PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #012] [1905–1910]

Mobil mulai diproduksi untuk masyarakat luas, pesawat belajar terbang semakin jauh, dan proses Haber–Bosch membuka jalan menuju pupuk sintetis yang kelak mengubah pangan dunia. Namun, gempa San Francisco dan Messina, ledakan Tunguska, revolusi, serta persaingan kekaisaran memperlihatkan rapuhnya zaman baru. Di Nusantara, Budi Utomo lahir, Puputan Badung terjadi, dan Sisingamangaraja XII gugur dalam perlawanan terhadap perluasan kolonial Belanda.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #012] [1905–1910]

Dunia Bergerak Semakin Cepat

Periode 1905–1910 memperlihatkan dunia yang sedang mempercepat langkah menuju zaman modern. Pesawat mulai terbang lebih jauh, mobil memasuki produksi yang lebih besar, radio berkembang, film menjadi hiburan masyarakat, dan industri kimia menemukan cara mengambil nitrogen dari udara.

Kemajuan tersebut membawa harapan besar. Mobilitas meningkat, informasi bergerak lebih cepat, dan pupuk sintetis kelak memungkinkan produksi pangan bertambah.

Namun, teknologi yang sama juga memperbesar kemampuan negara untuk berperang, mengendalikan wilayah, mengambil sumber daya, dan menggerakkan pasukan.

Gempa San Francisco 1906, gempa dan tsunami Messina 1908, serta ledakan Tunguska memperlihatkan bahwa peradaban modern tetap rentan terhadap kekuatan Bumi dan benda dari luar angkasa.

Di Nusantara, lahirnya Budi Utomo pada 1908 menjadi salah satu tanda awal kebangkitan organisasi modern. Akan tetapi, periode yang sama juga menyaksikan Puputan Badung, Puputan Klungkung, penaklukan kerajaan-kerajaan di Sulawesi, dan gugurnya Sisingamangaraja XII.

Dunia mulai memasuki zaman mobil, pesawat, radio, dan organisasi modern. Namun, kecepatan teknologi belum diikuti oleh kecepatan manusia mengakhiri penjajahan, ketimpangan, dan kekerasan.

1905–1910: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Secara geologi, periode 1905–1910 berada dalam kala Holosen, yaitu masa yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.

Istilah Antroposen digunakan dalam pembahasan ilmiah modern untuk menggambarkan periode ketika aktivitas manusia memengaruhi sistem Bumi dalam skala besar. Namun, Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah peradaban, periode ini merupakan bagian dari:

  • awal abad ke-20;
  • Revolusi Industri Kedua;
  • perluasan penggunaan listrik;
  • awal industri mobil berskala besar;
  • perkembangan penerbangan;
  • pertumbuhan komunikasi radio;
  • kemajuan industri minyak dan kimia;
  • perubahan sistem pangan melalui pupuk sintetis;
  • persaingan kekaisaran;
  • serta pertumbuhan nasionalisme dan gerakan politik.

Dunia belum memasuki Perang Dunia I, tetapi unsur-unsur yang akan membentuk perang tersebut semakin terlihat:

  • perlombaan senjata;
  • pembangunan angkatan laut;
  • pembentukan aliansi;
  • persaingan kolonial;
  • nasionalisme;
  • dan konflik di Balkan.

Penduduk Dunia

Fakta dan Rekonstruksi

Penduduk dunia pada periode ini diperkirakan telah melampaui 1,6 miliar jiwa. Angka tersebut merupakan rekonstruksi sejarah, bukan hasil sensus serentak terhadap seluruh penduduk Bumi.

Asia menampung bagian terbesar populasi manusia. Tiongkok dan India tetap menjadi kawasan berpenduduk sangat besar.

Pertumbuhan penduduk terjadi bersamaan dengan:

  • urbanisasi;
  • migrasi lintas samudra;
  • pertumbuhan kota industri;
  • perpindahan buruh kontrak;
  • pengungsian akibat perang;
  • dan pembukaan kawasan pertanian baru.

Jutaan orang Eropa bermigrasi menuju Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brasil, Australia, dan wilayah lain.

Di berbagai wilayah kolonial, masyarakat dipindahkan atau didatangkan untuk bekerja di perkebunan, tambang, pelabuhan, serta pembangunan rel.

Catatan Penting

Angka pertumbuhan penduduk tidak menunjukkan kualitas hidup secara langsung. Banyak manusia tetap menghadapi:

  • kematian bayi;
  • penyakit menular;
  • kekurangan gizi;
  • kecelakaan kerja;
  • persalinan berbahaya;
  • dan tidak adanya layanan kesehatan.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Sebagian besar manusia masih hidup di desa serta bergantung pada tanah, musim, air, ternak, hutan, dan hasil panen.

Di kota industri, kehidupan mengikuti waktu yang semakin teratur. Jam kerja, jadwal kereta, trem, surat kabar, telepon, dan listrik membentuk ritme baru.

Masyarakat perkotaan mulai mengenal:

  • lampu listrik;
  • bioskop;
  • toko serba ada;
  • kendaraan bermotor;
  • iklan;
  • rekaman musik;
  • telepon;
  • dan surat kabar harian.

Namun, teknologi tersebut belum tersedia bagi semua orang.

Permukiman pekerja di berbagai kota menghadapi:

  • kepadatan;
  • polusi batu bara;
  • sanitasi buruk;
  • penyakit;
  • upah rendah;
  • jam kerja panjang;
  • dan risiko kecelakaan industri.

Kota modern dibangun dengan ketimpangan yang besar. Satu kawasan dapat diterangi listrik, sementara permukiman di dekatnya tidak memiliki air bersih.

Perempuan dan Perubahan Sosial

Gerakan perempuan berkembang di Eropa, Amerika, Australia, dan wilayah lain.

Tuntutannya meliputi:

  • hak memilih;
  • pendidikan;
  • hak memiliki harta;
  • akses terhadap profesi;
  • perlindungan tenaga kerja;
  • dan kesetaraan hukum.

Perempuan juga bekerja dalam pabrik, pertanian, pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan rumah tangga.

Namun, pekerjaan mereka sering dibayar lebih rendah atau tidak dicatat sebagai kegiatan ekonomi.

Hak pilih perempuan masih sangat terbatas. Perjuangan tersebut menghadapi penolakan politik, kekerasan, penangkapan, dan anggapan bahwa perempuan tidak layak terlibat dalam urusan publik.

Buruh, Produksi, dan Ketimpangan

Industri baja, pertambangan, tekstil, kimia, kendaraan, dan perkapalan berkembang pesat.

Perusahaan besar meningkatkan efisiensi melalui:

  • pembagian kerja;
  • mesin;
  • standardisasi suku cadang;
  • pengawasan waktu;
  • dan produksi dalam jumlah besar.

Serikat pekerja memperjuangkan delapan jam kerja, upah layak, keselamatan, serta hak berorganisasi.

Namun, perlindungan buruh berbeda-beda menurut negara. Di wilayah kolonial, pekerja perkebunan dan tambang sering menghadapi perlakuan yang lebih buruk.

Pertumbuhan ekonomi tidak menghapus ketimpangan. Kekayaan terkumpul pada pemilik modal serta perusahaan, sedangkan sebagian besar buruh tetap hidup tanpa jaminan kesehatan, pensiun, atau perlindungan ketika kehilangan pekerjaan.

Pangan dan Pertanian Dunia

Pertanian tetap menjadi dasar kehidupan manusia. Beras, gandum, jagung, kentang, sorgum, millet, dan singkong menjadi sumber pangan penting.

Perdagangan pangan meningkat melalui kereta api, kapal uap, pelabuhan, serta teknologi pendinginan.

Pangan dari suatu benua dapat dijual di benua lain. Namun, ketersediaan makanan di pasar tidak selalu berarti semua orang mampu membelinya.

Akses pangan dipengaruhi oleh:

  • harga;
  • upah;
  • kepemilikan tanah;
  • utang;
  • pajak;
  • cuaca;
  • konflik;
  • dan kebijakan pemerintah.

Pertumbuhan penduduk menimbulkan kekhawatiran bahwa sumber nitrogen alami untuk pupuk—seperti guano dan nitrat dari tambang—tidak akan cukup memenuhi kebutuhan masa depan.

Proses Haber–Bosch dan Nitrogen dari Udara

Nitrogen membentuk sekitar 78 persen atmosfer, tetapi sebagian besar tanaman tidak dapat langsung menggunakannya.

Pada 1909, Fritz Haber mendemonstrasikan sintesis amonia dari nitrogen dan hidrogen dalam kondisi tekanan serta suhu tinggi.

Carl Bosch dan tim BASF kemudian mengembangkan teknologi untuk memproduksi amonia dalam skala industri. Produksi industri besar baru dimulai setelah periode Catatan ini, sekitar 1913.

Proses tersebut kelak memungkinkan pembuatan pupuk nitrogen dalam jumlah besar dan membantu meningkatkan hasil pertanian dunia.

Namun, amonia juga dapat digunakan untuk menghasilkan bahan peledak.

Penemuan yang membantu manusia memberi makan miliaran orang juga menyediakan bahan dasar bagi industri perang. Teknologi tidak menentukan tujuan akhirnya; manusia dan kekuasaanlah yang menentukan penggunaannya.

Temuan Penelitian

Pupuk nitrogen sintetis menjadi salah satu teknologi terpenting dalam sejarah pangan modern.

Namun, penggunaannya kemudian juga menimbulkan persoalan:

  • pencemaran air;
  • eutrofikasi;
  • emisi dinitrogen oksida;
  • ketergantungan pertanian terhadap energi fosil;
  • serta perubahan siklus nitrogen Bumi.

Dampak tersebut belum diketahui pada 1909.

Ekonomi Dunia

Perdagangan internasional berkembang melalui standar emas, perbankan, kapal uap, kereta api, dan kabel komunikasi.

Komoditas penting meliputi:

  • batu bara;
  • minyak;
  • baja;
  • karet;
  • kapas;
  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • timah;
  • tembaga;
  • dan hasil pertanian.

Pembangunan mobil menciptakan kebutuhan baru terhadap karet, minyak, logam, dan jalan.

Industri listrik membutuhkan tembaga untuk kabel. Perkapalan membutuhkan baja dan batu bara. Kota membutuhkan semen, kayu, serta energi.

Dengan demikian, kehidupan modern di pusat industri semakin bergantung pada tanah, tambang, hutan, dan tenaga kerja dari berbagai belahan dunia.

Kepanikan Finansial 1907

Pada 1907, krisis keuangan besar terjadi di Amerika Serikat.

Kepanikan, penarikan simpanan, kegagalan lembaga keuangan, dan turunnya kepercayaan mengancam sistem perbankan.

J.P. Morgan dan kelompok bankir membantu mengoordinasikan dukungan terhadap lembaga yang terancam gagal.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ekonomi yang semakin besar membutuhkan sistem pengawasan serta bank sentral yang lebih kuat.

Krisis 1907 menjadi salah satu faktor yang mendorong pembentukan Federal Reserve pada 1913.

Energi dan Perubahan Industri

Batu bara tetap menjadi sumber energi utama bagi:

  • industri baja;
  • pembangkit listrik;
  • lokomotif;
  • kapal uap;
  • dan pabrik.

Minyak bumi tumbuh semakin penting karena kendaraan bermotor, mesin diesel, pelumas, dan kapal mulai membutuhkan bahan bakar cair.

Tenaga air juga digunakan untuk pembangkit listrik.

Listrik mengubah:

  • penerangan;
  • pabrik;
  • trem;
  • lift;
  • komunikasi;
  • dan kehidupan malam kota.

Namun, sebagian besar penduduk dunia belum menggunakan listrik. Kayu bakar, tenaga hewan, minyak tanah, dan tenaga manusia tetap menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari.

Dunia Teknologi 1905–1910

Pesawat Mulai Menjadi Kendaraan yang Dapat Digunakan

Penerbangan Wright bersaudara pada 1903 telah membuktikan bahwa pesawat bermesin dan terkendali dapat terbang.

Pada 1905, Wright Flyer III mampu terbang sekitar 39 menit dan menempuh puluhan kilometer. Pesawat mulai berubah dari eksperimen singkat menjadi kendaraan yang dapat dikendalikan lebih lama.

Alberto Santos-Dumont melakukan penerbangan publik di Eropa pada 1906 dengan pesawat 14-bis.

Louis Blériot menyeberangi Selat Inggris dengan pesawat pada 1909. Penerbangan tersebut menunjukkan bahwa laut yang selama berabad-abad menjadi penghalang dapat dilintasi melalui udara.

Pesawat masih rapuh, berbahaya, dan hanya dapat digunakan oleh sedikit orang. Namun, pemerintah serta militer segera melihat potensinya.

Ford Model T

Ford Model T diperkenalkan pada 1908.

Henry Ford menginginkan kendaraan yang lebih sederhana, tahan lama, dan dapat dijual kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.

Namun, pada 1908 mobil itu masih belum terjangkau oleh seluruh masyarakat. Harga baru turun lebih besar setelah pengembangan lini perakitan bergerak pada 1913.

Model T membantu mengubah mobil dari barang mewah menuju kendaraan produksi massal.

Dampaknya kemudian meliputi:

  • pembangunan jalan;
  • pertumbuhan pinggiran kota;
  • peningkatan kebutuhan minyak;
  • perubahan perdagangan;
  • serta polusi udara.

Plastik Sintetis Bakelite

Pada 1907, Leo Baekeland mengembangkan Bakelite, salah satu plastik sintetis pertama yang berhasil secara komersial.

Bakelite tahan panas dan dapat dibentuk menjadi berbagai benda.

Material tersebut digunakan untuk:

  • isolator listrik;
  • telepon;
  • radio;
  • peralatan rumah tangga;
  • dan komponen industri.

Plastik pada masa itu dipandang sebagai bahan baru yang menjanjikan. Persoalan limbah plastik global belum terlihat.

Radio dan Komunikasi Nirkabel

Radio berkembang terutama sebagai telegraf tanpa kabel.

Kapal menggunakan sinyal radio untuk berkomunikasi dengan daratan serta kapal lain.

Kemampuan tersebut meningkatkan keselamatan pelayaran, tetapi standar frekuensi dan prosedur komunikasi belum seragam.

Radio juga menarik perhatian militer karena pesan dapat dikirim tanpa kabel fisik.

Siaran suara dan musik untuk masyarakat umum belum menjadi penggunaan utama. Era penyiaran massal baru berkembang setelah Perang Dunia I.

Film dan Budaya Massa

Bioskop berkembang di berbagai kota. Film menjadi hiburan yang dapat ditonton banyak orang dengan biaya relatif terjangkau.

Film merekam kehidupan, perjalanan, upacara, industri, dan perang.

Namun, film juga digunakan untuk membentuk gambaran mengenai masyarakat kolonial. Penduduk koloni sering ditampilkan melalui sudut pandang pembuat film Eropa, bukan melalui suara mereka sendiri.

Teknologi gambar bergerak menjadi alat dokumentasi sekaligus propaganda.

Warna dalam Fotografi

Proses Autochrome Lumière diperkenalkan secara komersial pada 1907.

Teknologi tersebut memungkinkan pembuatan foto berwarna dengan metode yang lebih praktis dibandingkan eksperimen sebelumnya.

Pengambilan gambar tetap membutuhkan waktu dan cahaya yang cukup, tetapi dunia mulai dapat direkam tidak hanya dalam hitam putih.

Telepon, Telegraf, dan Listrik

Telepon terus berkembang di kota, kantor, perusahaan, dan rumah masyarakat kaya.

Telegraf tetap menjadi jaringan komunikasi jarak jauh yang sangat penting.

Kabel bawah laut menghubungkan pusat pemerintahan dan perdagangan. Berita yang dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan dapat diterima dalam hitungan jam.

Namun, penguasaan kabel juga berarti penguasaan informasi. Negara yang mengendalikan komunikasi memperoleh keuntungan dalam diplomasi, perdagangan, dan perang.

Ilmu Pengetahuan

Relativitas dan Teori Kuantum Berkembang

Makalah Einstein pada 1905 mulai dibaca dan diperdebatkan oleh komunitas ilmiah.

Teori relativitas khusus mengubah hubungan antara ruang dan waktu, sementara penjelasan efek fotolistrik mendukung gagasan bahwa cahaya dapat berperilaku sebagai paket energi.

Teori kuantum masih berada pada tahap awal dan belum menjadi sistem fisika yang lengkap.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hukum alam pada skala sangat kecil atau kecepatan sangat tinggi tidak selalu sesuai dengan pengalaman manusia sehari-hari.

Struktur Atom

Penemuan elektron telah menunjukkan bahwa atom memiliki bagian internal.

Ernest Rutherford dan ilmuwan lain melakukan penelitian mengenai radioaktivitas serta partikel yang dipancarkan unsur tertentu.

Model inti atom Rutherford baru diumumkan pada 1911, sehingga pembahasannya berada dalam Catatan berikutnya.

Kedokteran dan Kesehatan

Kemajuan bakteriologi membantu ilmuwan mengenali penyebab berbagai penyakit.

Laboratorium mulai digunakan untuk:

  • memeriksa sampel;
  • mengidentifikasi mikroorganisme;
  • membuat vaksin;
  • dan menguji serum.

Namun, antibiotik belum tersedia. Infeksi tetap dapat membunuh pasien setelah luka, operasi, atau persalinan.

Penyakit utama meliputi:

  • tuberkulosis;
  • malaria;
  • kolera;
  • pes;
  • cacar;
  • tifus;
  • demam tifoid;
  • difteri;
  • dan pneumonia.

Penyakit Tidur di Afrika

Trypanosomiasis Afrika atau penyakit tidur menimbulkan wabah besar di sebagian Afrika pada awal abad ke-20.

Penyakit ini ditularkan oleh lalat tsetse dan disebabkan oleh parasit.

Pemerintah kolonial melakukan survei, pemindahan, pemeriksaan, serta pengobatan. Namun, sejumlah kebijakan kesehatan diterapkan secara paksa dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Penyakit, kolonialisme, perpindahan penduduk, perubahan lingkungan, dan eksploitasi tenaga kerja saling berhubungan.

Wabah Pes

Pandemi pes ketiga terus berlangsung dan mencapai berbagai pelabuhan dunia.

Pengendalian dilakukan melalui:

  • karantina;
  • pembasmian tikus;
  • perbaikan penyimpanan makanan;
  • pengawasan kapal;
  • dan pemisahan pasien.

Pemahaman mengenai hubungan tikus, kutu, dan bakteri semakin berkembang.

Namun, tindakan kesehatan sering disertai diskriminasi terhadap kelompok miskin, imigran, dan penduduk kolonial.

Cuaca dan Iklim Dunia

Jaringan meteorologi terus berkembang melalui stasiun darat, kapal, observatorium, telegraf, serta balon pengamatan.

Belum tersedia:

  • satelit cuaca;
  • radar;
  • komputer;
  • model iklim global;
  • atau pemantauan samudra otomatis.

Data suhu awal abad ke-20 menunjukkan variasi tahunan dan regional yang besar.

Emisi dari bahan bakar fosil mulai meningkat, tetapi pengaruh manusia terhadap iklim belum menjadi bagian utama kebijakan dunia.

Penelitian mengenai efek karbon dioksida sudah tersedia, tetapi belum memperoleh perhatian luas.

Geologi dan Bencana Dunia

Gempa San Francisco 1906

Pada 18 April 1906, gempa besar mengguncang California dan menyebabkan pergeseran sepanjang Patahan San Andreas.

Guncangan merusak bangunan, jalan, pipa air, dan jaringan komunikasi.

Kebakaran kemudian menyebar selama beberapa hari. Pipa air yang rusak menyulitkan pemadaman.

Lebih dari 3.000 orang diperkirakan meninggal, meskipun catatan awal pemerintah mencantumkan jumlah lebih kecil. Ratusan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal.

Bencana tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya berasal dari guncangan, tetapi juga:

  • kualitas bangunan;
  • kebakaran;
  • kerusakan infrastruktur;
  • kepadatan kota;
  • dan kemampuan pemerintah merespons.

Gempa Jamaika 1907

Pada Januari 1907, gempa mengguncang Kingston, Jamaika.

Gempa dan kebakaran menghancurkan sebagian besar kota serta menewaskan ratusan hingga lebih dari seribu orang menurut berbagai estimasi.

Perbedaan angka korban menunjukkan keterbatasan dokumentasi bencana masa itu.

Gempa dan Tsunami Messina 1908

Pada 28 Desember 1908, gempa besar mengguncang Selat Messina antara Sisilia dan Calabria di Italia.

Messina dan Reggio Calabria mengalami kehancuran berat. Tsunami menyusul setelah gempa dan menghantam pesisir.

Perkiraan korban sangat beragam, dari sedikitnya sekitar 60.000 hingga lebih dari 100.000 jiwa. USGS mencatat angka sekitar 72.000 korban, sedangkan sumber lain memberikan angka lebih tinggi.

Penyebab pasti tsunami masih diteliti. Selain pergerakan dasar laut akibat gempa, longsoran bawah laut mungkin ikut berperan.

Besarnya korban dipengaruhi oleh:

  • gempa terjadi ketika banyak orang berada di rumah;
  • bangunan tidak tahan gempa;
  • jalan tertutup reruntuhan;
  • kebakaran;
  • tsunami;
  • dan rusaknya rumah sakit serta komunikasi.

Ledakan Tunguska 1908

Pada 30 Juni 1908, sebuah benda antariksa memasuki atmosfer dan meledak di udara di atas wilayah Tunguska, Siberia.

Ledakan merobohkan jutaan pohon di kawasan hutan yang sangat luas.

Tidak ditemukan kawah tumbukan besar seperti yang diharapkan dari benda yang mencapai permukaan. Bukti modern menunjukkan bahwa objek tersebut kemungkinan meledak di atmosfer sebelum menyentuh tanah.

Jenis objeknya masih dibahas, tetapi penjelasan utama mengarah pada asteroid berbatu atau benda kecil lain dari Tata Surya.

Karena wilayahnya terpencil, dokumentasi langsung terbatas. Kesaksian masyarakat Evenki dan penduduk setempat menjadi bagian penting rekonstruksi.

Penelitian ilmiah lapangan besar baru dilakukan bertahun-tahun kemudian.

Tunguska memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kehidupan di Bumi tidak hanya datang dari tanah, laut, udara, atau gunung api. Benda dari ruang angkasa juga dapat membawa energi penghancur dalam waktu beberapa detik.

Aktivitas Gunung Api

Gunung api di berbagai wilayah terus mengalami letusan selama periode ini.

Namun, peningkatan jumlah letusan yang tercatat tidak selalu berarti aktivitas vulkanik Bumi benar-benar meningkat. Perbaikan komunikasi dan minat ilmiah membuat lebih banyak peristiwa dilaporkan.

Catatan gunung api di wilayah terpencil tetap kurang lengkap dibandingkan kawasan dekat kota, pelabuhan, atau pusat kolonial.

Lingkungan dan Sumber Daya

Industrialisasi memperbesar kebutuhan terhadap:

  • batu bara;
  • minyak;
  • besi;
  • tembaga;
  • timah;
  • karet;
  • kayu;
  • dan lahan perkebunan.

Pembukaan hutan meluas di sejumlah kawasan tropis.

Sungai menerima limbah industri dan rumah tangga. Kota-kota batu bara menghadapi asap tebal serta jelaga.

Mobil masih sedikit, tetapi dasar ketergantungan pada minyak dan jalan mulai terbentuk.

Karet memperoleh nilai strategis karena digunakan untuk ban, kabel, alat industri, dan berbagai produk lain. Permintaan tersebut mendorong perluasan perkebunan di Asia Tenggara.

Tata Surya dan Langit

Komet Halley 1910

Komet Halley kembali mendekati Bumi dan Matahari pada 1910.

Kemunculannya telah diperkirakan berdasarkan orbit, menunjukkan kemampuan astronomi menghitung gerakan benda langit.

Bumi melewati bagian ekor komet pada Mei 1910. Penemuan gas sianogen dalam spektrum komet memicu kepanikan di sebagian masyarakat.

Sebagian orang membeli masker atau produk yang diklaim dapat melindungi dari gas komet.

Bumi melewati ekor tersebut tanpa bencana global.

Peristiwa ini menunjukkan perbedaan antara:

  • temuan ilmiah;
  • penafsiran media;
  • ketakutan masyarakat;
  • dan risiko yang sebenarnya.

Aktivitas Matahari

Periode ini melintasi bagian aktif Siklus Matahari 14, yang mencapai maksimum sekitar 1906.

Aktivitas Matahari dapat memengaruhi komunikasi radio, aurora, dan medan magnet Bumi.

Namun, aktivitas Matahari tidak menjadi penjelasan langsung bagi gempa, tsunami, perang, revolusi, atau letusan gunung api.

Geopolitik Dunia

Dampak Kemenangan Jepang

Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 mengubah pandangan dunia.

Banyak masyarakat Asia melihat bahwa kekuatan Eropa dapat dikalahkan oleh negara Asia yang telah melakukan modernisasi.

Kemenangan tersebut menginspirasi sebagian gerakan nasionalis dan antikolonial.

Namun, Jepang juga memperluas kekuasaannya terhadap Korea dan Manchuria.

Modernisasi Jepang tidak hanya menghasilkan kemerdekaan dari tekanan Barat, tetapi juga membentuk kekaisaran baru.

Aneksasi Korea 1910

Jepang telah meningkatkan kendali terhadap Korea setelah Perang Rusia–Jepang.

Pada 1910, Jepang secara resmi menganeksasi Korea.

Pemerintahan kolonial membatasi kedaulatan, kebebasan politik, bahasa, tanah, serta kehidupan masyarakat Korea.

Aneksasi tersebut berlangsung hingga 1945.

Revolusi Konstitusional Persia

Revolusi Konstitusional Persia berlangsung sejak 1905.

Pedagang, ulama, intelektual, dan kelompok masyarakat menuntut pembatasan kekuasaan monarki serta pembentukan parlemen.

Konstitusi dan Majlis dibentuk pada 1906, tetapi konflik mengenai kekuasaan berlanjut.

Rusia dan Inggris ikut memengaruhi keadaan Persia melalui kepentingan geopolitik serta ekonomi.

Revolusi Turki Muda 1908

Pada 1908, gerakan Turki Muda memaksa Sultan Abdul Hamid II memulihkan konstitusi dan parlemen Kesultanan Utsmaniyah.

Peristiwa tersebut membawa harapan reformasi.

Namun, persoalan etnis, agama, wilayah, nasionalisme, dan kekuasaan militer tidak terselesaikan.

Pada 1909, Abdul Hamid II diturunkan dan digantikan oleh Mehmed V.

Krisis Bosnia 1908

Austria-Hungaria menganeksasi Bosnia dan Herzegovina pada 1908.

Serbia dan Rusia menentang langkah tersebut, tetapi tidak mampu menghentikannya.

Krisis meningkatkan ketegangan di Balkan dan memperdalam permusuhan yang kelak berperan menjelang Perang Dunia I.

Perlombaan Kapal Perang

Inggris meluncurkan HMS Dreadnought pada 1906.

Kapal perang tersebut menggunakan persenjataan berat yang lebih seragam dan mesin turbin uap, membuat banyak kapal perang sebelumnya dianggap ketinggalan.

Jerman dan kekuatan lain mempercepat pembangunan armada.

Perlombaan kapal perang menambah ketegangan serta biaya militer.

Genosida Herero dan Nama Berlanjut

Kekerasan kolonial Jerman terhadap masyarakat Herero dan Nama di Afrika Barat Daya berlanjut hingga sekitar 1908.

Masyarakat menghadapi:

  • pengusiran;
  • kelaparan;
  • kekurangan air;
  • kamp tahanan;
  • kerja paksa;
  • penyakit;
  • dan kematian massal.

Peristiwa tersebut sekarang dikenal luas sebagai genosida.

Awal Revolusi Meksiko

Pada 1910, gerakan perlawanan terhadap pemerintahan panjang Porfirio Díaz berkembang menjadi Revolusi Meksiko.

Ketimpangan tanah, kekuasaan elite, kondisi petani dan buruh, serta pembatasan politik menjadi penyebab penting.

Revolusi berlangsung melewati batas periode ini dan akan dibahas pada Catatan berikutnya.

Nusantara Sebelum Indonesia Terbentuk

Pada 1905–1910, Republik Indonesia belum ada.

Hindia Belanda merupakan struktur kolonial yang sedang memperluas penguasaan nyata atas kepulauan.

Wilayah Nusantara terdiri atas:

  • daerah pemerintahan langsung;
  • kerajaan dan kesultanan;
  • masyarakat adat;
  • wilayah perkebunan;
  • kawasan pertambangan;
  • dan daerah perlawanan.

Belanda menggunakan perjanjian pendek atau Korte Verklaring untuk memaksa penguasa lokal mengakui kekuasaan kolonial dan tidak membangun hubungan sendiri dengan negara asing.

Politik Etis antara Janji dan Kenyataan

Politik Etis telah diumumkan pada 1901 dengan perhatian terhadap:

  • pendidikan;
  • irigasi;
  • dan perpindahan penduduk.

Pada 1905–1910, pelaksanaannya mulai terlihat, tetapi masih sangat terbatas.

Sekolah bertambah, proyek irigasi dibangun, dan percobaan perpindahan penduduk dilakukan.

Namun, kebijakan tersebut tidak mengakhiri:

  • penguasaan kolonial;
  • kerja wajib;
  • ketimpangan hukum;
  • penaklukan militer;
  • dan eksploitasi sumber daya.

Politik Etis membawa pembangunan tertentu sekaligus memperkuat kemampuan negara kolonial mengelola masyarakat serta ekonomi.

Pendidikan dan Lahirnya Kelompok Terpelajar

Pendidikan Barat hanya dapat diakses sebagian kecil masyarakat.

STOVIA di Batavia menjadi salah satu pusat pendidikan penting bagi calon dokter pribumi.

Para siswa berasal dari berbagai daerah. Kehidupan bersama mempertemukan orang-orang dengan latar berbeda dan membantu membentuk kesadaran mengenai keadaan masyarakat di luar wilayah asalnya.

Sekolah tidak hanya menghasilkan pegawai kolonial. Sekolah juga menghasilkan orang-orang yang dapat membaca hukum, menulis di surat kabar, membangun organisasi, dan mengkritik ketidakadilan.

Lahirnya Budi Utomo 1908

Wahidin Sudirohusodo mendorong gagasan peningkatan pendidikan melalui dana pelajar.

Gagasan tersebut memengaruhi para pelajar STOVIA, termasuk Soetomo dan rekan-rekannya.

Pada 20 Mei 1908, Budi Utomo didirikan di Batavia.

Tujuan awalnya terutama berkaitan dengan:

  • pendidikan;
  • kebudayaan;
  • dan kemajuan masyarakat.

Keanggotaannya banyak berasal dari kalangan terpelajar serta elite Jawa dan Madura. Budi Utomo belum menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh lapisan serta seluruh kepulauan.

Tjipto Mangoenkoesoemo dan beberapa tokoh lain mendorong cakupan yang lebih luas, tetapi menghadapi perbedaan pandangan.

Walaupun terbatas, kelahiran Budi Utomo menjadi tonggak penting karena memperlihatkan penggunaan organisasi modern untuk membicarakan kemajuan masyarakat pribumi.

Tanggal 20 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Catatan Sejarah

Menyebut Budi Utomo sebagai satu-satunya awal kebangkitan nasional akan mengabaikan gerakan, pers, jaringan agama, perlawanan bersenjata, dan organisasi lain yang telah hadir sebelumnya.

Budi Utomo lebih tepat dipahami sebagai salah satu tonggak penting dalam rangkaian panjang pembentukan kesadaran kebangsaan.

Pers dan Penyebaran Gagasan

Surat kabar berbahasa Melayu, Belanda, Jawa, dan Tionghoa-Melayu berkembang.

Tirto Adhi Soerjo mendirikan Medan Prijaji pada 1907.

Surat kabar tersebut memberi ruang kepada suara pribumi dan membahas ketidakadilan, hukum, pemerintahan, serta kehidupan masyarakat.

Pers membantu masyarakat dari tempat berbeda mengetahui bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Pemerintah kolonial mengawasi pers dan dapat menghukum penerbit yang dianggap mengganggu ketertiban.

Puputan Badung 1906

Konflik antara Belanda dan Kerajaan Badung berhubungan dengan sengketa kapal Sri Kumala yang karam dekat Sanur pada 1904, tuntutan ganti rugi, hak atas kapal karam, perdagangan, dan persoalan kedaulatan.

Belanda melakukan blokade dan menyampaikan ultimatum.

Pada September 1906, pasukan kolonial mendarat di Sanur dan bergerak menuju pusat Kerajaan Badung.

Di Denpasar, raja, keluarga kerajaan, pengikut, serta masyarakat bergerak menghadapi pasukan Belanda dalam peristiwa yang dikenang sebagai Puputan Badung.

Pasukan Belanda menggunakan senapan dan artileri. Sangat banyak orang Bali meninggal.

Perkiraan jumlah korban berbeda, tetapi sering disebut mencapai lebih dari seribu orang dalam keseluruhan operasi.

Istilah puputan sering diterjemahkan sebagai perlawanan sampai akhir. Namun, peristiwa tersebut kompleks dan melibatkan pertempuran, pembunuhan, kematian ritual, serta tembakan pasukan kolonial.

Setelah itu, istana dijarah dan barang-barang berharga diambil.

Belanda menyebutnya penaklukan. Bagi masyarakat Bali, Puputan Badung menjadi ingatan tentang pilihan menghadapi hilangnya kedaulatan meskipun mengetahui akibatnya adalah kematian.

Puputan Klungkung 1908

Pada April 1908, konflik pecah di Klungkung.

Pasukan Belanda bergerak menyerang setelah ketegangan mengenai monopoli, perdagangan, senjata, dan kedaulatan.

Dewa Agung Jambe II, keluarga kerajaan, serta pengikutnya keluar menghadapi pasukan kolonial.

Puputan Klungkung mengakhiri kerajaan merdeka terakhir di Bali.

Sekitar dua ratus orang sering disebut meninggal dalam peristiwa utama, tetapi angka dan rincian harus dibandingkan dari berbagai sumber.

Penaklukan Badung dan Klungkung memperkuat kekuasaan Belanda atas Bali.

Penaklukan Sulawesi Selatan

Operasi Belanda terhadap Bone, Gowa, dan kerajaan lain yang dimulai pada 1905 berlanjut.

La Pawawoi Karaeng Sigeri dari Bone ditangkap dan dibuang. Struktur kerajaan ditempatkan di bawah pengawasan kolonial yang lebih kuat.

Perjanjian serta operasi militer mengurangi kedaulatan kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan.

Belanda menggambarkan proses tersebut sebagai penertiban dan penyatuan pemerintahan. Dari sudut masyarakat lokal, proses itu merupakan hilangnya kekuasaan menentukan wilayah sendiri.

Perang Aceh Belum Berakhir

Walaupun pemerintah kolonial mengklaim telah menguasai Aceh, perlawanan tetap berlangsung.

Operasi militer mengejar kelompok pejuang, ulama, dan masyarakat yang menolak tunduk.

Perang berubah menjadi perlawanan setempat yang tersebar.

Cut Nyak Dhien terus bergerak melawan Belanda hingga akhirnya ditangkap pada 1905 atau 1906 menurut perbedaan penanggalan dalam sejumlah sumber. Ia kemudian dibuang ke Sumedang dan meninggal pada 1908.

Cut Nyak Meutia juga melanjutkan perlawanan di Aceh Utara. Ia gugur pada 1910.

Kedua tokoh tersebut merupakan bagian dari jaringan perlawanan yang lebih luas dan tidak berdiri sendiri.

Cut Nyak Dhien di Pengasingan

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibuang jauh dari Aceh ke Sumedang, Jawa Barat.

Usia, penyakit, dan melemahnya penglihatan tidak menghilangkan pengaruhnya. Ia mengajarkan agama kepada masyarakat di tempat pengasingan.

Ia meninggal pada November 1908.

Pembuangan tokoh perlawanan merupakan strategi kolonial untuk memisahkan pemimpin dari masyarakat serta wilayah yang mendukungnya.

Gugurnya Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII telah memimpin perlawanan terhadap perluasan Belanda di Tanah Batak sejak akhir 1870-an.

Perlawanan bergerak melalui Tapanuli dan wilayah yang sekarang termasuk Kabupaten Dairi.

Belanda menggunakan pasukan, jaringan mata-mata, pembangunan jalan, dan pengejaran untuk mempersempit ruang geraknya.

Pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran di wilayah Dairi bersama putrinya, Lopian, dan dua putranya, Patuan Nagari serta Patuan Anggi.

Rincian lokasi, jalannya pertempuran, serta perkataan terakhirnya memiliki beberapa versi dalam sumber sejarah dan tradisi masyarakat.

Hal yang dapat dipastikan adalah bahwa kematiannya menjadi akhir kepemimpinan fisiknya, tetapi bukan akhir ingatan perlawanan masyarakat Batak terhadap kolonialisme.

Sisingamangaraja XII gugur di tengah hutan dan pegunungan Dairi. Namun, nama yang hendak dihapus oleh penaklukan justru bertahan lebih lama daripada kekuasaan yang memburunya.

Konteks Tanah Batak

Sisingamangaraja bukan raja dalam pengertian negara terpusat seperti kerajaan Eropa. Kedudukannya berhubungan dengan kewibawaan spiritual, adat, serta jaringan masyarakat.

Masyarakat Batak terdiri atas banyak bius, huta, marga, dan wilayah dengan hubungan politik yang beragam.

Karena itu, perlawanan tidak dapat disederhanakan sebagai perang antara dua pemerintahan yang memiliki struktur sama.

Perluasan Belanda membawa:

  • pos militer;
  • administrasi;
  • pajak;
  • jalan;
  • sekolah;
  • dan perubahan kekuasaan lokal.

Kegiatan misi Kristen juga berkembang. Hubungan antara misi, masyarakat, dan pemerintah kolonial tidak selalu sama dan harus diperiksa berdasarkan tempat serta sumber tertentu.

Awal Organisasi dan Kesadaran Baru

Setelah berbagai perlawanan bersenjata ditekan, bentuk perjuangan baru mulai berkembang melalui:

  • pendidikan;
  • pers;
  • perkumpulan;
  • diskusi;
  • organisasi;
  • dan perdagangan.

Budi Utomo tidak menggantikan seluruh perlawanan sebelumnya. Organisasi itu menambahkan cara baru dalam menghadapi keadaan kolonial.

Perubahan ini menjadi penting karena pemerintah kolonial lebih sulit menyebut pendidikan, surat kabar, dan perkumpulan sebagai perang terbuka—meskipun kemudian tetap menggunakan hukum untuk membatasinya.

Ekonomi Hindia Belanda

Ekonomi kolonial bergantung pada:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • kina;
  • minyak bumi;
  • timah;
  • batu bara;
  • kopra;
  • dan karet yang mulai berkembang.

Permintaan terhadap karet meningkat seiring pertumbuhan industri mobil dan ban.

Perusahaan perkebunan membuka lahan baru, terutama di Sumatra.

Pertumbuhan tersebut menarik tenaga kerja, tetapi juga memperbesar:

  • pembukaan hutan;
  • konflik tanah;
  • buruh kontrak;
  • dan perubahan masyarakat lokal.

Buruh Kontrak dan Poenale Sanctie

Buruh perkebunan di Sumatra Timur masih bekerja dalam sistem kontrak yang diperkuat sanksi pidana.

Buruh yang meninggalkan perkebunan atau dianggap melanggar kontrak dapat ditangkap serta dihukum.

Laporan mengenai kondisi perkebunan menggambarkan:

  • kekerasan;
  • hukuman;
  • penyakit;
  • upah rendah;
  • utang;
  • dan keterbatasan kebebasan.

Politik Etis tidak segera menghapus sistem tersebut.

Hal ini memperlihatkan pertentangan antara bahasa kesejahteraan dan kebutuhan perusahaan mempertahankan tenaga kerja murah.

Minyak dan Pertumbuhan Balikpapan

Produksi minyak berkembang di Sumatra dan Kalimantan.

Pangkalan Brandan menjadi pusat penting industri minyak di Sumatra Utara, sedangkan Balikpapan berkembang sebagai pusat penyulingan serta pelabuhan minyak.

Pada 1907, Royal Dutch dan Shell Transport membentuk Royal Dutch/Shell Group untuk bersaing dalam industri minyak dunia.

Sumber daya dari Nusantara menjadi bagian penting pertumbuhan perusahaan tersebut.

Industri minyak membangun:

  • kilang;
  • tangki;
  • pipa;
  • pelabuhan;
  • permukiman;
  • dan jaringan transportasi.

Namun, kendali utama berada pada perusahaan asing dan pemerintahan kolonial.

Batu Bara Ombilin

Tambang Ombilin di Sawahlunto terus berkembang.

Batu bara dibawa melalui jalur kereta menuju Emmahaven atau Teluk Bayur.

Pekerja terdiri atas buruh bebas, buruh kontrak, dan narapidana yang dikenal sebagai orang rantai.

Batu bara membantu menggerakkan kapal, kereta, dan industri. Namun, keselamatan, kesehatan, dan kebebasan pekerja menjadi harga yang jarang masuk ke dalam laporan keuntungan.

Transportasi dan Komunikasi Nusantara

Jaringan kereta api serta trem berkembang di Jawa dan Sumatra.

KPM menghubungkan pelabuhan antarpulau melalui kapal uap.

Telegraf dan telepon tersedia di pusat pemerintahan, kota, perkebunan, serta perusahaan.

Transportasi mempercepat perjalanan dan perdagangan, tetapi juga memungkinkan Belanda:

  • memindahkan pasukan;
  • mengirim perintah;
  • mengangkut hasil tambang;
  • dan memperkuat administrasi.

Teknologi yang menghubungkan kepulauan ikut membantu membentuk ruang yang kelak menjadi Indonesia, meskipun pada saat itu jaringan tersebut dibangun untuk kepentingan kolonial.

Pendidikan dan Kesehatan Nusantara

Sekolah bertambah secara perlahan, tetapi sebagian besar penduduk belum memperoleh akses pendidikan formal.

Sekolah dibedakan berdasarkan ras, status sosial, bahasa, dan kebutuhan pekerjaan.

Dalam bidang kesehatan, masyarakat menghadapi:

  • malaria;
  • kolera;
  • cacar;
  • disentri;
  • tuberkulosis;
  • cacingan;
  • penyakit kulit;
  • serta kematian ibu dan bayi.

Rumah sakit dan dokter terkonsentrasi di kota, wilayah militer, perkebunan, dan pertambangan.

Masyarakat desa tetap bergantung pada pengobatan lokal, dukun, tabib, jamu, keluarga, dan pengetahuan adat.

Wabah Pes Memasuki Jawa pada 1910

Pada 1910, wabah pes mulai tercatat di Jawa, terutama berkaitan dengan wilayah Malang dan pergerakan beras serta tikus.

Wabah kemudian berkembang lebih luas pada tahun-tahun berikutnya.

Peristiwa ini berada di batas akhir Catatan #012 dan akan dibahas lebih rinci pada Catatan berikutnya.

Masuknya pes menunjukkan bagaimana jaringan perdagangan, kereta api, gudang pangan, tikus, kutu, dan kondisi perumahan dapat saling berhubungan dalam penyebaran penyakit.

Jejak Pengamatan Bumi di Nusantara

BMKG belum berdiri dengan nama dan struktur seperti sekarang.

Pengamatan meteorologi serta geofisika dilakukan melalui observatorium Batavia, pelabuhan, perkebunan, kapal, dan stasiun kolonial.

Informasi dapat diperoleh melalui:

  • pengukuran suhu;
  • tekanan udara;
  • curah hujan;
  • laporan kapal;
  • catatan gempa;
  • laporan gunung api;
  • surat kabar;
  • arsip pemerintahan;
  • dan tradisi lisan.

Data tidak tersebar merata. Wilayah yang penting bagi perdagangan atau pemerintahan lebih banyak diamati daripada daerah terpencil.

Cuaca, Iklim, dan Lingkungan Nusantara

Pola hujan Nusantara dipengaruhi oleh monsun, suhu laut, El Niño, La Niña, dan kondisi regional Samudra Hindia.

Pertanian sangat bergantung pada waktu datangnya hujan.

Perubahan musim dapat memengaruhi:

  • panen padi;
  • persediaan air;
  • perkebunan;
  • kebakaran vegetasi;
  • penyakit;
  • dan pelayaran.

Dampak tidak seragam di seluruh kepulauan. Klaim mengenai kekeringan atau banjir harus diperiksa berdasarkan wilayah tertentu.

Pembukaan perkebunan karet, tembakau, kopi, teh, tebu, pertambangan, dan minyak mengubah hutan serta bentang alam.

Tata Surya dan Tunguska dalam Hubungan dengan Nusantara

Ledakan Tunguska tidak menimbulkan kerusakan langsung di Nusantara.

Namun, peristiwa tersebut penting bagi proyek ini karena menunjukkan bahwa keadaan Bumi juga dipengaruhi benda dari luar atmosfer.

Pada masa itu, Nusantara belum memiliki jaringan astronomi atau sistem pelacakan asteroid seperti sekarang.

Komet Halley 1910 juga diamati oleh masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Hindia Belanda, melalui pengamatan langsung dan pemberitaan surat kabar.

Reaksi masyarakat dapat berbeda antara kekaguman, rasa takut, penafsiran agama, dan penjelasan ilmiah.

Dunia dan Nusantara dalam Satu Sistem

Hubungan antara perkembangan dunia dan Nusantara semakin kuat:

  • mobil meningkatkan kebutuhan karet dan minyak;
  • karet mendorong pembukaan perkebunan;
  • minyak Sumatra dan Kalimantan masuk ke pasar internasional;
  • perusahaan memerlukan buruh;
  • pemerintah kolonial menyediakan hukum, tanah, dan keamanan;
  • rel serta kapal mengangkut komoditas;
  • telegraf menyampaikan harga;
  • dan keuntungan mengalir melalui perusahaan serta pusat keuangan.

Sementara itu, pendidikan dan pers membantu masyarakat Nusantara membaca sistem tersebut.

Dari sinilah mulai muncul pertanyaan baru: mengapa tanah dan sumber daya berada di Nusantara, tetapi keputusan serta keuntungan utamanya berada di luar Nusantara?

Apa yang Berubah Selama 1905–1910?

Dalam lima tahun:

  • pesawat berkembang dari percobaan menjadi kendaraan yang semakin dapat dikendalikan;
  • Blériot menyeberangi Selat Inggris;
  • Ford Model T diperkenalkan;
  • plastik Bakelite dikembangkan;
  • radio digunakan dalam komunikasi kapal;
  • film menjadi hiburan massal;
  • proses Haber membuka jalan menuju pupuk sintetis;
  • ekonomi dunia mengalami Kepanikan 1907;
  • gempa San Francisco menghancurkan kota;
  • gempa dan tsunami Messina menewaskan puluhan ribu manusia;
  • ledakan Tunguska merobohkan hutan Siberia;
  • Turki Muda memulihkan konstitusi Utsmaniyah;
  • Austria-Hungaria menganeksasi Bosnia;
  • Jepang menganeksasi Korea;
  • Revolusi Meksiko dimulai;
  • Budi Utomo didirikan;
  • Medan Prijaji berkembang;
  • Puputan Badung dan Klungkung terjadi;
  • Sisingamangaraja XII gugur;
  • Cut Nyak Dhien meninggal dalam pengasingan;
  • Cut Nyak Meutia gugur;
  • industri minyak serta karet Nusantara berkembang;
  • dan wabah pes mulai memasuki Jawa.

Kesimpulan Catatan #012

Periode 1905–1910 memperlihatkan bahwa abad ke-20 bergerak lebih cepat daripada abad sebelumnya.

Pesawat menembus langit, mobil mulai diproduksi untuk pasar yang lebih luas, radio mengirim sinyal tanpa kabel, film menyimpan gerakan, dan kimia menemukan cara mengubah nitrogen udara menjadi sumber pupuk.

Namun, kemajuan tersebut tidak menghapus ketimpangan.

Di tingkat dunia, imperialisme masih memperluas wilayah. Korea kehilangan kedaulatannya, masyarakat Herero dan Nama menghadapi genosida, serta kekuatan Eropa meningkatkan perlombaan senjata.

Di Nusantara, pendidikan dan pers membantu melahirkan kesadaran baru. Budi Utomo menunjukkan bentuk perjuangan melalui organisasi.

Namun, pemerintah kolonial yang berbicara mengenai Politik Etis juga menembakkan senjata di Badung, Klungkung, Aceh, Sulawesi, dan Tanah Batak.

Periode ini memperlihatkan dua arah sejarah yang bergerak bersamaan:

  • kekuasaan kolonial semakin luas;
  • kesadaran masyarakat untuk membangun masa depan sendiri mulai semakin terorganisasi.

Ketika kerajaan-kerajaan ditaklukkan dan para pemimpin perlawanan berguguran, perjuangan tidak berakhir. Ia mulai berpindah dari hutan, benteng, dan istana menuju sekolah, surat kabar, perkumpulan, dan pikiran generasi baru.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Setelah membandingkan perkembangan dunia dan Nusantara, terlihat bahwa kebutuhan teknologi dunia memiliki hubungan langsung dengan perluasan ekonomi kolonial.

Mobil membutuhkan karet dan minyak. Jaringan listrik membutuhkan tembaga. Pabrik membutuhkan timah, batu bara, serta bahan mentah. Permintaan itu mendorong pencarian tanah, pembukaan hutan, perekrutan buruh, dan pembangunan pelabuhan di wilayah kolonial.

Dengan demikian, mobil yang berjalan di jalan Eropa atau Amerika mempunyai hubungan tidak terlihat dengan buruh perkebunan di Sumatra, pekerja minyak di Balikpapan, dan orang rantai di Sawahlunto.

Budi Utomo lahir dalam keadaan tersebut. Para pelajar mulai memahami bahwa pendidikan tidak hanya berguna untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga untuk membaca hubungan kekuasaan dan membangun organisasi.

Namun, sejarah kebangkitan tidak boleh dimulai hanya pada 1908. Jauh sebelumnya, masyarakat Aceh, Batak, Bali, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan wilayah lain telah melawan melalui cara mereka masing-masing.

Budi Utomo menandai perubahan metode—bukan awal pertama seluruh kesadaran untuk menolak penjajahan.

Menurut penulis, gugurnya Sisingamangaraja XII pada 1907 dan lahirnya Budi Utomo pada 1908 dapat dibaca sebagai dua halaman yang berdekatan:

  • satu halaman mencatat berakhirnya kepemimpinan perlawanan bersenjata besar di Tanah Batak;
  • halaman berikutnya mencatat tumbuhnya organisasi modern di lingkungan pelajar.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Nusantara menuju kemampuan menentukan nasibnya sendiri.

Sejarah tidak berpindah dalam satu malam dari pedang menuju pena. Untuk waktu yang panjang, perlawanan bersenjata, pendidikan, pers, organisasi, adat, dan ingatan berjalan berdampingan.

Menuju Catatan #013 — Bumi 1910–1915

Beberapa perkembangan akan dilanjutkan dalam periode berikutnya:

  • Revolusi Meksiko;
  • wabah pes di Jawa;
  • kemajuan pesawat dan radio;
  • produksi pupuk sintetis;
  • pertumbuhan industri mobil;
  • organisasi pergerakan Nusantara;
  • Sarekat Islam;
  • Indische Partij;
  • perkembangan pers;
  • persaingan militer Eropa;
  • Perang Balkan;
  • dan pecahnya Perang Dunia I pada 1914.

Pembahasannya akan dilanjutkan dalam BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #013] [1910–1915].

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang berlangsung pada 1905–1910.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di berbagai wilayah yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, hilang bersama arsip, atau belum dapat kami telusuri melalui bukti yang tersedia.

Angka mengenai penduduk, korban perang, bencana, kelaparan, dan wabah merupakan estimasi apabila tidak berasal dari pencatatan langsung yang dapat diverifikasi.

Nama serta batas wilayah masa lalu tidak selalu sama dengan keadaan sekarang. Istilah “Indonesia” digunakan untuk membantu mengenali wilayah geografisnya; Republik Indonesia belum terbentuk pada periode ini.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini menyajikan gambaran umum berdasarkan dokumen, data, penelitian, dan bukti yang masih dapat ditelusuri, kemudian dirangkum kembali agar jejaknya tidak hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

Populasi, Ekonomi, dan Kehidupan Dunia

Teknologi, Mobil, dan Penerbangan

Haber–Bosch, Kimia, dan Pangan

Iklim dan Lingkungan

Gempa, Tsunami, dan Tunguska

Geopolitik Dunia

Nusantara dan Hindia Belanda

Ekonomi dan Sumber Daya Nusantara

  • EH.net, The Economic History of Indonesia:
    https://eh.net/encyclopedia/the-economic-history-of-indonesia/

  • Jan Breman, Taming the Coolie Beast: Plantation Society and the Colonial Order in Southeast Asia, Oxford University Press, 1989.

  • Erwiza Erman, penelitian mengenai pertambangan Ombilin dan tenaga kerja kolonial.

Pemeriksaan Kebencanaan Indonesia Masa Kini

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber serta bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, serta melakukan cek dan ricek melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, ketidaktepatan sumber lama, dan kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi.

Angka sejarah—terutama jumlah penduduk, korban perang, bencana, wabah, dan kelaparan—dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya. Penyebutan suatu angka tidak selalu berarti seluruh korban telah teridentifikasi.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.

BUMI DARI MASA KE MASA
Oleh Armando Sinaga