PUSTAHA CATATAN

BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #011] [1900–1905]

Ketika pesawat bermesin pertama berhasil terbang, radio menyeberangi Atlantik, dan gagasan Einstein mulai mengubah pemahaman manusia tentang ruang, waktu, cahaya, serta materi, persaingan kekaisaran terus mengguncang dunia melalui Pemberontakan Boxer dan Perang Rusia–Jepang. Di Nusantara, Politik Etis diumumkan, tetapi perluasan kolonial dan Perang Aceh tetap membawa kekerasan, sementara pendidikan, industri minyak, dan jaringan transportasi mulai membentuk perubahan baru.

Dipublikasikan 3 September 2026

Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #011] [1900–1905]

Abad Baru dan Dunia yang Mulai Terbang

Tahun 1900 tidak langsung menghapus dunia lama. Sebagian besar manusia masih bertani dengan alat sederhana, bepergian dengan berjalan kaki atau menunggang hewan, dan hidup tanpa listrik, telepon, air bersih, maupun layanan kesehatan modern.

Namun, dalam lima tahun berikutnya, perubahan besar terjadi. Radio mulai menyeberangi samudra, pesawat bermesin berhasil terbang, mobil memasuki jalan, film merekam kehidupan, dan pembangkit listrik mengubah malam di sejumlah kota.

Pada 1905, Albert Einstein menerbitkan serangkaian penelitian yang mengubah pemahaman mengenai cahaya, atom, ruang, waktu, massa, dan energi.

Sementara ilmu pengetahuan melangkah ke depan, kekaisaran-kekaisaran masih berperang memperebutkan wilayah. Pemberontakan Boxer mengguncang Tiongkok, Perang Boer menghancurkan kehidupan masyarakat Afrika Selatan, Jepang mengalahkan Rusia, dan revolusi pecah di Kekaisaran Rusia.

Di Nusantara, Belanda mengumumkan Politik Etis sebagai bentuk “utang kehormatan”, tetapi pada saat yang sama memperluas penaklukan melalui kekerasan di Aceh, Gayo, Alas, Sulawesi, dan wilayah lainnya.

Manusia memasuki abad ke-20 dengan janji kemajuan. Namun, pada langkah pertamanya, abad baru masih membawa senjata, penjajahan, kelaparan, wabah, dan ketimpangan dari abad sebelumnya.

1900–1905: Bumi Berada di Era Apa?

Fakta

Secara geologi, 1900–1905 berada dalam kala Holosen, yaitu periode yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu setelah berakhirnya zaman es terakhir.

Istilah Antroposen digunakan dalam diskusi ilmiah modern untuk menggambarkan masa ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan penting yang memengaruhi sistem Bumi. Namun, Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.

Dalam sejarah manusia, periode ini berada pada:

  • permulaan abad ke-20;
  • perkembangan Revolusi Industri Kedua;
  • perluasan elektrifikasi;
  • pertumbuhan industri minyak, baja, dan kimia;
  • perkembangan mobil dan penerbangan;
  • awal komunikasi radio jarak jauh;
  • kemajuan fisika, kedokteran, dan genetika;
  • puncak imperialisme Eropa;
  • kebangkitan Jepang sebagai kekuatan dunia;
  • serta tumbuhnya gerakan buruh, perempuan, dan nasionalisme.

Sebagian masyarakat Eropa mengenang masa ini sebagai bagian dari Belle Époque, tetapi istilah tersebut tidak menggambarkan kehidupan seluruh dunia. Bagi masyarakat yang menghadapi kolonialisme, perang, kelaparan, diskriminasi, dan kerja paksa, awal abad baru tidak selalu terasa sebagai masa yang indah.

Penduduk Dunia

Fakta dan Rekonstruksi

Penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 1,6 miliar jiwa pada 1900. Angka tersebut merupakan rekonstruksi sejarah, bukan hasil satu sensus global.

Asia tetap menampung bagian terbesar penduduk dunia. Tiongkok dan India memiliki populasi sangat besar, sedangkan penduduk Eropa terus bertambah dan semakin banyak tinggal di kota.

Migrasi terjadi dalam berbagai bentuk:

  • perpindahan penduduk desa ke kota industri;
  • migrasi masyarakat Eropa menuju Amerika, Australia, dan koloni;
  • perpindahan buruh India dan Tiongkok;
  • perekrutan buruh perkebunan dan pertambangan;
  • pengungsian akibat perang;
  • perpindahan paksa masyarakat adat;
  • serta kolonisasi wilayah baru.

Jumlah penduduk yang meningkat memperbesar kebutuhan terhadap pangan, air, tanah, perumahan, dan pekerjaan.

Namun, kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan tersebut sangat berbeda. Sebagian menikmati pertumbuhan ekonomi dan teknologi, sedangkan sebagian lainnya tetap hidup dalam kemiskinan serta menghadapi akses yang terbatas terhadap tanah dan layanan dasar.

Kehidupan Manusia dan Masyarakat

Sebagian besar manusia masih hidup di pedesaan dan bekerja dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, atau perdagangan lokal.

Di kota-kota industri, kehidupan diatur semakin ketat oleh jam, jadwal kereta, pergantian kerja pabrik, dan arus berita.

Lampu listrik memungkinkan kegiatan berlangsung setelah Matahari terbenam. Telepon menghubungkan kantor dan rumah kelompok tertentu. Trem membawa penduduk melintasi kota. Film menjadi hiburan baru.

Namun, kehidupan kota juga membawa persoalan:

  • permukiman kumuh;
  • udara tercemar;
  • air tidak aman;
  • limbah industri;
  • jam kerja panjang;
  • pekerjaan anak;
  • kecelakaan pabrik;
  • penyakit menular;
  • dan biaya hidup yang tinggi.

Kesenjangan terlihat antara kawasan elite yang memperoleh listrik, air, taman, dan layanan kesehatan dengan permukiman pekerja yang padat serta tidak sehat.

Perempuan, Pendidikan, dan Hak Politik

Perempuan bekerja di pertanian, pabrik, rumah tangga, sekolah, rumah sakit, pasar, dan berbagai sektor lainnya. Banyak pekerjaan mereka tidak dicatat atau dibayar lebih rendah daripada pekerjaan laki-laki.

Gerakan perempuan memperjuangkan:

  • hak memperoleh pendidikan;
  • hak memiliki harta;
  • perlindungan tenaga kerja;
  • akses ke profesi;
  • hak dalam perkawinan;
  • dan hak memilih.

Hak pilih perempuan telah diberikan di Selandia Baru sejak 1893. Australia memberikan hak pilih federal kepada sebagian besar perempuan kulit putih pada 1902, tetapi perempuan Aborigin dan kelompok tertentu tetap menghadapi pengecualian.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perluasan demokrasi masih dibatasi oleh ras, kelas, dan status kolonial.

Buruh dan Dunia Industri

Perusahaan industri tumbuh menjadi organisasi yang semakin besar. Pada 1901, United States Steel dibentuk dan menjadi salah satu perusahaan pertama dengan kapitalisasi lebih dari satu miliar dolar.

Produksi massal membutuhkan:

  • bahan mentah;
  • mesin;
  • tenaga kerja;
  • transportasi;
  • modal;
  • dan pasar yang luas.

Serikat pekerja menuntut upah lebih baik, pengurangan jam kerja, keselamatan, dan hak berorganisasi.

Namun, pemerintah dan perusahaan sering merespons pemogokan melalui pemecatan, polisi, tentara, atau pekerja pengganti.

Di wilayah kolonial, perlindungan tenaga kerja lebih lemah. Buruh kontrak, pekerja tambang, dan masyarakat yang diwajibkan bekerja sering tidak mempunyai kebebasan untuk menolak keadaan kerja yang berbahaya.

Pangan, Pertanian, dan Kelaparan

Pertanian tetap menjadi dasar kehidupan dunia. Beras, gandum, jagung, kentang, sorgum, millet, singkong, dan tanaman lokal menjadi sumber makanan utama.

Kereta api, kapal uap, serta teknologi pendinginan memungkinkan hasil pertanian diperdagangkan dalam jarak jauh.

Namun, akses terhadap pangan masih ditentukan oleh:

  • kepemilikan tanah;
  • harga;
  • upah;
  • pajak;
  • utang;
  • cuaca;
  • perang;
  • kebijakan pemerintah;
  • dan jaringan distribusi.

Kelaparan India yang dimulai pada 1899 berlanjut hingga sekitar 1900. Kekeringan dan kegagalan panen diperburuk oleh kemiskinan, penyakit, pajak, serta keterbatasan kemampuan masyarakat membeli makanan.

Perkiraan jumlah korban berbeda menurut sumber. Kematian tidak hanya disebabkan oleh kekurangan makanan, tetapi juga kolera, malaria, disentri, serta penyakit lain yang menyerang tubuh yang telah melemah.

Pada awal abad ke-20, kapal dapat membawa pangan menyeberangi samudra. Namun, jutaan manusia tetap dapat kelaparan karena tidak memiliki uang, tanah, atau kekuasaan untuk memperoleh makanan tersebut.

Ekonomi Dunia

Ekonomi dunia semakin terhubung melalui:

  • standar emas;
  • perbankan;
  • investasi;
  • pasar saham;
  • perusahaan besar;
  • kapal uap;
  • telegraf;
  • dan jaringan kereta api.

Batu bara, minyak, baja, kapas, gula, kopi, teh, karet, tembakau, timah, dan logam menjadi komoditas penting.

Negara industri membutuhkan bahan mentah dari wilayah kolonial. Sebaliknya, koloni menjadi pasar bagi barang-barang hasil pabrik.

Hubungan tersebut menciptakan pertumbuhan, tetapi juga ketergantungan. Harga komoditas yang ditentukan di pusat keuangan dapat memengaruhi petani serta buruh yang tinggal ribuan kilometer jauhnya.

Ekonomi dunia memasuki bentuk awal globalisasi modern. Pergerakan modal dan barang semakin cepat, tetapi hak serta keuntungan tidak dibagi secara seimbang.

Energi: Batu Bara, Minyak, dan Listrik

Batu bara tetap menjadi sumber tenaga utama dunia industri. Lokomotif, kapal, pabrik, pembangkit, serta industri baja bergantung pada batu bara.

Minyak bumi memperoleh peranan yang semakin penting sebagai:

  • minyak tanah;
  • pelumas;
  • bahan bakar mesin;
  • dan bahan baku industri.

Mobil serta mesin pembakaran dalam membantu menciptakan permintaan baru terhadap bahan bakar cair.

Listrik terus menyebar di kota-kota dan digunakan untuk:

  • penerangan;
  • trem;
  • pabrik;
  • komunikasi;
  • lift;
  • dan peralatan rumah tangga awal.

Namun, elektrifikasi masih sangat terbatas. Sebagian besar penduduk dunia tetap menggunakan kayu, arang, minyak tanah, tenaga hewan, dan tenaga manusia.

Temuan Penelitian

Emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil terus meningkat. Jumlahnya masih jauh lebih kecil daripada masa modern, tetapi sistem energi yang akan mendorong pemanasan global telah berkembang.

Penelitian Svante Arrhenius pada 1896 telah mencoba menghitung bagaimana perubahan karbon dioksida dapat memengaruhi suhu Bumi. Pada awal 1900-an, hubungan tersebut belum menjadi perhatian utama pemerintah ataupun industri.

Dunia Teknologi 1900–1905

Radio Menyeberangi Atlantik

Pada Desember 1901, Guglielmo Marconi melaporkan penerimaan sinyal kode Morse dari Cornwall, Inggris, di Newfoundland, Kanada.

Ia menyatakan telah menerima huruf “S”, yang dikirim melalui gelombang radio menyeberangi Samudra Atlantik.

Percobaan tersebut menjadi tonggak komunikasi nirkabel. Namun, keadaan teknis dan verifikasi penerimaan sinyal pertama itu masih menjadi bahan pembahasan sejarah.

Marconi kemudian melakukan eksperimen yang lebih kuat dan lebih terdokumentasi.

Radio pada masa ini belum menjadi siaran musik atau berita untuk masyarakat umum. Penggunaannya terutama berupa telegraf tanpa kabel untuk:

  • kapal;
  • militer;
  • komunikasi antarpantai;
  • dan pengiriman kode.

Perkembangan radio merupakan hasil kontribusi banyak ilmuwan dan penemu, termasuk Heinrich Hertz, Nikola Tesla, Oliver Lodge, Alexander Popov, Marconi, dan lainnya.

Penerbangan Bermesin 1903

Pada 17 Desember 1903, Orville dan Wilbur Wright melakukan penerbangan bermesin dan terkendali di dekat Kitty Hawk, Carolina Utara.

Penerbangan pertama berlangsung sekitar 12 detik dengan jarak sekitar 120 kaki atau 36 meter.

Pada hari yang sama, mereka melakukan empat penerbangan. Penerbangan terakhir berlangsung sekitar 59 detik dan menempuh lebih dari 250 meter.

Pencapaian utama Wright bersaudara bukan hanya memasang mesin pada pesawat, tetapi mengembangkan sistem kendali tiga sumbu yang memungkinkan pilot mengatur arah dan keseimbangan.

Pada 1905, Wright Flyer III telah mampu terbang puluhan kilometer dan tetap berada di udara selama lebih dari setengah jam.

Pesawat belum digunakan untuk penerbangan komersial. Namun, dasar dunia penerbangan telah terbentuk.

Selama ribuan tahun manusia memandang burung dan membayangkan penerbangan. Pada 1903, manusia akhirnya meninggalkan tanah dengan mesin yang dapat diarahkan oleh pilotnya.

Mobil dan Industri Kendaraan

Mobil berkembang dari produk percobaan menjadi barang industri dalam jumlah terbatas.

Pada 1903, Ford Motor Company didirikan di Amerika Serikat. Produksi massal Model T belum dimulai—kendaraan itu baru diperkenalkan pada 1908.

Mobil masih merupakan barang mahal. Jalan raya belum dirancang untuk kendaraan bermotor, pompa bensin belum tersebar luas, dan aturan lalu lintas belum seragam.

Kuda, kereta, sepeda, trem, kereta api, dan kapal tetap mendominasi perjalanan.

Namun, mesin pembakaran dalam mulai mengubah kebutuhan energi, tata kota, dan industri.

Film Menjadi Hiburan Massal

Film berkembang dari tontonan pendek menjadi industri hiburan.

Kamera merekam:

  • aktivitas kota;
  • pemandangan;
  • upacara;
  • pekerjaan;
  • perang;
  • dan cerita yang diperankan.

Gedung pertunjukan dan pemutaran keliling membawa film kepada masyarakat yang lebih luas.

Film juga digunakan sebagai propaganda. Gambar yang bergerak dapat menciptakan kesan seolah-olah penonton menyaksikan sendiri suatu peristiwa, meskipun adegannya mungkin dipilih, diarahkan, atau direkonstruksi.

Rekaman Suara

Fonograf dan gramofon berkembang. Rekaman musik serta suara diproduksi dan diperdagangkan.

Manusia tidak lagi harus berada di tempat yang sama dengan penyanyi atau pembicara untuk mendengar suaranya.

Teknologi tersebut mengubah:

  • musik;
  • hiburan;
  • bahasa;
  • dokumentasi;
  • dan industri budaya.

Namun, kualitas suara masih terbatas dan rekaman diproduksi dengan peralatan mekanis.

Telegraf, Telepon, dan Kabel Bawah Laut

Telegraf tetap menjadi tulang punggung komunikasi jarak jauh. Kabel bawah laut menghubungkan pusat pemerintahan, perusahaan, pelabuhan, dan militer.

Jaringan telepon terus berkembang di kota-kota.

Berita perang, harga pasar, hasil pemilu, cuaca, dan bencana dapat tersebar jauh lebih cepat daripada pada awal abad sebelumnya.

Kecepatan informasi menciptakan manfaat, tetapi juga memungkinkan:

  • spekulasi pasar;
  • propaganda;
  • pengawasan;
  • serta perintah militer dikirim dengan cepat.

Ilmu Pengetahuan pada Awal Abad Baru

Max Planck dan Awal Teori Kuantum

Pada 1900, Max Planck memperkenalkan gagasan bahwa energi radiasi dipancarkan atau diserap dalam jumlah-jumlah tertentu yang terpisah.

Gagasan tersebut menjadi awal teori kuantum.

Pada masa itu, dampaknya belum sepenuhnya dipahami. Namun, teori kuantum kemudian mengubah fisika dan menjadi dasar berbagai teknologi elektronik modern.

Genetika Mendel Ditemukan Kembali

Gregor Mendel telah melakukan eksperimen pewarisan sifat pada tanaman kacang pada abad ke-19.

Karyanya tidak memperoleh perhatian luas ketika pertama kali diterbitkan. Sekitar 1900, hasilnya ditemukan kembali dan dibahas oleh Hugo de Vries, Carl Correns, serta Erich von Tschermak.

Hal ini membantu membentuk ilmu genetika modern.

Namun, hubungan antara gen dan DNA belum diketahui. Struktur DNA baru ditemukan jauh kemudian.

Golongan Darah

Karl Landsteiner mengidentifikasi perbedaan golongan darah manusia sekitar 1900–1901.

Penemuan tersebut membantu menjelaskan mengapa transfusi darah tertentu berhasil, sementara yang lain menyebabkan reaksi berbahaya.

Sistem ABO kemudian menjadi dasar transfusi darah yang lebih aman.

Namun, penerapan luas membutuhkan pengujian, penyimpanan darah, dan pengembangan layanan medis lebih lanjut.

Albert Einstein dan Tahun 1905

Pada 1905, Albert Einstein menerbitkan empat makalah yang kemudian dianggap sangat penting dalam sejarah fisika.

Makalah-makalah tersebut membahas:

  • efek fotolistrik;
  • gerak Brown;
  • relativitas khusus;
  • dan hubungan antara massa serta energi.

Persamaan yang kemudian dikenal sebagai E = mc² menunjukkan bahwa massa dan energi memiliki hubungan mendasar.

Penelitian gerak Brown membantu memperkuat bukti mengenai keberadaan atom serta molekul.

Penjelasan efek fotolistrik menggunakan gagasan kuanta cahaya dan menjadi dasar penghargaan Nobel Fisika yang kemudian diterima Einstein. Ia tidak menerima Nobel secara khusus untuk teori relativitas.

Teori relativitas khusus mengubah cara ilmuwan memahami ruang dan waktu pada kecepatan yang sangat tinggi.

Pada 1905, seorang pegawai kantor paten membantu menunjukkan bahwa ruang, waktu, cahaya, massa, dan energi tidak bekerja persis seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Kesehatan dan Penyakit

Pandemi Pes Ketiga

Pandemi pes yang muncul pada akhir abad ke-19 terus menyebar melalui pelabuhan dan kapal.

Tikus serta kutu yang terbawa kapal membantu memindahkan bakteri Yersinia pestis antarkota dan benua.

Wabah terjadi di berbagai pelabuhan Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.

Langkah penanggulangan meliputi:

  • karantina;
  • pemeriksaan kapal;
  • pembasmian tikus;
  • pembersihan permukiman;
  • dan pemisahan pasien.

Namun, kebijakan kesehatan kadang diterapkan secara diskriminatif terhadap kelompok miskin, imigran, dan masyarakat kolonial.

Malaria dan Nyamuk

Pada pergantian abad, bukti bahwa malaria ditularkan oleh nyamuk semakin kuat.

Pengetahuan ini mendorong:

  • pengeringan genangan;
  • penggunaan kelambu;
  • pengendalian nyamuk;
  • dan pemberian kina.

Namun, pengendalian sering berfokus pada kawasan militer, proyek ekonomi, perkebunan, dan permukiman Eropa. Masyarakat luas tidak selalu memperoleh perlindungan yang sama.

Demam Kuning

Penelitian Komisi Demam Kuning Amerika Serikat sekitar 1900 memperkuat bukti bahwa penyakit tersebut ditularkan oleh nyamuk.

Temuan ini membantu pengendalian demam kuning melalui pengurangan tempat berkembang biak nyamuk.

Keberhasilan tersebut kemudian memengaruhi pembangunan Terusan Panama, tempat penyakit sebelumnya menjadi penghambat besar.

Penyakit yang Masih Mengancam

Manusia masih menghadapi:

  • tuberkulosis;
  • kolera;
  • pes;
  • malaria;
  • cacar;
  • campak;
  • difteri;
  • tifus;
  • demam tifoid;
  • dan infeksi setelah luka atau persalinan.

Antibiotik belum tersedia. Banyak penyakit yang sekarang dapat diobati masih menjadi penyebab kematian utama.

Cuaca dan Iklim Dunia

Jaringan stasiun meteorologi terus berkembang, tetapi persebarannya belum merata.

Pengamatan cuaca dilakukan melalui:

  • stasiun darat;
  • kapal;
  • observatorium;
  • balon cuaca awal;
  • termometer;
  • barometer;
  • penakar hujan;
  • dan telegraf.

Belum tersedia satelit, radar cuaca, komputer, atau model prakiraan global.

Data iklim menunjukkan variasi besar antarwilayah dan antartahun. Awal abad ke-20 berada dalam masa ketika suhu global mulai bergerak naik dari kondisi abad ke-19, meskipun perubahan tersebut belum berlangsung seragam.

Tidak tepat menghubungkan setiap bencana cuaca dengan perubahan iklim akibat manusia. Setiap kejadian perlu diperiksa berdasarkan pola atmosfer, laut, kondisi lokal, serta bukti ilmiah.

Pencemaran dan Lingkungan

Kota-kota industri membakar batu bara dalam jumlah besar. Asap dan jelaga menurunkan kualitas udara.

Sungai menerima:

  • limbah pabrik;
  • kotoran manusia;
  • bahan kimia;
  • dan sisa rumah tangga.

Hutan terus dibuka untuk pertanian, perkebunan, pertambangan, rel, kapal, dan permukiman.

Produksi minyak menciptakan risiko kebocoran serta pencemaran baru. Namun, peraturan perlindungan lingkungan masih sangat terbatas.

Gerakan konservasi berkembang di beberapa negara, tetapi pembentukan kawasan lindung sering mengabaikan hak masyarakat adat yang telah lama hidup di wilayah tersebut.

Bencana Alam 1900–1905

Badai Galveston 1900

Pada September 1900, badai besar menghantam Galveston, Texas.

Gelombang badai menutupi sebagian besar kota dan menghancurkan ribuan bangunan.

Perkiraan korban umumnya berada antara sekitar 6.000 dan 12.000 orang, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Prakiraan cuaca dan komunikasi telah berkembang, tetapi sistem peringatan serta evakuasi belum memadai.

Setelah bencana, kota membangun tembok laut dan meninggikan sebagian permukaan daratannya.

Letusan Gunung Pelée 1902

Gunung Pelée di Martinik mengalami peningkatan aktivitas pada 1902.

Pada 8 Mei, aliran piroklastik menghancurkan Saint-Pierre dalam waktu singkat. Sekitar 28.000–30.000 orang diperkirakan meninggal.

Tanda-tanda aktivitas gunung telah terlihat, tetapi pemahaman terhadap awan panas dan keputusan evakuasi masih sangat terbatas.

Kepentingan politik serta ekonomi diduga memengaruhi keterlambatan evakuasi, meskipun rincian keputusan harus dinilai melalui dokumen sejarah.

Letusan La Soufrière 1902

Pada hari yang sama dengan kehancuran Saint-Pierre, La Soufrière di Saint Vincent juga meletus.

Letusan menewaskan sekitar 1.500–1.700 orang, dengan sebagian besar korban berasal dari masyarakat yang hidup dekat gunung.

Kedekatan waktu antara letusan Pelée dan La Soufrière tidak berarti kedua gunung memiliki saluran magma yang sama. Keduanya merupakan sistem gunung api terpisah.

Letusan Santa María 1902

Gunung Santa María di Guatemala mengalami letusan besar pada Oktober 1902 setelah tidak tercatat meletus dalam waktu yang sangat lama.

Letusan menghasilkan abu dalam jumlah besar dan menewaskan ribuan manusia menurut berbagai estimasi.

Perkebunan serta permukiman mengalami kerusakan, sementara penyakit dan kekurangan pangan memperburuk dampak setelah letusan.

Tahun 1902 menjadi salah satu periode aktivitas gunung api paling mematikan pada awal abad ke-20.

Gempa Kangra 1905

Pada April 1905, gempa besar mengguncang wilayah Kangra di India Britania.

Bangunan serta permukiman mengalami kerusakan luas. Sekitar 20.000 orang diperkirakan meninggal, tetapi angka dapat berbeda menurut sumber.

Konstruksi bangunan, kepadatan permukiman, medan pegunungan, dan keterbatasan pertolongan memengaruhi besarnya korban.

Perkembangan Ilmu Geologi

Teori tektonik lempeng belum terbentuk. Para ilmuwan telah mengenali patahan dan pola gempa, tetapi belum memiliki penjelasan menyeluruh mengenai pergerakan lempeng Bumi.

Jaringan seismograf berkembang dan mulai merekam gelombang gempa dari jarak jauh.

Pengukuran tersebut membantu menunjukkan bahwa getaran gempa merambat melalui bagian dalam Bumi dan dapat digunakan untuk mempelajari struktur planet.

Tata Surya dan Astronomi

Teleskop, fotografi, dan spektroskopi memungkinkan pengamatan langit yang lebih terperinci.

Nova Persei 1901 menjadi salah satu nova terang yang diamati serta difoto secara luas.

Observatorium besar dibangun di lokasi yang memiliki langit lebih baik. Mount Wilson Observatory didirikan pada 1904 dan kemudian menjadi salah satu pusat astronomi penting.

Para ilmuwan mempelajari:

  • spektrum bintang;
  • gerak planet;
  • bintik Matahari;
  • komet;
  • dan nebula.

Periode ini berada di sekitar minimum Siklus Matahari 14 dan awal peningkatan aktivitas menuju puncaknya setelah 1905.

Aktivitas Matahari dapat memengaruhi medan magnet Bumi dan komunikasi radio. Namun, tidak terdapat dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa perang, gempa, letusan, atau revolusi disebabkan oleh aktivitas Matahari.

Geopolitik Dunia

Pemberontakan Boxer dan Invasi Delapan Negara

Gerakan Boxer berkembang di Tiongkok utara sebagai tanggapan terhadap pengaruh asing, kegiatan misionaris, tekanan ekonomi, kekeringan, dan berbagai ketegangan sosial.

Kelompok Boxer menyerang orang asing serta orang Tiongkok yang memeluk agama Kristen. Kekerasan menewaskan penduduk Tiongkok, misionaris, diplomat, dan warga lainnya.

Pada 1900, pasukan dari delapan negara—Jepang, Rusia, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Austria-Hungaria—memasuki Tiongkok.

Beijing diduduki dan terjadi penjarahan serta kekerasan terhadap penduduk.

Protokol Boxer 1901 memaksa Dinasti Qing membayar ganti rugi sangat besar dan memberikan hak tambahan kepada kekuatan asing.

Pemberontakan tersebut menunjukkan kemarahan terhadap dominasi asing, tetapi serangan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan hanya sebagai perlawanan terhadap imperialisme.

Perang Boer Kedua Berakhir

Perang antara Inggris dan republik Boer di Afrika Selatan berlanjut hingga 1902.

Inggris menggunakan kebijakan bumi hangus untuk menghancurkan pertanian dan persediaan yang dapat mendukung pasukan Boer.

Perempuan dan anak-anak Boer dipindahkan ke kamp konsentrasi. Masyarakat kulit hitam Afrika juga ditahan dalam kamp terpisah dan mengalami kondisi berat.

Puluhan ribu warga sipil meninggal akibat penyakit, kekurangan makanan, dan sanitasi buruk.

Perjanjian Vereeniging 1902 mengakhiri perang dan menempatkan republik Boer di bawah kekuasaan Inggris.

Perang Filipina–Amerika

Perang antara pasukan Amerika Serikat dan pejuang kemerdekaan Filipina berlangsung sejak 1899.

Amerika Serikat menyatakan konflik utama berakhir pada 1902, tetapi perlawanan berlanjut di sejumlah wilayah.

Ribuan tentara dan sangat banyak warga sipil meninggal akibat:

  • pertempuran;
  • penyakit;
  • kelaparan;
  • pemindahan paksa;
  • dan penghancuran desa.

Perang menunjukkan bahwa berakhirnya kolonialisme Spanyol tidak langsung menghasilkan kemerdekaan Filipina.

Genosida Herero dan Nama

Pada 1904, masyarakat Herero melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Jerman di Afrika Barat Daya—sekarang Namibia.

Pasukan Jerman di bawah Lothar von Trotha mengalahkan Herero dan mendorong banyak orang menuju Gurun Omaheke. Perintah pemusnahan, pengusiran, kamp, kerja paksa, kelaparan, dan kekurangan air menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Perlawanan Nama juga ditindas.

Kekerasan berlangsung melewati 1905 dan sekarang diakui luas sebagai genosida Herero dan Nama.

Entente Cordiale 1904

Inggris dan Prancis menandatangani serangkaian kesepakatan pada 1904 yang dikenal sebagai Entente Cordiale.

Kesepakatan tersebut menyelesaikan beberapa perselisihan kolonial dan memperbaiki hubungan kedua negara.

Entente Cordiale bukan aliansi militer penuh seperti yang terbentuk kemudian, tetapi menjadi bagian penting penyusunan blok kekuatan menjelang Perang Dunia I.

Perang Rusia–Jepang 1904–1905

Rusia dan Jepang berperang karena persaingan kekuasaan di Korea dan Manchuria.

Jepang menyerang armada Rusia di Port Arthur pada Februari 1904. Pertempuran besar terjadi di darat dan laut.

Pada Mei 1905, armada Jepang di bawah Laksamana Tōgō Heihachirō menghancurkan sebagian besar Armada Baltik Rusia dalam Pertempuran Tsushima.

Kemenangan Jepang mengejutkan banyak pengamat. Untuk pertama kalinya pada era modern, sebuah negara Asia mengalahkan kekuatan besar Eropa dalam perang besar.

Perjanjian Portsmouth 1905 mengakui kepentingan Jepang di Korea dan memindahkan sejumlah hak Rusia di Manchuria serta Sakhalin selatan kepada Jepang.

Kemenangan tersebut menginspirasi sebagian gerakan antikolonial di Asia. Namun, Jepang sendiri berkembang menjadi kekuatan imperialis yang kemudian menjajah masyarakat lain.

Revolusi Rusia 1905

Pada Januari 1905, pasukan menembaki demonstran yang berjalan menuju Istana Musim Dingin di St. Petersburg.

Peristiwa yang dikenal sebagai Minggu Berdarah memicu gelombang:

  • pemogokan;
  • demonstrasi;
  • pemberontakan petani;
  • pergolakan militer;
  • dan pembentukan dewan pekerja.

Kekalahan Rusia dari Jepang memperburuk krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Tsar Nicholas II.

Tsar mengeluarkan Manifesto Oktober dan menjanjikan pembentukan Duma atau parlemen. Namun, kekuasaan tetap dibatasi dan persoalan mendasar belum selesai.

Revolusi 1905 menjadi pendahulu bagi revolusi yang lebih besar pada 1917.

Pembagian Bengal 1905

Pemerintah kolonial Inggris membagi Bengal pada 1905.

Pemerintah menyatakan pembagian dilakukan untuk mempermudah administrasi, tetapi banyak masyarakat India melihatnya sebagai upaya memecah kekuatan politik dan agama.

Gerakan Swadeshi berkembang dengan seruan menggunakan produk lokal serta memboikot barang Inggris.

Peristiwa ini memperkuat gerakan nasionalisme India.

Nusantara Sebelum Republik Indonesia

Pada 1900–1905, Republik Indonesia belum ada.

Wilayah yang sekarang disebut Indonesia terdiri atas:

  • daerah yang diperintah langsung oleh Hindia Belanda;
  • kerajaan serta kesultanan yang terikat perjanjian;
  • masyarakat adat;
  • wilayah dengan pengaruh kolonial terbatas;
  • dan daerah yang masih melakukan perlawanan.

Belanda berusaha mengubah klaim kolonial pada peta menjadi kekuasaan nyata atas seluruh kepulauan.

Upaya tersebut dilakukan melalui:

  • perjanjian;
  • tekanan politik;
  • ekspedisi militer;
  • pembangunan pos;
  • pengumpulan pajak;
  • dan pengaturan perdagangan.

Politik Etis 1901

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina menyatakan bahwa Belanda mempunyai tanggung jawab moral terhadap kesejahteraan penduduk Hindia Belanda.

Pernyataan tersebut menjadi dasar Politik Etis.

Politik ini sering diringkas melalui tiga bidang:

  • irigasi;
  • edukasi;
  • emigrasi atau perpindahan penduduk.

Gagasan itu dipengaruhi kritik terhadap eksploitasi kolonial dan tulisan Conrad Theodor van Deventer mengenai utang kehormatan.

Namun, Politik Etis bukan penyerahan kekuasaan kepada penduduk Nusantara. Pemerintahan, tanah, sumber daya, anggaran, dan militer tetap dikuasai oleh sistem kolonial.

Temuan Penelitian

Program Politik Etis membuka sejumlah akses pendidikan dan pembangunan, tetapi:

  • anggarannya terbatas;
  • pelaksanaannya tidak merata;
  • lebih banyak menjangkau kelompok tertentu;
  • dan sering diarahkan untuk kebutuhan ekonomi serta administrasi kolonial.

Kebijakan yang dimaksudkan memperkuat pemerintahan kolonial justru ikut melahirkan kelompok terpelajar yang kelak mengkritik dan melawan kolonialisme.

Irigasi

Pemerintah mengembangkan proyek pengairan untuk pertanian.

Irigasi dapat membantu meningkatkan produksi, tetapi prioritasnya tidak selalu sama dengan kebutuhan petani. Sistem pengairan juga digunakan untuk mendukung perkebunan gula serta tanaman ekspor.

Pengelolaan air menimbulkan pertanyaan:

  • wilayah mana yang memperoleh air;
  • tanaman apa yang diprioritaskan;
  • siapa yang membayar pembangunan;
  • dan siapa yang menikmati hasilnya.

Pendidikan

Sekolah formal mulai diperluas secara perlahan, tetapi jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk.

Pendidikan dibedakan berdasarkan:

  • ras;
  • kelas;
  • status sosial;
  • bahasa;
  • dan kebutuhan pemerintahan.

STOVIA berkembang di Batavia sebagai sekolah pendidikan dokter pribumi. Para pelajarnya kelak memainkan peranan penting dalam pembentukan kelompok terpelajar.

Namun, sebagian besar anak di Nusantara belum memperoleh pendidikan sekolah modern.

Pesantren, surau, sekolah misi, pendidikan kerajaan, keluarga, dan tradisi lokal tetap menjadi sumber utama pengetahuan bagi banyak masyarakat.

Perpindahan Penduduk

Pemerintah kolonial mulai mencoba memindahkan penduduk dari Jawa yang dianggap padat menuju wilayah lain.

Program awal perpindahan menuju Lampung dimulai sekitar 1905.

Skalanya masih kecil, tetapi menjadi awal kebijakan kolonisasi penduduk yang kemudian berkembang menjadi program transmigrasi.

Perpindahan tidak hanya menyangkut manusia. Kebijakan tersebut juga memengaruhi:

  • tanah masyarakat lokal;
  • pembukaan hutan;
  • hubungan antarkelompok;
  • pertanian;
  • dan administrasi wilayah.

Desentralisasi Pemerintahan

Undang-undang desentralisasi diberlakukan pada 1903 dan membuka jalan bagi pembentukan dewan lokal di sejumlah kota serta wilayah.

Namun, partisipasi politik penduduk pribumi masih sangat terbatas. Kekuasaan penting tetap berada di tangan gubernur jenderal dan pejabat kolonial.

Desentralisasi lebih banyak mengatur administrasi daripada memberikan demokrasi kepada masyarakat.

Perang Aceh dan Penaklukan yang Meluas

Perang Aceh telah berlangsung sejak 1873.

Pada awal abad ke-20, Belanda meningkatkan operasi militer di bawah kebijakan yang dipengaruhi Snouck Hurgronje dan dijalankan oleh tokoh seperti J.B. van Heutsz.

Belanda berusaha:

  • bekerja sama dengan sebagian uleebalang;
  • memisahkan kelompok perlawanan;
  • mengejar jaringan ulama;
  • memutus pasokan;
  • dan menyerang wilayah yang menolak tunduk.

Sultan Aceh Menyerah, Perlawanan Belum Berakhir

Sultan Muhammad Daud Syah menyerahkan diri kepada Belanda pada 1903 setelah tekanan terhadap keluarga serta jaringan pendukungnya.

Penyerahan sultan melemahkan simbol pemerintahan kesultanan, tetapi tidak menghentikan perlawanan.

Banyak pemimpin lokal, ulama, serta masyarakat terus melawan.

Karena itu, 1903 tidak dapat disebut sebagai akhir pasti Perang Aceh.

Ekspedisi Gayo dan Alas 1904

Pada 1904, pasukan di bawah Gotfried Coenraad Ernst van Daalen melakukan ekspedisi ke wilayah Gayo dan Alas.

Ekspedisi menyerang benteng-benteng serta permukiman yang menolak menyerah.

Salah satu peristiwa paling dikenal terjadi di Kuta Reh atau Kuta Rih pada Juni 1904.

Foto setelah penyerangan memperlihatkan jenazah laki-laki, perempuan, dan anak-anak di sekitar benteng. Foto tersebut menjadi salah satu bukti visual paling mengerikan dari kekerasan kolonial di Nusantara.

Angka korban yang sering dikutip untuk Kuta Reh mencapai lebih dari 500 orang. Rincian dan klasifikasi korban berbeda dalam berbagai sumber sehingga harus diperlakukan dengan hati-hati.

Peristiwa itu tidak tepat disebut sekadar kemenangan militer. Banyak korban merupakan penduduk yang berada di dalam permukiman berbenteng.

Foto Kuta Reh memperlihatkan bahwa teknologi kamera dapat menyimpan dua hal sekaligus: kebanggaan pasukan kolonial pada masanya dan bukti kekerasan yang tidak dapat disembunyikan dari generasi berikutnya.

Van Heutsz Menjadi Gubernur Jenderal

Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1904.

Ia dipandang oleh pemerintah kolonial sebagai tokoh yang berhasil memperluas kendali di Aceh.

Namun, perluasan tersebut membawa:

  • operasi militer;
  • korban sipil;
  • penghancuran permukiman;
  • pengungsian;
  • serta pemaksaan tunduk kepada pemerintahan kolonial.

Penilaian terhadap “keberhasilan” kolonial harus dibedakan dari pengalaman masyarakat yang ditaklukkan.

Ekspansi Belanda di Sulawesi

Pada 1905, Belanda meningkatkan tekanan serta operasi militer terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Kerajaan Bone, Gowa, dan wilayah lain menghadapi tuntutan untuk menerima kekuasaan kolonial yang lebih langsung.

La Pawawoi Karaeng Sigeri, penguasa Bone, melakukan perlawanan sebelum akhirnya ditangkap.

Operasi tersebut menjadi bagian dari usaha Belanda membentuk kekuasaan yang lebih terpusat atas seluruh kepulauan.

Perlawanan dan perubahan politik di Sulawesi akan berlanjut dalam Catatan berikutnya.

Bali Menjelang Puputan

Hubungan antara pemerintah kolonial dan kerajaan-kerajaan Bali semakin tegang.

Perselisihan mengenai hak atas kapal karam, perdagangan, dan kedaulatan memberikan alasan bagi Belanda untuk meningkatkan tekanan.

Perang besar dan Puputan Badung baru terjadi pada 1906, sehingga pembahasannya akan diteruskan dalam Catatan #012.

Perlawanan Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII tetap melanjutkan perlawanan terhadap perluasan Belanda di Tanah Batak.

Perlawanan berlangsung melalui wilayah pegunungan, hutan, dan jaringan masyarakat.

Belanda membangun:

  • jalan;
  • pos militer;
  • administrasi;
  • dan jaringan pengawasan.

Sisingamangaraja XII belum gugur pada periode ini. Perjuangannya terus berlangsung hingga 1907 dan akan dibahas dalam Catatan berikutnya.

R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini menulis surat mengenai pendidikan, kehidupan perempuan, kebudayaan, agama, perkawinan, dan keadaan masyarakat Jawa.

Kartini mengkritik keterbatasan yang dihadapi perempuan, terutama dalam pendidikan serta kebebasan menentukan kehidupan.

Pada 1903, ia membuka kegiatan pendidikan bagi anak perempuan di Jepara.

Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, pada 1903. Ia meninggal pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan putranya.

Surat-surat Kartini baru diterbitkan dalam bentuk buku pada 1911. Karena itu, pengaruh nasionalnya berkembang lebih besar setelah kematiannya.

Kartini tidak hidup cukup lama untuk melihat perubahan yang dibayangkannya. Namun, surat-suratnya membuat suaranya menyeberangi waktu.

Dewi Sartika dan Pendidikan Perempuan

Pada 1904, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri di Bandung.

Sekolah tersebut memberi pendidikan kepada perempuan dalam keterampilan membaca, menulis, berhitung, kesehatan, dan kehidupan rumah tangga sesuai konteks zamannya.

Upaya Kartini dan Dewi Sartika menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak hanya datang dari kebijakan kolonial. Perempuan Nusantara juga membangun jalannya sendiri.

Pers dan Kelompok Terpelajar

Perkembangan pendidikan dan percetakan membantu melahirkan kelompok wartawan serta penulis pribumi.

Tirto Adhi Soerjo menerbitkan Soenda Berita pada 1903. Ia kemudian memainkan peranan besar dalam sejarah pers nasional.

Surat kabar menjadi ruang untuk membahas:

  • perdagangan;
  • ketidakadilan;
  • pendidikan;
  • hukum;
  • kehidupan masyarakat;
  • dan kebijakan kolonial.

Namun, kebebasan pers tetap dibatasi melalui pengawasan serta ancaman hukuman.

Budi Utomo belum berdiri dalam periode ini. Organisasi tersebut baru didirikan pada 1908 dan akan dibahas dalam Catatan berikutnya.

Ekonomi Hindia Belanda

Ekonomi kolonial ditopang oleh:

  • gula;
  • kopi;
  • teh;
  • tembakau;
  • kina;
  • timah;
  • batu bara;
  • kopra;
  • dan minyak bumi.

Perkebunan besar beroperasi berdampingan dengan pertanian rakyat.

Ekonomi ekspor menghasilkan pendapatan bagi perusahaan dan pemerintah, tetapi masyarakat menghadapi ketimpangan dalam kepemilikan tanah, upah, dan perlindungan hukum.

Minyak Sumatra

Produksi minyak di Pangkalan Brandan berkembang melalui Royal Dutch Petroleum Company.

Kilang, tangki, jaringan pipa, pelabuhan, dan permukiman industri dibangun.

Minyak Sumatra memasuki pasar internasional dan memperkuat hubungan Nusantara dengan ekonomi energi dunia.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja, tanah, keamanan, dan transportasi. Pemerintah kolonial menyediakan kerangka hukum serta militer untuk melindungi kegiatan tersebut.

Industri minyak membawa pembangunan, tetapi keputusan utama dan keuntungan terbesar tidak berada di tangan masyarakat Nusantara.

Minyak Kalimantan

Eksplorasi dan produksi minyak juga berkembang di Kalimantan Timur, terutama sekitar Balikpapan serta Samarinda.

Balikpapan mulai tumbuh sebagai pusat pengolahan dan pelabuhan minyak.

Perkembangan tersebut mengubah wilayah pesisir, menarik tenaga kerja, dan meningkatkan nilai strategis Kalimantan.

Minyak yang ditemukan pada awal abad ke-20 kemudian menjadi salah satu alasan wilayah Nusantara sangat penting dalam geopolitik dunia.

Batu Bara Ombilin

Tambang Ombilin di Sawahlunto terus menghasilkan batu bara.

Batu bara diangkut melalui rel menuju Emmahaven—sekarang Teluk Bayur.

Sebagian tenaga kerja berasal dari narapidana yang dikenal sebagai orang rantai. Mereka bekerja di bawah pengawasan ketat dan menghadapi kondisi berbahaya.

Pertambangan menunjukkan bahwa teknologi modern dapat dibangun di atas sistem kerja yang tidak manusiawi.

Perkebunan dan Buruh Kontrak

Perkebunan Sumatra Timur berkembang melalui tembakau dan komoditas lainnya.

Buruh Tiongkok serta Jawa bekerja dalam sistem kontrak yang diperkuat oleh poenale sanctie.

Buruh dapat dihukum apabila dianggap melarikan diri atau melanggar kontrak.

Kondisi yang dilaporkan meliputi:

  • kekerasan;
  • upah rendah;
  • utang;
  • penyakit;
  • tempat tinggal buruk;
  • dan keterbatasan kebebasan.

Produksi perkebunan meningkat, tetapi kesejahteraan buruh tidak otomatis membaik.

Transportasi di Nusantara

Jaringan kereta api dan trem berkembang di Jawa serta Sumatra.

Transportasi digunakan untuk membawa:

  • gula;
  • kopi;
  • tembakau;
  • minyak;
  • batu bara;
  • penumpang;
  • surat;
  • dan pasukan.

KPM menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kepulauan melalui kapal uap.

Jalur transportasi menyatukan Hindia Belanda secara ekonomi dan administratif, tetapi tujuan utamanya tetap berkaitan dengan perdagangan serta kekuasaan kolonial.

Mobil telah hadir dalam jumlah sangat kecil di kalangan bangsawan, pejabat, dan pengusaha. Bagi sebagian besar masyarakat, perjalanan tetap dilakukan dengan berjalan kaki, hewan, pedati, perahu, atau kereta.

Listrik dan Telepon di Nusantara

Listrik mulai digunakan di sejumlah pusat kota, pabrik, perkebunan, dan fasilitas pemerintahan.

Trem listrik telah beroperasi di Batavia sejak akhir abad ke-19. Jaringan telepon juga berkembang secara terbatas.

Namun, listrik dan telepon belum menjadi layanan masyarakat luas.

Desa-desa tetap bergantung pada:

  • lampu minyak;
  • kayu bakar;
  • tenaga manusia;
  • tenaga hewan;
  • dan alat tradisional.

Kesenjangan teknologi antara pusat kota kolonial dan pedesaan sangat besar.

Kesehatan di Nusantara

Malaria, kolera, cacar, disentri, tuberkulosis, penyakit kulit, infeksi, serta komplikasi persalinan tetap menjadi ancaman.

Kina yang diproduksi di Jawa menjadi bahan penting untuk pengobatan malaria dunia. Namun, masyarakat lokal tidak selalu memperoleh akses kesehatan yang setara.

Layanan kesehatan terkonsentrasi di:

  • kota;
  • pusat pemerintahan;
  • wilayah militer;
  • perkebunan;
  • dan pertambangan.

Sekolah dokter pribumi membantu menyediakan tenaga kesehatan, tetapi jumlahnya masih sangat terbatas dibandingkan jumlah penduduk.

Jejak Pengamatan Bumi di Nusantara

BMKG belum berdiri dengan nama serta susunan seperti sekarang.

Pengamatan dilakukan melalui observatorium, pelabuhan, kapal, perkebunan, dan lembaga kolonial.

Informasi mengenai cuaca, gempa, gunung api, dan laut dapat ditelusuri melalui:

  • arsip Hindia Belanda;
  • laporan observatorium Batavia;
  • catatan kapal;
  • laporan perkebunan;
  • surat kabar;
  • tradisi lisan;
  • katalog geologi;
  • dan penelitian modern.

Pengamatan belum merata. Bencana di wilayah terpencil dapat tidak tercatat atau hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat.

Cuaca, Pertanian, dan Lingkungan Nusantara

Nusantara dipengaruhi sistem monsun serta perubahan suhu laut Pasifik dan Samudra Hindia.

Keterlambatan hujan dapat memengaruhi:

  • penanaman padi;
  • persediaan air;
  • perkebunan;
  • kebakaran vegetasi;
  • dan kesehatan.

Dampaknya tidak selalu sama di setiap pulau. Karena itu, suatu kekeringan di Jawa tidak boleh langsung dianggap terjadi dengan tingkat yang sama di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, atau Papua.

Pembukaan perkebunan, tambang, rel, permukiman, dan fasilitas minyak mengubah hutan serta penggunaan tanah.

Namun, data luas pembukaan lahan pada periode ini belum selalu lengkap dan harus direkonstruksi dari peta, laporan perusahaan, serta arsip kolonial.

Dunia dan Nusantara dalam Satu Sistem

Pada 1900–1905, hubungan dunia dan Nusantara semakin mudah terlihat:

  • minyak Sumatra serta Kalimantan memasuki pasar energi;
  • kina Jawa digunakan untuk menghadapi malaria;
  • timah Bangka dan Belitung memasuki industri;
  • gula, kopi, teh, dan tembakau dikirim ke pasar internasional;
  • modal datang dari Eropa;
  • buruh direkrut dari berbagai wilayah;
  • rel menghubungkan produksi dengan pelabuhan;
  • kapal uap membawa barang menyeberangi samudra;
  • telegraf mengirimkan harga dan perintah;
  • sementara militer mengamankan perluasan kekuasaan kolonial.

Kemajuan teknologi menghubungkan kepulauan, tetapi hubungan tersebut dibangun dalam struktur kekuasaan yang tidak setara.

Apa yang Berubah Selama 1900–1905?

Dalam lima tahun:

  • penduduk dunia berjumlah sekitar 1,6 miliar jiwa;
  • radio mulai mengirim sinyal melintasi Atlantik;
  • pesawat bermesin berhasil terbang;
  • mobil berkembang menjadi industri;
  • film dan rekaman suara menyebar;
  • Planck membuka jalan bagi teori kuantum;
  • genetika Mendel ditemukan kembali;
  • golongan darah diidentifikasi;
  • Einstein menerbitkan penelitian penting pada 1905;
  • wabah pes terus mengikuti jaringan pelayaran;
  • hubungan nyamuk dengan malaria serta demam kuning semakin dipahami;
  • badai Galveston menewaskan ribuan manusia;
  • letusan Pelée, La Soufrière, dan Santa María mengguncang dunia pada 1902;
  • Jepang mengalahkan Rusia;
  • Revolusi Rusia 1905 pecah;
  • Politik Etis diumumkan;
  • pendidikan pribumi mulai memperoleh ruang terbatas;
  • Kartini dan Dewi Sartika membuka jalan pendidikan perempuan;
  • ekspansi militer Belanda di Aceh, Gayo, Alas, dan Sulawesi berlanjut;
  • serta minyak Nusantara semakin penting bagi industri dunia.

Kesimpulan Catatan #011

Periode 1900–1905 memperlihatkan awal abad yang bergerak sangat cepat.

Manusia berhasil menerbangkan mesin yang lebih berat daripada udara, mengirim sinyal tanpa kabel, memahami golongan darah, dan menemukan hubungan baru antara cahaya, ruang, waktu, massa, serta energi.

Namun, kemajuan tersebut berlangsung di dunia yang masih dikuasai kekaisaran.

Jepang mengalahkan Rusia, tetapi kemudian memperbesar kekuasaannya di Asia. Negara-negara Eropa berbicara mengenai peradaban sambil menjalankan kamp konsentrasi, penaklukan, kerja paksa, dan genosida.

Di Nusantara, Politik Etis menjanjikan pendidikan, irigasi, dan kesejahteraan. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan, operasi militer kolonial membunuh masyarakat di Kuta Reh dan wilayah lain.

Inilah pertentangan utama periode ini: bahasa kesejahteraan berkembang bersama kekerasan penaklukan.

Pada awal abad ke-20, manusia akhirnya dapat terbang. Namun, banyak masyarakat di Bumi masih belum memiliki kebebasan untuk menentukan tanah, kehidupan, dan masa depannya sendiri.

Analisis Penulis — Armando Sinaga

Setelah membandingkan perkembangan dunia dengan keadaan Nusantara, terlihat bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang lebih cepat daripada perubahan moral serta politik manusia.

Pesawat, radio, listrik, dan mesin tidak memiliki tujuan sendiri. Manusialah yang menentukan apakah teknologi digunakan untuk menyelamatkan, menghubungkan, menguasai, atau menghancurkan.

Radio dapat mengirim peringatan kepada kapal, tetapi juga dapat mengirim perintah perang. Pesawat dapat membawa manusia, tetapi kemudian juga dapat membawa senjata. Penelitian masyarakat dapat membantu memahami kebudayaan, tetapi di Aceh pengetahuan digunakan untuk menyusun strategi penaklukan.

Politik Etis memperlihatkan masalah serupa. Pemerintah kolonial mengakui adanya tanggung jawab terhadap kesejahteraan penduduk, tetapi tidak mengakui hak penduduk untuk menentukan pemerintahannya sendiri.

Menurut penulis, istilah “kemajuan” harus selalu diperiksa melalui pertanyaan:

  • Siapa yang memperoleh manfaat?
  • Siapa yang membayar biayanya?
  • Siapa yang kehilangan tanah?
  • Siapa yang tidak memiliki suara?
  • Dan siapa yang bahkan tidak dicatat namanya?

Kuta Reh menjadi bukti bahwa foto tidak selalu dibuat untuk membela korban. Namun, seiring berjalannya waktu, gambar yang dahulu digunakan sebagai dokumentasi kemenangan kolonial dapat berubah menjadi bukti yang menuntut pertanggungjawaban sejarah.

Manusia telah belajar terbang di atas Bumi, tetapi belum sepenuhnya belajar hidup dengan adil di atas tanah yang sama.

Menuju Catatan #012 — Bumi 1905–1910

Beberapa peristiwa dalam Catatan ini akan berlanjut pada periode berikutnya:

  • dampak Revolusi Rusia 1905;
  • meningkatnya kekuatan Jepang;
  • perlombaan senjata antarnegara;
  • perkembangan pesawat, mobil, radio, dan film;
  • perubahan ilmu fisika dan kedokteran;
  • Politik Etis;
  • kelahiran organisasi pergerakan;
  • Budi Utomo 1908;
  • perkembangan pers;
  • Puputan Badung 1906;
  • gugurnya Sisingamangaraja XII pada 1907;
  • serta kelanjutan perang dan perlawanan di berbagai wilayah Nusantara.

Pembahasannya akan dilanjutkan dalam BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #012] [1905–1910].

Catatan Penelusuran

Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang berlangsung pada 1900–1905.

Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, perubahan lingkungan, dan peristiwa di berbagai wilayah yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, hilang bersama arsip, atau belum dapat kami telusuri melalui bukti yang tersedia.

Angka mengenai penduduk, korban perang, bencana, kelaparan, dan wabah merupakan estimasi apabila tidak berasal dari pencatatan langsung yang dapat diverifikasi.

Nama serta batas wilayah masa lalu tidak selalu sama dengan keadaan sekarang. Istilah “Indonesia” digunakan untuk membantu mengenali wilayah geografisnya; Republik Indonesia belum terbentuk pada periode ini.

Masih banyak yang belum tercatat—termasuk kehidupan dan peristiwa di wilayah yang tidak meninggalkan arsip. Catatan ini menyajikan gambaran umum berdasarkan dokumen, data, penelitian, dan bukti yang masih dapat ditelusuri, kemudian dirangkum kembali agar jejaknya tidak hilang oleh waktu.

Sumber dan Referensi

Populasi, Ekonomi, dan Kehidupan Dunia

Penerbangan, Radio, dan Teknologi

Fisika dan Ilmu Pengetahuan

Kesehatan

Iklim dan Lingkungan

Gunung Api, Gempa, dan Bencana

Geopolitik Dunia

Nusantara dan Hindia Belanda

Pemeriksaan Kebencanaan Indonesia Masa Kini

Catatan Koreksi dan Pemeriksaan Ulang

Informasi dalam Catatan ini dihimpun dari sumber serta bukti yang dapat kami telusuri. Pembaca dipersilakan memeriksa, membandingkan, serta melakukan cek dan ricek melalui dokumen atau sumber lain.

Keterbatasan arsip, perbedaan bahasa, perubahan penafsiran ilmiah, ketidaktepatan sumber lama, dan kekeliruan dalam penelusuran atau penulisan tetap mungkin terjadi.

Angka sejarah—terutama jumlah penduduk, korban perang, bencana, wabah, dan kelaparan—dapat berbeda antara satu penelitian dan penelitian lainnya. Penyebutan suatu angka tidak selalu berarti seluruh korban telah teridentifikasi.

Apabila ditemukan bukti yang lebih kuat, data yang lebih tepat, atau koreksi yang dapat diverifikasi, Catatan ini dapat diperbaiki dan diperbarui tanpa mengubah tujuan utamanya: menyimpan jejak perjalanan Bumi dan kehidupan manusia agar tidak hilang oleh waktu.

BUMI DARI MASA KE MASA
Oleh Armando Sinaga