PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #016] [1925–1930]

Radio, film bersuara, mobil, penerbangan lintas samudra, dan fisika kuantum membawa dunia menuju kehidupan modern. Namun, pemerintahan otoriter menguat, bencana besar melanda, dan keruntuhan pasar saham 1929 membuka Depresi Besar. Di Hindia Belanda, pemberontakan PKI ditumpas, para tahanan dibuang ke Boven Digoel, Nahdlatul Ulama dan PNI berdiri, sementara Sumpah Pemuda menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #016] [1925–1930]

Dunia Menari di Atas Retakan

Pada pertengahan 1920-an, sebagian kota besar dunia tampak sedang merayakan kemenangan manusia atas jarak, waktu, dan keterbatasan alam.

Mobil memenuhi jalan. Radio membawa musik dan berita ke ruang keluarga. Pesawat menyeberangi samudra. Film mulai dapat berbicara. Gedung bertingkat tumbuh di pusat kota, sementara pabrik menghasilkan barang dalam jumlah besar.

Di laboratorium, para ilmuwan menemukan bahwa materi tidak bekerja seperti mesin sederhana yang selama berabad-abad dibayangkan manusia. Fisika kuantum mengubah pemahaman tentang atom, energi, cahaya, dan kepastian.

Namun, kemakmuran tersebut tidak dinikmati semua orang.

Petani menghadapi penurunan harga. Buruh bekerja dalam sistem produksi yang semakin cepat. Masyarakat jajahan menghasilkan bahan mentah bagi industri dunia tanpa memperoleh kekuasaan yang sebanding. Fasisme menguat di Italia, Stalin memperbesar kendali di Uni Soviet, dan perang saudara serta perebutan kekuasaan terus berlangsung di Tiongkok.

Pada Oktober 1929, harga saham di Wall Street runtuh. Ketakutan menyebar dari pasar ke bank, pabrik, toko, pertanian, dan rumah tangga. Kemakmuran yang dianggap tidak akan berakhir mulai berubah menjadi Depresi Besar.

Di Hindia Belanda, periode ini juga menjadi titik perubahan. Pemberontakan PKI ditumpas. Ribuan orang ditangkap dan sebagian dibuang ke Boven Digoel. Nahdlatul Ulama dan Partai Nasional Indonesia berdiri. Para pemuda dari berbagai daerah bertemu dan mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Dunia bergerak semakin cepat, tetapi tidak semua orang mengetahui ke mana ia sedang menuju. Ketika musik radio memenuhi kota dan pesawat menaklukkan samudra, sebuah keruntuhan ekonomi sedang tumbuh di balik angka-angka kemakmuran.

1925–1930: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Dalam pembagian waktu geologi resmi, periode 1925–1930 berada dalam kala Holosen. Istilah Antroposen digunakan dalam diskusi ilmiah untuk membahas besarnya pengaruh manusia terhadap sistem Bumi, tetapi belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah peradaban, periode ini merupakan:

  • bagian akhir Roaring Twenties;
  • masa pertumbuhan produksi dan konsumsi massal;
  • perkembangan radio, film bersuara, mobil, dan penerbangan;
  • lahirnya dasar mekanika kuantum modern;
  • penguatan pemerintahan Stalin di Uni Soviet;
  • konsolidasi kediktatoran Mussolini di Italia;
  • meningkatnya gerakan nasionalis dan komunis;
  • gejolak politik serta perang saudara di Tiongkok;
  • kehancuran pasar saham 1929;
  • dan awal Depresi Besar.

Di wilayah yang kelak menjadi Indonesia, periode ini mencakup:

  • pembentukan Nahdlatul Ulama;
  • pemberontakan komunis 1926–1927;
  • pembangunan kamp pembuangan Boven Digoel;
  • berdirinya Partai Nasional Indonesia;
  • Kongres Pemuda Kedua dan Sumpah Pemuda;
  • berkembangnya pers serta pendidikan;
  • dan penangkapan Soekarno bersama sejumlah tokoh PNI.

Penduduk Dunia

Jumlah penduduk dunia pada akhir 1920-an diperkirakan telah melampaui dua miliar jiwa. Basis data historis umumnya menempatkan tercapainya angka tersebut sekitar akhir dekade 1920-an.

Angka ini merupakan estimasi karena tidak ada sensus dunia serentak. Kualitas pencatatan berbeda antara negara industri, wilayah pedesaan, dan koloni.

Sebagian besar manusia masih tinggal di desa dan bekerja dalam pertanian. Kota tumbuh cepat, tetapi dunia belum menjadi masyarakat perkotaan seperti sekarang.

Migrasi berlangsung dalam berbagai bentuk:

  • penduduk desa mencari pekerjaan di kota;
  • buruh berpindah menuju tambang dan perkebunan;
  • masyarakat Eropa bermigrasi ke Amerika serta dominion;
  • pengungsi meninggalkan wilayah konflik;
  • dan tenaga kerja dari koloni dipindahkan mengikuti kebutuhan perusahaan.

Negara-negara tertentu memperketat pembatasan imigrasi dengan dasar kebangsaan atau ras. Karena itu, dunia menjadi semakin terhubung secara ekonomi, tetapi pergerakan manusia justru semakin diawasi.

Kehidupan Manusia pada Akhir 1920-an

Kehidupan sehari-hari berbeda sangat tajam menurut tempat dan kelas sosial.

Di kota-kota industri, masyarakat kelas menengah mulai mengenal:

  • radio;
  • telepon;
  • mobil;
  • lemari es awal;
  • mesin cuci;
  • penyedot debu;
  • bioskop;
  • dan pembelian barang dengan cicilan.

Iklan mendorong masyarakat menghubungkan kebahagiaan dengan kepemilikan barang. Kredit memungkinkan barang dibeli sebelum seluruh harganya dibayar.

Namun, bagi buruh, modernisasi berarti pekerjaan yang semakin diatur oleh jam, mesin, dan target produksi.

Banyak pekerja melakukan gerakan berulang dalam jalur perakitan. Produktivitas meningkat, tetapi pekerjaan dapat menjadi monoton dan melelahkan.

Di desa-desa dunia, kehidupan masih mengikuti musim tanam, hujan, panen, pasar, serta ketersediaan hewan pekerja. Radio dan listrik belum menjangkau banyak wilayah.

Perempuan dan Kehidupan Modern

Perempuan memperoleh ruang yang semakin besar dalam pendidikan, pekerjaan, politik, dan budaya populer.

Di beberapa negara, perempuan telah memiliki hak pilih. Mereka bekerja sebagai guru, perawat, sekretaris, pegawai toko, pekerja pabrik, wartawan, dan seniman.

Gaya perempuan muda perkotaan—rambut pendek, pakaian lebih praktis, musik, dan kehidupan sosial—sering digunakan sebagai simbol perubahan zaman.

Namun, kebebasan tersebut tidak berlaku bagi semua perempuan.

Perempuan miskin, perempuan dari kelompok minoritas, buruh perkebunan, petani, dan perempuan di wilayah kolonial tetap menghadapi keterbatasan ekonomi, hukum, pendidikan, serta adat.

Pekerjaan domestik dan pengasuhan yang dilakukan perempuan juga jarang dihitung dalam statistik ekonomi.

Ekonomi dan Kemakmuran yang Tidak Merata

Amerika Serikat mengalami pertumbuhan industri serta konsumsi yang kuat dalam sebagian besar dekade 1920-an.

Produksi mobil, peralatan listrik, konstruksi, iklan, hiburan, dan pasar saham berkembang. Produktivitas pabrik meningkat berkat elektrifikasi, mesin, serta organisasi kerja.

Namun, terdapat kelemahan di bawah kemakmuran tersebut:

  • pendapatan dan kekayaan tidak terbagi merata;
  • petani menghadapi harga hasil pertanian yang rendah;
  • sebagian pembelian dilakukan dengan kredit;
  • perusahaan menghasilkan barang lebih cepat daripada kemampuan semua masyarakat membelinya;
  • spekulasi saham meningkat;
  • bank serta investor memberikan pinjaman berisiko;
  • dan sistem keuangan internasional masih bergantung pada utang serta reparasi perang.

Di Eropa, pemulihan bergantung pada pinjaman Amerika. Jerman membayar reparasi kepada negara pemenang, sedangkan negara pemenang membayar utang perang kepada Amerika Serikat.

Hubungan tersebut membentuk jaringan yang tampak stabil selama modal terus mengalir.

Spekulasi Pasar Saham

Pada akhir 1920-an, semakin banyak orang membeli saham karena percaya harganya akan terus naik.

Sebagian pembelian dilakukan on margin: investor membayar sebagian kecil harga saham dan meminjam sisanya. Sistem ini dapat memperbesar keuntungan ketika harga naik, tetapi juga memperbesar kerugian ketika harga turun.

Harga sejumlah saham meningkat lebih cepat daripada keuntungan nyata perusahaan.

Tokoh ekonomi, surat kabar, perusahaan, dan masyarakat ikut membangun keyakinan bahwa era kemakmuran baru telah dimulai.

Namun, pasar tidak dapat terus naik hanya berdasarkan harapan.

Keruntuhan Wall Street 1929

Perekonomian Amerika Serikat mulai melemah sebelum keruntuhan pasar saham. Produksi beberapa industri menurun dan pertumbuhan melambat.

Pada Oktober 1929, gelombang penjualan mengguncang Bursa Efek New York.

Tanggal 24 Oktober dikenal sebagai Black Thursday, sedangkan 29 Oktober dikenal sebagai Black Tuesday. Harga saham jatuh ketika investor berusaha menjual kepemilikan mereka secara bersamaan.

Banyak orang kehilangan tabungan. Investor yang membeli saham dengan utang tetap harus membayar pinjaman ketika nilai sahamnya telah runtuh.

Temuan Penelitian

Keruntuhan pasar saham bukan satu-satunya penyebab Depresi Besar.

Federal Reserve History menjelaskan bahwa kontraksi ekonomi telah dimulai pada 1929. Kejatuhan saham memperburuk ketakutan, mengurangi konsumsi, menekan investasi, serta mendorong perusahaan mengurangi produksi dan pekerja.

Krisis kemudian diperdalam oleh:

  • kegagalan bank;
  • penyusutan jumlah uang dan kredit;
  • deflasi;
  • utang;
  • penurunan perdagangan;
  • serta penyebaran tekanan melalui sistem standar emas.

Sebagian besar kehancuran tersebut berkembang setelah 1930 dan akan dibahas lebih lengkap dalam Catatan berikutnya.

Pasar saham runtuh dalam hitungan hari, tetapi Depresi Besar terbentuk melalui rangkaian kelemahan ekonomi yang telah berkembang jauh sebelum orang berkumpul dalam kepanikan di Wall Street.

Pertanian Dunia Sebelum Depresi

Petani di berbagai negara tidak sepenuhnya menikmati kemakmuran 1920-an.

Selama Perang Dunia I, permintaan pangan tinggi mendorong perluasan produksi. Banyak petani membeli tanah dan mesin melalui pinjaman.

Setelah perang, produksi global pulih dan harga hasil pertanian turun. Pendapatan petani berkurang, tetapi utang tetap harus dibayar.

Mekanisasi meningkatkan produksi sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja di beberapa wilayah.

Di wilayah kolonial, pertanian ekspor membuat masyarakat rentan terhadap perubahan harga dunia. Ketika harga karet, gula, kopi, atau komoditas lain turun, dampaknya mencapai perkebunan, buruh, pedagang, dan desa.

Energi dan Sumber Daya

Batu bara tetap penting bagi industri, pembangkit listrik, kereta api, dan pemanas.

Namun, minyak bumi semakin menentukan ekonomi modern karena digunakan untuk:

  • mobil;
  • truk;
  • kapal;
  • pesawat;
  • mesin pertanian;
  • industri kimia;
  • dan kekuatan militer.

Perusahaan minyak berkembang menjadi kekuatan internasional. Negara-negara memperhatikan wilayah penghasil minyak sebagai bagian dari strategi ekonomi dan keamanan.

Permintaan karet juga meningkat seiring berkembangnya industri ban dan kendaraan.

Pembangkit listrik serta jaringan distribusi berkembang di kota. Elektrifikasi mengubah cara pabrik beroperasi dan memungkinkan penggunaan peralatan rumah tangga baru.

Namun, banyak penduduk desa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin masih belum memiliki akses listrik.

Dunia Teknologi 1925–1930

Radio Menyatukan Pendengar

Radio berkembang menjadi media massa utama.

Keluarga dapat mendengar musik, berita, pidato, iklan, drama, olahraga, dan laporan cuaca tanpa meninggalkan rumah.

Radio menciptakan pengalaman baru: jutaan orang dapat mendengar suara yang sama pada waktu hampir bersamaan.

Pemerintah dan gerakan politik menyadari kekuatannya. Radio dapat menyebarkan pendidikan serta peringatan, tetapi juga propaganda.

Film Mulai Berbicara

Film bisu masih dominan pada pertengahan 1920-an. Musik dan efek suara biasanya dimainkan langsung di bioskop.

Pada 1927, The Jazz Singer dikenal luas sebagai salah satu film panjang penting yang menggunakan dialog tersinkronisasi.

Peralihan menuju film bersuara mengubah industri:

  • bioskop membutuhkan peralatan baru;
  • studio harus mengembangkan teknik rekaman;
  • aktor menghadapi tuntutan suara dan bahasa;
  • serta film menjadi semakin terikat pada bahasa tertentu.

Teknologi suara membuka era baru hiburan, berita, dan propaganda.

Mobil Mengubah Bentang Kota

Produksi mobil terus meningkat.

Jalan diperlebar, jembatan dibangun, pompa bensin bermunculan, dan kawasan permukiman berkembang lebih jauh dari pusat kota.

Mobil memberikan mobilitas, tetapi juga membawa:

  • kecelakaan;
  • kemacetan;
  • kebutuhan parkir;
  • polusi;
  • ketergantungan terhadap minyak;
  • dan perubahan penggunaan lahan.

Kota mulai dirancang bukan hanya bagi pejalan kaki, trem, dan kereta, tetapi juga kendaraan pribadi.

Charles Lindbergh Menyeberangi Atlantik

Pada Mei 1927, Charles Lindbergh melakukan penerbangan solo tanpa henti dari New York menuju Paris dengan pesawat Spirit of St. Louis.

Penerbangan tersebut membuktikan kemampuan pesawat menempuh perjalanan jarak jauh dan menarik perhatian dunia.

Namun, penerbangan masih berbahaya. Navigasi, ramalan cuaca, mesin, landasan, dan komunikasi belum seandal masa modern.

Keberhasilan Lindbergh memperkuat minat terhadap penerbangan sipil dan komersial.

Roket dan Perjalanan Antariksa

Robert H. Goddard berhasil meluncurkan roket berbahan bakar cair pada 1926.

Penerbangannya singkat dan rendah, tetapi prinsip teknologinya menjadi dasar penting bagi perkembangan roket modern.

Pada masa tersebut, perjalanan ke luar angkasa masih terlihat seperti khayalan bagi sebagian besar masyarakat. Namun, percobaan kecil itu menunjukkan bahwa mesin roket cair dapat bekerja.

Televisi Eksperimental

John Logie Baird melakukan demonstrasi sistem televisi mekanis pada pertengahan 1920-an.

Gambarnya masih kecil, beresolusi rendah, dan belum menjadi layanan rumah tangga. Peneliti lain juga mengembangkan sistem elektronik yang kelak menggantikan banyak teknologi mekanis awal.

Televisi belum mengubah masyarakat pada periode ini, tetapi dasarnya sedang dibangun.

Revolusi Fisika Kuantum

Pada 1925, Werner Heisenberg mengembangkan bentuk mekanika kuantum yang menggunakan susunan matematika matriks.

Pada 1926, Erwin Schrödinger mengembangkan mekanika gelombang dan persamaan yang menggambarkan keadaan kuantum.

Max Born menafsirkan fungsi gelombang secara probabilistik. Pada 1927, Heisenberg merumuskan hubungan ketidakpastian.

Temuan-temuan tersebut mengubah pemahaman tentang alam.

Dalam fisika klasik, posisi dan gerak suatu benda dipandang dapat diketahui dengan ketelitian sempurna apabila informasi serta alat cukup baik. Dalam fisika kuantum, terdapat batas mendasar terhadap kepastian beberapa pasangan besaran.

Mekanika kuantum kemudian menjadi dasar bagi:

  • semikonduktor;
  • transistor;
  • laser;
  • elektronika;
  • teknologi komputer;
  • pencitraan medis;
  • dan berbagai teknologi modern.

Para ilmuwan pada 1920-an belum mengetahui seluruh penerapannya. Mereka sedang berusaha memahami kenyataan pada skala atom.

Penemuan Penisilin

Pada 1928, Alexander Fleming mengamati bahwa jamur dari genus Penicillium menghambat pertumbuhan bakteri pada cawan laboratorium.

Temuan tersebut membuka jalan menuju penisilin.

Namun, penisilin belum langsung tersedia sebagai obat massal. Pemurnian, pengujian, serta produksi dalam skala besar baru berkembang pada periode berikutnya, terutama menjelang dan selama Perang Dunia II.

Karena itu, tidak tepat menggambarkan bahwa antibiotik telah menyelamatkan masyarakat luas sejak 1928. Pada periode ini, sebagian besar infeksi bakteri masih dapat menjadi sangat berbahaya.

Astronomi dan Alam Semesta yang Membesar

Penelitian Edwin Hubble membantu menunjukkan bahwa nebula seperti Andromeda merupakan galaksi di luar Bima Sakti.

Pada 1929, Hubble menerbitkan hubungan antara jarak galaksi dan pergeseran spektrum menuju merah. Pengamatan tersebut menjadi bukti penting bagi gagasan alam semesta yang mengembang.

Georges Lemaître sebelumnya telah menghubungkan relativitas umum dengan alam semesta yang mengembang dan memaparkan hubungan serupa.

Seperti banyak penemuan ilmiah, pemahaman mengenai ekspansi alam semesta bukan hasil satu orang atau satu pengamatan saja. Ia terbentuk melalui teori, pengamatan, pengukuran, dan perdebatan.

Kesehatan Masyarakat

Insulin telah mulai mengubah kehidupan penderita diabetes, tetapi aksesnya masih terbatas oleh produksi, harga, serta fasilitas medis.

Tuberkulosis, malaria, pes, difteri, campak, kolera, penyakit diare, dan infeksi setelah melahirkan masih menyebabkan kematian luas.

Program vaksinasi serta sanitasi berkembang, tetapi belum merata.

Di wilayah yang memiliki air bersih, pembuangan limbah, laboratorium, dan rumah sakit, angka kematian dapat turun lebih cepat. Di daerah miskin dan kolonial, layanan sering terkonsentrasi di kota atau kawasan ekonomi penting.

Pandemi influenza telah meninggalkan pelajaran, tetapi belum ada sistem kesehatan global yang mampu menjamin kesiapan semua negara.

Geopolitik Dunia

Stalin Memperkuat Kekuasaan

Setelah Lenin meninggal pada 1924, terjadi persaingan kepemimpinan di Uni Soviet.

Joseph Stalin menggunakan kedudukannya sebagai sekretaris jenderal untuk memperluas jaringan kekuasaan. Leon Trotsky dan tokoh lain secara bertahap kehilangan pengaruh.

Pada akhir 1920-an, Stalin menjadi pemimpin dominan.

Pemerintah Soviet mulai meninggalkan New Economic Policy dan bergerak menuju industrialisasi terpusat serta kolektivisasi pertanian.

Tujuannya adalah mengubah Uni Soviet menjadi kekuatan industri dalam waktu singkat. Namun, kebijakan tersebut menimbulkan pemaksaan, penindasan, perpindahan, dan penderitaan yang akan terlihat semakin besar pada dekade berikutnya.

Mussolini Mengubah Italia

Mussolini memperkuat kekuasaan setelah krisis politik akibat pembunuhan Giacomo Matteotti.

Pada 1925–1926, pemerintahan fasis membatasi kebebasan pers, melemahkan oposisi, melarang partai lawan, dan membangun negara satu partai.

Propaganda menggambarkan pemimpin sebagai pusat negara. Organisasi pemuda, media, pendidikan, dan simbol politik digunakan untuk membentuk masyarakat.

Fasisme tidak tumbuh hanya melalui pidato. Ia berkembang melalui kekerasan terorganisasi, ketakutan, dukungan elite tertentu, dan pelemahan lembaga demokrasi.

Jerman dan Munculnya Hitler

Setelah upaya kudeta Beer Hall Putsch 1923 gagal, Adolf Hitler dipenjara dan menulis bagian besar Mein Kampf.

Partai Nazi masih belum menjadi kekuatan terbesar pada sebagian besar akhir 1920-an. Pemulihan ekonomi membuat dukungan terhadap kelompok ekstrem lebih terbatas.

Namun, jaringan organisasi, propaganda, antisemitisme, ultranasionalisme, dan kebencian terhadap Perjanjian Versailles tetap berkembang.

Krisis ekonomi setelah 1929 akan memberikan kondisi baru bagi kebangkitan mereka.

Tiongkok: Revolusi dan Perang Saudara

Tiongkok masih mengalami fragmentasi politik dan kekuasaan para panglima perang.

Kuomintang atau Partai Nasionalis dan Partai Komunis Tiongkok pernah bekerja sama dalam Front Persatuan Pertama untuk melawan para panglima perang serta menyatukan negara.

Ekspedisi Utara dimulai pada 1926.

Namun, pada 1927, Chiang Kai-shek dan unsur Kuomintang melakukan penindasan terhadap komunis serta serikat buruh, terutama dalam pembantaian Shanghai.

Kerja sama runtuh dan konflik antara nasionalis serta komunis berkembang menjadi perang saudara yang panjang.

Masyarakat sipil menghadapi pertempuran, perpindahan, tekanan ekonomi, dan kekuasaan politik yang berubah-ubah.

Nasionalisme, Kolonialisme, dan Dunia yang Tidak Setara

Liga Bangsa-Bangsa mencoba mengelola sengketa internasional, tetapi kekuasaan kolonial masih bertahan.

Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Jepang, Amerika Serikat, dan negara lain menguasai wilayah di luar pusat negaranya.

Masyarakat di India, Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika, dan wilayah lainnya membangun gerakan politik.

Nasionalisme memiliki wajah berbeda:

  • perjuangan kemerdekaan;
  • reformasi pemerintahan;
  • kebangkitan budaya;
  • gerakan agama;
  • sosialisme;
  • komunisme;
  • dan perlawanan bersenjata.

Kekuatan kolonial sering menyebut gerakan tersebut sebagai ancaman keamanan, sedangkan para pendukungnya memandangnya sebagai perjuangan memperoleh hak menentukan masa depan sendiri.

Banjir Besar Mississippi 1927

Pada musim semi 1927, banjir besar melanda lembah Sungai Mississippi di Amerika Serikat.

Tanggul jebol dan wilayah luas terendam. Ratusan ribu orang harus meninggalkan rumah, dengan masyarakat kulit hitam di kawasan selatan mengalami penderitaan serta diskriminasi berat dalam evakuasi dan kamp pengungsian.

Jumlah korban langsung relatif lebih rendah dibandingkan beberapa bencana gempa besar, tetapi dampak sosial serta ekonomi sangat luas.

Banjir tersebut mendorong perubahan besar dalam kebijakan pengendalian sungai dan pembangunan tanggul federal.

Namun, pengendalian sungai juga menimbulkan pertanyaan jangka panjang. Tanggul dapat melindungi wilayah tertentu, tetapi juga mengubah aliran air, sedimen, lahan basah, dan risiko di wilayah lain.

Badai Okeechobee 1928

Pada September 1928, badai besar melintasi Karibia dan menghantam Puerto Riko serta Florida.

Di sekitar Danau Okeechobee, angin dan tekanan badai mendorong air melampaui tanggul. Ribuan orang meninggal, terutama pekerja pertanian dan masyarakat kulit hitam di daerah rendah.

Perkiraan korban berbeda, tetapi bencana ini termasuk badai paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Ketimpangan juga terlihat setelah bencana. Identifikasi, pemakaman, bantuan, dan penghormatan terhadap korban tidak dilakukan secara setara.

Gempa Gulang 1927

Pada Mei 1927, gempa besar mengguncang wilayah Gulang di Provinsi Gansu, Tiongkok.

Gempa meruntuhkan permukiman, memicu longsor, dan menewaskan puluhan ribu orang menurut berbagai perkiraan.

Bangunan yang tidak tahan gempa dan kesulitan akses memperbesar korban.

Seperti Gempa Haiyuan 1920, bencana ini menunjukkan tingginya risiko gempa di wilayah daratan Tiongkok serta keterbatasan pencatatan pada masa tersebut.

Gempa Murchison 1929

Pada Juni 1929, gempa kuat terjadi di wilayah Murchison, Pulau Selatan, Selandia Baru.

Longsor menutup jalan dan sungai, sementara permukaan tanah mengalami perubahan besar. Gempa menewaskan belasan orang dan merusak wilayah luas.

Jumlah korban relatif lebih rendah daripada gempa di kawasan padat, tetapi perubahan bentang alamnya penting bagi penelitian geologi.

Cuaca, Iklim, dan Lingkungan

Suhu global pada akhir 1920-an masih lebih rendah daripada suhu dunia abad ke-21.

Emisi karbon dioksida terus meningkat akibat pembakaran batu bara, minyak, produksi semen, dan perubahan penggunaan lahan.

Ilmu mengenai efek rumah kaca telah dikenal, tetapi pemantauan iklim global belum sekomprehensif sekarang.

Jaringan stasiun cuaca, kapal, balon atmosfer, telegraf, dan radio memperbaiki pengamatan. Informasi badai dapat disebarkan lebih cepat, tetapi jangkauannya masih terbatas.

Banjir Mississippi dan Badai Okeechobee memperlihatkan bahwa besarnya bencana tidak ditentukan oleh cuaca saja. Tanggul, lokasi permukiman, kemiskinan, diskriminasi, kualitas peringatan, dan kemampuan evakuasi menentukan jumlah korban.

Kondisi Tata Surya

Periode 1925–1930 berada dalam Siklus Matahari 16.

Aktivitas bintik Matahari meningkat setelah minimum sekitar 1923 dan mencapai puncak sekitar 1928, kemudian mulai menurun.

Peningkatan aktivitas Matahari dapat menghasilkan aurora serta gangguan geomagnetik dan komunikasi radio.

Namun, tidak terdapat bukti ilmiah bahwa Siklus Matahari 16 menyebabkan keruntuhan pasar saham, kebangkitan pemerintahan otoriter, pemberontakan politik, gempa, atau badai.

Hubungan antara aktivitas Matahari dan iklim jangka panjang juga tidak boleh disimpulkan hanya dari kemiripan waktu.

Hindia Belanda: Nama Indonesia Semakin Nyata

Pada 1925–1930, wilayah yang kelak menjadi Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Struktur kolonial membedakan masyarakat berdasarkan kategori hukum dan rasial. Kekuasaan politik, pendidikan, hukum, tanah, dan ekonomi tidak dibagikan secara setara.

Namun, identitas Indonesia berkembang cepat.

Istilah Indonesia semakin digunakan oleh mahasiswa, wartawan, organisasi, dan aktivis untuk menyebut satu bangsa yang melampaui batas suku serta wilayah.

Perubahan ini penting. Perjuangan tidak lagi hanya diarahkan pada perbaikan keadaan suatu kelompok atau daerah, tetapi menuju pembentukan negara yang merdeka.

Kehidupan dan Ekonomi Masyarakat Nusantara

Sebagian besar penduduk tetap hidup dari pertanian.

Padi menjadi makanan utama di banyak wilayah, sedangkan jagung, ubi, sagu, ikan, dan hasil lokal penting di wilayah lainnya.

Ekonomi ekspor menghasilkan:

  • karet;
  • gula;
  • minyak;
  • timah;
  • teh;
  • kopi;
  • tembakau;
  • kina;
  • dan kopra.

Pertumbuhan kendaraan dunia meningkatkan permintaan karet dan minyak. Perkebunan serta perusahaan memperoleh manfaat dari pasar internasional.

Namun, buruh dan petani menghadapi:

  • upah rendah;
  • utang;
  • tekanan pajak;
  • keterbatasan tanah;
  • perubahan harga;
  • serta hubungan kerja yang tidak seimbang.

Ketika ekonomi dunia mulai melemah pada 1929, harga komoditas ikut tertekan. Dampak penuhnya terhadap Hindia Belanda akan terlihat pada awal 1930-an.

Dunia Teknologi di Hindia Belanda

Kereta api, trem, kapal uap, mobil, telegraf, dan telepon terus berkembang.

Radio mulai memasuki kehidupan perkotaan, meskipun penerima radio masih mahal dan belum dimiliki sebagian besar masyarakat.

Bioskop menampilkan film Eropa, Amerika, dan Asia. Film serta musik rekaman membawa budaya baru ke kota-kota Hindia.

Percetakan menghasilkan surat kabar, majalah, buku, pamflet, dan bahan organisasi.

Teknologi yang memperkuat administrasi serta ekonomi kolonial juga membuka jalur bagi gerakan nasional:

  • kereta membawa aktivis;
  • surat kabar menyebarkan pidato;
  • kantor pos menghubungkan organisasi;
  • dan sekolah mempertemukan pemuda dari berbagai daerah.

Nahdlatul Ulama Berdiri

Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926.

Organisasi ini berakar pada jaringan ulama, pesantren, dan masyarakat Islam tradisional. K.H. Hasyim Asy’ari menjadi tokoh penting dalam pendiriannya.

Kelahiran NU berhubungan dengan perkembangan keagamaan, pendidikan, perubahan politik, serta hubungan ulama Nusantara dengan dunia Islam.

NU kemudian berkembang dalam bidang:

  • pendidikan;
  • keagamaan;
  • sosial;
  • kebudayaan;
  • dan kehidupan kebangsaan.

Pembentukan NU memperlihatkan bahwa masyarakat pesantren juga membangun organisasi modern untuk mempertahankan tradisi sekaligus menghadapi perubahan zaman.

Pemberontakan PKI 1926–1927

Pada akhir 1926, pemberontakan yang berkaitan dengan PKI pecah di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Banten dan Batavia. Gerakan kemudian muncul di Sumatra Barat pada awal 1927.

Pemberontakan tidak berlangsung seragam. Kekuatan, waktu, kepemimpinan, dan dukungan berbeda antara daerah.

Tidak seluruh pemimpin PKI menyetujui rencana tersebut. Tan Malaka termasuk tokoh yang menilai kondisi belum memadai untuk melakukan pemberontakan.

Pemerintah kolonial menindak gerakan dengan kekuatan besar.

Ribuan orang ditangkap. Sebagian dihukum penjara, sebagian dibuang, dan beberapa orang dihukum mati.

Banyak orang ditahan berdasarkan dugaan keterlibatan atau hubungan politik, tidak selalu melalui proses hukum yang terbuka dan setara.

Temuan Penelitian

Kegagalan pemberontakan dipengaruhi oleh:

  • koordinasi yang lemah;
  • perbedaan pandangan di antara pemimpin;
  • persiapan tidak merata;
  • pengawasan pemerintah;
  • penangkapan sebelum gerakan;
  • serta kemampuan militer kolonial.

Penumpasan pemberontakan memberikan pemerintah alasan memperketat pengawasan terhadap seluruh gerakan politik, tidak hanya kelompok komunis.

Boven Digoel

Pada 1927, pemerintah kolonial membangun tempat pengasingan di Boven Digoel, Papua bagian selatan.

Lokasinya terpencil, sulit dijangkau, dikelilingi hutan, sungai, penyakit, dan kondisi alam berat.

Ratusan hingga lebih dari seribu orang yang dianggap terlibat atau berhubungan dengan gerakan komunis dibuang ke sana, termasuk keluarga dalam sejumlah kasus.

Boven Digoel bukan penjara biasa dengan tembok tinggi. Jarak, hutan, malaria, dan keterasingan menjadi bagian dari sistem pengendaliannya.

Sebagian tahanan tidak pernah memperoleh pengadilan yang layak.

Di Boven Digoel, kekuasaan kolonial menggunakan jarak sebagai tembok dan alam sebagai penjaga.

Kisah Boven Digoel juga harus membedakan pengalaman para tahanan dari kehidupan masyarakat asli Papua yang telah mendiami wilayah tersebut jauh sebelum kamp pengasingan dibangun.

Partai Nasional Indonesia

Pada 4 Juli 1927, Perserikatan Nasional Indonesia didirikan di Bandung. Organisasi tersebut kemudian dikenal sebagai Partai Nasional Indonesia atau PNI.

Soekarno menjadi salah satu tokoh utamanya.

PNI menekankan:

  • kemerdekaan Indonesia;
  • kekuatan sendiri;
  • kesadaran nasional;
  • organisasi massa;
  • dan sikap nonkooperasi terhadap pemerintahan kolonial.

PNI tidak hanya meminta perbaikan dalam sistem kolonial. Tujuannya diarahkan pada berakhirnya kekuasaan kolonial dan berdirinya Indonesia merdeka.

Pidato Soekarno menggunakan bahasa yang dapat menghubungkan nasionalisme dengan pengalaman rakyat mengenai kemiskinan, penjajahan, dan ketidakadilan.

Kongres Pemuda Kedua

Pada 27–28 Oktober 1928, pemuda dari berbagai organisasi daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda Kedua di Batavia.

Pesertanya berasal dari organisasi seperti:

  • Jong Java;
  • Jong Sumatranen Bond;
  • Jong Celebes;
  • Jong Bataks Bond;
  • Sekar Rukun;
  • Jong Islamieten Bond;
  • Pemuda Kaum Betawi;
  • dan kelompok lainnya.

Kongres berlangsung di beberapa lokasi dan membahas persatuan, pendidikan, kebangsaan, serta bahasa.

Pada penutupan kongres, rumusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan: Indonesia.

Indonesia Raya

Pada Kongres Pemuda Kedua, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biola.

Lagu tersebut kemudian menjadi simbol penting gerakan kebangsaan dan kelak menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Pada saat itu, Indonesia belum merdeka dan lagu tersebut berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial.

Musik memperlihatkan kekuatan yang berbeda dari pidato politik. Melodi dapat diingat, dinyanyikan, dan membawa gagasan persatuan melewati batas pendidikan serta daerah.

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan

Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam perdagangan, komunikasi antardaerah, pendidikan, pers, dan administrasi.

Para pemuda memilih nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pilihan tersebut sangat penting karena tidak memaksakan bahasa kelompok dengan jumlah penduduk terbesar sebagai bahasa nasional.

Bahasa Indonesia memberi ruang bagi pembentukan identitas bersama tanpa menghapus bahasa daerah.

Pada 1928, Indonesia belum memiliki pemerintahan, tentara nasional, atau batas negara yang berdaulat. Namun, ia telah memiliki nama, bahasa persatuan, lagu, dan generasi yang membayangkan masa depan bersama.

Perempuan dalam Kongres dan Pergerakan

Perempuan ikut terlibat dalam pendidikan, organisasi, pers, dan pergerakan kebangsaan.

Beberapa perempuan hadir serta berperan dalam lingkungan Kongres Pemuda. Organisasi perempuan juga berkembang di berbagai daerah dengan perhatian pada pendidikan, perkawinan, kesehatan, dan kedudukan perempuan.

Kongres Perempuan Indonesia pertama diselenggarakan di Yogyakarta pada Desember 1928.

Kongres tersebut mempertemukan berbagai organisasi perempuan dan membahas:

  • pendidikan perempuan;
  • perkawinan anak;
  • poligami;
  • kesejahteraan ibu dan anak;
  • dan kerja sama antarkelompok.

Perjuangan kebangsaan dan perjuangan perempuan berkembang saling berhubungan, meskipun tidak selalu berjalan tanpa perbedaan.

Pers dan Penyebaran Nasionalisme

Surat kabar serta majalah menyebarkan gagasan mengenai Indonesia.

Bahasa Melayu membuat tulisan dapat dibaca melintasi batas daerah. Pers melaporkan pidato, kongres, pemogokan, penangkapan, ekonomi, dan peristiwa internasional.

Pemerintah kolonial menggunakan sensor, larangan penerbitan, penangkapan, dan aturan pers untuk membatasi kritik.

Namun, setiap tindakan represif dapat membuat sebuah tulisan atau tokoh semakin dikenal.

Pers menjadi tempat berlangsungnya perjuangan mengenai siapa yang berhak menjelaskan keadaan masyarakat dan menentukan masa depan Hindia.

Pendidikan dan Taman Siswa

Taman Siswa terus berkembang sebagai jaringan pendidikan yang menekankan kebudayaan, kemandirian, dan martabat.

Sekolah bukan hanya tempat mempelajari kemampuan membaca serta berhitung. Ia menjadi ruang pembentukan manusia yang memahami dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.

Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, pesantren, sekolah Kristen, sekolah organisasi lokal, dan lembaga lainnya juga memperluas pendidikan.

Akses tetap terbatas dibandingkan jumlah penduduk. Namun, setiap sekolah dapat melahirkan guru, pembaca, penulis, serta penggerak organisasi baru.

Penangkapan Soekarno dan Tokoh PNI

Pada akhir Desember 1929, pemerintah kolonial menangkap Soekarno dan sejumlah tokoh PNI.

Mereka dituduh melakukan kegiatan yang mengancam ketertiban kolonial.

Penangkapan tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap gerakan nasionalis nonkomunis setelah pemberontakan PKI ditumpas.

Persidangan dan pidato pembelaan Soekarno yang terkenal sebagai Indonesia Menggugat berlangsung pada 1930 dan akan dibahas dalam Catatan berikutnya.

Kesehatan Masyarakat Nusantara

Malaria, tuberkulosis, pes, cacar, penyakit diare, dan infeksi lainnya masih menjadi ancaman besar.

Pelayanan kesehatan kolonial berkembang di kota, perkebunan, dan wilayah ekonomi penting, tetapi tidak menjangkau semua penduduk secara setara.

Program pengendalian tikus dan perbaikan rumah dijalankan untuk menghadapi pes. Vaksinasi dilakukan untuk penyakit tertentu.

Namun, kemiskinan, gizi, kualitas air, perumahan, dan jarak dari fasilitas kesehatan tetap menentukan risiko kematian.

Cuaca dan Pengamatan Geofisika Nusantara

Pada periode ini belum ada lembaga bernama BMKG.

Pengamatan dilakukan oleh lembaga kolonial, termasuk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium di Batavia dan jaringan stasiun di berbagai wilayah.

Pengamatan mencakup sebagian data:

  • suhu;
  • curah hujan;
  • tekanan udara;
  • angin;
  • gempa;
  • dan magnet bumi.

Cakupan stasiun belum merata. Pelabuhan, kota, perkebunan, dan pusat administrasi lebih banyak tercatat daripada daerah terpencil.

Laporan banjir, kekeringan, angin kencang, atau gagal panen harus dibandingkan dengan arsip lokal dan rekonstruksi ilmiah sebelum dihubungkan dengan pola iklim global.

Geologi dan Mitigasi Bencana di Nusantara

Gunung api, gempa, tsunami, banjir, dan longsor tetap menjadi bagian dari kehidupan kepulauan.

Pekerjaan terowongan pengurangan air Danau Kawah Kelud dilanjutkan setelah bencana 1919. Upaya tersebut menjadi salah satu contoh awal rekayasa mitigasi gunung api.

Namun, teknologi tidak dapat menghilangkan seluruh bahaya. Terowongan, tanggul, dan sistem peringatan tetap membutuhkan pemeliharaan, pengetahuan, serta penyesuaian terhadap perubahan gunung.

Tidak seluruh bencana daerah pada 1925–1930 memiliki dokumentasi lengkap. Catatan kolonial cenderung lebih rinci di wilayah yang penting bagi pemerintahan dan ekonomi.

Karena itu, sejarah kebencanaan Nusantara harus membandingkan katalog modern, arsip kolonial, penelitian geologi, surat kabar, serta ingatan masyarakat.

Hubungan Dunia dan Nusantara

Kemakmuran industri dunia membutuhkan komoditas Nusantara.

Mobil membutuhkan karet dan minyak. Pabrik membutuhkan timah serta bahan mentah. Masyarakat perkotaan mengonsumsi gula, kopi, teh, tembakau, dan kopra.

Ketika permintaan dunia naik, perkebunan meluas. Ketika harga jatuh, buruh dan petani ikut menanggung akibatnya.

Pada saat yang sama, gagasan dunia memasuki Hindia:

  • komunisme dari gerakan internasional;
  • nasionalisme dari Asia dan Eropa;
  • pembaruan Islam dari jaringan Timur Tengah;
  • pendidikan modern;
  • gerakan buruh;
  • serta gagasan penentuan nasib sendiri.

Indonesia tidak tumbuh dalam ruang tertutup. Ia terbentuk melalui pertemuan pengalaman lokal dengan perubahan global.

Fakta, Temuan Penelitian, dan Ketidakpastian

Fakta

  • Mekanika kuantum berkembang pesat sejak 1925.
  • Robert Goddard meluncurkan roket berbahan bakar cair pada 1926.
  • Charles Lindbergh melakukan penerbangan solo tanpa henti melintasi Atlantik pada 1927.
  • Film bersuara berkembang sejak akhir 1920-an.
  • Alexander Fleming mengamati efek antibakteri Penicillium pada 1928.
  • Keruntuhan pasar saham Amerika terjadi pada Oktober 1929.
  • NU didirikan pada 1926.
  • Pemberontakan PKI berlangsung pada 1926–1927.
  • Boven Digoel digunakan sebagai tempat pengasingan sejak 1927.
  • PNI didirikan pada 1927.
  • Sumpah Pemuda dirumuskan pada 28 Oktober 1928.
  • Soekarno dan sejumlah tokoh PNI ditangkap pada akhir 1929.

Temuan Penelitian

  • Kemakmuran 1920-an tidak terbagi secara merata.
  • Spekulasi dan kredit memperbesar kerentanan pasar saham.
  • Keruntuhan pasar 1929 memperburuk kontraksi, tetapi bukan satu-satunya penyebab Depresi Besar.
  • Teknologi komunikasi membantu membentuk budaya massa serta organisasi politik.
  • Represi setelah pemberontakan PKI memengaruhi seluruh lingkungan pergerakan nasional.
  • Bahasa, pendidikan, pers, organisasi pemuda, dan musik membantu membangun identitas Indonesia.

Ketidakpastian

  • Jumlah korban beberapa gempa, badai, banjir, dan kekerasan politik berbeda menurut sumber.
  • Jumlah orang yang ditangkap serta dibuang setelah pemberontakan PKI tidak selalu sama dalam setiap catatan.
  • Dokumentasi kolonial tidak mewakili seluruh pengalaman masyarakat.
  • Banyak peristiwa desa, bencana lokal, dan kehidupan kelompok yang tidak memiliki akses tulisan belum ditemukan.
  • Data iklim dan ekonomi historis dapat diperbarui melalui metode penelitian baru.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Periode 1925–1930 memperlihatkan dua dunia yang berjalan berdampingan.

Dunia pertama percaya pada kemajuan. Ia membangun mobil, radio, film bersuara, pesawat, roket, dan teori baru tentang alam semesta.

Dunia kedua hidup di bawah permukaan kemajuan itu. Ia terdiri atas petani yang terlilit utang, buruh dengan upah rendah, masyarakat yang didiskriminasi, bangsa yang dijajah, dan kelompok politik yang ditekan.

Kehancuran pasar saham memperlihatkan bahwa angka kekayaan dapat meningkat tanpa fondasi sosial dan ekonomi yang kuat. Kepercayaan membuat harga naik, tetapi ketakutan dapat menjatuhkannya dalam waktu singkat.

Di Hindia Belanda, pemberontakan 1926–1927 gagal dan dibalas dengan penindasan. Namun, gagasan kemerdekaan tidak menghilang. Ia berpindah bentuk—ke pendidikan, organisasi nasionalis, pers, kongres pemuda, lagu, dan bahasa.

Boven Digoel memperlihatkan kemampuan kolonialisme mengasingkan manusia. Sumpah Pemuda memperlihatkan bahwa gagasan tetap dapat menyeberangi jarak yang dibuat oleh kekuasaan.

Pada saat pasar dunia kehilangan kepercayaan terhadap uang dan saham, pemuda Nusantara justru membangun kepercayaan terhadap sesuatu yang belum memiliki negara: Indonesia.

Kesimpulan Catatan #016

Dunia 1925–1930 mencapai kemajuan besar dalam teknologi dan ilmu pengetahuan.

Radio menyatukan pendengar. Film mulai berbicara. Mobil mengubah kota. Pesawat menyeberangi Atlantik. Roket berbahan bakar cair membuka jalan menuju ruang angkasa. Mekanika kuantum dan astronomi mengubah cara manusia memahami alam.

Namun, kemajuan berjalan bersama ketimpangan, kolonialisme, rasisme, dan pemerintahan otoriter.

Pada 1929, kemakmuran finansial mulai runtuh. Depresi Besar baru memasuki tahap awal dan dampak terburuknya belum terlihat.

Di Hindia Belanda, organisasi serta perlawanan memasuki fase menentukan. PKI melakukan pemberontakan yang gagal. Pemerintah membuang tahanan ke Boven Digoel. NU dan PNI berdiri. Kongres Pemuda menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Indonesia belum merdeka. Namun, pada 1928, gambaran mengenai bangsanya telah menjadi jauh lebih jelas.

Menuju Catatan #017 — Bumi 1930–1935

Catatan berikutnya akan menelusuri:

  • meluasnya Depresi Besar;
  • kegagalan bank dan pengangguran massal;
  • runtuhnya perdagangan dunia;
  • kelaparan dan migrasi;
  • Dust Bowl;
  • kebangkitan Adolf Hitler dan Nazi;
  • perluasan kekuasaan Stalin;
  • invasi Jepang ke Manchuria;
  • perkembangan radio, penerbangan, dan ilmu pengetahuan;
  • dampak krisis terhadap komoditas serta masyarakat Hindia Belanda;
  • pidato Indonesia Menggugat;
  • pembubaran PNI;
  • Partindo dan Pendidikan Nasional Indonesia;
  • penangkapan serta pengasingan tokoh pergerakan;
  • dan perubahan politik menuju dekade yang semakin berbahaya.

Keruntuhan ekonomi yang dimulai pada 1929 akan mengubah pemerintahan, masyarakat, dan hubungan antarnegara di seluruh dunia.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1925–1930.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, serta peristiwa daerah yang mungkin tidak pernah tercatat, belum didigitalisasi, atau belum dapat ditelusuri melalui sumber yang tersedia.

Dokumen resmi sering dibuat oleh pemerintah, perusahaan, militer, dan kelompok terdidik. Pengalaman petani, buruh, perempuan, masyarakat adat, tahanan, korban bencana, dan penduduk desa tidak selalu masuk ke dalam arsip dengan kedalaman yang sama.

Angka korban, penduduk, tahanan, dan kerugian ekonomi harus dipahami sebagai hasil pencatatan atau estimasi yang memiliki keterbatasan.

Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran umum berdasarkan dokumen, arsip, dataset, penelitian ilmiah, dan sumber institusional yang dapat ditelusuri kembali.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di daerah yang tidak pernah masuk dalam arsip besar. Inilah gambaran umum dari bukti yang masih dapat kami temukan, dihimpun kembali agar jejak manusia dan Bumi tidak ikut hilang oleh waktu.

Sumber Utama dan Bahan Pemeriksaan

  • Federal Reserve History, Stock Market Crash of 1929, penjelasan mengenai keruntuhan pasar dan dampak ekonominya:
    https://www.federalreservehistory.org/essays/stock-market-crash-of-1929

  • Federal Reserve History, The Great Depression, penjelasan mengenai rangkaian krisis ekonomi sejak 1929:
    https://www.federalreservehistory.org/essays/great-depression

  • Our World in Data, Population, data serta metodologi estimasi populasi historis:
    https://ourworldindata.org/grapher/population

  • Our World in Data, Economic Growth, kumpulan data ekonomi jangka panjang:
    https://ourworldindata.org/economic-growth

  • Nobel Prize, Werner Heisenberg dan perkembangan mekanika kuantum:
    https://www.nobelprize.org/prizes/physics/1932/heisenberg/facts/

  • Nobel Prize, tema sejarah penghargaan fisika dan perkembangan fisika modern:
    https://www.nobelprize.org/prizes/themes/the-nobel-prize-in-physics-1901-2000/

  • NASA, sejarah Robert Goddard dan roket berbahan bakar cair:
    https://www.nasa.gov/people/dr-robert-h-goddard/

  • Library of Congress, koleksi mengenai penerbangan Charles Lindbergh, radio, rekaman suara, dan film:
    https://www.loc.gov/collections/

  • Science History Institute, bahan sejarah penemuan serta perkembangan penisilin:
    https://www.sciencehistory.org/education/scientific-biographies/alexander-fleming/

  • United States Geological Survey, katalog serta sejarah gempa signifikan:
    https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards

  • National Centers for Environmental Information, Significant Earthquake Database:
    https://www.ncei.noaa.gov/products/natural-hazards/significant-earthquake

  • National Weather Service, bahan sejarah Banjir Besar Mississippi 1927 dan badai Amerika:
    https://www.weather.gov/

  • NASA Marshall Space Flight Center, data Siklus Matahari dan bintik Matahari:
    https://solarscience.msfc.nasa.gov/SunspotCycle.shtml

  • Smithsonian Institution, Global Volcanism Program, katalog aktivitas gunung api:
    https://volcano.si.edu/

  • Arsip Nasional Republik Indonesia, Jaringan Informasi Kearsipan Nasional:
    https://jikn.anri.go.id/

  • Museum Sumpah Pemuda, sumber sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda:
    https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/

  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Khastara, koleksi surat kabar, buku, dan dokumen digital:
    https://khastara.perpusnas.go.id/

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sumber sejarah organisasi serta tokoh nasional:
    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

  • Delpher, koleksi digital surat kabar dan dokumen Belanda serta Hindia Belanda:
    https://www.delpher.nl/

  • Leiden University Libraries/KITLV, koleksi sejarah, foto, peta, dan dokumen Hindia Belanda:
    https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

  • Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, sejarah serta data gunung api Indonesia:
    https://vsi.esdm.go.id/

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dapat Anda cek dan telusuri kembali melalui sumber-sumber yang dicantumkan.

Walaupun penelusuran telah dilakukan dengan hati-hati, kekeliruan penulisan, perbedaan tanggal, ketidaktepatan angka, perubahan klasifikasi ilmiah, atau kekurangan sumber masih mungkin terjadi.

Sebagian informasi sejarah merupakan estimasi atau rekonstruksi. Angkanya dapat berubah ketika arsip baru ditemukan, koleksi lama didigitalisasi, atau metode penelitian diperbaiki.

Pembaca yang menemukan kesalahan, sumber primer, arsip daerah, catatan keluarga, kesaksian, atau penelitian yang lebih kuat dipersilakan menyampaikan koreksi. Setiap informasi baru perlu dibandingkan dengan sumber lain sebelum dimasukkan ke dalam pembaruan Catatan.

Catatan ini dapat Anda cek dan periksa kembali. Kami bisa saja keliru, tetapi bukti dan koreksi yang dapat diverifikasi akan membantu sejarah dicatat dengan lebih jujur, lebih lengkap, dan tidak mudah hilang.