PUSTAHA CATATAN

ejak Sejarah Batak — Catatan #009: Periplus Maris Erythraei Abad I, Seberapa Jauh Dunia Romawi Mengenal Sumatra?

Sekitar abad I Masehi, seorang penulis Yunani yang namanya tidak diketahui menyusun Periplus Maris Erythraei, catatan pelayaran dan perdagangan yang menggambarkan jalur dari Laut Merah menuju Arabia, India, hingga wilayah paling timur yang dikenal para pedagang Samudra Hindia. Karena karya ini lebih tua daripada Geographia Ptolemy, muncul pertanyaan penting: apakah Sumatra, Barus, atau komoditas dari kawasan tersebut sebenarnya telah dikenal dunia Mediterania pada abad I? Catatan #009 menelusuri nama Chryse, This, jalur perdagangan menuju timur, komoditas yang beredar, dan batas sebenarnya pengetahuan penulis Periplus. Penelusuran ini sekaligus menguji klaim bahwa kamper atau Barus telah tercatat dalam sumber Yunani-Romawi sebelum Ptolemy—dan jika bukti itu tidak ditemukan, ketidakhadirannya juga akan kita catat sebagai hasil penelitian.

Dipublikasikan 2 September 2026

Sampul ejak Sejarah Batak — Catatan #009: Periplus Maris Erythraei Abad I, Seberapa Jauh Dunia Romawi Mengenal Sumatra?

JEJAK SEJARAH BATAK

Catatan #009 — Periplus Maris Erythraei Abad I, Seberapa Jauh Dunia Romawi Mengenal Sumatra?

Penelusuran berbasis teknologi AI · Dicatat oleh Armando Sinaga


Sebelum Ptolemy

Catatan #008 membawa penelitian kita kepada Claudius Ptolemaeus pada abad II Masehi.

Di dalam Geographia, Ptolemy mencatat lima pulau bernama:

Barousai.

Sejumlah peneliti kemudian menghubungkannya dengan Barus, tetapi hubungan tersebut ternyata masih diperdebatkan.

Sekarang penelitian bergerak lebih jauh ke belakang.

Sebelum Ptolemy menyusun Geographia, terdapat sebuah dokumen perdagangan maritim yang sangat penting:

PERIPLUS MARIS ERYTHRAEI

atau:

Periplus of the Erythraean Sea.

Karya ini umumnya ditempatkan pada sekitar abad I Masehi.

Jika Ptolemy mungkin membawa kita menuju sekitar abad II, maka Periplus membawa penelitian menuju masa yang kira-kira seratus tahun lebih tua.

Tetapi pertanyaan kita bukan:

“Bagaimana membuktikan Barus sudah dikenal pada abad I?”

Pertanyaan yang benar adalah:

“Apakah sumber abad I ini benar-benar mengetahui Sumatra, Barus, atau komoditas yang dapat dihubungkan secara autentik dengan kawasan tersebut?”

Jawabannya ternyata jauh lebih rumit.


Apa Itu Periplus Maris Erythraei?

Kata Yunani:

periplous

secara umum menunjuk kepada pelayaran mengelilingi atau menyusuri kawasan laut.

Sedangkan:

Erythra Thalassa

atau “Laut Erythraean” dalam geografi kuno mempunyai pengertian yang jauh lebih luas daripada Laut Merah modern.

Kawasan yang dibicarakan Periplus meliputi jaringan:

  • Laut Merah;
  • pesisir Afrika Timur;
  • Arabia;
  • Teluk Persia;
  • Laut Arab;
  • India;
  • hingga informasi mengenai wilayah yang semakin jauh ke timur.

Karya ini ditulis dalam bahasa Yunani.

Nama pengarangnya:

TIDAK DIKETAHUI.

Lionel Casson, salah satu editor modern terpenting Periplus, menggambarkannya sebagai karya seorang pedagang atau nakhoda berbahasa Yunani yang berkaitan dengan lingkungan perdagangan Mesir Romawi.

Karya tersebut bukan sekadar cerita perjalanan.

Ia mempunyai karakter seperti:

panduan perdagangan maritim.

Penulisnya mencatat:

  • pelabuhan;
  • rute;
  • angin;
  • musim pelayaran;
  • barang impor;
  • barang ekspor;
  • kondisi perdagangan;
  • dan informasi mengenai masyarakat di berbagai wilayah.

Kapan Periplus Ditulis?

Penanggalannya pernah diperdebatkan.

Berbagai tanggal telah diajukan oleh para peneliti.

Namun penempatan pada sekitar pertengahan hingga paruh kedua abad I Masehi menjadi pandangan yang sangat berpengaruh dalam penelitian modern.

Lionel Casson menempatkan karya tersebut pada abad I.

Wilfred H. Schoff sebelumnya juga menempatkannya pada abad I.

Karena itu Catatan #009 menggunakan:

abad I Masehi

sebagai kerangka kronologis umum.

Tetapi kita tidak akan memberikan satu tahun tertentu seolah-olah tanggal penulisannya diketahui dengan pasti.


Naskah yang Kita Miliki Jauh Lebih Muda

Ada persoalan penting lain.

Teks Periplus yang bertahan sampai sekarang tidak berasal langsung dari abad I.

Menurut penelitian tekstual Lionel Casson, saksi utama teks tersebut adalah manuskrip:

Codex Palatinus Graecus 398

yang sekarang berada di Heidelberg.

Manuskrip tersebut berasal dari sekitar:

awal abad X Masehi.

Dengan demikian terdapat jarak berabad-abad antara:

masa penyusunan karya

dan

manuskrip utama yang bertahan.

Ini normal dalam studi banyak teks klasik.

Tetapi fakta tersebut penting dicatat karena kesalahan penyalinan dapat masuk selama transmisi manuskrip.


Dunia Perdagangan yang Sangat Luas

Periplus memperlihatkan bahwa pada abad I terdapat jaringan perdagangan maritim yang sangat luas.

Kapal-kapal dari lingkungan Mesir Romawi dapat berlayar melalui Laut Merah menuju Samudra Hindia.

India mempunyai posisi sangat penting.

Nama-nama seperti:

Barygaza

dan

Muziris

muncul sebagai pusat perdagangan besar.

Penulis bahkan mencatat barang yang dapat dibeli dan dijual di berbagai pelabuhan.

Di pantai barat daya India, misalnya, perdagangan mencakup:

  • lada;
  • mutiara;
  • gading;
  • batu berharga;
  • tekstil;
  • serta berbagai barang mewah.

Artinya Samudra Hindia abad I bukan wilayah yang terisolasi.

Ia telah menjadi:

JARINGAN PERDAGANGAN ANTARWILAYAH.


Tetapi Apakah Kapal Romawi Sampai Sumatra?

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Keberadaan jaringan perdagangan yang luas tidak otomatis berarti:

“kapal Romawi berlayar langsung ke Barus.”

Periplus memberikan pengetahuan yang sangat rinci mengenai beberapa wilayah yang kemungkinan benar-benar dikenal oleh pengarangnya.

Tetapi ketika teks bergerak semakin jauh ke timur melewati India, informasinya berubah.

Ia menjadi:

  • lebih singkat;
  • lebih kabur;
  • dan lebih bergantung pada laporan orang lain.

University of Washington dalam penyajian teks Periplus juga menekankan bahwa bagian akhir mengenai wilayah di luar India merupakan informasi mengenai negeri-negeri yang belum dipetakan dengan baik dan didengar pengarang dari sumber lain.

Ini menjadi batas penting penelitian kita.


Chryse — Negeri atau Pulau Emas

Pada bagian timur teks muncul nama yang sangat menarik:

CHRYSE

Kata Yunani tersebut berkaitan dengan:

emas.

Dalam §63, setelah membicarakan kawasan Sungai Gangga, Periplus menyebut sebuah pulau di lautan yang disebut:

Chryse.

Teks menggambarkannya sebagai wilayah yang sangat jauh ke timur, dekat batas dunia yang diketahui.

Chryse juga dikatakan menghasilkan:

kulit penyu yang sangat baik.


Apakah Chryse Itu Sumatra?

Pertanyaan ini telah menghasilkan banyak interpretasi.

Dalam geografi klasik kemudian dikenal pula istilah:

Chryse Chersonesos

atau:

Semenanjung Emas.

Istilah tersebut biasanya dihubungkan dengan Semenanjung Melayu.

Tetapi:

Chryse dalam Periplus tidak boleh otomatis disamakan dengan satu lokasi modern tertentu.

Geografi bagian timur Periplus terlalu kabur untuk memungkinkan identifikasi sederhana.

Beberapa penelitian mencoba menempatkan Chryse dalam lingkungan:

  • Semenanjung Melayu;
  • kawasan Asia Tenggara;
  • atau pulau-pulau di sebelah timur India.

Namun Catatan #009 belum menemukan dasar yang cukup untuk mengatakan:

“Chryse adalah Sumatra.”

Maka statusnya:

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS TIDAK PASTI.


Sebuah Kesalahan yang Harus Kita Hindari

Kita dapat membayangkan bagaimana sejarah populer dapat berubah.

Sumber asli mengatakan:

Chryse — sebuah pulau jauh di timur.

Kemudian seseorang menafsirkannya:

Asia Tenggara.

Lalu menjadi:

Sumatra.

Kemudian:

Sumatra bagian utara.

Lalu:

Barus.

Dan akhirnya:

Batak.

Padahal setiap anak panah tersebut membutuhkan bukti tersendiri.

Jejak Sejarah Batak tidak akan menggunakan metode seperti itu.


This dan Thinae

Setelah Chryse, pengetahuan geografis pengarang menjadi semakin menarik sekaligus semakin tidak pasti.

Dalam §64 disebut sebuah wilayah:

This

dan sebuah kota besar di pedalaman:

Thinae.

Thinae digambarkan sebagai sumber:

  • sutra mentah;
  • benang sutra;
  • dan kain sutra.

Barang tersebut dikatakan bergerak melalui jaringan darat dan juga menuju India.

Tetapi teks juga mengakui bahwa wilayah This:

sulit dicapai

dan hanya sedikit orang yang datang dari sana.

Ini merupakan pengakuan penting dari sumber itu sendiri.

Penulis mengetahui bahwa sebuah dunia perdagangan terdapat jauh di timur.

Tetapi pengetahuan langsungnya terhadap dunia tersebut terbatas.


Pengetahuan Tidak Langsung

Semakin jauh Periplus bergerak dari jaringan pelabuhan yang dikenal pengarangnya, semakin terlihat karakter:

informasi tangan kedua.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa geografi bagian timur tidak mudah dicocokkan dengan peta modern.

Para pedagang dapat mengetahui bahwa:

  • suatu barang datang dari timur;
  • suatu masyarakat tinggal jauh di pedalaman;
  • sebuah pulau menghasilkan komoditas tertentu;

tanpa mengetahui koordinat atau bentuk geografis tempat tersebut.

Karena itu Periplus sangat berharga sebagai bukti:

jaringan informasi perdagangan.

Tetapi tidak selalu sebagai peta yang presisi.


Sekarang Pertanyaan Terpenting: Apakah Ada Barus?

Dalam penelusuran teks yang dilakukan untuk Catatan #009:

KAMI BELUM MENEMUKAN NAMA BARUS.

Tidak ditemukan bentuk yang dapat dengan aman dibaca sebagai:

  • Barus;
  • Barousai;
  • Bālūs;
  • Fansur;
  • P'o-lü;
  • atau Bata/Batak.

Ini berbeda dengan Catatan #008.

Dalam Ptolemy memang terdapat:

Barousai.

Dalam Periplus:

Barousai tidak ditemukan.

Maka kita tidak boleh membawa Barousai Ptolemy mundur satu abad dan memasukkannya ke Periplus.


Apakah Ada Batak?

Jawabannya lebih jelas:

TIDAK DITEMUKAN.

Tidak terdapat penyebutan yang dapat kita identifikasi secara autentik sebagai:

Batak.

Tidak ada:

  • Bata;
  • Batta;
  • Batech;
  • Pa-t'a;
  • atau bentuk lain yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai Batak.

Maka Periplus bukan bukti tertulis keberadaan nama Batak pada abad I.


Bagaimana dengan Kamper?

Ini bahkan lebih penting.

Karena penelitian kita sebelumnya berkali-kali menemukan:

kamper/kapur barus

sebagai komoditas kunci.

Jika Periplus abad I menyebut kamper yang jelas berasal dari Sumatra, maka itu akan menjadi bukti luar biasa.

Tetapi dalam penelusuran Catatan #009:

KAMI BELUM MENEMUKAN KAMPER BARUS DI DALAM PERIPLUS.

Daftar barang Periplus memang sangat kaya.

Teks menyebut antara lain:

  • lada;
  • kayu aromatik;
  • rempah;
  • malabathrum;
  • nard;
  • mutiara;
  • gading;
  • kemenyan/resin tertentu;
  • tekstil;
  • batu berharga;
  • dan kulit penyu.

Tetapi keberadaan berbagai bahan aromatik tidak boleh diubah menjadi:

kamper Sumatra.


Malabathrum Bukan Kapur Barus

Salah satu komoditas yang mudah menimbulkan kebingungan adalah:

malabathrum.

Periplus membicarakannya beberapa kali.

Dalam §65 bahkan terdapat cerita mengenai masyarakat yang membawa bahan menyerupai daun hijau dalam keranjang, yang kemudian digunakan dalam perdagangan malabathrum.

Tetapi:

MALABATHRUM BUKAN OTOMATIS KAMPER.

Keduanya merupakan bahan aromatik yang berbeda dalam tradisi perdagangan kuno.

Maka keberadaan malabathrum dalam Periplus tidak dapat digunakan sebagai bukti:

“kapur barus sudah diperdagangkan ke Romawi.”


Ada Kulit Penyu dari Chryse

Salah satu komoditas paling jelas yang dikaitkan dengan Chryse justru:

kulit penyu.

Dalam §56, teks menyebut kulit penyu dari Chryse dalam konteks barang yang mencapai pasar India.

Kemudian §63 kembali menyatakan bahwa Chryse menghasilkan kulit penyu berkualitas sangat baik.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting.

Barang dari wilayah yang sangat jauh di timur dapat masuk ke jaringan perdagangan India.

Tetapi barang tersebut tidak harus dibawa langsung oleh pedagang Romawi dari tempat asalnya.


Perdagangan Berantai

Bayangkan sebuah komoditas bergerak seperti ini:

daerah produksi

pelabuhan lokal

pedagang regional

pelabuhan India

pedagang Samudra Hindia

Laut Merah

Mesir Romawi

Dalam sistem seperti itu, seorang pedagang di Mesir dapat membeli barang dari Asia Tenggara tanpa pernah bertemu masyarakat yang memproduksinya.

Ini sangat relevan bagi sejarah Barus.

Jika kelak terbukti bahwa suatu komoditas Sumatra telah mencapai India atau Mediterania pada masa sangat awal, itu belum otomatis membuktikan:

perdagangan langsung Roma–Barus.


Sumatra Bisa Berada di Balik Jaringan Tanpa Disebut

Ini menghasilkan sebuah kemungkinan yang harus dibedakan dari fakta.

Asia Tenggara jelas tidak sepenuhnya terpisah dari jaringan perdagangan Samudra Hindia.

Karena itu secara teoritis:

produk dari Sumatra dapat bergerak melalui jaringan perantara.

Tetapi kemungkinan ekonomi tersebut berbeda dengan bukti tekstual.

Untuk Catatan #009:

belum ditemukan nama yang memungkinkan kita memastikan bahwa pengarang Periplus mengenal Sumatra sebagai sebuah pulau tertentu.

Dengan demikian kita harus menahan diri.


Periplus Tidak Membawa Kita Lebih Dekat kepada Batak

Ini mungkin terdengar seperti hasil negatif.

Tetapi secara ilmiah justru sangat penting.

Kita telah bergerak dari:

Ptolemy abad II

menuju:

Periplus abad I.

Namun bukannya mendapatkan bukti yang semakin kuat, bukti mengenai kawasan kita justru:

menghilang.

Ini menunjukkan kemungkinan bahwa kita telah mencapai salah satu batas pengetahuan tekstual Mediterania yang dapat digunakan untuk penelitian ini.


Tidak Semua Catatan Harus Menemukan “Batak”

Jejak Sejarah Batak bukan kumpulan dokumen yang semuanya harus menyebut Batak.

Ia merupakan:

rekonstruksi perjalanan menuju sejarah Batak.

Untuk memahami kapan suatu nama pertama kali dapat dibuktikan, kita juga perlu mengetahui:

kapan nama itu belum muncul.

Ketidakhadiran dalam satu dokumen tentu tidak membuktikan suatu masyarakat belum ada.

Tetapi ia membuktikan sesuatu yang lebih terbatas:

dokumen tersebut tidak dapat digunakan sebagai bukti langsung keberadaan nama itu.

Perbedaan tersebut sangat penting.


Absence of Evidence Bukan Evidence of Absence

Dalam bahasa penelitian terdapat prinsip:

ketiadaan bukti bukan otomatis bukti ketiadaan.

Jika Periplus tidak menyebut Batak, itu tidak berarti:

“orang Batak belum ada pada abad I.”

Kita tidak mempunyai bukti untuk membuat pernyataan tersebut.

Sebaliknya kita juga tidak boleh mengatakan:

“orang Batak sudah ada pada abad I.”

Sumber ini tidak dapat membuktikannya.

Status yang benar adalah:

TIDAK DIKETAHUI.


Bagaimana dengan Leluhur Batak?

Secara biologis tentu manusia telah menghuni Sumatra jauh sebelum abad I.

Tetapi:

keberadaan manusia

berbeda dengan:

identitas etnis historis.

Masyarakat yang kelak berkontribusi terhadap terbentuknya kelompok-kelompok Batak tentu mempunyai leluhur yang hidup jauh lebih awal.

Namun penelitian sejarah tidak dapat secara otomatis memberi nama “Batak” kepada seluruh penduduk pedalaman Sumatra pada masa prasejarah atau awal sejarah.

Identitas berubah.

Bahasa berubah.

Kelompok bergabung dan berpisah.

Wilayah permukiman berubah.

Karena itu pertanyaan mengenai asal-usul masyarakat Batak nantinya membutuhkan jenis bukti lain:

  • arkeologi;
  • linguistik;
  • genetika populasi;
  • antropologi;
  • tradisi;
  • dan kemudian sumber sejarah.

Barangkali Kita Sedang Mendekati Batas antara Sejarah dan Prasejarah

Catatan #009 memberi petunjuk metodologis besar.

Ketika sumber tertulis asing semakin jauh mundur dan tidak lagi memberikan nama yang dapat dihubungkan dengan kawasan kita, penelitian harus mulai bergeser.

Bukan lagi hanya bertanya:

“Siapa yang menulis tentang Batak?”

Tetapi:

“Apa yang terjadi di Sumatra sebelum nama Batak muncul dalam dokumen?”

Di titik itulah:

ARKEOLOGI MENJADI SANGAT PENTING.


STATUS BUKTI CATATAN #009

TERVERIFIKASI

Periplus Maris Erythraei merupakan karya berbahasa Yunani yang menggambarkan perdagangan maritim Laut Merah dan Samudra Hindia.

KRONOLOGI KUAT, TETAPI TIDAK TAHUN PASTI

Karya tersebut secara umum ditempatkan pada abad I Masehi, terutama sekitar pertengahan/paruh kedua abad tersebut dalam banyak penelitian modern.

TERVERIFIKASI

Teks menggambarkan jaringan perdagangan sampai India dengan detail yang cukup besar.

TERVERIFIKASI

Bagian akhir teks menyebut:

Chryse

sebagai pulau jauh di timur dan sumber kulit penyu berkualitas tinggi.

TERVERIFIKASI

Teks menyebut:

This/Thinae

sebagai dunia jauh di timur yang berkaitan dengan perdagangan sutra.

INTERPRETASI GEOGRAFIS

Chryse telah dihubungkan dengan berbagai wilayah Asia Tenggara.

Lokasinya tidak boleh dianggap pasti sebagai Sumatra.

BELUM DITEMUKAN

Nama:

Barus

tidak ditemukan dalam teks yang diperiksa.

BELUM DITEMUKAN

Nama:

Barousai

yang terdapat pada Ptolemy tidak ditemukan dalam Periplus.

BELUM DITEMUKAN

Nama:

Batak/Bata/Batta

tidak ditemukan.

BELUM DITEMUKAN

Penyebutan yang dapat secara aman diidentifikasi sebagai:

kapur barus/kamper Sumatra

belum ditemukan dalam teks.

TIDAK BOLEH DISIMPULKAN

Periplus tidak membuktikan:

  • kapal Romawi datang ke Barus;
  • Barus berdagang langsung dengan Roma;
  • Batak dikenal dunia Romawi pada abad I;
  • Chryse pasti Sumatra;
  • atau malabathrum adalah kapur barus.

KESIMPULAN CATATAN #009

Penelusuran Periplus Maris Erythraei membawa Jejak Sejarah Batak lebih jauh ke masa lampau, menuju sekitar abad I Masehi.

Namun kali ini hasil penelitian tidak menghasilkan nama Batak atau Barus.

Sebaliknya, sumber tersebut membantu menentukan:

BATAS BUKTI.

Dunia perdagangan yang berkaitan dengan Mesir Romawi telah mempunyai hubungan maritim kuat dengan India.

Pengetahuan mengenai kawasan lebih jauh ke timur juga telah beredar.

Periplus mengenal Chryse dan mengetahui adanya dunia perdagangan yang sangat jauh menuju This/Thinae.

Tetapi semakin jauh ke timur, informasinya semakin tidak langsung.

Karena itu kesimpulan Catatan #009 adalah:

Periplus Maris Erythraei membuktikan bahwa dunia perdagangan abad I telah mempunyai pengetahuan mengenai wilayah dan komoditas jauh di sebelah timur India, tetapi sumber tersebut belum memberikan bukti autentik yang dapat memastikan bahwa pengarangnya mengetahui Sumatra, Barus, atau masyarakat Batak secara langsung.

Mengenai kamper:

hingga penelusuran Catatan #009 dilakukan, kami belum menemukan penyebutan yang dapat secara aman diidentifikasi sebagai kapur barus dari Sumatra dalam Periplus Maris Erythraei.

Dan mengenai Batak:

ketiadaan nama Batak dalam sumber ini tidak membuktikan bahwa leluhur masyarakat Batak belum ada. Ia hanya berarti bahwa Periplus tidak dapat digunakan sebagai bukti tertulis langsung mengenai identitas Batak pada abad I Masehi.

Ini adalah hasil penelitian yang sah.

Bahkan mungkin salah satu hasil terpenting sejauh ini.

Karena semakin jauh kita berjalan ke masa lalu, semakin penting membedakan:

apa yang kita ketahui

dari

apa yang ingin kita ketahui.


DAFTAR SUMBER DAN PUSTAKA

  1. Anonim. Periplus Maris Erythraei [Περίπλους τῆς Ἐρυθρᾶς Θαλάσσης]. Karya Yunani, umumnya ditempatkan pada abad I Masehi. Bagian penting bagi Catatan #009 terutama §§56 dan 63–65 mengenai perdagangan India, Chryse, This/Thinae dan wilayah jauh di timur.

  2. Casson, Lionel. The Periplus Maris Erythraei: Text with Introduction, Translation, and Commentary. Princeton: Princeton University Press, 1989. ISBN 9780691040608. DOI edisi digital: 10.2307/j.ctt7t6tp. Edisi modern utama yang digunakan untuk teks, terjemahan, penanggalan dan komentar geografis.

  3. Schoff, Wilfred H. The Periplus of the Erythraean Sea: Travel and Trade in the Indian Ocean by a Merchant of the First Century. New York: Longmans, Green, and Co., 1912. Memuat terjemahan lengkap, pengantar, catatan perdagangan dan pembahasan kronologi.

  4. Frisk, Hjalmar. Le Périple de la Mer Érythrée. Göteborg, 1927. Edisi kritis Yunani yang menjadi dasar penting penelitian teks modern. Lionel Casson menilai karya Frisk sebagai teks kritis yang sangat penting karena pemeriksaan kembali manuskrip utama dan karakter bahasa Yunani teks.

  5. Codex Palatinus Graecus 398. Universitätsbibliothek Heidelberg. Manuskrip utama yang mempertahankan Periplus Maris Erythraei, berasal dari sekitar awal abad X; Periplus terdapat pada folio 40v–54v menurut deskripsi Casson.

  6. Casson, Lionel. “Periplus Maris Erythraei 60.” The Classical Quarterly, Vol. 37, No. 1, 1987, p. 233. DOI: 10.1017/S0009838800031840. Menjelaskan konteks karya sebagai panduan perdagangan abad I bagi pedagang Mesir Romawi dan jaringan perdagangan India.

  7. Shitomi, Yuzo. “On the Date of Composition of the Periplus Maris Erythraei: A Study of the South Arabian Epigraphic Evidence.” Memoirs of the Research Department of the Toyo Bunko, No. 34. Digunakan sebagai pembanding mengenai perdebatan kronologi Periplus.

  8. Plantzos, Dimitris / ArchaeoCosmos, National and Kapodistrian University of Athens. Pengantar digital Periplus Maris Erythraei. Menjelaskan karakter teks, jaringan perdagangan dan kecenderungan penelitian modern menempatkannya pada pertengahan abad I Masehi.

  9. University of Washington — Silk Road Seattle. The Voyage around the Erythraean Sea. Edisi digital terjemahan Schoff dengan pengantar yang membedakan wilayah yang tampaknya dikenal langsung oleh pengarang dari berita mengenai kawasan lebih jauh ke timur.


CATATAN KRITIS TENTANG SUMBER

Catatan #009 sengaja tidak mengidentifikasi:

Chryse = Sumatra

karena bukti yang diperiksa belum memungkinkan kepastian tersebut.

Demikian pula tidak dilakukan perubahan:

malabathrum → kamper

hanya karena keduanya merupakan komoditas aromatik.

Nama:

Barus

dan:

Batak

tidak dimasukkan ke dalam teks Periplus apabila sumber tersebut memang tidak menyebutnya.


CATATAN METODOLOGIS

Catatan #009 menambahkan satu aturan penting bagi seluruh penelitian:

Tidak menemukan bukti juga harus dicatat sebagai hasil penelitian.

Jika suatu sumber tidak menyebut Batak:

jangan masukkan Batak.

Jika tidak menyebut Barus:

jangan masukkan Barus.

Jika komoditas tidak dapat dibuktikan sebagai kamper:

jangan menyebutnya kapur barus.

Dan jika lokasi tidak diketahui:

tulis:

tidak diketahui.

Dengan cara inilah setiap Catatan dapat diperiksa kembali oleh pembaca pada masa depan.


ARAH PENELUSURAN BERIKUTNYA

Sampai Catatan #009, sumber tertulis membawa kita menuju abad I tetapi tidak lagi menghasilkan bukti langsung mengenai Barus atau Batak.

Maka jalan penelitian berikutnya tidak seharusnya terus memaksa sumber Yunani-Romawi.

Kita perlu membuka jalur bukti yang berbeda:

ARKEOLOGI DAN PRASEJARAH SUMATRA.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih mendasar:

Siapa manusia yang menghuni Sumatra sebelum sumber-sumber tertulis asing mulai mengenal kawasan ini?

Kapan masyarakat Austronesia hadir?

Apa yang diketahui dari:

  • situs arkeologi;
  • alat batu;
  • hunian gua;
  • budaya megalitik;
  • migrasi manusia;
  • linguistik Austronesia;
  • serta penelitian genetika?

Dan yang paling penting:

pada titik mana bukti tersebut boleh mulai dihubungkan dengan pembentukan masyarakat yang kelak dikenal sebagai Batak?

Catatan berikutnya tidak lagi sekadar mencari sebuah nama.

Kita akan mulai mencari:

MANUSIANYA.


JEJAK SEJARAH BATAK Catatan #009

Penelusuran berbasis teknologi · Dicatat oleh Armando Sinaga

ejak Sejarah Batak — Catatan #009: Periplus Maris Erythraei Abad I, Seberapa Jauh Dunia Romawi Mengenal Sumatra? | PUSTAHA