Barousai pasti Barus.”

Status yang lebih tepat adalah:

IDENTIFIKASI DIPERDEBATKAN.


Bahkan Peta Ptolemy Sendiri Harus Digunakan dengan Hati-hati

Ada masalah lain.

Geografi Ptolemy bukan peta satelit.

Koordinat dan bentuk wilayahnya mengandung distorsi besar.

Informasi perjalanan dapat diubah menjadi:

  • garis pantai;
  • tanjung;
  • pulau;
  • teluk;
  • atau jarak geografis

yang tidak selalu sesuai dengan bentuk dunia sebenarnya.

Penelitian W.J. van der Meulen terhadap Asia Tenggara Ptolemy menunjukkan betapa sulitnya mengubah struktur geografis tersebut langsung menjadi peta modern.

Karena itu dua kesalahan harus dihindari sekaligus.

Pertama:

jangan mengabaikan geografi Ptolemy hanya karena tidak sesuai dengan peta modern.

Kedua:

jangan memindahkan nama Ptolemy ke peta modern hanya berdasarkan kemiripan bunyi.


Cerita Kanibalisme Muncul Lagi

Sekarang kita sampai pada bagian yang sangat relevan dengan Jejak Sejarah Batak.

Ptolemy mengatakan bahwa Barousai dihuni oleh:

anthropophagoi — pemakan manusia.

Ini berarti cerita mengenai masyarakat pemakan manusia di kawasan yang mungkin berhubungan dengan Sumatra sudah beredar dalam tradisi geografis Mediterania sekitar abad II Masehi.

Cerita ini jauh lebih tua daripada:

  • sumber Arab abad IX;
  • Marco Polo pada 1292;
  • dan laporan Eropa kemudian mengenai masyarakat Batak.

Tidak mengherankan apabila sejumlah peneliti kemudian memperhatikan kesamaan tersebut.


Apakah Anthropophagoi Itu Batak?

Jane Drakard mencatat bahwa cerita kanibalisme Ptolemy pernah dibandingkan dengan reputasi kanibalisme yang kemudian dilekatkan kepada masyarakat Batak di Sumatra bagian utara.

Kesamaan tersebut digunakan sebagai salah satu argumen tambahan untuk menempatkan Barousai di kawasan utara Sumatra, mungkin sekitar Barus.

Tetapi untuk penelitian kita:

ARGUMEN INI TIDAK CUKUP.

Mengapa?

Karena cerita tentang kanibalisme terdapat dalam banyak tradisi geografis kuno.

Masyarakat yang berada di pinggiran dunia yang dikenal sering digambarkan sebagai:

  • liar;
  • aneh;
  • tanpa hukum;
  • atau pemakan manusia.

Karena itu kesamaan cerita tidak membuktikan kesamaan etnis.


Kita Tidak Akan Menulis “Batak Abad II”

Tidak ada kata:

Batak

dalam bagian Ptolemy yang sedang dibahas.

Tidak ada pula bukti yang memungkinkan kita mengatakan:

“Ptolemy mencatat orang Batak pada abad II.”

Kalimat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Yang benar adalah:

Ptolemy mencatat lima pulau bernama Barousai yang dikatakan dihuni anthropophagoi. Sejumlah peneliti kemudian menghubungkan Barousai dengan Barus dan membandingkan cerita tersebut dengan reputasi kanibalisme Batak pada masa yang jauh lebih muda. Hubungan itu tetap merupakan interpretasi, bukan identifikasi etnis yang terbukti.


Barousai dan Dunia Perdagangan India

Ada alasan lain mengapa berita Ptolemy tetap penting.

Ptolemy kemungkinan memperoleh sebagian informasi Asia Tenggara melalui jaringan pengetahuan pedagang yang bergerak antara India dan kawasan lebih timur.

Jane Drakard memperkirakan bahwa informasi mengenai Barousai mungkin berasal dari:

pedagang India awal.

Jika demikian, keberadaan nama tersebut menunjukkan bahwa dunia maritim di sebelah timur India telah memasuki pengetahuan geografis Mediterania.

Tetapi kita harus membedakan:

dikenal dalam jaringan informasi

dengan:

mempunyai hubungan perdagangan langsung dengan Kekaisaran Romawi.

Catatan #008 belum mempunyai bukti yang memungkinkan kita mengatakan bahwa kapal Romawi datang langsung ke Barus pada abad II.


Apakah Kamper Disebut Ptolemy?

Ini juga harus diluruskan.

Hubungan Barus dengan:

kamper/kapur barus

sangat kuat dalam sumber-sumber yang lebih muda.

Tetapi bagian Ptolemy mengenai Barousai yang sedang kita gunakan tidak menjadikan kamper sebagai dasar utama identifikasi tersebut.

Hubungan dengan Barus terutama dibangun kemudian melalui:

  • kemiripan nama;
  • rekonstruksi geografis;
  • sumber Asia lainnya;
  • dan sejarah panjang Barus.

Maka kita tidak akan menulis:

“Ptolemy datang mencari kapur barus.”

atau:

“Ptolemy mencatat perdagangan kapur barus di Barousai.”

Tidak ada dasar untuk kalimat tersebut dalam bagian sumber yang sedang diperiksa.


Apakah Barousai Merupakan Bukti Tertulis Tertua Barus?

Jawabannya sekarang dapat dibuat lebih tepat:

MUNGKIN — TETAPI BELUM TERBUKTI.

Jika:

Barousai = Barus

maka Geographia Ptolemy merupakan kandidat sangat awal bagi jejak nama Barus, sekitar abad II Masehi.

Tetapi jika Van der Meulen benar bahwa posisi geografis Barousai tidak cocok dengan Barus, maka hubungan tersebut harus ditolak atau setidaknya direvisi.

Karena itu Catatan #008 tidak akan mengatakan:

“Barus telah terbukti tercatat sejak abad II.”

Yang dapat dikatakan adalah:

Barousai dalam Geographia Ptolemy merupakan salah satu kandidat tertua yang pernah dihubungkan dengan nama Barus, tetapi identifikasi tersebut masih diperdebatkan.


Sebuah Kesalahan Populer yang Perlu Diperbaiki

Dalam berbagai tulisan modern terdapat kalimat yang kurang lebih berbunyi:

“Ptolemy pada abad II mencatat sebuah bandar bernama Barousai atau Barus di pantai barat Sumatra.”

Kalimat seperti ini harus digunakan dengan sangat hati-hati.

Sumber Ptolemy yang kita telusuri tidak berbicara tentang:

sebuah bandar bernama Barus.

Ia berbicara tentang:

lima pulau Barousai.

Perubahan dari:

lima pulau Barousai

menjadi:

bandar Barus

adalah hasil interpretasi historiografi.

Catatan kita harus mempertahankan perbedaan itu.


Sumber Indonesia Juga Pernah Menganggapnya Barus

Menariknya, identifikasi Barousai dengan Barus kemudian masuk cukup kuat ke dalam historiografi Indonesia.

Beberapa publikasi sejarah dan arkeologi Indonesia menyebut Ptolemy sebagai sumber tertulis sangat awal mengenai Barus.

Bahkan terdapat publikasi yang menyebut Barousai sebagai pelabuhan di pantai barat Sumatra.

Hal tersebut memperlihatkan betapa kuatnya interpretasi Barousai = Barus dalam historiografi kemudian.

Tetapi setelah kembali kepada struktur teks Ptolemy dan perdebatan akademik, Jejak Sejarah Batak harus menggunakan formulasi yang lebih hati-hati:

interpretasi tersebut penting, tetapi bukan fakta yang tidak diperdebatkan.


Sekarang Kronologi Kita Mundur Lagi

Perjalanan penelitian kita menjadi semakin menarik.

Catatan #001 Pa-t'a — awal abad XIII.

Catatan #002 Ma-da — 1285.

Catatan #003 Marco Polo — sekitar 1292.

Catatan #004 Lobu Tua dan Fansur — terutama abad IX–XI.

Catatan #005 Tradisi sumber Arab — sekitar abad IX–X.

Catatan #006 Bālūs dan kemungkinan jejak Tiongkok yang lebih tua.

Catatan #007 P'o-lü / P'o-lu-shih — sekitar abad VI–VII, dengan kemungkinan tradisi akhir abad V.

Catatan #008 Barousai — abad II Masehi.

Nomor catatan tidak mengikuti urutan tahun.

Nomor tersebut mengikuti:

urutan penemuan kita.

Pada Catatan Akhir nanti, semua bukti akan disusun kembali berdasarkan kronologi sejarah.


Apakah Kita Sekarang Sudah Sampai pada Sejarah Batak?

Belum.

Dan ini harus dikatakan dengan tegas.

Barousai mungkin berhubungan dengan:

Barus.

Barus pada masa yang jauh lebih muda mempunyai hubungan sangat kuat dengan masyarakat Batak di pedalaman.

Tetapi antara Ptolemy abad II dan sumber yang secara jelas mengenal Batak terdapat jarak lebih dari seribu tahun.

Tidak boleh ada garis lurus yang dibuat tanpa bukti.

Kita belum dapat mengatakan:

Barousai → Barus → Batak

sebagai sebuah rangkaian yang telah terbukti.

Untuk sementara bentuk yang benar adalah:

Barousai ? → Barus → kemudian berhubungan kuat dengan dunia Batak.

Tanda tanya itu sangat penting.


STATUS BUKTI CATATAN #008

TERVERIFIKASI — SUMBER PTOLEMY

Geographia VII.2.28 mencatat kelompok:

lima pulau Barousai.

TERVERIFIKASI — CERITA DALAM SUMBER

Ptolemy menghubungkan Barousai dengan masyarakat yang disebut anthropophagoi, atau pemakan manusia.

Ini membuktikan bahwa cerita tersebut tercatat, bukan bahwa praktiknya telah terbukti secara arkeologis.

INTERPRETASI MENDUKUNG

N.J. Krom dan O.W. Wolters termasuk peneliti yang menghubungkan:

Barousai → Barus.

Kemiripan nama dan konteks geografis umum menjadi bagian dari argumentasinya.

ARGUMEN TAMBAHAN YANG PERNAH DIGUNAKAN

Cerita anthropophagoi pernah dibandingkan dengan reputasi kanibalisme yang kemudian dilekatkan kepada masyarakat Batak.

Catatan #008 menilai kesamaan tersebut tidak cukup untuk menentukan identitas etnis.

BANTAHAN

W.J. van der Meulen menunjukkan bahwa posisi relatif Barousai dalam konstruksi geografis Ptolemy tidak cocok dengan Barus.

Menurut analisisnya, posisi Barousai terlalu jauh ke selatan apabila dipaksakan menjadi Barus.

BELUM TERVERIFIKASI

Belum terdapat bukti autentik yang memungkinkan Catatan #008 memastikan bahwa:

Barousai adalah Barus.

BELUM TERVERIFIKASI

Belum terdapat bukti autentik yang memungkinkan kita menyatakan bahwa masyarakat Barousai adalah:

Batak.

TIDAK BOLEH DISIMPULKAN

Ptolemy tidak membuktikan adanya:

  • kerajaan Batak pada abad II;
  • Kota Barus yang telah teridentifikasi pasti pada abad II;
  • pelabuhan Batak;
  • perdagangan langsung Barus–Romawi;
  • atau masyarakat Batak yang telah menggunakan identitas tersebut pada abad II.

KESIMPULAN SEMENTARA

Barousai merupakan salah satu nama paling menarik dalam pencarian sejarah awal kawasan utara Sumatra.

Ptolemy pada abad II Masehi benar-benar mencatat:

lima pulau Barousai.

Beberapa peneliti penting kemudian menghubungkannya dengan Barus.

Jika identifikasi tersebut benar, nama yang berhubungan dengan Barus telah masuk ke dalam tradisi geografis Mediterania sekitar 1.800 tahun yang lalu.

Tetapi identifikasi tersebut mempunyai masalah geografis dan telah dibantah.

Karena itu kesimpulan Catatan #008 adalah:

Barousai dalam Geographia Ptolemy merupakan kandidat sangat awal yang pernah dihubungkan dengan Barus, tetapi hubungan Barousai–Barus belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terbukti.

Mengenai Batak:

hingga penelusuran Catatan #008 dilakukan, kami belum menemukan bukti autentik yang dapat memastikan bahwa anthropophagoi Barousai yang disebut Ptolemy merupakan masyarakat Batak atau leluhur langsung masyarakat Batak.

Cerita tersebut tetap dicatat.

Interpretasinya tetap dicatat.

Bantahannya juga dicatat.

Catat bukti, catat juga bantahannya.


DAFTAR SUMBER DAN PUSTAKA

  1. Ptolemaeus, Claudius. Geographia / Geōgraphikḕ Hyphḗgēsis. Abad II Masehi. Bagian yang relevan: Buku VII, Bab 2, §28, yang memuat lima pulau Barousai. Digunakan melalui edisi kritis/terjemahan dan penelitian modern; varian transliterasi meliputi Barousai, Baroussai, dan Barusai.

  2. McCrindle, J.W. Ancient India as Described by Ptolemy: Being a Translation of the Chapters Which Describe India and Central and Eastern Asia in the Treatise on Geography Written by Klaudios Ptolemaios. Calcutta/Bombay: Thacker, Spink & Co. / Bombay Education Society's Press; London: Trübner & Co., 1885. 373 hlm. Terjemahan klasik bagian Asia dari Geographia Ptolemy.

  3. Renou, Louis. La géographie de Ptolémée, l'Inde (VII, 1–4). Paris: Édouard Champion, 1925. XVI + 73 hlm., dengan peta. Edisi teks Ptolemy Buku VII bagian India dan kawasan timurnya.

  4. Drakard, Jane. “An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus.” Archipel, No. 37, 1989, pp. 53–82. DOI: 10.3406/arch.1989.2562. Drakard menyebut Barousai sebagai kandidat penyebutan paling awal yang mungkin berhubungan dengan Barus dan merangkum interpretasi Krom serta Wolters.

  5. Wolters, O.W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca, New York: Cornell University Press, 1967. Wolters menghubungkan Barousai dengan toponim Barus dan menempatkannya dalam pembahasan perdagangan awal Indonesia.

  6. Krom, N.J. Kajian sejarah awal Hindia/Indonesia yang digunakan dalam historiografi Barus. Krom termasuk sarjana yang menghubungkan Barousai Ptolemy dengan Barus; pendapatnya dirangkum oleh Jane Drakard dalam Archipel 37 (1989). Rincian edisi primer Krom yang menjadi dasar kutipan ini tidak dipaksakan dalam Catatan #008 sebelum diverifikasi secara langsung.

  7. van der Meulen, W.J. “Suvarṇadvīpa and the Chryse Chersonêsos.” Indonesia, No. 18, October 1974, pp. 1–40. Menguji kembali rekonstruksi geografis Ptolemy dan memberikan kritik terhadap identifikasi Barousai dengan Barus, terutama berdasarkan posisi relatif pulau-pulau dalam sistem Ptolemy.

  8. van der Meulen, W.J. “Ptolemy's Geography of Mainland Southeast Asia and Borneo.” Indonesia, melanjutkan rekonstruksi geografi Ptolemy dan memperlihatkan persoalan metodologis ketika jalur pelayaran kuno diterjemahkan menjadi garis pantai dan koordinat.

  9. Gerini, G.E. Researches on Ptolemy's Geography of Eastern Asia (Further India and Indo-Malay Archipelago). London: Royal Asiatic Society, 1909. Kajian klasik dan sangat luas mengenai identifikasi nama-nama Asia Tenggara dalam Geographia.

  10. Linehan, W. “The Identifications of Some of Ptolemy's Place-Names in the Golden Khersonese.” Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, Vol. 24, No. 3, October 1951, pp. 86–98. Kajian pembanding mengenai persoalan identifikasi toponim Ptolemy di Asia Tenggara.

  11. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus, Sumatra: Le Site de Lobu Tua I — Études et Documents. Paris: Association Archipel / École des Hautes Études en Sciences Sociales, 1998. Digunakan sebagai pembanding arkeologis untuk sejarah Barus pada periode yang jauh lebih muda daripada Ptolemy.


CATATAN KRITIS TENTANG SUMBER

Catatan #008 sengaja menggunakan bentuk:

Barousai

karena bentuk tersebut lebih dekat dengan transliterasi yang digunakan dalam penelitian akademik yang diperiksa.

Bentuk:

Barusai

tetap dapat digunakan ketika membicarakan historiografi Indonesia, tetapi tidak boleh membuat pembaca mengira Ptolemy menulis kata modern “Barus”.

Demikian pula istilah:

anthropophagoi

dicatat karena terdapat dalam tradisi teks Ptolemy.

Catatan ini tidak menggunakan cerita kanibalisme sebagai alat untuk menentukan etnis.


TEMUAN METODOLOGIS CATATAN #008

Catatan ini menghasilkan pelajaran penting bagi seluruh Jejak Sejarah Batak.

Sebuah pernyataan dapat mengalami perubahan seperti:

SUMBER ASLI

“lima pulau Barousai”

INTERPRETASI PENELITI

“Barousai mungkin berhubungan dengan Barus”

PENULISAN POPULER

“Ptolemy mencatat Barus”

PENULISAN YANG TERLALU JAUH

“Ptolemy mencatat pelabuhan Batak di Barus.”

Pada setiap tahap, tingkat kepastian berubah.

Tugas Jejak Sejarah Batak adalah kembali sedekat mungkin kepada:

sumber asli.


PERTANYAAN UNTUK PENELUSURAN BERIKUTNYA

Ptolemy ternyata bukan akhir perjalanan mundur kita.

Sebelum Ptolemy menyusun Geographia, jaringan perdagangan antara:

Mediterania, Laut Merah, India dan Asia Tenggara

telah berlangsung.

Maka muncul pertanyaan berikutnya:

Apakah sumber Yunani-Romawi sebelum Ptolemy mengetahui Sumatra atau komoditas yang berasal dari kawasan utara pulau tersebut?

Ada sebuah karya yang harus diperiksa:

PERIPLUS MARIS ERYTHRAEI

atau:

Periplus of the Erythraean Sea

yang biasanya ditempatkan pada sekitar abad I Masehi.

Apakah sumber tersebut membawa kita lebih dekat kepada Sumatra?

Apakah ia mengenal kamper?

Apakah ada nama tempat yang dapat dihubungkan dengan kawasan kita?

Atau justru tidak ada sama sekali?

Jika tidak ada, itu pun merupakan hasil penelitian.

Karena tujuan kita bukan membuat sejarah menjadi semakin tua.

Tujuan kita adalah mengetahui:

SEJAUH MANA BUKTI BENAR-BENAR MEMBAWA KITA.


JEJAK SEJARAH BATAK Catatan #008

Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga