PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #013] [1910–1915]

Dunia memasuki 1910–1915 dengan pesawat, radio, kapal raksasa, industri modern, dan pembangunan Terusan Panama. Namun, tenggelamnya Titanic, Revolusi Tiongkok, Perang Balkan, dan pecahnya Perang Dunia I memperlihatkan sisi rapuh kemajuan manusia. Di Nusantara, Sarekat Islam dan Indische Partij muncul ketika pendidikan, pers, serta kesadaran kebangsaan mulai mengubah perjuangan melawan kolonialisme.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #013] [1910–1915]

Dunia yang Berlari Menuju Batas

Pada awal 1910, dunia tampak sedang menaklukkan jarak. Kereta api menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan, kapal uap membawa manusia dan barang melintasi samudra, telegraf mengirimkan kabar menyeberangi benua, sementara pesawat mulai mengangkat manusia ke langit.

Pabrik memproduksi barang dalam jumlah yang belum pernah dicapai sebelumnya. Minyak bumi, batu bara, baja, listrik, pupuk kimia, mesin pembakaran dalam, dan jalur perdagangan global semakin menentukan kekuatan suatu negara.

Namun, kemajuan tersebut tumbuh di atas dunia yang sangat tidak setara. Sebagian besar Afrika dan Asia masih berada di bawah kekuasaan kolonial. Buruh bekerja dalam kondisi berat, kemiskinan tetap luas, perempuan belum memiliki hak politik yang sama, dan penyakit menular masih dapat menghabisi ribuan hingga jutaan kehidupan.

Dalam waktu kurang dari lima tahun, keyakinan bahwa teknologi akan membawa dunia menuju masa depan yang lebih aman mulai runtuh. Kapal yang dianggap sebagai lambang kemajuan tenggelam di Atlantik. Revolusi menjatuhkan sebuah dinasti di Tiongkok. Perang mengguncang Balkan. Persaingan antarimperium akhirnya meledak menjadi Perang Dunia I.

Manusia memasuki dekade ini dengan keyakinan bahwa mesin dapat menaklukkan dunia. Namun, dunia segera memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu disertai kemajuan dalam mengendalikan ambisi, kekuasaan, dan peperangan.

1910–1915: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Dalam pembagian waktu geologi resmi, periode 1910–1915 berada dalam kala Holosen, bagian dari Zaman Kuarter. Istilah Antroposen sering digunakan untuk membahas masa ketika aktivitas manusia mulai memberikan pengaruh besar terhadap sistem Bumi, tetapi istilah tersebut belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah manusia, periode ini berada pada beberapa persimpangan besar:

  • penghujung zaman yang sering disebut Belle Époque di Eropa;
  • puncak imperialisme dan kolonialisme modern;
  • kelanjutan Revolusi Industri Kedua;
  • pertumbuhan listrik, baja, minyak bumi, kimia, dan kendaraan bermotor;
  • meningkatnya organisasi buruh dan gerakan hak perempuan;
  • tumbuhnya nasionalisme di berbagai wilayah jajahan;
  • Revolusi Tiongkok dan pergolakan di Meksiko;
  • Perang Balkan;
  • serta pecahnya Perang Dunia I pada 1914.

Zaman ini belum sepenuhnya modern seperti dunia abad ke-21. Sebagian besar penduduk Bumi masih hidup di pedesaan, bekerja dalam pertanian, menggunakan tenaga manusia dan hewan, serta bergantung langsung pada musim dan hasil panen.

Di sisi lain, kota-kota industri telah memperlihatkan wajah masa depan: jalan berlistrik, trem, telepon, bioskop, mobil, lift, pabrik besar, gedung bertingkat, surat kabar massal, dan jaringan komunikasi internasional.

Penduduk Dunia dan Persebaran Manusia

Fakta dan Rekonstruksi

Jumlah penduduk dunia sekitar 1910 diperkirakan berada di kisaran 1,7 hingga 1,8 miliar jiwa. Angka tersebut bukan hasil satu sensus dunia, melainkan rekonstruksi modern yang menggabungkan sensus nasional, catatan kolonial, perkiraan demografis, serta penelitian sejarah.

Basis data historis yang dihimpun Our World in Data menggunakan beberapa sumber berbeda untuk periode panjang. Untuk 1800–1949, angka populasi global dan nasional harus diperlakukan sebagai estimasi, bukan jumlah yang diketahui secara mutlak.

Sebagian besar manusia hidup di Asia. Tiongkok dan India merupakan pusat populasi terbesar, sedangkan Eropa memiliki tingkat urbanisasi dan industrialisasi yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar wilayah dunia lainnya.

Pertumbuhan penduduk didorong oleh kombinasi antara:

  • penurunan kematian di beberapa wilayah;
  • membaiknya distribusi pangan;
  • kemajuan sanitasi;
  • vaksinasi;
  • perkembangan transportasi;
  • dan berkurangnya dampak sebagian wabah di negara-negara yang telah membangun sistem kesehatan masyarakat.

Namun, kemajuan tersebut tidak merata. Kematian bayi masih sangat tinggi, terutama di wilayah miskin dan jajahan. Data historis memperkirakan angka harapan hidup global pada awal abad ke-20 masih sekitar tiga puluhan tahun, terutama karena besarnya risiko kematian pada masa bayi dan kanak-kanak.

Angka harapan hidup yang rendah tidak berarti semua orang meninggal ketika berusia tiga puluh tahun. Banyak orang yang berhasil melewati masa kanak-kanak dapat hidup jauh lebih lama, tetapi kematian bayi dan anak menurunkan nilai rata-rata secara tajam.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Kehidupan manusia pada 1910–1915 sangat berbeda menurut tempat, kelas sosial, jenis kelamin, dan kekuasaan politik.

Di kota-kota industri Eropa dan Amerika Utara, masyarakat mulai mengenal:

  • penerangan listrik;
  • trem listrik;
  • telepon;
  • gedung perkantoran;
  • toko serba ada;
  • bioskop;
  • surat kabar harian;
  • mobil;
  • dan produk pabrik yang dipasarkan secara massal.

Namun, kehidupan kelas pekerja sering berlangsung di lingkungan padat, penuh asap, dengan jam kerja panjang dan perlindungan keselamatan yang terbatas. Kebakaran Triangle Shirtwaist Factory di New York pada 25 Maret 1911 menewaskan 146 pekerja. Banyak korbannya adalah perempuan muda imigran. Tragedi tersebut memperkuat tuntutan terhadap keselamatan tempat kerja dan reformasi perburuhan.

Di pedesaan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan sebagian Eropa, kehidupan masih berpusat pada pertanian. Hasil panen menentukan apakah sebuah keluarga dapat makan, membayar pajak, atau mempertahankan lahannya.

Pada saat yang sama, perpindahan manusia dalam jumlah besar terus berlangsung. Orang-orang Eropa bermigrasi ke Amerika, Australia, dan wilayah kolonial. Buruh dari India, Tiongkok, Jawa, dan kawasan lainnya dipindahkan menuju perkebunan, tambang, pelabuhan, dan proyek infrastruktur.

Sebagian migrasi dilakukan atas pilihan ekonomi, tetapi banyak pula yang berlangsung dalam sistem kontrak yang tidak seimbang, tekanan kemiskinan, atau struktur kolonial.

Perempuan, Pendidikan, dan Gerakan Sosial

Pada periode ini, gerakan hak pilih perempuan semakin kuat di Eropa dan Amerika Utara. Perempuan menuntut hak memilih, akses pendidikan, hak atas pekerjaan, serta perlindungan hukum yang lebih setara.

Di Inggris, gerakan suffragette melakukan kampanye yang semakin keras. Di berbagai negara lain, perubahan berjalan dengan kecepatan berbeda. Beberapa wilayah telah memberikan hak pilih terbatas kepada perempuan, sedangkan sebagian besar dunia belum mengakuinya.

Sekolah dan universitas mulai menerima lebih banyak perempuan, tetapi akses masih bergantung pada kelas sosial dan lokasi. Di wilayah jajahan, pendidikan modern hanya tersedia bagi sebagian kecil penduduk.

Pertumbuhan pendidikan menghasilkan kelompok baru: guru, wartawan, dokter, pegawai, pengacara, dan pelajar yang mampu membaca kondisi masyarakat mereka melalui bahasa politik modern. Kelompok terdidik inilah yang kemudian berperan besar dalam banyak gerakan nasionalisme.

Pangan, Pertanian, dan Pupuk Sintetis

Pertanian masih menjadi sumber kehidupan utama sebagian besar manusia. Gandum, beras, jagung, kentang, sorgum, ubi, dan tanaman lokal lainnya menjadi dasar pangan dunia.

Namun, sistem pangan semakin terhubung dengan perdagangan global. Gandum dari Amerika Utara, daging dari Argentina, gula dari wilayah tropis, teh dari Asia, kopi dari Amerika Latin dan Hindia Belanda, serta berbagai komoditas lain dipindahkan melalui jaringan kapal dan kereta api.

Salah satu perubahan paling penting terjadi dalam produksi pupuk nitrogen.

Fritz Haber mengembangkan proses sintesis amonia dari nitrogen dan hidrogen, sedangkan Carl Bosch membantu mengubahnya menjadi proses industri berskala besar. Pabrik BASF di Oppau mulai memproduksi amonia secara industri pada 1913.

Proses Haber–Bosch kemudian memungkinkan produksi pupuk nitrogen dalam jumlah sangat besar. Dalam jangka panjang, teknologi ini membantu meningkatkan hasil pertanian dan menopang pertumbuhan penduduk dunia.

Namun, amonia sintetis juga dapat digunakan untuk membuat bahan peledak. Dengan demikian, penemuan yang membantu produksi pangan sekaligus memperkuat kemampuan negara untuk berperang.

Salah satu teknologi terpenting bagi pertanian modern lahir pada masa ketika negara-negara Eropa juga sedang mempersiapkan peperangan modern.

Ekonomi Dunia Sebelum Perang

Pada awal periode ini, ekonomi internasional terhubung oleh perdagangan, investasi, perbankan, pelayaran, dan sistem moneter yang sebagian besar bertumpu pada standar emas.

London merupakan salah satu pusat keuangan dunia. Modal Eropa mengalir menuju jalur kereta api, perkebunan, tambang, pelabuhan, dan pemerintahan di berbagai benua.

Amerika Serikat berkembang menjadi kekuatan industri dan keuangan yang semakin besar. Jerman menjadi pusat industri kimia, mesin, dan baja. Inggris tetap memiliki jaringan perdagangan dan kekaisaran yang sangat luas. Jepang tumbuh sebagai kekuatan industri dan militer baru di Asia.

Produksi massal berkembang pesat. Pada 1913, Ford Motor Company memperkenalkan sistem lini perakitan bergerak di pabrik Highland Park. Sistem tersebut mempercepat pembuatan mobil dan menurunkan biaya produksi.

Perubahan ini bukan sekadar tentang mobil. Lini perakitan menjadi lambang sistem industri baru yang membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil, berulang, cepat, dan terukur.

Ketimpangan Ekonomi

Kemakmuran industri tidak dibagikan secara merata. Pemilik modal dan perusahaan besar menguasai sumber daya dalam jumlah besar, sedangkan buruh sering menerima upah rendah dan menghadapi kondisi berbahaya.

Pemogokan, organisasi serikat, dan gerakan sosialis berkembang di berbagai negara. Pemerintah harus menghadapi pertanyaan baru tentang upah, jam kerja, keselamatan, hak berserikat, dan tanggung jawab negara terhadap kemiskinan.

Di wilayah kolonial, ketimpangan lebih dalam karena ekonomi dirancang terutama untuk menghasilkan komoditas ekspor dan pendapatan bagi pemerintah kolonial serta perusahaan.

Energi dan Perubahan Lingkungan

Batu bara masih menjadi sumber energi utama industri, kereta api, kapal uap, dan pembangkit listrik. Pembakaran batu bara memenuhi kota-kota industri dengan asap, jelaga, dan polusi.

Minyak bumi semakin penting karena berkembangnya:

  • kendaraan bermotor;
  • mesin pembakaran dalam;
  • kapal berbahan bakar minyak;
  • industri kimia;
  • dan kebutuhan militer.

Perusahaan serta negara mulai memandang wilayah penghasil minyak sebagai aset strategis. Persaingan menguasai sumber energi perlahan menjadi bagian dari geopolitik.

Peningkatan penggunaan bahan bakar fosil menambah emisi karbon dioksida ke atmosfer. Pada masa itu, dampak jangka panjangnya belum menjadi perhatian masyarakat luas, meskipun dasar ilmiah mengenai kemampuan gas tertentu menyerap panas telah dikembangkan sejak abad ke-19.

Hutan terus dibuka untuk pertanian, permukiman, tambang, rel kereta api, perkebunan, dan ekspor kayu. Perubahan tersebut terjadi berbeda-beda di setiap wilayah dan belum dicatat secara lengkap.

Dunia Teknologi 1910–1915

Teknologi berkembang dengan kecepatan yang mengagumkan.

Transportasi

Mobil belum dimiliki sebagian besar masyarakat, tetapi produksinya tumbuh cepat. Jalan raya mulai menyesuaikan diri dengan kendaraan bermotor, meskipun kereta kuda, sepeda, trem, dan perjalanan kaki masih mendominasi banyak tempat.

Penerbangan berkembang hanya beberapa tahun setelah penerbangan Wright bersaudara. Pesawat digunakan untuk pertunjukan, eksperimen, pengiriman surat, pengintaian, dan kemudian peperangan.

Pada awal Perang Dunia I, pesawat terutama digunakan untuk mengamati posisi lawan. Tidak lama kemudian, manusia memasang senjata pada pesawat dan mengubah langit menjadi medan perang baru.

Komunikasi

Telegraf kabel tetap menjadi tulang punggung komunikasi jarak jauh. Telepon berkembang di kota dan pusat pemerintahan, tetapi belum menjadi barang umum bagi sebagian besar penduduk dunia.

Komunikasi radio nirkabel semakin penting bagi kapal dan militer. Ketika Titanic tenggelam pada 1912, operator radio mengirimkan sinyal bahaya yang membantu kapal lain mengetahui bencana tersebut.

Film dan Budaya Massa

Bioskop berkembang menjadi hiburan populer. Film bisu dapat menyeberangi batas bahasa dan memperlihatkan kota, perang, tokoh, serta kehidupan masyarakat kepada penonton yang jauh dari lokasi kejadian.

Surat kabar massal membentuk opini publik. Foto, poster, iklan, dan berita cepat membuat masyarakat semakin sadar terhadap peristiwa internasional, tetapi juga membuka ruang bagi propaganda.

Terusan Panama

Terusan Panama resmi dibuka untuk lalu lintas pada 1914. Terusan tersebut menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik melalui tanah genting Panama, sehingga kapal tidak perlu mengitari ujung selatan Amerika Selatan.

Pembangunannya merupakan pencapaian teknik besar, tetapi juga memiliki sejarah penyakit, kematian pekerja, campur tangan geopolitik, dan kekuasaan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Terusan ini kemudian mengubah jalur perdagangan dan strategi militer dunia.

Ilmu Pengetahuan yang Mengubah Cara Manusia Melihat Alam

Periode 1910–1915 menghasilkan sejumlah perkembangan ilmiah penting.

Struktur Atom

Pada 1911, Ernest Rutherford mengusulkan model atom dengan pusat yang sangat kecil, padat, dan bermuatan positif setelah menafsirkan hasil eksperimen hamburan partikel alfa.

Pada 1913, Niels Bohr memperkenalkan model atom yang menggunakan gagasan tingkat energi tertentu untuk menjelaskan perilaku elektron dan spektrum atom hidrogen.

Model-model tersebut kemudian disempurnakan, tetapi menjadi langkah penting menuju fisika atom dan mekanika kuantum.

Superkonduktivitas

Pada 1911, Heike Kamerlingh Onnes menemukan bahwa hambatan listrik merkuri dapat menghilang pada suhu sangat rendah. Fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai superkonduktivitas.

Pergeseran Benua

Pada 1912, Alfred Wegener mengajukan gagasan bahwa benua-benua pernah menyatu dan kemudian bergerak menjauh.

Gagasan pergeseran benua awalnya ditolak oleh banyak ilmuwan karena Wegener belum dapat menjelaskan mekanisme penggeraknya secara meyakinkan. Puluhan tahun kemudian, perkembangan teori tektonik lempeng memberikan kerangka yang jauh lebih kuat.

Sinar Kosmik

Pada 1912, Victor Hess melakukan penerbangan balon dan menemukan bahwa tingkat radiasi meningkat pada ketinggian tertentu. Temuan ini membantu menunjukkan keberadaan radiasi yang datang dari luar Bumi, kemudian disebut sinar kosmik.

Dalam beberapa tahun saja, manusia memperluas pandangannya dari bagian terdalam atom hingga radiasi yang datang dari ruang angkasa.

Kesehatan, Penyakit, dan Kedokteran

Kedokteran modern berkembang, tetapi dunia belum memiliki antibiotik seperti penisilin untuk penggunaan klinis luas.

Pada 1910, obat arsfenamin—dikenal sebagai Salvarsan—mulai digunakan untuk menangani sifilis. Obat ini merupakan salah satu contoh awal kemoterapi antimikroba yang menargetkan penyebab penyakit tertentu.

Vaksin cacar telah digunakan di banyak tempat, tetapi cakupannya belum merata. Program sanitasi, air bersih, pembuangan limbah, karantina, dan pengendalian vektor membantu mengurangi penyakit di sebagian kota.

Meski demikian, kolera, pes, tuberkulosis, malaria, tifus, demam tifoid, disentri, dan penyakit pernapasan masih merenggut banyak nyawa.

Pengetahuan mengenai kuman telah mengubah kedokteran, tetapi penerapannya bergantung pada kemampuan pemerintah membangun rumah sakit, laboratorium, sistem air, dan pelayanan kesehatan.

Perbedaan layanan antara masyarakat kaya dan miskin—serta antara pusat kolonial dan penduduk jajahan—tetap sangat besar.

Cuaca, Iklim, dan Keadaan Lingkungan

Data pengamatan cuaca pada 1910–1915 telah tersedia di sejumlah stasiun, terutama di Eropa, Amerika Utara, kawasan kolonial, pelabuhan, dan jalur pelayaran. Namun, cakupannya belum merata sehingga gambaran global modern harus disusun melalui kombinasi pengukuran langsung dan rekonstruksi.

Periode ini masih berada sebelum pemanasan global mencapai tingkat seperti sekarang. Meskipun demikian, emisi bahan bakar fosil terus meningkat seiring industrialisasi.

Cuaca ekstrem tetap menimbulkan bencana besar karena:

  • ramalan cuaca masih terbatas;
  • sistem peringatan belum menjangkau banyak penduduk;
  • komunikasi tidak merata;
  • rumah dan infrastruktur rentan;
  • serta bantuan darurat sulit mencapai daerah terpencil.

Pada 1911, gelombang panas parah melanda sebagian Eropa dan menimbulkan kematian serta tekanan pada masyarakat. Di Tiongkok, banjir besar Sungai Yangtze pada tahun yang sama menyebabkan kehancuran luas, kelaparan, dan korban jiwa dalam jumlah besar. Jumlah korban berbeda menurut sumber dan harus diperlakukan sebagai perkiraan.

Letusan Novarupta pada 1912 menyuntikkan material vulkanik ke atmosfer. Letusan besar dapat memengaruhi suhu dan pola atmosfer untuk sementara, tetapi pengaruhnya berbeda menurut lokasi, musim, dan jumlah material yang mencapai stratosfer.

Geologi dan Bencana Alam

Gempa Sarez 1911

Pada 18 Februari 1911, gempa besar mengguncang wilayah Pegunungan Pamir, yang sekarang berada di Tajikistan.

Longsoran raksasa membendung Sungai Murghab dan membentuk Bendungan Usoi, salah satu bendungan alami tertinggi di dunia. Air yang tertahan kemudian membentuk Danau Sarez.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana satu gempa dapat mengubah bentang alam secara permanen dan menciptakan risiko baru bagi generasi berikutnya.

Letusan Novarupta 1912

Pada Juni 1912, letusan Novarupta terjadi di Alaska. Letusan tersebut merupakan letusan vulkanik terbesar abad ke-20 berdasarkan volume material yang dikeluarkan.

Abu menutupi wilayah luas, mengganggu kehidupan masyarakat dan ekosistem setempat, serta membentuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Valley of Ten Thousand Smokes.

Catatan geologi memperlihatkan bahwa dampak letusan tidak berhenti ketika suara ledakannya berakhir. Abu dapat mengubah sungai, danau, vegetasi, perikanan, kualitas udara, serta kehidupan masyarakat dalam waktu lama.

Letusan Sakurajima 1914

Pada Januari 1914, Gunung Sakurajima di Jepang mengalami letusan besar. Aliran lava menghubungkan pulau vulkanik tersebut dengan Semenanjung Ōsumi.

Letusan ini didahului gempa-gempa yang mendorong penduduk melakukan evakuasi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh penting hubungan antara aktivitas seismik, keputusan masyarakat, dan keselamatan penduduk.

Gempa Avezzano 1915

Pada 13 Januari 1915, gempa besar menghancurkan Avezzano dan wilayah Abruzzo di Italia. Puluhan ribu orang diperkirakan meninggal.

Bencana terjadi ketika Eropa telah memasuki Perang Dunia I. Penanganan korban harus berlangsung di tengah tekanan politik, militer, dan logistik yang semakin berat.

Catatan tentang Korban

Jumlah korban bencana pada awal abad ke-20 sering berbeda antara sumber. Penyebabnya meliputi:

  • pencatatan penduduk yang belum lengkap;
  • kehancuran dokumen;
  • wilayah yang sulit dijangkau;
  • perbedaan definisi korban langsung dan tidak langsung;
  • serta laporan awal yang dibuat dalam kondisi kacau.

Karena itu, angka korban sebaiknya ditulis sebagai perkiraan apabila tidak terdapat kepastian yang memadai.

Titanic: Ketika Kepercayaan kepada Teknologi Tenggelam

RMS Titanic berangkat dalam pelayaran perdananya dari Southampton menuju New York pada April 1912.

Pada malam 14 April, kapal tersebut menabrak gunung es di Atlantik Utara dan tenggelam pada dini hari 15 April. Lebih dari 1.500 orang meninggal, meskipun angka persisnya berbeda menurut daftar penumpang dan awak yang digunakan.

Titanic memiliki sekoci yang tidak cukup untuk membawa seluruh orang di kapal. Evakuasi juga memperlihatkan ketimpangan kelas, keterbatasan prosedur darurat, dan bahaya menganggap teknologi sebagai sesuatu yang tidak dapat gagal.

Komunikasi radio membantu menyebarkan panggilan darurat, tetapi kapal terdekat yang merespons tetap membutuhkan waktu untuk mencapai lokasi.

Bencana tersebut mendorong perubahan keselamatan maritim, termasuk aturan sekoci, pengawasan radio, patroli es, dan kerja sama internasional.

Titanic bukan hanya kisah kapal yang tenggelam. Ia menjadi peringatan bahwa kemajuan teknik dapat berubah menjadi bencana ketika keyakinan manusia melampaui kesiapan menghadapi kegagalan.

Kondisi Tata Surya dan Aktivitas Matahari

Periode 1910–1915 mencakup akhir Siklus Matahari 14 dan awal Siklus Matahari 15.

Siklus 14 dikenal sebagai salah satu siklus dengan aktivitas bintik Matahari relatif rendah pada era pengamatan modern. Aktivitas mencapai tingkat minimum sekitar 1913 sebelum meningkat kembali dalam Siklus 15.

Pada 1910, Komet Halley telah melintas dekat Bumi dan menarik perhatian luas. Sesudahnya, astronomi terus berkembang melalui teleskop, fotografi langit, spektroskopi, dan pengukuran posisi benda langit.

Penting untuk membedakan hubungan yang telah dibuktikan dengan dugaan. Aktivitas Matahari dapat memengaruhi lingkungan antariksa dan menghasilkan gangguan geomagnetik, tetapi tidak setiap perang, gempa, letusan gunung api, atau cuaca ekstrem dapat dikaitkan dengannya.

Tidak terdapat bukti ilmiah yang memadai untuk menyatakan bahwa aktivitas Matahari menyebabkan pecahnya Perang Dunia I ataupun gempa dan letusan besar pada periode ini.

Revolusi dan Runtuhnya Tatanan Lama

Revolusi Meksiko

Revolusi Meksiko dimulai pada 1910 sebagai perlawanan terhadap pemerintahan panjang Porfirio Díaz.

Gerakan tersebut berkembang menjadi konflik yang melibatkan berbagai pemimpin, kelompok petani, tentara, elite daerah, dan kekuatan politik. Emiliano Zapata membawa tuntutan pembagian tanah, sedangkan Pancho Villa menjadi salah satu tokoh militer penting di bagian utara.

Revolusi tidak selesai dalam periode ini. Konflik berlanjut selama bertahun-tahun dan mengubah struktur politik serta sosial Meksiko.

Revolusi Tiongkok 1911

Pada 1911, pemberontakan Wuchang memicu rangkaian peristiwa yang menjatuhkan Dinasti Qing.

Republik Tiongkok diproklamasikan pada 1912. Sun Yat-sen menjadi presiden sementara sebelum kekuasaan beralih kepada Yuan Shikai.

Berakhirnya pemerintahan kekaisaran tidak langsung menciptakan stabilitas. Tiongkok memasuki masa perebutan kekuasaan, tekanan asing, dan fragmentasi politik yang panjang.

Pergolakan Kekuasaan Dunia

Revolusi-revolusi tersebut memperlihatkan bahwa tatanan lama tidak lagi diterima tanpa perlawanan. Dinasti, monarki, dan pemerintahan otoriter menghadapi gerakan yang membawa gagasan republik, nasionalisme, sosialisme, konstitusi, dan hak rakyat.

Namun, pergantian pemerintahan tidak selalu menghasilkan keadilan atau kestabilan. Revolusi dapat membuka jalan perubahan sekaligus menciptakan kekosongan kekuasaan dan konflik baru.

Imperialisme dan Krisis Antarnegara

Pada awal 1910-an, sebagian besar Afrika telah dibagi di antara kekuatan kolonial Eropa. India berada di bawah Inggris. Hindia Belanda dikuasai Belanda. Indochina dikuasai Prancis. Korea dianeksasi Jepang pada 1910.

Kekaisaran bersaing menguasai:

  • wilayah;
  • pelabuhan;
  • jalur laut;
  • bahan mentah;
  • pasar;
  • minyak;
  • tambang;
  • serta posisi militer strategis.

Krisis Agadir pada 1911 memperlihatkan ketegangan antara Prancis dan Jerman mengenai Maroko. Krisis tersebut diselesaikan tanpa perang besar, tetapi memperdalam kecurigaan di Eropa.

Italia menyerang wilayah Ottoman di Libya pada 1911. Perang Italia–Turki memperlihatkan penggunaan teknologi modern, termasuk pesawat untuk pengintaian dan serangan awal dari udara.

Peperangan mulai bergerak dari darat dan laut menuju ruang udara.

Perang Balkan

Perang Balkan Pertama pecah pada 1912 ketika Bulgaria, Serbia, Yunani, dan Montenegro berperang melawan Kekaisaran Ottoman.

Kekuasaan Ottoman di Eropa menyusut secara drastis. Namun, pembagian wilayah hasil kemenangan menciptakan perselisihan baru.

Pada 1913, Perang Balkan Kedua pecah ketika Bulgaria berperang melawan bekas sekutunya dan negara-negara lain.

Konflik tersebut meninggalkan:

  • perbatasan baru;
  • pengungsian;
  • kekerasan antarkelompok;
  • persaingan nasionalisme;
  • dan ketegangan yang belum terselesaikan.

Balkan kemudian disebut sebagai salah satu kawasan paling mudah meledak di Eropa.

Jalan Menuju Perang Dunia I

Sebelum 1914, kekuatan besar Eropa terbagi ke dalam dua jaringan utama:

  • Triple Alliance yang melibatkan Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia;
  • Triple Entente yang menghubungkan Prancis, Rusia, dan Inggris.

Hubungan tersebut tidak otomatis membuat perang tak terhindarkan, tetapi menciptakan struktur yang memungkinkan konflik regional berkembang menjadi perang besar.

Negara-negara membangun kapal perang, memperbesar tentara, menyusun rencana mobilisasi, dan mengembangkan industri senjata. Nasionalisme menguat, sementara pers menampilkan negara lain sebagai ancaman.

Pada 28 Juni 1914, pewaris takhta Austria-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand, dan istrinya Sophie dibunuh di Sarajevo oleh Gavrilo Princip.

Krisis diplomatik berkembang cepat:

  • Austria-Hongaria mengajukan ultimatum kepada Serbia;
  • Austria-Hongaria menyatakan perang;
  • Rusia melakukan mobilisasi untuk mendukung Serbia;
  • Jerman menyatakan perang terhadap Rusia dan Prancis;
  • Jerman menyerbu Belgia;
  • Inggris kemudian menyatakan perang terhadap Jerman.

Dalam hitungan minggu, pembunuhan di Sarajevo berubah menjadi perang yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Perang Dunia I Dimulai

Pada awalnya, banyak pemimpin dan sebagian masyarakat mengira perang akan berlangsung singkat. Kenyataannya, teknologi industri membuat peperangan jauh lebih mematikan.

Senapan mesin, artileri berat, kawat berduri, kereta api militer, kapal selam, pesawat, dan komunikasi modern mengubah medan tempur.

Pada akhir 1914, Front Barat berubah menjadi jaringan parit yang panjang. Serangan frontal sering menghasilkan korban besar tanpa perubahan wilayah yang berarti.

Perang juga mencapai koloni dan lautan. Tentara, buruh, bahan pangan, karet, minyak, logam, dan uang dari wilayah jajahan digunakan untuk mendukung negara-negara Eropa.

Pada 1915, perang semakin meluas:

  • kampanye Gallipoli dimulai;
  • Italia bergabung melawan Austria-Hongaria;
  • kapal penumpang Lusitania ditenggelamkan kapal selam Jerman;
  • dan senjata kimia digunakan dalam skala besar di Front Barat.

Peristiwa yang dimulai sebagai perang Eropa berkembang menjadi konflik global.

Hindia Belanda: Wilayah yang Kelak Menjadi Indonesia

Pada 1910–1915, negara bernama Republik Indonesia belum terbentuk. Kepulauan yang sekarang menjadi Indonesia sebagian besar berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Namun, kekuasaan kolonial tidak sepenuhnya seragam. Pemerintah Belanda mengendalikan wilayah melalui kombinasi:

  • pemerintahan langsung;
  • pejabat kolonial;
  • kerajaan dan penguasa lokal;
  • perjanjian politik;
  • kekuatan militer;
  • pajak;
  • serta jaringan perusahaan.

Masyarakat kepulauan ini memiliki identitas lokal yang kuat—Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Aceh, Melayu, Bugis, Makassar, Bali, Ambon, Dayak, Papua, dan banyak kelompok lainnya.

Kesadaran sebagai satu bangsa Indonesia belum dimiliki seluruh penduduk. Akan tetapi, pendidikan, pers, organisasi, perdagangan, bahasa Melayu, dan pengalaman menghadapi kekuasaan kolonial mulai menghubungkan berbagai kelompok.

Penduduk dan Kehidupan di Hindia Belanda

Sebagian besar penduduk hidup di desa dan menggantungkan kehidupan pada pertanian. Padi menjadi makanan utama di banyak wilayah, tetapi sagu, jagung, ubi, dan bahan pangan lokal tetap penting.

Struktur sosial kolonial membagi penduduk ke dalam kategori hukum dan rasial. Orang Eropa menempati lapisan istimewa, disusul kelompok yang dikategorikan sebagai Timur Asing, sementara penduduk pribumi menjadi kelompok terbesar dengan hak politik terbatas.

Kehidupan sangat berbeda antara kota kolonial seperti Batavia, Surabaya, Semarang, Medan, dan Bandung dengan desa-desa pedalaman.

Di kota, listrik, kereta api, trem, kantor pos, telegraf, sekolah, percetakan, dan layanan kesehatan berkembang. Namun, kampung-kampung padat tetap menghadapi sanitasi buruk, penyakit, kebakaran, dan banjir.

Di perkebunan Sumatra dan wilayah lainnya, buruh bekerja untuk menghasilkan tembakau, karet, teh, kopi, gula, dan komoditas ekspor. Sistem kerja kontrak dapat disertai hukuman, utang, kekerasan, serta pembatasan kebebasan pekerja.

Ekonomi Kolonial di Nusantara

Ekonomi Hindia Belanda semakin terhubung dengan pasar dunia.

Komoditas penting meliputi:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • karet;
  • kina;
  • kopra;
  • timah;
  • batu bara;
  • dan minyak bumi.

Pertumbuhan kendaraan bermotor dunia meningkatkan permintaan terhadap karet. Perkebunan karet meluas di Sumatra dan wilayah lainnya.

Minyak bumi diproduksi di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Perusahaan minyak mengembangkan sumur, kilang, jaringan pengangkutan, dan pelabuhan.

Perusahaan kolonial memperoleh keuntungan dari tanah, tenaga kerja, dan sumber daya kepulauan. Infrastruktur seperti jalan, rel, pelabuhan, dan komunikasi dibangun, tetapi pembangunannya sering diarahkan untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi menuju pasar.

Temuan Penelitian

Infrastruktur kolonial dapat memberikan manfaat tertentu bagi mobilitas dan perdagangan masyarakat, tetapi tujuan utamanya tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan administrasi, keamanan, dan ekonomi pemerintah kolonial.

Karena itu, pembangunan pada masa kolonial tidak boleh langsung disamakan dengan pembangunan yang dirancang berdasarkan kepentingan penduduk secara merata.

Politik Etis dan Pendidikan

Politik Etis yang diumumkan pada awal abad ke-20 membawa gagasan mengenai irigasi, edukasi, dan migrasi.

Dalam pelaksanaannya, kebijakan ini terbatas dan tetap berada dalam kerangka kolonial. Namun, perluasan pendidikan melahirkan kelompok terdidik baru.

Sekolah kedokteran STOVIA, sekolah guru, sekolah pamong praja, dan lembaga pendidikan lainnya menghasilkan lulusan yang dapat membaca, menulis, berorganisasi, serta menyampaikan kritik melalui pers.

Ironisnya, pendidikan yang dimaksudkan untuk menyediakan tenaga bagi pemerintahan kolonial ikut melahirkan tokoh-tokoh yang mempertanyakan kolonialisme.

Sarekat Islam

Organisasi yang berawal dari Sarekat Dagang Islam berkembang menjadi Sarekat Islam pada sekitar 1912.

Gerakan ini tumbuh jauh lebih luas dibandingkan organisasi elite terdidik sebelumnya. Sarekat Islam menyatukan pedagang, tokoh agama, kaum terdidik, dan masyarakat melalui jaringan yang menjangkau berbagai kota.

Organisasi tersebut membawa beberapa kepentingan sekaligus:

  • solidaritas ekonomi;
  • perlindungan pedagang;
  • identitas keagamaan;
  • perbaikan kehidupan rakyat;
  • kritik terhadap ketidakadilan;
  • dan kesadaran politik.

Perkembangannya memperlihatkan bahwa organisasi modern tidak lagi hanya berada dalam lingkungan kecil kaum bangsawan atau pelajar.

Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912.

Gerakan ini menaruh perhatian pada:

  • pendidikan;
  • pembaruan kehidupan keagamaan;
  • pelayanan sosial;
  • kesehatan;
  • dan penguatan masyarakat.

Muhammadiyah kemudian membangun sekolah, lembaga sosial, serta layanan kesehatan. Perkembangannya menunjukkan bahwa perubahan masyarakat tidak hanya berlangsung melalui partai politik, tetapi juga melalui pendidikan dan organisasi sosial-keagamaan.

Indische Partij dan Tiga Serangkai

Indische Partij didirikan pada 1912 oleh Ernest Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat.

Ketiganya kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Indische Partij membawa gagasan politik yang lebih tegas mengenai persatuan penduduk Hindia dan perlawanan terhadap diskriminasi kolonial.

Pada 1913, pemerintah kolonial merencanakan perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari kekuasaan Prancis. Penduduk jajahan diminta ikut menanggung biaya perayaan tersebut.

Soewardi Soerjaningrat menulis kritik terkenal berjudul “Als Ik Eens Nederlander Was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Tulisan itu menyoroti ironi sebuah bangsa yang merayakan kemerdekaannya di tanah yang dijajahnya sendiri.

Pemerintah kolonial kemudian mengasingkan Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat ke Belanda.

Di tanah jajahan, kata-kata dapat diperlakukan sebagai ancaman karena tulisan mampu membuka kesadaran yang tidak dapat dikendalikan dengan senjata saja.

Pers dan Lahirnya Ruang Publik

Surat kabar dan majalah menjadi alat penting penyebaran gagasan.

Bahasa Melayu membantu menjangkau pembaca dari latar belakang berbeda. Pers membahas pendidikan, perdagangan, agama, diskriminasi, kolonialisme, kehidupan rakyat, dan perkembangan dunia.

Tirto Adhi Soerjo menjadi salah satu tokoh penting pers bumiputra. Melalui penerbitan dan organisasi, pers mulai menjadi ruang untuk membangun kesadaran masyarakat.

Namun, kebebasan pers dibatasi. Pemerintah kolonial dapat menyensor, menuntut, mengasingkan, atau menghentikan pihak yang dianggap mengganggu ketertiban.

Gerakan Sosialis dan ISDV

Pada 1914, organisasi Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau ISDV didirikan oleh tokoh-tokoh sosialis di Hindia Belanda.

Pada tahap awal, organisasi ini banyak beranggotakan orang Eropa, tetapi kemudian menjalin hubungan dengan aktivis dan buruh pribumi.

Kehadiran ISDV memperkenalkan analisis kelas, kapitalisme, buruh, dan sosialisme ke dalam pergerakan politik Hindia. Pengaruhnya berkembang lebih besar pada periode berikutnya.

Wabah Pes di Jawa

Wabah pes muncul di Jawa Timur sekitar 1910–1911, terutama di wilayah Malang, lalu menyebar ke daerah lain.

Penyakit tersebut berkaitan dengan bakteri Yersinia pestis, yang dapat ditularkan melalui kutu pada tikus. Perdagangan beras, gudang, transportasi, kondisi rumah, dan kepadatan permukiman berperan dalam pola penyebarannya.

Pemerintah kolonial menjalankan tindakan seperti:

  • pemeriksaan penduduk;
  • isolasi;
  • pembongkaran atau perbaikan rumah;
  • pengendalian tikus;
  • vaksinasi;
  • dan pengawasan pergerakan.

Namun, tindakan kesehatan juga dapat bersifat memaksa dan menimbulkan ketakutan. Dalam beberapa kasus, rumah penduduk dibongkar atau dibakar sebagai bagian dari pengendalian wabah.

Wabah ini memperlihatkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan obat, tetapi juga dengan perumahan, kemiskinan, kepercayaan, komunikasi, dan hubungan kekuasaan.

Cuaca, Iklim, dan Pengamatan di Nusantara

Pada masa ini belum ada lembaga bernama BMKG. Pengamatan cuaca dan geofisika dilakukan melalui lembaga kolonial, termasuk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium di Batavia, serta jaringan stasiun pengamatan lainnya.

Catatan kolonial dapat memuat:

  • curah hujan;
  • tekanan udara;
  • arah angin;
  • suhu;
  • pengamatan magnetik;
  • gempa;
  • dan aktivitas vulkanik.

Namun, cakupan stasiun tidak merata. Banyak kejadian lokal mungkin hanya tercatat melalui laporan pemerintahan, surat kabar, catatan perkebunan, tradisi lisan, atau laporan masyarakat.

Wilayah Nusantara dipengaruhi oleh monsun, variasi suhu laut, El Niño–Southern Oscillation, bentuk kepulauan, pegunungan, dan kondisi lokal. Akan tetapi, penetapan suatu kejadian lama sebagai El Niño atau La Niña harus menggunakan rekonstruksi ilmiah, bukan hanya berdasarkan satu laporan kekeringan atau banjir.

Geologi dan Kebencanaan Nusantara

Nusantara terletak pada pertemuan beberapa sistem lempeng tektonik dan jalur vulkanik aktif. Gempa, tsunami, letusan gunung api, longsor, banjir, serta kekeringan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum terbentuknya Indonesia.

Untuk 1910–1915, dokumentasi kebencanaan tidak selengkap masa modern. Tidak semua gempa kecil, banjir daerah, longsor, atau letusan tercatat secara sistematis. Catatan yang tersedia sering berasal dari pusat kolonial atau wilayah yang memiliki kepentingan ekonomi dan administrasi.

Karena itu, ketiadaan suatu kejadian dalam katalog bukan bukti bahwa kejadian tersebut tidak pernah terjadi.

Penelusuran kejadian lokal perlu membandingkan:

  • arsip pemerintahan Hindia Belanda;
  • laporan observatorium kolonial;
  • katalog gempa dan tsunami modern;
  • catatan gunung api;
  • surat kabar sezaman;
  • laporan misionaris dan perkebunan;
  • penelitian geologi;
  • serta ingatan dan tradisi masyarakat.

Dampak Perang Dunia I terhadap Hindia Belanda

Belanda menyatakan netral dalam Perang Dunia I. Karena Hindia Belanda merupakan koloninya, wilayah ini tidak menjadi medan pertempuran utama seperti Eropa.

Namun, netralitas tidak berarti terbebas dari dampak perang.

Perang mengganggu:

  • pelayaran;
  • perdagangan;
  • pasokan barang;
  • komunikasi;
  • harga komoditas;
  • asuransi kapal;
  • serta hubungan dengan pasar Eropa.

Kapal dagang menghadapi risiko penyitaan, blokade, ranjau, dan serangan. Barang impor menjadi lebih sulit atau mahal diperoleh.

Pada sisi lain, permintaan terhadap komoditas tertentu—termasuk minyak, karet, timah, dan hasil perkebunan—dapat meningkat karena kebutuhan perang.

Perang dunia juga menunjukkan kepada kaum terdidik di Hindia bahwa kekuatan Eropa yang mengaku membawa peradaban ternyata dapat saling menghancurkan dengan teknologi modern.

Hubungan Dunia dan Nusantara

Perubahan di Nusantara bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Pertumbuhan kendaraan bermotor dunia meningkatkan permintaan karet dari perkebunan Sumatra. Industri dan angkatan laut membutuhkan minyak. Perdagangan global memperluas pelabuhan. Teknologi percetakan mempercepat penyebaran gagasan. Pendidikan kolonial melahirkan pembaca dan penulis baru.

Revolusi di Tiongkok, gerakan nasionalisme di India, modernisasi Jepang, sosialisme Eropa, dan perubahan politik di berbagai negara menjadi bahan pembelajaran bagi kaum terdidik Hindia.

Pada saat yang sama, sistem kolonial menghubungkan masyarakat Nusantara dengan dunia melalui jalur yang tidak setara. Tanah, tenaga, dan sumber daya lokal menjadi bagian dari ekonomi internasional, sementara keputusan utama tetap berada di tangan kekuasaan kolonial.

Fakta, Temuan Penelitian, dan Batas Pengetahuan

Fakta

  • Republik Tiongkok berdiri setelah runtuhnya Dinasti Qing.
  • Titanic tenggelam pada April 1912.
  • Perang Balkan berlangsung pada 1912–1913.
  • Terusan Panama dibuka pada 1914.
  • Perang Dunia I dimulai pada 1914.
  • Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Indische Partij berkembang atau berdiri dalam periode ini.
  • Novarupta meletus pada 1912.
  • Aktivitas Matahari melewati minimum sekitar 1913.

Temuan Penelitian

  • Industrialisasi memperbesar produksi sekaligus kebutuhan energi dan bahan mentah.
  • Pendidikan, pers, serta organisasi modern membantu pertumbuhan kesadaran politik di Hindia Belanda.
  • Kemajuan kesehatan masyarakat bergantung bukan hanya pada obat, tetapi juga pada sanitasi, perumahan, dan kepercayaan masyarakat.
  • Jaringan aliansi, perlombaan senjata, nasionalisme, imperialisme, serta krisis diplomatik memperbesar kemungkinan konflik 1914 berkembang menjadi perang dunia.

Hal yang Belum Lengkap

  • Jumlah korban beberapa bencana dan konflik berbeda menurut sumber.
  • Data populasi global dan Hindia Belanda merupakan rekonstruksi atau hasil sensus dengan keterbatasan.
  • Banyak peristiwa desa, bencana lokal, penderitaan buruh, dan pengalaman masyarakat tidak masuk arsip resmi.
  • Catatan kolonial dapat lebih banyak mewakili kepentingan pemerintah dan perusahaan daripada suara penduduk setempat.
  • Hubungan antara cuaca lokal dan pola iklim global tidak selalu dapat ditentukan dari laporan sejarah tunggal.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Periode 1910–1915 menunjukkan sebuah pertentangan besar dalam perjalanan manusia.

Ilmu pengetahuan telah membawa manusia masuk ke dalam atom, naik ke lapisan atmosfer, menyeberangi samudra dengan kapal raksasa, dan memotong sebuah benua melalui Terusan Panama. Pabrik dapat menghasilkan mobil dalam jumlah besar. Radio membuat pesan melintasi lautan. Pupuk sintetis membuka kemungkinan meningkatkan hasil pangan.

Namun, kemampuan teknis manusia berkembang lebih cepat daripada kemampuannya menyelesaikan persaingan politik.

Kereta api yang membawa penumpang dapat mengirim tentara ke garis depan. Industri kimia yang menghasilkan pupuk dapat membuat bahan peledak. Pesawat yang membuka langit dapat digunakan untuk mengamati dan menyerang. Kapal selam yang menunjukkan kecanggihan teknik dapat menenggelamkan kapal bersama manusia di dalamnya.

Di Nusantara, perubahan besar tidak terlihat dalam bentuk berdirinya negara baru. Perubahan berlangsung melalui sesuatu yang tampak lebih kecil: sekolah, surat kabar, organisasi pedagang, perkumpulan keagamaan, tulisan kritik, dan pertemuan kaum terdidik.

Namun, justru dari ruang-ruang kecil itulah gagasan mengenai persatuan dan kemerdekaan mulai memperoleh bentuk.

Pada 1910, banyak manusia percaya bahwa mereka sedang memasuki zaman kemajuan. Pada 1914, dunia menemukan bahwa kemajuan tanpa kendali dapat membuat kehancuran berlangsung lebih cepat, lebih luas, dan lebih terorganisasi daripada sebelumnya.

Kesimpulan Catatan #013

Periode 1910–1915 merupakan batas antara keyakinan lama terhadap kemajuan dan kenyataan baru mengenai perang industri.

Penduduk dunia terus bertambah. Kota, pabrik, kendaraan, ilmu pengetahuan, komunikasi, dan perdagangan berkembang. Revolusi menjatuhkan kekuasaan lama. Gerakan sosial menuntut hak yang lebih luas. Di wilayah jajahan, pendidikan dan pers mulai mengubah cara masyarakat memahami dirinya.

Namun, ketimpangan, kolonialisme, nasionalisme agresif, perebutan sumber daya, perlombaan senjata, dan jaringan aliansi membawa dunia menuju Perang Dunia I.

Di Hindia Belanda, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Indische Partij, pers bumiputra, dan kelompok-kelompok baru menjadi bagian dari perjalanan menuju kesadaran kebangsaan. Mereka belum membentuk Indonesia sebagai negara, tetapi sedang membangun bahasa, organisasi, pendidikan, dan keberanian yang kelak diperlukan untuk memperjuangkannya.

Menuju Catatan #014 — Bumi 1915–1920

Catatan berikutnya akan menelusuri dunia ketika Perang Dunia I mencapai fase paling mematikan.

Pembahasannya akan meliputi:

  • perang parit dan senjata kimia;
  • Pertempuran Verdun dan Somme;
  • kampanye di Timur Tengah dan wilayah kolonial;
  • Revolusi Rusia;
  • runtuhnya sejumlah kekaisaran;
  • pandemi influenza 1918;
  • kelaparan dan pengungsian;
  • perubahan industri dan tenaga kerja;
  • gerakan nasionalisme;
  • serta pengaruh perang dan wabah terhadap Hindia Belanda.

Peristiwa 1910–1915 belum berakhir di halaman ini. Perang yang dimulai pada 1914 baru memasuki bagian awal dari kehancurannya.

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi pada 1910–1915.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di berbagai daerah dunia yang mungkin tidak pernah tercatat, belum didigitalisasi, atau belum dapat ditelusuri melalui bukti yang tersedia.

Catatan tentang masyarakat Nusantara pada masa kolonial juga memiliki keterbatasan. Banyak arsip dibuat oleh pemerintah, perusahaan, militer, atau penulis kolonial. Suara masyarakat desa, buruh, perempuan, kelompok adat, korban wabah, dan pihak yang melakukan perlawanan tidak selalu dicatat dengan kedalaman yang sama.

Bumi dari Masa ke Masa berusaha menyusun gambaran umum berdasarkan dokumen, arsip, dataset, penelitian ilmiah, dan sumber institusional yang dapat ditelusuri kembali.

Apa yang tertulis di sini bukan seluruh sejarah dunia. Ini adalah bagian dari sejarah yang masih berhasil ditemukan—dikumpulkan dan dirangkum kembali agar jejaknya tidak ikut hilang oleh waktu.

Sumber Utama dan Bahan Pemeriksaan

  • Our World in Data, Population, 10,000 BCE to 2023, dataset populasi historis yang menggabungkan HYDE, Gapminder, dan United Nations:
    https://ourworldindata.org/grapher/population

  • Our World in Data, Life Expectancy, kompilasi data dan penjelasan mengenai harapan hidup historis:
    https://ourworldindata.org/life-expectancy

  • Library of Congress, koleksi dan panduan sumber sejarah mengenai awal abad ke-20, Titanic, Perang Dunia I, dan Terusan Panama:
    https://www.loc.gov/research-centers/newspaper-and-current-periodical/researcher-resources/research-guides/topics-in-chronicling-america/

  • Library of Congress, American Treasures—Panama Canal, keterangan historis mengenai jalur dan konteks Terusan Panama:
    https://www.loc.gov/exhibits/treasures/tr11c.html

  • United States Geological Survey, informasi mengenai Novarupta dan letusan terbesar abad ke-20:
    https://www.usgs.gov/volcanoes/katmai/science/novarupta

  • Smithsonian Institution, Global Volcanism Program, basis data gunung api dan letusan historis:
    https://volcano.si.edu/

  • NASA Marshall Space Flight Center, Solar Cycle and Sunspot Data, data pengamatan aktivitas Matahari:
    https://solarscience.msfc.nasa.gov/SunspotCycle.shtml

  • International Seismological Centre, katalog kejadian gempa historis:
    https://www.isc.ac.uk/

  • Encyclopaedia Britannica, rujukan umum mengenai Revolusi Tiongkok, Revolusi Meksiko, Perang Balkan, dan Perang Dunia I:
    https://www.britannica.com/event/Chinese-Revolution-1911-1912
    https://www.britannica.com/event/Mexican-Revolution
    https://www.britannica.com/topic/Balkan-Wars
    https://www.britannica.com/event/World-War-I

  • Arsip Nasional Republik Indonesia, Jaringan Informasi Kearsipan Nasional:
    https://jikn.anri.go.id/

  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, koleksi digital surat kabar, buku, dan sumber sejarah:
    https://khastara.perpusnas.go.id/

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan dan publikasi sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahan mengenai organisasi pergerakan nasional:
    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

  • Delpher, koleksi digital surat kabar, buku, dan jurnal Belanda serta Hindia Belanda:
    https://www.delpher.nl/

  • KITLV/Leiden University Libraries, koleksi visual, peta, buku, dan arsip mengenai Asia Tenggara serta Hindia Belanda:
    https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dapat Anda periksa dan telusuri kembali melalui sumber-sumber yang dicantumkan.

Walaupun penelusuran telah dilakukan dengan hati-hati, kekeliruan penulisan, perbedaan tanggal, ketidaktepatan angka, perubahan klasifikasi ilmiah, atau kekurangan sumber masih mungkin terjadi. Beberapa angka sejarah juga merupakan estimasi dan dapat berubah ketika penelitian atau arsip baru ditemukan.

Pembaca yang menemukan bukti lebih kuat, sumber primer, arsip daerah, catatan keluarga, atau koreksi yang dapat diverifikasi dipersilakan menyampaikannya. Setiap koreksi harus dibandingkan dengan sumber lain sebelum dimasukkan ke dalam pembaruan Catatan.

Catatan sejarah tidak menjadi lemah karena dapat dikoreksi. Ia menjadi lebih kuat ketika setiap informasi bersedia diuji kembali.

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #013] [1910–1915] | PUSTAHA