PUSTAHA CATATAN
Jejak Sejarah Batak — Catatan #002: Ma-da dalam Catatan Dinasti Yuan Tahun 1285
Pada tahun 1285, sumber resmi Dinasti Yuan mencatat kedatangan utusan dari sebuah negeri bernama Ma-da ke lingkungan kekaisaran Tiongkok. Nama ini kemudian menarik perhatian dalam penelitian sejarah Batak karena kemungkinan pembacaan bunyinya pernah dihubungkan dengan Bata. Namun seperti Pa-t’a dalam Catatan #001, identifikasi tersebut belum dapat diterima begitu saja. Catatan #002 menelusuri sumber Yuan Shi, konteks hubungan diplomatik dan perdagangan pada masa Dinasti Yuan, alasan Ma-da dikaitkan dengan Bata, serta pendapat dan keterbatasan bukti yang menyertainya.
Dipublikasikan 2 September 2026

JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #002 — Ma-da dalam Catatan Dinasti Yuan Tahun 1285
Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga
Jejak Berikutnya dari Abad XIII
Catatan #001 membawa penelusuran Jejak Sejarah Batak kepada nama Pa-t’a dalam sumber Tiongkok awal abad XIII.
Nama tersebut kemudian dihubungkan oleh sejumlah peneliti dengan Bata atau Batak, tetapi identifikasinya diperdebatkan.
Beberapa dasawarsa kemudian muncul nama lain dalam sumber Tiongkok:
Ma-da.
Nama tersebut tercatat sehubungan dengan kedatangan utusan ke lingkungan kekuasaan Dinasti Yuan pada 1285.
Dalam penelitian mengenai sumber-sumber awal Batak, Ma-da kemudian mendapatkan perhatian karena terdapat kemungkinan bahwa nama tersebut berhubungan dengan Bata.
Namun sejak awal harus ditegaskan:
Sumber Dinasti Yuan tidak mengatakan bahwa “orang Batak datang ke Tiongkok pada tahun 1285”.
Yang kita miliki adalah sebuah nama yang ditranskripsikan sebagai Ma-da.
Hubungannya dengan Bata merupakan persoalan interpretasi.
Karena itu, seperti Pa-t’a dalam Catatan #001, Ma-da harus ditempatkan sebagai jejak yang perlu diuji, bukan fakta Batak yang telah dipastikan.
Dunia Telah Berubah: Dari Dinasti Song ke Dinasti Yuan
Catatan #001 membawa kita ke masa Zhao Rugua dan Dinasti Song.
Pada 1285 keadaan politik Tiongkok sudah berubah.
Dinasti Song telah berakhir setelah ekspansi Mongol. Tiongkok berada di bawah Dinasti Yuan, yang didirikan oleh Kubilai Khan.
Kubilai Khan merupakan cucu Jenghis Khan.
Pada masa pemerintahannya, kekuasaan Yuan tidak hanya berhubungan dengan wilayah daratan Asia. Istana Yuan juga berusaha membangun hubungan dengan berbagai negeri di Asia melalui diplomasi, perdagangan, tuntutan pengakuan politik, dan dalam beberapa kasus ekspedisi militer.
Asia Tenggara termasuk dalam lingkungan hubungan tersebut.
Karena itu kedatangan utusan dari berbagai negeri ke lingkungan istana Yuan bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Nama Ma-da harus dibaca dalam dunia politik dan perdagangan Asia pada akhir abad XIII tersebut.
Sumber: Yuan Shi
Informasi mengenai Ma-da dikaitkan dengan Yuan Shi atau Sejarah Dinasti Yuan.
Yuan Shi merupakan salah satu sejarah dinasti resmi Tiongkok.
Namun terdapat perbedaan penting antara peristiwa yang dicatat dan waktu penyusunan karya yang sekarang kita kenal.
Dinasti Yuan berakhir pada 1368.
Penyusunan Yuan Shi dilakukan pada awal Dinasti Ming dan diselesaikan sekitar 1370, berdasarkan berbagai dokumen dan catatan pemerintahan Yuan yang tersedia kepada para penyusunnya.
Artinya, ketika Yuan Shi mencatat sebuah kejadian tahun 1285, teks sejarah dinasti yang sampai kepada kita disusun beberapa dasawarsa setelah peristiwa tersebut.
Hal ini tidak menjadikan sumber tersebut tidak berguna.
Sebaliknya, sejarah dinasti Tiongkok merupakan sumber sangat penting bagi penelitian Asia.
Namun konteks pembentukannya tetap harus dicatat.
Tahun 1285: Utusan dari Ma-da
Dalam pembahasan mengenai sumber-sumber awal Batak, sejarawan Daniel Perret mencatat bahwa sejarah resmi Dinasti Yuan menyebut kedatangan utusan dari sebuah tempat bernama Ma-da pada tahun 1285.
Utusan tersebut datang ke lingkungan kekaisaran Tiongkok.
Inilah titik awal persoalan kita.
Siapakah Ma-da?
Di manakah letaknya?
Apakah Ma-da mempunyai hubungan dengan Bata atau Batak?
Atau apakah kemiripan tersebut hanya merupakan hasil pembacaan kemudian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum mempunyai jawaban sederhana.
Mengapa Ma-da Dihubungkan dengan Bata?
Salah satu alasan hubungan Ma-da dengan Bata pernah dipertimbangkan berasal dari persoalan transkripsi bunyi Tiongkok.
Daniel Perret mencatat penjelasan bahwa dalam konteks tertentu, khususnya berkaitan dengan dialek Fujian, bunyi yang ditranskripsikan sebagai unsur ma dapat berhubungan dengan bentuk yang memungkinkan pembacaan mendekati ba.
Dari sinilah muncul kemungkinan:
Ma-da → Ba-da/Bata
dan selanjutnya:
Bata → Batak.
Namun rantai tersebut harus dibaca dengan sangat hati-hati.
Ini bukan tulisan langsung dalam sumber yang mengatakan:
Ma-da adalah Bata.
Ini merupakan usaha linguistik dan historiografis untuk menentukan identitas sebuah nama asing yang ditulis menggunakan karakter Tiongkok.
Masalah Transkripsi Nama
Persoalan yang kita temukan pada Ma-da sebenarnya mirip dengan masalah Pa-t’a dalam Catatan #001.
Ketika penulis Tiongkok mencatat nama tempat asing, mereka harus merepresentasikan bunyi bahasa asing menggunakan karakter Tiongkok.
Karakter tersebut tidak berfungsi seperti alfabet Latin.
Selain itu, pengucapan bahasa Tiongkok pada abad XIII tidak selalu sama dengan pengucapan Mandarin modern.
Dialek juga berpengaruh.
Karena itu sebuah nama yang sekarang terbaca atau ditransliterasikan sebagai Ma-da belum tentu diucapkan persis seperti “Ma-da” oleh orang yang pertama kali mencatatnya.
Untuk merekonstruksi nama tersebut secara ilmiah diperlukan kajian fonologi historis Tiongkok serta perbandingan dengan nama geografis dan sumber lain dari periode yang sama.
Di sinilah ruang interpretasi muncul.
Dan di sinilah pula risiko kesalahan muncul.
Ma-da dan Pa-t’a: Dua Nama, Satu Pertanyaan
Sekarang penelusuran kita mempunyai dua nama dari abad XIII:
Pa-t’a
dan
Ma-da.
Keduanya pernah dikaitkan dalam penelitian modern dengan Bata/Batak.
Tetapi hubungan keduanya belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa dua sumber berbeda secara pasti sedang membicarakan masyarakat yang sama.
Ada kemungkinan bahwa keduanya memang merupakan bentuk transkripsi berbeda dari nama yang berhubungan dengan Bata.
Ada kemungkinan pula salah satunya berhubungan dengan Bata sementara yang lain tidak.
Dan tetap terdapat kemungkinan bahwa keduanya sebenarnya merujuk kepada tempat lain.
Karena itu kita tidak boleh menggunakan satu dugaan untuk membuktikan dugaan lainnya.
Pa-t’a tidak membuktikan Ma-da.
Ma-da juga tidak membuktikan Pa-t’a.
Masing-masing harus diuji berdasarkan sumbernya sendiri.
Apakah Ini Berarti Batak Sudah Memiliki Kerajaan pada 1285?
Tidak.
Setidaknya berdasarkan bukti yang sedang diperiksa dalam Catatan #002, kesimpulan tersebut tidak dapat dibuat.
Istilah seperti “negeri”, “daerah”, “utusan”, atau istilah politik yang digunakan dalam penerjemahan sumber Tiongkok tidak boleh secara otomatis diterjemahkan menjadi konsep negara atau kerajaan seperti yang dipahami sekarang.
Lebih jauh lagi, karena identitas Ma-da sendiri belum dapat dipastikan sebagai Bata/Batak, kita tidak mempunyai dasar untuk menggunakan sumber ini sebagai bukti keberadaan sebuah “Kerajaan Batak” pada 1285.
Jika penelitian kemudian menemukan bukti lain mengenai struktur politik masyarakat pedalaman bagian utara Sumatra pada periode tersebut, bukti itu harus diperiksa secara tersendiri.
Apakah Utusan Itu Orang Batak?
Kita juga belum dapat mengatakan demikian.
Bahkan apabila suatu hari Ma-da dapat dibuktikan sebagai sebuah daerah yang berhubungan dengan Bata, masih diperlukan bukti untuk mengetahui identitas orang yang menjadi utusannya.
Dalam diplomasi dan perdagangan Asia masa itu, seseorang yang mewakili suatu negeri tidak selalu harus mempunyai identitas etnis yang sama dengan seluruh penduduk wilayah yang diwakilinya.
Karena itu kalimat:
“Pada 1285 orang Batak mengirim utusan kepada Kubilai Khan”
terlalu jauh melampaui bukti yang tersedia.
Formulasi yang lebih aman adalah:
Sumber Dinasti Yuan mencatat kedatangan utusan dari Ma-da pada 1285; Ma-da kemudian pernah dipertimbangkan oleh peneliti sebagai nama yang mungkin berhubungan dengan Bata.
Jangan Memasukkan Peta Modern ke Tahun 1285
Catatan ini juga harus menghindari anakronisme geografis.
Pada 1285 belum terdapat:
Republik Indonesia,
Provinsi Sumatera Utara,
Kabupaten Samosir,
Kabupaten Tapanuli Utara,
maupun batas administratif modern yang sekarang digunakan.
Demikian pula negara Malaysia dalam bentuk modern belum ada.
Apabila nama-nama modern digunakan dalam Catatan ini, penggunaannya hanya bertujuan membantu pembaca memahami lokasi yang dibahas dalam penelitian masa kini.
Kita harus berusaha melihat dunia 1285 sebagaimana dunia tersebut berada pada zamannya: jaringan kerajaan, pelabuhan, komunitas dagang, masyarakat pesisir dan pedalaman, serta jalur laut yang menghubungkan berbagai kawasan Asia.
Apa yang Belum Kita Ketahui?
Catatan #002 justru menghasilkan daftar pertanyaan yang lebih panjang daripada jawabannya.
Kita belum dapat memastikan:
di mana Ma-da berada;
bagaimana nama Ma-da diucapkan pada abad XIII;
siapa penduduk Ma-da;
siapa utusan yang datang pada 1285;
apa tujuan khusus kedatangan mereka;
dan yang paling penting bagi penelitian kita:
apakah Ma-da benar-benar mempunyai hubungan dengan Bata/Batak.
Tidak adanya jawaban pasti bukan alasan untuk menghilangkan Ma-da dari Jejak Sejarah Batak.
Sebaliknya, ketidakpastian tersebut harus dicatat.
Posisi Daniel Perret
Salah satu sumber modern penting yang membawa Ma-da ke dalam pembahasan sejarah awal Batak adalah tulisan Daniel Perret.
Dalam pengantar untuk dokumen VOC mengenai masyarakat Batak bertanggal 1 Maret 1701 yang diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perret menelusuri beberapa penyebutan awal yang mungkin berkaitan dengan Batak.
Setelah membicarakan Pa-t’a, Perret menyebut Ma-da dalam sejarah resmi Dinasti Yuan.
Ia menunjukkan kemungkinan hubungan bunyi nama tersebut dengan Bata.
Namun pembahasan tersebut tidak memberikan dasar yang cukup untuk mengubah kemungkinan itu menjadi kepastian.
Karena itu Jejak Sejarah Batak mempertahankan Ma-da dalam kategori:
KANDIDAT JEJAK.
Sebuah Pola Mulai Terlihat
Walaupun identitas Pa-t’a dan Ma-da belum dapat dipastikan, dua sumber abad XIII tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik bagi penelitian kita.
Para peneliti sejarah telah berulang kali menemukan nama dalam sumber Tiongkok yang kemudian mereka coba hubungkan dengan Bata/Batak.
Catatan #001 menemukan:
Pa-t’a — awal abad XIII.
Catatan #002 menemukan:
Ma-da — 1285.
Tetapi dua kemungkinan tidak otomatis menghasilkan satu kepastian.
Justru semakin banyak kandidat yang ditemukan, semakin penting untuk membandingkan:
- bentuk bunyinya;
- posisi geografisnya;
- hubungan politiknya;
- jalur perdagangan;
- sumber sezamannya;
- serta temuan arkeologi dari kawasan yang diduga berhubungan.
Penelitian harus bergerak dari bukti menuju kesimpulan, bukan dari kesimpulan menuju pencarian pembenaran.
Status Bukti Catatan #002
TERVERIFIKASI DALAM HISTORIOGRAFI YANG DITELUSURI:
Sumber sejarah Dinasti Yuan mencatat sebuah nama yang ditransliterasikan Ma-da dalam hubungan dengan kedatangan utusan pada 1285.
INTERPRETASI:
Dalam penelitian modern mengenai sumber awal Batak, Ma-da pernah dipertimbangkan mempunyai kemungkinan hubungan dengan Bata melalui persoalan transkripsi dan pengucapan.
BELUM TERVERIFIKASI:
Belum terdapat dasar yang cukup dalam penelusuran Catatan #002 untuk menyatakan bahwa Ma-da pasti Bata/Batak.
TIDAK DAPAT DISIMPULKAN:
Catatan ini tidak dapat digunakan sendirian sebagai bukti bahwa orang Batak mengirim utusan kepada Kubilai Khan, bahwa telah berdiri sebuah Kerajaan Batak pada 1285, ataupun bahwa wilayah Batak telah mempunyai hubungan diplomatik langsung dengan Dinasti Yuan.
KESIMPULAN SEMENTARA:
Ma-da merupakan kandidat jejak tertulis abad XIII yang pernah dikaitkan dengan Bata/Batak, tetapi identifikasinya masih memerlukan bukti tambahan.
STATUS PENELUSURAN:
Terbuka.
Apabila ditemukan teks asli bagian Yuan Shi yang relevan, terjemahan sinologis yang lebih lengkap, penelitian fonologi historis Tiongkok, atau kajian baru mengenai lokasi Ma-da, kesimpulan Catatan #002 harus diperiksa kembali.
Daftar Sumber dan Pustaka
-
Song Lian dan para penyusun lainnya. Yuan Shi (元史 / Sejarah Dinasti Yuan). Disusun pada awal Dinasti Ming dan diselesaikan sekitar 1370. Merupakan sejarah dinasti resmi yang merekam berbagai kejadian pada masa pemerintahan Yuan.
-
Perret, Daniel. “Inquiry of a Chinese Trader about the Batak People in North Sumatra, 1 March 1701.” Dalam Harta Karun: Hidden Treasures on Indonesian and Asian-European History from the VOC Archives in Jakarta. Dokumen 9. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 2013. Pengantarnya membahas sumber-sumber awal yang dikaitkan dengan Batak, termasuk Pa-t’a dan Ma-da.
-
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Inquiry of a Chinese Trader about the Batak People in North Sumatra, 1 March 1701. Proyek Sejarah Nusantara/Harta Karun. Dokumen arsip yang menjadi dasar publikasi: ANRI HR 2521, fols. 113–114. Dokumen 1701 bukan sumber untuk peristiwa 1285; bagian yang digunakan dalam Catatan #002 adalah pengantar historiografis modern oleh Daniel Perret.
-
Hirth, Friedrich & W.W. Rockhill. Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi. St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911. Digunakan sebagai sumber pembanding untuk persoalan transkripsi nama geografis Asia Tenggara dalam sumber Tiongkok abad XIII dan untuk kesinambungan dengan pembahasan Pa-t’a dalam Catatan #001.
Catatan Kritis Mengenai Sumber
Catatan #002 memiliki tingkat kepastian yang lebih rendah dibandingkan sebuah dokumen yang secara eksplisit menggunakan nama “Bata” atau “Batak”.
Karena itu pembaca harus membedakan tiga lapisan informasi:
SUMBER: terdapat nama Ma-da dalam tradisi sejarah Dinasti Yuan yang dikaitkan dengan peristiwa tahun 1285.
INTERPRETASI PENELITI: Ma-da pernah dipertimbangkan sebagai kemungkinan bentuk yang berhubungan dengan Bata.
KESIMPULAN JEJAK SEJARAH BATAK: hubungan Ma-da dengan Batak belum dapat dipastikan berdasarkan bukti yang tersedia dalam penelusuran ini.
Apabila sumber baru bertentangan dengan catatan ini, sumber tersebut tidak akan disembunyikan. Perbedaan pendapat, bantahan, dan perubahan interpretasi akan dicatat sebagai bagian dari perjalanan penelitian.
Prinsip Pencatatan
Jejak Sejarah Batak tidak bertujuan membuktikan bahwa setiap nama kuno adalah Batak.
Sebuah sumber tetap dicatat ketika mempunyai hubungan yang layak ditelusuri, termasuk ketika hubungan tersebut kemudian terbukti salah.
Yang terbukti dicatat sebagai bukti.
Yang diperdebatkan dicatat bersama perdebatannya.
Yang merupakan interpretasi disebut sebagai interpretasi.
Yang belum diketahui tetap ditulis sebagai belum diketahui.
Dengan cara inilah setiap catatan diharapkan dapat menjadi pijakan bagi penelusuran berikutnya.
JEJAK SEJARAH BATAK
Catatan #002
Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga
