PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #015] [1920–1925]

Dunia berusaha bangkit dari perang dan pandemi, tetapi perdamaian membawa utang, hiperinflasi, kelaparan, serta perebutan kekuasaan baru. Uni Soviet lahir, Kekaisaran Ottoman digantikan Republik Turki, sementara radio, mobil, penerbangan, film, dan ilmu pengetahuan mengubah kehidupan manusia. Di Hindia Belanda, PKI terbentuk, Sarekat Islam mengalami perpecahan, pendidikan dan pers berkembang, serta kesadaran kebangsaan bergerak menuju perjuangan yang semakin tegas.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #015] [1920–1925]

Dunia yang Bangkit di Atas Puing-Puing

Perang Dunia I telah berakhir, tetapi dunia yang memasuki 1920 bukanlah dunia yang sama dengan dunia sebelum 1914.

Jutaan manusia telah meninggal akibat perang, kelaparan, kekerasan, dan pandemi influenza. Banyak tentara pulang dengan kehilangan anggota tubuh, penyakit, serta trauma yang belum sepenuhnya dipahami. Kota dan desa harus dibangun kembali, sementara keluarga berusaha menjalani kehidupan setelah kehilangan orang-orang terdekat.

Empat kekaisaran telah runtuh. Negara-negara baru muncul di atas peta yang belum stabil. Revolusi Rusia melahirkan pemerintahan komunis, sedangkan kemenangan Sekutu memperluas pengaruh Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Masyarakat berharap memasuki masa damai, tetapi warisan perang masih berada di mana-mana: utang, inflasi, pengangguran, perbatasan baru, pengungsi, senjata, dan kebencian politik.

Pada saat bersamaan, dunia bergerak menuju kehidupan modern. Radio membawa suara masuk ke rumah. Mobil mulai memenuhi jalan. Film menciptakan budaya massa. Pesawat terbang semakin jauh. Insulin memberi harapan baru kepada penderita diabetes.

Di Hindia Belanda, pendidikan, pers, organisasi rakyat, serikat buruh, dan gagasan kemerdekaan terus berkembang. Nama “Indonesia” semakin sering digunakan sebagai identitas politik, bukan sekadar istilah geografis.

Dunia berusaha mengubur perang dan wabah, tetapi dari puing-puingnya tumbuh dua kekuatan sekaligus: harapan untuk membangun masa depan dan kemarahan yang kelak kembali mengguncang dunia.

1920–1925: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Dalam pembagian waktu geologi resmi, periode 1920–1925 berada dalam kala Holosen. Istilah Antroposen digunakan dalam banyak pembahasan ilmiah mengenai pengaruh manusia terhadap sistem Bumi, tetapi belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah manusia, periode ini berada dalam masa yang dikenal sebagai:

  • awal periode antarperang;
  • pemulihan setelah Perang Dunia I;
  • berakhirnya gelombang utama pandemi influenza;
  • pembentukan Uni Soviet;
  • kelahiran Republik Turki;
  • pertumbuhan fasisme di Italia;
  • hiperinflasi Jerman;
  • perluasan radio, film, mobil, dan penerbangan;
  • perkembangan ilmu kedokteran dan fisika modern;
  • serta kebangkitan gerakan nasionalisme dan antikolonial.

Periode ini juga sering dihubungkan dengan awal Roaring Twenties, terutama di Amerika Serikat dan beberapa kota besar Barat. Namun, istilah tersebut tidak menggambarkan kehidupan seluruh penduduk dunia.

Ketika sebagian masyarakat perkotaan menikmati musik, film, mobil, dan barang konsumsi baru, jutaan manusia lainnya menghadapi kemiskinan, kelaparan, diskriminasi, kekuasaan kolonial, serta dampak perang yang belum selesai.

Penduduk Dunia

Jumlah penduduk dunia sekitar 1920 diperkirakan telah mendekati atau melampaui 1,9 miliar jiwa.

Angka tersebut merupakan estimasi historis yang disusun dari sensus nasional, catatan kolonial, data kelahiran dan kematian, serta rekonstruksi modern. Tidak ada satu sensus dunia yang dilakukan secara serentak.

Asia tetap menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk Bumi. Tiongkok dan India memiliki populasi terbesar, sedangkan Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Pandemi influenza telah menyebabkan penurunan tajam jumlah penduduk di banyak daerah. Namun, setelah gelombang pandemi mereda, pertumbuhan penduduk kembali berlangsung karena tingkat kelahiran yang tinggi dan membaiknya kondisi kesehatan di sebagian wilayah.

Kematian bayi dan anak masih menjadi persoalan besar. Harapan hidup dunia tetap rendah menurut ukuran modern, tetapi terdapat perbedaan besar antara negara industri, wilayah pedesaan, dan koloni.

Kehidupan Masyarakat Setelah Perang

Masyarakat Eropa berusaha kembali kepada kehidupan sipil.

Tentara mencari pekerjaan, keluarga menanti anggota yang hilang, dan pemerintah menghadapi tuntutan kompensasi bagi veteran, janda, anak yatim, serta penyandang disabilitas akibat perang.

Banyak perempuan yang selama perang bekerja di pabrik, kantor, transportasi, dan pelayanan kesehatan didorong kembali ke peran domestik ketika tentara pulang. Namun, pengalaman kerja dan kontribusi mereka telah mengubah perdebatan mengenai hak perempuan.

Hak pilih perempuan diperluas di sejumlah negara, meskipun belum berlaku setara bagi semua perempuan.

Di Amerika Serikat, Amendemen Kesembilan Belas mulai berlaku pada 1920 dan melarang penolakan hak memilih berdasarkan jenis kelamin. Namun, diskriminasi rasial, aturan lokal, kekerasan, serta hambatan administratif tetap menghalangi banyak perempuan kulit hitam dan kelompok minoritas menggunakan hak tersebut.

Kota, Konsumsi, dan Budaya Massa

Kota-kota besar menjadi pusat perubahan.

Toko serba ada, iklan, bioskop, musik rekaman, surat kabar, kendaraan bermotor, dan lampu listrik membentuk gaya hidup baru. Merek dagang mulai dikenal lintas wilayah melalui iklan massal.

Di beberapa negara, pembelian secara kredit membantu masyarakat memperoleh mobil, peralatan rumah tangga, dan barang konsumsi tanpa membayar seluruh harga di muka.

Cara tersebut memperluas pasar, tetapi juga menciptakan utang rumah tangga.

Musik jazz berkembang dan menyebar melalui rekaman serta radio. Tarian, gaya pakaian, film, dan budaya kaum muda mulai melintasi batas negara.

Namun, modernisasi tidak menghapus ketimpangan. Permukiman buruh tetap padat, keselamatan kerja terbatas, dan banyak keluarga tidak memiliki listrik, air bersih, atau layanan kesehatan.

Perempuan dan Perubahan Sosial

Perubahan mode dan perilaku perempuan perkotaan menjadi simbol kebebasan baru di sejumlah negara Barat.

Sebagian perempuan memotong rambut lebih pendek, bekerja di kantor, mengikuti pendidikan, berkendara, serta terlibat dalam kehidupan publik.

Namun, gambaran tersebut terutama mewakili kelompok perkotaan tertentu. Sebagian besar perempuan dunia masih bekerja dalam pertanian, rumah tangga, pasar, perkebunan, industri rumahan, dan pekerjaan informal yang jarang dicatat sebagai kegiatan ekonomi resmi.

Gerakan perempuan berkembang dalam berbagai bentuk:

  • hak pilih;
  • pendidikan;
  • kesehatan ibu dan anak;
  • perlindungan tenaga kerja;
  • reformasi perkawinan;
  • dan hak kepemilikan.

Di wilayah kolonial, perjuangan perempuan sering berhubungan sekaligus dengan pendidikan, pembebasan nasional, agama, adat, dan perlawanan terhadap diskriminasi.

Pangan, Pertanian, dan Kelaparan

Perang telah merusak lahan pertanian, jalur perdagangan, dan distribusi pangan.

Di sebagian Eropa Barat, produksi mulai pulih. Namun, Rusia dan wilayah sekitarnya menghadapi krisis yang lebih berat.

Kelaparan Rusia 1921–1922

Kelaparan besar melanda Rusia dan wilayah Volga pada 1921–1922.

Penyebabnya merupakan gabungan antara:

  • perang dunia;
  • perang saudara;
  • kekeringan;
  • kerusakan transportasi;
  • penyitaan hasil pertanian;
  • kebijakan ekonomi;
  • dan runtuhnya sistem distribusi.

Jutaan orang mengalami kelaparan dan penyakit. Perkiraan korban meninggal berbeda menurut sumber, tetapi skalanya mencapai jutaan.

Bantuan internasional, termasuk dari American Relief Administration dan organisasi kemanusiaan lainnya, menyediakan pangan bagi sebagian penduduk.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kelaparan jarang disebabkan oleh alam saja. Kekeringan menjadi jauh lebih mematikan ketika terjadi bersama perang, kebijakan yang buruk, kemiskinan, dan rusaknya sistem distribusi.

Pertanian Modern

Traktor dan mesin pertanian mulai digunakan lebih luas di negara industri, tetapi tenaga manusia serta hewan tetap menjadi dasar pertanian di sebagian besar dunia.

Pupuk nitrogen sintetis yang dikembangkan melalui proses Haber–Bosch semakin penting. Teknologi tersebut membantu meningkatkan hasil pertanian, meskipun aksesnya belum merata dan produksinya membutuhkan energi serta modal.

Jaringan kereta api, kapal uap, gudang, dan pendinginan membuat pangan dapat diperdagangkan dalam jarak lebih jauh.

Ekonomi Dunia Setelah Perang

Peralihan dari ekonomi perang ke ekonomi damai tidak berlangsung lancar.

Pabrik harus mengubah produksi. Tentara kembali mencari pekerjaan. Permintaan militer menurun, sementara utang pemerintah tetap tinggi.

Pada 1920–1921, sejumlah negara mengalami resesi tajam. Harga komoditas turun, pengangguran meningkat, dan petani yang sebelumnya menikmati harga tinggi selama perang mulai menghadapi tekanan utang.

Amerika Serikat muncul sebagai pemberi pinjaman dan pusat keuangan yang semakin kuat. Negara-negara Eropa memiliki utang perang kepada Amerika Serikat, sementara Jerman diwajibkan membayar reparasi kepada negara pemenang.

Terbentuklah lingkaran hubungan keuangan:

  • Jerman membayar reparasi;
  • negara Sekutu menggunakan pembayaran itu untuk membayar utang perang;
  • modal Amerika membantu menopang pemulihan Eropa;
  • dan kestabilan sistem bergantung pada aliran pinjaman internasional.

Sistem tersebut terlihat berjalan setelah pertengahan dekade, tetapi memiliki kelemahan mendasar yang akan terlihat semakin jelas kemudian.

Hiperinflasi Jerman 1923

Jerman menghadapi inflasi sejak masa perang. Beban utang, defisit pemerintah, ketidakstabilan politik, dan reparasi memperburuk keadaan.

Pada 1923, Prancis dan Belgia menduduki kawasan industri Ruhr setelah Jerman gagal memenuhi kewajiban tertentu. Pemerintah Jerman mendukung perlawanan pasif para pekerja dan membiayainya dengan mencetak lebih banyak uang.

Nilai mark runtuh.

Harga dapat berubah dalam hitungan jam. Upah dibayarkan berkali-kali dalam waktu singkat agar segera dibelanjakan sebelum nilainya turun. Masyarakat membawa uang dalam tas, keranjang, atau gerobak, tetapi tetap kesulitan membeli kebutuhan.

Tabungan kelas menengah dapat kehilangan nilainya. Mereka yang memiliki utang atau aset nyata kadang memperoleh keuntungan, sedangkan pemilik tabungan tunai mengalami kehancuran.

Pada akhir 1923, pemerintah memperkenalkan Rentenmark dan melakukan kebijakan stabilisasi.

Temuan Penelitian

Hiperinflasi tidak hanya merupakan kisah tentang terlalu banyak uang yang dicetak. Ia berhubungan dengan warisan pembiayaan perang, konflik politik, reparasi, produksi, kepercayaan terhadap negara, dan hubungan ekonomi internasional.

Kehancuran tabungan serta ketidakpercayaan terhadap pemerintahan meninggalkan luka politik yang bertahan lama.

Dawes Plan dan Pemulihan Sementara

Pada 1924, Dawes Plan mengatur kembali pembayaran reparasi Jerman dan membantu membuka aliran pinjaman, terutama dari Amerika Serikat.

Ekonomi Jerman mulai stabil dan perdagangan Eropa pulih.

Namun, penyelesaian tersebut belum menghapus utang serta ketergantungan antarnegara. Sistem pemulihan masih bergantung pada modal luar negeri dan kepercayaan pasar.

Kestabilan yang tampak pada pertengahan 1920-an belum berarti seluruh masalah telah diselesaikan.

Energi dan Industri

Batu bara tetap menjadi sumber energi penting untuk pabrik, kereta api, pembangkit listrik, dan pemanas.

Minyak bumi semakin menentukan perkembangan:

  • mobil;
  • truk;
  • bus;
  • pesawat;
  • kapal;
  • industri kimia;
  • dan kekuatan militer.

Pemerintah serta perusahaan berlomba memperoleh akses ke wilayah penghasil minyak, termasuk Timur Tengah, Amerika, Rusia, dan Hindia Belanda.

Jaringan listrik berkembang di kota dan kawasan industri. Mesin listrik mengubah pabrik serta kehidupan rumah tangga bagi masyarakat yang mampu mengaksesnya.

Namun, elektrifikasi belum merata. Sebagian besar desa dunia masih hidup tanpa listrik.

Peningkatan konsumsi batu bara dan minyak terus menambah emisi karbon dioksida. Dampak jangka panjangnya belum menjadi isu politik utama, tetapi aktivitas manusia terus mengubah atmosfer.

Dunia Teknologi 1920–1925

Radio Memasuki Rumah

Penyiaran radio berkembang pesat setelah 1920.

Stasiun radio menyiarkan:

  • berita;
  • musik;
  • pidato;
  • olahraga;
  • iklan;
  • dan informasi cuaca.

Untuk pertama kalinya, suara dari tempat jauh dapat didengar hampir bersamaan oleh banyak orang di rumah mereka.

Radio memperkuat budaya massa dan komunikasi darurat. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan oleh pemerintah serta kelompok politik untuk propaganda.

Mobil dan Jalan Raya

Produksi massal membuat mobil lebih mudah diperoleh oleh kelas menengah di Amerika Serikat dan sebagian negara industri.

Pertumbuhan mobil mendorong pembangunan:

  • jalan beraspal;
  • pompa bensin;
  • bengkel;
  • hotel;
  • restoran;
  • dan kawasan permukiman baru.

Mobil memberikan kebebasan bergerak, tetapi juga membawa kecelakaan, kemacetan, polusi, kebutuhan minyak, dan perubahan tata kota.

Penerbangan

Pesawat bekas perang dan pilot berpengalaman membantu pertumbuhan penerbangan sipil.

Penerbangan pos berkembang. Rute penumpang mulai dibuka, meskipun perjalanan masih mahal dan berisiko.

Pada 1924, penerbang Angkatan Darat Amerika Serikat menyelesaikan penerbangan keliling dunia pertama secara bertahap menggunakan beberapa pesawat dan dukungan logistik.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa langit mulai menjadi jalur baru yang menghubungkan benua.

Film

Film bisu menjadi industri hiburan global. Bioskop menampilkan komedi, drama, petualangan, berita, dan propaganda.

Bintang film dikenal oleh penonton lintas negara. Hollywood tumbuh menjadi pusat produksi film dunia.

Film juga menjadi dokumen visual penting, tetapi tidak seluruh rekaman dapat diperlakukan sebagai gambaran netral. Adegan dapat disusun, dipilih, atau digunakan untuk membentuk opini.

Eksperimen Televisi

Para peneliti di berbagai negara mengembangkan sistem untuk mengirimkan gambar bergerak.

John Logie Baird melakukan demonstrasi awal televisi mekanis pada 1925. Kualitas gambarnya masih sederhana dan televisi belum menjadi media rumah tangga.

Namun, eksperimen tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju komunikasi audio-visual jarak jauh.

Ilmu Pengetahuan dan Kedokteran

Insulin

Pada 1921, Frederick Banting dan Charles Best melakukan eksperimen yang membantu pengembangan insulin sebagai pengobatan diabetes.

James Collip berperan memurnikan ekstraknya, sedangkan John Macleod menyediakan dukungan laboratorium dan penelitian.

Pada 1922, Leonard Thompson menjadi salah satu pasien pertama yang berhasil menerima terapi insulin.

Sebelum insulin, diagnosis diabetes tipe 1 sering berarti kematian dalam waktu relatif singkat. Insulin mengubah penyakit tersebut menjadi kondisi yang dapat dikelola, meskipun akses terhadap obat belum merata.

Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1923 diberikan kepada Banting dan Macleod. Pembagian penghargaan tersebut menimbulkan perdebatan mengenai kontribusi para peneliti lainnya.

Fisika Modern

Albert Einstein menerima Hadiah Nobel Fisika 1921—yang diberikan pada 1922—terutama untuk penjelasannya mengenai efek fotolistrik, bukan secara khusus untuk teori relativitas.

Fisika kuantum terus berkembang. Penelitian mengenai atom, cahaya, radiasi, dan partikel mengubah pandangan manusia tentang materi.

Pada 1924, Louis de Broglie mengusulkan bahwa materi dapat memiliki sifat gelombang. Gagasan tersebut menjadi salah satu dasar mekanika kuantum.

Astronomi

Pada awal 1920-an, pengamatan Edwin Hubble terhadap bintang variabel Cepheid di nebula Andromeda membantu menunjukkan bahwa Andromeda berada jauh di luar Bima Sakti.

Temuan tersebut memperluas ukuran alam semesta yang dipahami manusia. Bima Sakti bukanlah keseluruhan alam semesta, melainkan salah satu dari banyak galaksi.

Dalam beberapa tahun, manusia memperoleh kemampuan baru untuk menyelamatkan penderita diabetes dan sekaligus menyadari bahwa galaksi tempatnya tinggal hanyalah satu bagian kecil dari alam semesta.

Kesehatan Masyarakat

Pandemi influenza telah mereda, tetapi dampaknya masih terasa.

Pemerintah dan lembaga kesehatan mengevaluasi:

  • sistem pelaporan penyakit;
  • karantina;
  • rumah sakit;
  • laboratorium;
  • komunikasi publik;
  • dan kesiapan menghadapi wabah.

Namun, virus influenza belum dapat diamati secara langsung dengan teknologi yang tersedia saat itu. Virus penyebab influenza manusia baru berhasil diisolasi pada dekade berikutnya.

Tuberkulosis, malaria, pes, kolera, difteri, tifus, dan penyakit lainnya masih menyebabkan kematian luas.

Vaksin serta program sanitasi berkembang, tetapi akses bergantung pada negara, kelas sosial, dan lokasi.

Masyarakat kolonial sering menerima layanan kesehatan yang lebih sedikit dibandingkan populasi di pusat kekuasaan.

Diskriminasi, Kekerasan Rasial, dan Migrasi

Masa setelah perang juga ditandai ketegangan sosial.

Di Amerika Serikat, kekerasan rasial terjadi di berbagai kota. Pembantaian Tulsa 1921 menghancurkan kawasan Greenwood, sebuah komunitas kulit hitam yang makmur. Jumlah korban masih diperdebatkan karena pencatatan tidak lengkap dan sejarahnya lama ditekan.

Amerika Serikat memberlakukan pembatasan imigrasi yang semakin ketat, termasuk undang-undang kuota pada 1921 dan 1924. Kebijakan tersebut memprioritaskan kelompok tertentu serta membatasi kedatangan dari berbagai kawasan.

Di banyak negara, veteran, pengungsi, minoritas, dan pendatang menghadapi diskriminasi.

Nasionalisme yang tumbuh setelah perang dapat menjadi kekuatan pembebasan bagi bangsa terjajah, tetapi juga dapat berubah menjadi politik eksklusif yang menyingkirkan kelompok lain.

Larangan Minuman Keras di Amerika Serikat

Larangan nasional terhadap produksi dan penjualan minuman beralkohol mulai berlaku di Amerika Serikat pada 1920.

Kebijakan ini didorong oleh gerakan sosial dan keagamaan yang memandang alkohol sebagai penyebab kemiskinan, kekerasan, serta kerusakan keluarga.

Namun, larangan tersebut juga mendorong:

  • perdagangan ilegal;
  • tempat minum tersembunyi;
  • penyelundupan;
  • korupsi;
  • dan pertumbuhan kejahatan terorganisasi.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pelarangan hukum tidak selalu menghapus permintaan masyarakat.

Uni Soviet Terbentuk

Setelah Revolusi Rusia, perang saudara berlangsung antara Tentara Merah, kelompok Putih, gerakan nasional, serta kekuatan asing.

Kaum Bolshevik akhirnya mempertahankan kekuasaan atas sebagian besar wilayah bekas Kekaisaran Rusia.

Pada 1921, Lenin memperkenalkan New Economic Policy atau NEP. Kebijakan tersebut memberikan ruang terbatas bagi perdagangan dan usaha pribadi setelah kebijakan ekonomi masa perang menimbulkan krisis berat.

Pada Desember 1922, Republik Sosialis Federatif Soviet Rusia, Ukraina, Belarus, dan Transkaukasia membentuk Union of Soviet Socialist Republics atau Uni Soviet.

Lenin meninggal pada Januari 1924. Setelah kematiannya, terjadi persaingan kekuasaan di dalam Partai Komunis. Joseph Stalin perlahan memperkuat kedudukannya, tetapi kekuasaannya belum mencapai bentuk penuh seperti pada dekade berikutnya.

Republik Turki Lahir

Kekalahan Kekaisaran Ottoman dalam Perang Dunia I diikuti pendudukan dan upaya pembagian wilayahnya.

Gerakan nasional Turki di bawah Mustafa Kemal melakukan perang kemerdekaan melawan pasukan pendudukan dan pemerintahan Ottoman.

Kesultanan dihapuskan pada 1922. Republik Turki diproklamasikan pada 29 Oktober 1923, dengan Mustafa Kemal sebagai presiden.

Kekhalifahan kemudian dihapuskan pada 1924.

Pemerintah baru menjalankan reformasi untuk membentuk negara nasional yang sekuler dan terpusat. Namun, pembentukan negara juga berlangsung di tengah perpindahan penduduk, konflik, serta persoalan minoritas yang kompleks.

Fasisme Muncul di Italia

Italia termasuk pihak pemenang Perang Dunia I, tetapi masyarakat menghadapi kekecewaan, pengangguran, inflasi, pemogokan, dan ketakutan terhadap revolusi komunis.

Benito Mussolini dan gerakan Fasis memanfaatkan keadaan tersebut.

Kelompok berseragam hitam menggunakan kekerasan terhadap sosialis, serikat buruh, dan lawan politik. Pada Oktober 1922, tekanan politik yang dikenal sebagai March on Rome membantu membawa Mussolini menjadi perdana menteri.

Pada awalnya, Mussolini memimpin melalui struktur kerajaan dan parlemen. Namun, kekuasaan fasis semakin diperkuat.

Pembunuhan anggota parlemen sosialis Giacomo Matteotti pada 1924 menimbulkan krisis besar. Menjelang 1925, Mussolini bergerak menuju kediktatoran terbuka.

Fasisme memperlihatkan bagaimana ketakutan, krisis ekonomi, kekerasan politik, propaganda, dan kelemahan lembaga demokrasi dapat membuka jalan bagi pemerintahan otoriter.

Liga Bangsa-Bangsa dan Diplomasi

Liga Bangsa-Bangsa mulai beroperasi pada 1920.

Organisasi ini menangani:

  • sengketa antarnegara;
  • perlindungan minoritas;
  • pengungsi;
  • kesehatan;
  • perdagangan manusia;
  • dan administrasi wilayah mandat.

Liga memperoleh beberapa keberhasilan dalam menyelesaikan perselisihan kecil dan mengembangkan kerja sama internasional.

Namun, kelemahannya tetap besar. Amerika Serikat tidak menjadi anggota. Negara kolonial tetap memiliki pengaruh besar. Liga tidak memiliki angkatan bersenjata sendiri.

Sistem mandat juga menyatakan bahwa wilayah bekas koloni Jerman dan Ottoman akan dibimbing menuju pemerintahan sendiri, tetapi dalam praktiknya banyak wilayah tetap dikuasai negara kolonial.

Perjanjian Angkatan Laut Washington

Konferensi Washington 1921–1922 berusaha membatasi perlombaan kapal perang antara kekuatan besar.

Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Prancis, dan Italia menyepakati pembatasan tertentu terhadap kapal tempur besar.

Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara menyadari bahaya perlombaan senjata. Namun, pembatasannya tidak mencakup semua jenis kapal dan tidak menghapus persaingan strategis.

Jepang menerima batas yang lebih rendah daripada Amerika Serikat dan Inggris. Perbedaan tersebut kemudian menjadi salah satu sumber ketidakpuasan.

Gempa Haiyuan 1920

Pada 16 Desember 1920, gempa besar mengguncang wilayah Haiyuan di Tiongkok.

Gempa memicu longsoran dalam jumlah besar, menghancurkan permukiman, dan menyebabkan kematian dalam skala sangat besar. Perkiraan korban berbeda-beda, tetapi banyak sumber menempatkannya di atas dua ratus ribu jiwa.

Bangunan dari tanah dan batu mengalami keruntuhan luas. Cuaca dingin serta sulitnya akses memperberat penderitaan para penyintas.

Bencana ini termasuk salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah modern, tetapi namanya tidak selalu memperoleh perhatian sebesar bencana di negara yang memiliki dokumentasi internasional lebih luas.

Gempa Besar Kantō 1923

Pada 1 September 1923, gempa besar mengguncang wilayah Kantō di Jepang, termasuk Tokyo dan Yokohama.

Gempa meruntuhkan bangunan dan memicu kebakaran besar. Karena terjadi menjelang waktu makan siang, banyak rumah menggunakan api untuk memasak. Angin membantu menyebarkan kebakaran.

Lebih dari seratus ribu orang meninggal atau hilang menurut banyak perkiraan.

Di tengah kekacauan, rumor palsu menyebar bahwa masyarakat Korea melakukan pembakaran atau meracuni sumur. Rumor tersebut memicu pembunuhan terhadap orang Korea dan pihak lain yang disangka sebagai orang Korea.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa bencana dapat diikuti bencana sosial ketika ketakutan, prasangka, rumor, dan kekerasan tidak dikendalikan.

Cuaca, Iklim, dan Lingkungan

Data suhu global menunjukkan bahwa awal 1920-an masih lebih sejuk dibandingkan masa modern. Meskipun demikian, suhu berbeda menurut wilayah dan tahun.

Emisi karbon dioksida terus meningkat akibat penggunaan batu bara, minyak, industri, dan perubahan penggunaan lahan.

Pengamatan cuaca berkembang melalui:

  • stasiun darat;
  • kapal;
  • balon cuaca;
  • telegraf;
  • dan jaringan meteorologi.

Radio membantu mempercepat penyebaran informasi cuaca kepada kapal serta masyarakat.

Namun, kemampuan memperkirakan badai, banjir, dan kekeringan masih terbatas. Banyak masyarakat menerima peringatan terlambat atau sama sekali tidak menerimanya.

Kekeringan, banjir, dan musim dingin berat tetap menimbulkan gagal panen serta kelaparan, terutama ketika bertemu kemiskinan dan konflik.

Kondisi Tata Surya

Periode 1920–1925 mencakup akhir Siklus Matahari 15 dan awal Siklus Matahari 16.

Aktivitas bintik Matahari menurun setelah puncaknya sekitar 1917 dan mencapai minimum sekitar 1923. Setelah itu, aktivitas kembali meningkat dalam Siklus 16.

Aktivitas Matahari dapat memengaruhi aurora, medan geomagnetik, ionosfer, dan komunikasi radio.

Namun, tidak terdapat bukti ilmiah bahwa siklus Matahari menyebabkan hiperinflasi, revolusi, kelaparan, kebangkitan fasisme, atau gempa besar.

Perubahan iklim jangka panjang juga tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu siklus Matahari.

Hindia Belanda pada Awal 1920-an

Negara Indonesia belum berdiri. Kepulauan yang kelak menjadi wilayah Indonesia sebagian besar masih dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Namun, perubahan identitas sedang berlangsung.

Semakin banyak organisasi dan tokoh menggunakan istilah Indonesia untuk menyebut tanah air, masyarakat, dan tujuan politik bersama.

Identitas lokal—Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Aceh, Melayu, Bugis, Bali, Ambon, Dayak, dan lainnya—tidak hilang. Gagasan Indonesia tumbuh sebagai identitas yang berusaha menghubungkan keragaman tersebut dalam satu perjuangan.

Sensus Hindia Belanda 1920

Pemerintah kolonial melaksanakan sensus penduduk pada 1920.

Hasilnya mencatat sekitar 49 juta penduduk di Hindia Belanda, dengan sebagian besar tinggal di Jawa dan Madura.

Angka tersebut harus dibaca dengan hati-hati. Kemampuan pencatatan berbeda antarwilayah, definisi penduduk dapat berubah, dan masyarakat di daerah terpencil lebih sulit dihitung.

Meskipun memiliki keterbatasan, sensus 1920 menjadi salah satu sumber penting untuk memahami:

  • jumlah penduduk;
  • persebaran;
  • kepadatan;
  • kelompok sosial;
  • pekerjaan;
  • dan struktur masyarakat kolonial.

Jawa memiliki kepadatan jauh lebih tinggi dibandingkan banyak pulau lainnya. Tekanan terhadap tanah pertanian dan kesempatan kerja menjadi masalah penting.

Kehidupan Masyarakat Nusantara

Sebagian besar penduduk hidup dari pertanian.

Di pedesaan, masyarakat bergantung pada padi, jagung, ubi, sagu, kelapa, ikan, hasil hutan, dan komoditas lokal lainnya.

Di perkotaan berkembang kelompok:

  • pedagang;
  • pegawai;
  • guru;
  • dokter;
  • wartawan;
  • buruh pelabuhan;
  • buruh kereta api;
  • pekerja pabrik;
  • dan pelajar.

Kota seperti Batavia, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Padang, Makassar, dan Yogyakarta menjadi pusat pendidikan, perdagangan, percetakan, organisasi, serta pemerintahan.

Namun, pemisahan sosial dan hukum kolonial tetap berlaku. Orang Eropa menikmati akses yang lebih besar terhadap pendidikan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kekuasaan.

Ekonomi Hindia Belanda

Hindia Belanda merupakan pemasok penting bagi pasar internasional.

Komoditasnya meliputi:

  • gula;
  • karet;
  • minyak bumi;
  • timah;
  • teh;
  • kopi;
  • tembakau;
  • kina;
  • kopra;
  • dan hasil hutan.

Setelah permintaan tinggi pada masa perang, penurunan harga komoditas sekitar 1920–1921 menekan perkebunan, petani, dan buruh.

Pemulihan perdagangan kemudian berlangsung tidak merata.

Perusahaan besar memiliki modal, teknologi, jalur ekspor, dan hubungan dengan pemerintah. Petani kecil lebih rentan terhadap perubahan harga, utang, pajak, gagal panen, serta keterbatasan tanah.

Pertumbuhan industri kendaraan dunia meningkatkan permintaan karet. Minyak Hindia Belanda juga semakin penting dalam ekonomi dan strategi internasional.

Teknologi dan Infrastruktur di Hindia Belanda

Jaringan kereta api dan trem terus menghubungkan daerah produksi dengan kota serta pelabuhan.

Kapal uap mengangkut penumpang, surat, bahan pangan, dan barang di antara pulau. Telegraf serta telepon menghubungkan pusat pemerintahan dan perusahaan.

Mobil mulai lebih sering terlihat di kota-kota, tetapi tetap menjadi milik kalangan berada, perusahaan, atau pejabat.

Radio masih dalam tahap awal. Pemerintah, militer, pelayaran, serta kalangan teknis menjadi pengguna penting komunikasi nirkabel sebelum penyiaran rumah tangga berkembang lebih luas.

Bioskop hadir di kota dan menjadi bagian dari budaya modern. Film asing memperlihatkan gaya hidup serta dunia yang jauh kepada penonton Hindia.

Infrastruktur mempercepat ekonomi kolonial, tetapi juga membantu penyebaran surat kabar, aktivis, dan gagasan politik.

Technische Hoogeschool te Bandoeng

Pada 1920, Technische Hoogeschool te Bandoeng didirikan di Bandung. Lembaga ini kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Institut Teknologi Bandung.

Sekolah tinggi tersebut dibangun untuk pendidikan teknik yang dibutuhkan pemerintah dan ekonomi kolonial.

Soekarno memasuki lembaga ini pada awal 1920-an dan mempelajari teknik sipil. Lingkungan pendidikan, diskusi, serta pertemuannya dengan berbagai tokoh ikut membentuk perkembangan pemikirannya.

Pendirian sekolah tinggi menunjukkan bertambahnya kebutuhan terhadap insinyur dan tenaga profesional. Namun, akses pendidikan tinggi bagi penduduk pribumi tetap sangat terbatas.

Perserikatan Komunis di Hindia

Pada 23 Mei 1920, ISDV mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis di Hindia atau PKH.

Semaun menjadi salah satu tokoh utamanya. Organisasi ini berhubungan dengan gerakan buruh, serikat pekerja, dan jaringan komunisme internasional.

Pada 1924, nama organisasi berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia atau PKI.

PKI termasuk organisasi komunis awal di Asia yang menggunakan nama Indonesia. Gerakannya memperoleh dukungan di sejumlah lingkungan buruh dan masyarakat yang kecewa terhadap ketimpangan kolonial.

Namun, organisasi tersebut menghadapi pengawasan, penangkapan, pengasingan, dan pembatasan pemerintah kolonial.

Perpecahan Sarekat Islam

Di dalam Sarekat Islam berkembang perbedaan antara kelompok yang menerima pengaruh komunisme dan kelompok yang ingin mempertahankan organisasi berdasarkan garis Islam.

Pada 1921, aturan disiplin partai membatasi keanggotaan ganda. Anggota harus memilih antara Sarekat Islam dan organisasi komunis.

Perpecahan ini menghasilkan kelompok yang sering digambarkan sebagai Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah, meskipun kenyataan lokal lebih kompleks daripada pembagian dua warna tersebut.

Perpecahan melemahkan persatuan organisasi, tetapi juga memperjelas berbagai aliran dalam pergerakan:

  • Islam;
  • komunisme;
  • sosialisme;
  • nasionalisme;
  • dan gerakan buruh.

Gerakan Buruh dan Pemogokan

Buruh kereta api, pegadaian, pelabuhan, perkebunan, serta industri mulai membentuk organisasi dan melakukan pemogokan.

Tuntutan mereka meliputi:

  • kenaikan upah;
  • pengurangan jam kerja;
  • perlindungan;
  • perbaikan kondisi;
  • dan penolakan terhadap tindakan sewenang-wenang.

Pemerintah kolonial memandang sebagian pemogokan sebagai ancaman politik.

Tokoh seperti Tan Malaka, Semaun, dan aktivis lainnya terlibat dalam pendidikan serta organisasi buruh. Penangkapan dan pengasingan digunakan untuk melemahkan gerakan.

Gerakan buruh menunjukkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme juga berkaitan dengan persoalan kerja, upah, tanah, dan ekonomi.

Taman Siswa

Pada 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta.

Taman Siswa berusaha menyediakan pendidikan yang berakar pada kebudayaan, martabat, dan kebutuhan masyarakat sendiri.

Pendidikan tidak dipandang hanya sebagai cara memperoleh pekerjaan dalam pemerintahan kolonial. Pendidikan menjadi jalan membangun manusia yang merdeka dalam pikiran dan kepribadian.

Taman Siswa kemudian berkembang menjadi bagian penting dari gerakan pendidikan nasional.

Pemerintah kolonial dapat mengatur sekolah, tetapi gagasan bahwa pendidikan harus membebaskan manusia mulai tumbuh di luar kendalinya.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

Muhammadiyah terus memperluas kegiatan pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan sosial.

Sekolah, pengajaran, pelayanan masyarakat, serta organisasi perempuan menjadi bagian penting dari kegiatannya.

‘Aisyiyah, yang telah berdiri sejak 1917, berkembang dalam pendidikan perempuan, kegiatan sosial, serta penguatan peran perempuan Muslim.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan nasional tidak hanya berlangsung melalui pidato politik. Sekolah, rumah sakit, organisasi perempuan, dan kegiatan sosial juga membentuk masyarakat yang lebih mampu mengatur dirinya.

Persatuan Islam

Persatuan Islam atau Persis didirikan di Bandung pada 1923.

Organisasi ini berkembang sebagai gerakan pembaruan Islam yang menekankan pendidikan, kajian keagamaan, publikasi, dan perdebatan pemikiran.

Kehadiran Muhammadiyah, Sarekat Islam, Persis, dan organisasi lainnya menunjukkan keragaman gagasan di kalangan masyarakat Muslim Hindia Belanda.

Perhimpunan Indonesia

Organisasi mahasiswa Hindia di Belanda sebelumnya dikenal sebagai Indische Vereeniging.

Pada awal 1920-an, organisasi ini semakin tegas menggunakan identitas Indonesia. Nama Perhimpunan Indonesia digunakan pada pertengahan dekade dan menjadi simbol perubahan penting.

Istilah Indonesia tidak lagi hanya menunjuk wilayah geografis. Ia digunakan untuk menyatakan:

  • satu tanah air;
  • satu bangsa;
  • tujuan kemerdekaan;
  • dan perjuangan politik yang berdiri sendiri.

Tokoh seperti Mohammad Hatta kemudian memiliki peran penting dalam organisasi tersebut.

Pada 1925, gagasan mengenai kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi, dan swadaya memperoleh bentuk yang semakin jelas dalam pemikiran Perhimpunan Indonesia.

Pers dan Bahasa Melayu

Surat kabar menjadi ruang pertarungan gagasan.

Bahasa Melayu memungkinkan informasi dibaca oleh masyarakat dari latar daerah berbeda. Melalui pers, pembaca mengikuti:

  • peristiwa internasional;
  • kebijakan kolonial;
  • harga pangan;
  • pemogokan;
  • pendidikan;
  • agama;
  • dan kegiatan organisasi.

Bahasa yang kelak disebut Bahasa Indonesia tumbuh melalui penggunaan praktis dalam perdagangan, pendidikan, organisasi, dan pers.

Pemerintah kolonial mengawasi penerbitan. Wartawan serta aktivis dapat dituntut apabila tulisannya dianggap mengganggu ketertiban.

Namun, semakin banyak tulisan yang dibaca, semakin sulit gagasan kebangsaan dibatasi di satu kota atau organisasi.

Kesehatan di Hindia Belanda

Dampak pandemi influenza masih dirasakan pada awal 1920-an.

Selain influenza, masyarakat menghadapi:

  • malaria;
  • tuberkulosis;
  • pes;
  • kolera;
  • cacar;
  • disentri;
  • dan penyakit kekurangan gizi.

Program vaksinasi, pengendalian tikus, sanitasi, serta perbaikan perumahan dijalankan di beberapa wilayah. Namun, cakupannya tidak merata.

Layanan kesehatan lebih mudah diperoleh di kota dan pusat ekonomi dibandingkan desa terpencil.

Pengalaman wabah memperlihatkan pentingnya pelaporan penyakit, komunikasi, tenaga kesehatan, air bersih, dan kepercayaan masyarakat.

Cuaca, Iklim, dan Pengamatan Lokal

Belum ada lembaga bernama BMKG pada periode ini.

Pengamatan cuaca, gempa, dan magnet bumi dilakukan melalui lembaga kolonial, termasuk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium di Batavia serta jaringan stasiun lainnya.

Data pengamatan dapat mencakup:

  • curah hujan;
  • suhu;
  • tekanan udara;
  • angin;
  • gempa;
  • dan aktivitas magnetik.

Namun, persebaran stasiun tidak merata. Wilayah perkotaan, pelabuhan, perkebunan, serta pusat pemerintahan lebih banyak tercatat daripada desa terpencil.

Kekeringan atau banjir lokal tidak boleh langsung disebut sebagai akibat El Niño atau La Niña tanpa didukung rekonstruksi ilmiah.

Geologi dan Kebencanaan Nusantara

Nusantara tetap berada di salah satu wilayah tektonik serta vulkanik paling aktif di dunia.

Setelah letusan Kelud 1919, upaya mengurangi bahaya danau kawah dilakukan melalui pembangunan terowongan drainase pada awal 1920-an. Tujuannya mengurangi volume air yang dapat berubah menjadi lahar ketika terjadi letusan.

Pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah mitigasi gunung api di Indonesia.

Gunung Merapi dan gunung api lainnya terus menunjukkan aktivitas, tetapi tidak semua letusan kecil, hujan abu, gempa, banjir, atau longsor tercatat secara lengkap.

Katalog modern sering disusun dari gabungan laporan kolonial dan penelitian geologi. Karena itu, ketepatan lokasi, tanggal, kekuatan, serta korban dapat berbeda.

Ketiadaan laporan tidak membuktikan bahwa suatu daerah terbebas dari bencana. Banyak kejadian lokal mungkin hanya bertahan dalam ingatan masyarakat atau tidak tercatat sama sekali.

Hubungan Dunia dan Nusantara

Dunia 1920–1925 terhubung melalui uang, barang, mesin, berita, dan gagasan.

Industri mobil dunia membutuhkan karet. Kapal dan kendaraan membutuhkan minyak. Industri menggunakan timah serta hasil tambang. Perusahaan kolonial mengambil komoditas tersebut dari Nusantara.

Sebaliknya, berita tentang Revolusi Rusia, Turki, gerakan kemerdekaan India, komunisme, sosialisme, serta nasionalisme memasuki Hindia melalui surat kabar, buku, pelajar, pelaut, dan organisasi internasional.

Teknologi kolonial memiliki dua sisi.

Kereta api mengangkut hasil bumi menuju pelabuhan, tetapi juga mengangkut aktivis. Percetakan membantu administrasi, tetapi juga menerbitkan kritik. Sekolah menyediakan pegawai kolonial, tetapi juga melahirkan pemimpin yang menuntut kemerdekaan.

Fakta, Temuan Penelitian, dan Ketidakpastian

Fakta

  • Liga Bangsa-Bangsa mulai beroperasi pada 1920.
  • Uni Soviet dibentuk pada 1922.
  • Republik Turki diproklamasikan pada 1923.
  • Jerman mengalami hiperinflasi ekstrem pada 1923.
  • Gempa Haiyuan terjadi pada 1920.
  • Gempa Besar Kantō terjadi pada 1923.
  • Insulin mulai digunakan untuk pengobatan diabetes pada awal 1920-an.
  • Perserikatan Komunis di Hindia dibentuk dari perubahan ISDV pada 1920.
  • Taman Siswa didirikan pada 1922.
  • Persatuan Islam didirikan pada 1923.
  • Nama Indonesia semakin tegas digunakan sebagai identitas politik.

Temuan Penelitian

  • Pemulihan ekonomi pascaperang sangat bergantung pada pinjaman dan hubungan utang antarnegara.
  • Hiperinflasi Jerman dipengaruhi warisan perang, reparasi, konflik politik, produksi, dan hilangnya kepercayaan terhadap mata uang.
  • Teknologi radio, film, mobil, dan penerbangan mempercepat pembentukan budaya massa.
  • Pendidikan, pers, organisasi buruh, dan perkumpulan sosial-keagamaan memperluas kesadaran politik di Hindia Belanda.
  • Infrastruktur kolonial dapat membuka mobilitas sekaligus memperkuat eksploitasi ekonomi.

Ketidakpastian

  • Jumlah korban kelaparan Rusia, gempa Haiyuan, dan Gempa Kantō berbeda menurut sumber.
  • Sensus kolonial tidak menjangkau seluruh penduduk dengan ketelitian yang sama.
  • Tidak semua pemogokan, bencana daerah, wabah, dan kehidupan masyarakat desa tercatat.
  • Banyak arsip dibuat dari sudut pandang pemerintah atau perusahaan kolonial.
  • Hubungan antara kejadian cuaca lokal dan pola iklim global membutuhkan rekonstruksi ilmiah lebih lanjut.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Periode 1920–1925 menunjukkan bahwa manusia dapat membangun kembali dunia dengan cepat, tetapi tidak selalu memperbaiki fondasi yang membuatnya runtuh.

Pabrik kembali bekerja, radio mulai berbunyi, mobil memenuhi jalan, dan pesawat melintasi benua. Ilmu pengetahuan menyelamatkan penderita diabetes dan memperluas pandangan manusia hingga keluar dari Bima Sakti.

Namun, utang perang, ketimpangan, rasisme, kolonialisme, dan kekerasan politik tidak menghilang.

Fasisme muncul di Italia ketika masyarakat kehilangan kepercayaan dan takut terhadap revolusi. Di Jerman, hiperinflasi menghancurkan tabungan serta rasa aman. Di Uni Soviet, revolusi membentuk negara baru yang kemudian bergerak menuju kekuasaan semakin terpusat.

Di Hindia Belanda, perubahan yang paling penting mungkin bukan sebuah pertempuran, melainkan perubahan cara masyarakat menyebut dirinya.

Kata “Indonesia” mulai membawa makna politik. Ia menghubungkan masyarakat yang hidup di pulau, bahasa, agama, dan adat yang berbeda.

Pendidikan Taman Siswa, organisasi Islam, gerakan buruh, PKI, Sarekat Islam, pers, dan Perhimpunan Indonesia memiliki pandangan yang berbeda. Namun, semuanya memperlihatkan bahwa masyarakat jajahan tidak lagi hanya menunggu perubahan dari pemerintah kolonial.

Sebuah bangsa tidak selalu lahir ketika bendera pertama kali dikibarkan. Ia dapat mulai lahir ketika masyarakat yang terpisah menemukan satu nama untuk masa depan yang ingin mereka perjuangkan bersama.

Kesimpulan Catatan #015

Dunia 1920–1925 adalah dunia yang bergerak antara pemulihan dan ancaman baru.

Perang telah berakhir, tetapi utang, inflasi, kelaparan, pengungsi, serta pertentangan politik terus berlangsung. Uni Soviet lahir, Republik Turki menggantikan kekaisaran lama, dan fasisme mulai membangun kekuasaan di Italia.

Radio, film, mobil, penerbangan, insulin, serta fisika modern menunjukkan kemampuan manusia mengubah kehidupan dan pengetahuan.

Namun, gempa Haiyuan dan Kantō memperlihatkan kerentanan kota serta masyarakat terhadap bencana. Kekerasan setelah gempa Kantō juga membuktikan bahwa rumor dan prasangka dapat menjadi bencana kedua.

Di Hindia Belanda, sensus mencatat puluhan juta penduduk yang hidup dalam struktur kolonial. Ekonomi menghasilkan karet, minyak, gula, timah, serta komoditas dunia, tetapi keuntungan dan kekuasaan dibagikan secara tidak setara.

PKI terbentuk, Sarekat Islam terpecah, gerakan buruh berkembang, Taman Siswa didirikan, dan Perhimpunan Indonesia mempertegas gagasan kemerdekaan.

Dunia tampak lebih modern daripada sebelumnya. Namun, di balik radio, mobil, film, dan pembangunan kota, kekuatan-kekuatan yang kelak membawa krisis baru sedang tumbuh.

Menuju Catatan #016 — Bumi 1925–1930

Catatan berikutnya akan menelusuri:

  • perkembangan ekonomi dan budaya akhir 1920-an;
  • perluasan mobil, radio, film bersuara, dan penerbangan;
  • perkembangan fisika kuantum;
  • penerbangan Charles Lindbergh;
  • kekuatan politik Stalin, Mussolini, dan gerakan ekstrem lainnya;
  • Revolusi Tiongkok dan perang saudara;
  • Banjir Besar Mississippi 1927;
  • Gempa Gulang 1927;
  • awal Depresi Besar setelah kehancuran pasar saham 1929;
  • pemberontakan PKI 1926–1927;
  • penangkapan dan pembuangan ke Boven Digoel;
  • berdirinya Nahdlatul Ulama;
  • Sumpah Pemuda;
  • lahirnya Partai Nasional Indonesia;
  • serta semakin kuatnya perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Apa yang tampak sebagai masa kemakmuran akan berakhir dengan salah satu keruntuhan ekonomi terbesar dalam sejarah modern.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1920–1925.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, wabah, dan peristiwa daerah yang mungkin tidak pernah dicatat, belum didigitalisasi, atau belum dapat ditelusuri melalui sumber yang tersedia.

Sebagian besar dokumen resmi berasal dari pemerintah, perusahaan, lembaga kolonial, dan kelompok terdidik. Pengalaman petani, buruh, perempuan, masyarakat adat, penduduk desa, serta korban kekerasan tidak selalu masuk ke dalam arsip dengan kedalaman yang sama.

Angka penduduk, korban bencana, kelaparan, dan krisis ekonomi harus dibaca sebagai hasil pencatatan atau estimasi yang memiliki keterbatasan.

Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran umum berdasarkan dokumen, arsip, penelitian ilmiah, dataset, dan sumber institusional yang dapat ditelusuri kembali.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di daerah yang tidak pernah masuk dalam arsip besar. Inilah gambaran umum dari bukti yang masih dapat kami temukan, dihimpun kembali agar jejak manusia dan Bumi tidak ikut hilang oleh waktu.

Sumber Utama dan Bahan Pemeriksaan

  • Our World in Data, Population, data serta metodologi rekonstruksi populasi historis:
    https://ourworldindata.org/grapher/population

  • Our World in Data, Life Expectancy, data dan penjelasan mengenai harapan hidup historis:
    https://ourworldindata.org/life-expectancy

  • International Monetary Fund, kajian mengenai ekonomi Jerman antarperang dan hiperinflasi 1923:
    https://www.elibrary.imf.org/display/book/9781513511795/ch006.xml

  • League of Nations Archives, United Nations Office at Geneva, arsip dan dokumen Liga Bangsa-Bangsa:
    https://www.ungeneva.org/en/library-archives/league-of-nations-archives

  • Nobel Prize, The Discovery of Insulin dan penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1923:
    https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/1923/summary/

  • Nobel Prize, Albert Einstein dan Hadiah Nobel Fisika 1921:
    https://www.nobelprize.org/prizes/physics/1921/summary/

  • United States Geological Survey, katalog serta informasi gempa bersejarah:
    https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards

  • National Centers for Environmental Information, basis data gempa signifikan dunia:
    https://www.ncei.noaa.gov/products/natural-hazards/significant-earthquake

  • Smithsonian Institution, Global Volcanism Program, katalog aktivitas gunung api:
    https://volcano.si.edu/

  • NASA Marshall Space Flight Center, data Siklus Matahari dan bintik Matahari:
    https://solarscience.msfc.nasa.gov/SunspotCycle.shtml

  • Library of Congress, koleksi foto, surat kabar, rekaman, bisnis, tenaga kerja, dan budaya 1920-an:
    https://www.loc.gov/collections/

  • Encyclopaedia Britannica, rujukan umum mengenai Uni Soviet, Republik Turki, fasisme, hiperinflasi, dan politik antarperang:
    https://www.britannica.com/place/Soviet-Union
    https://www.britannica.com/place/Turkey/Declaration-of-the-Turkish-republic
    https://www.britannica.com/topic/fascism
    https://www.britannica.com/event/hyperinflation-in-the-Weimar-Republic

  • Arsip Nasional Republik Indonesia, Jaringan Informasi Kearsipan Nasional:
    https://jikn.anri.go.id/

  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Khastara, koleksi digital surat kabar dan dokumen sejarah:
    https://khastara.perpusnas.go.id/

  • Delpher, koleksi digital surat kabar, buku, dan jurnal Belanda serta Hindia Belanda:
    https://www.delpher.nl/

  • Leiden University Libraries/KITLV, koleksi sejarah Hindia Belanda dan Asia Tenggara:
    https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahan sejarah organisasi dan tokoh pergerakan:
    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

  • Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, bahan sejarah gunung api Indonesia:
    https://vsi.esdm.go.id/

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dapat Anda cek dan telusuri kembali melalui sumber-sumber yang dicantumkan.

Walaupun penelusuran telah dilakukan dengan hati-hati, kekeliruan penulisan, perbedaan tanggal, ketidaktepatan angka, perubahan klasifikasi ilmiah, atau kekurangan sumber masih mungkin terjadi.

Sebagian data sejarah merupakan estimasi atau rekonstruksi. Angkanya dapat berubah ketika arsip baru ditemukan, koleksi lama didigitalisasi, atau metode penelitian diperbaiki.

Pembaca yang menemukan kesalahan, sumber primer, arsip daerah, catatan keluarga, atau penelitian yang lebih kuat dipersilakan menyampaikan koreksi. Setiap informasi baru perlu dibandingkan dengan sumber lain sebelum dimasukkan ke dalam pembaruan Catatan.

Catatan ini dapat Anda cek dan periksa kembali. Kami bisa saja keliru, tetapi bukti dan koreksi yang dapat diverifikasi akan membantu sejarah dicatat dengan lebih jujur, lebih lengkap, dan tidak mudah hilang.