PUSTAHA CATATAN
BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #003] [1820–1830]
Revolusi, mesin uap, wabah, dan perlawanan mengguncang dunia pada 1820–1830. Ketika jalur kereta mulai membuka zaman baru, Perang Jawa berkobar di Nusantara dan mengubah hubungan antara masyarakat, kekuasaan kolonial, serta tanah tempat mereka hidup.
Dipublikasikan 2 September 2026
![Sampul BUMI DARI MASA KE MASA — [Catatan #003] [1820–1830]](https://eukbmnkglvmkyscopywa.supabase.co/storage/v1/object/public/note-covers/bumi-dari-masa-ke-masa-catatan-003-18201830/1788369760667-db0d25ba-6d3d-444b-9fc4-981c476629b5.webp)
Dunia Mulai Bergerak Lebih Cepat
Pada awal 1820-an, dunia masih berusaha pulih dari peperangan, gangguan iklim, kegagalan panen, dan wabah yang menandai dasawarsa sebelumnya. Dampak sosial letusan Tambora tidak menghilang seketika, sementara periode aktivitas Matahari rendah yang dikenal sebagai Dalton Minimum mendekati akhirnya.
Namun, pada saat alam perlahan memasuki keadaan baru, manusia justru mulai mempercepat perubahannya.
Mesin uap semakin banyak digunakan. Jalur kereta api umum bertenaga uap mulai beroperasi. Eksperimen mengenai listrik dan magnet membuka pengetahuan baru. Gagasan mesin penghitung mulai dirancang. Sistem tulisan yang memungkinkan penyandang tunanetra membaca melalui sentuhan mulai dikembangkan.
Di sisi lain, wabah kolera terus bergerak melalui jalur perdagangan dan perjalanan manusia. Perlawanan terhadap kerajaan serta penjajahan terjadi di berbagai wilayah. Yunani berjuang melepaskan diri dari Kesultanan Ottoman. Negara-negara baru tumbuh di Amerika Latin. Kekuasaan kolonial Britania dan Belanda membagi pengaruhnya di Asia Tenggara melalui sebuah perjanjian yang dibuat jauh dari masyarakat yang wilayahnya sedang mereka bagi.
Di Nusantara, Belanda memperluas kembali kekuasaan setelah berakhirnya pemerintahan Britania di Jawa. Palembang diserang. Campur tangan kolonial masuk ke dalam konflik Padri di Sumatra Barat. Gunung Galunggung meletus dan menghancurkan banyak desa. Pada 1825, perlawanan besar yang dipimpin Pangeran Diponegoro meledak di Jawa.
Periode 1820–1830 memperlihatkan dua gerakan yang berlangsung bersamaan: mesin mempercepat kehidupan manusia, sementara perang, penyakit, bencana, dan kolonialisme terus menghancurkannya.
Dunia mulai bergerak lebih cepat, tetapi tidak semua manusia bergerak menuju kebebasan. Sebagian justru semakin dalam ditarik ke dalam perang, penjajahan, kemiskinan, dan perebutan tanah.
1820–1830: Bumi Berada di Era Apa?
Dalam pembagian waktu geologi modern, 1820–1830 masih berada dalam kala Holosen. Negara, kota, pertanian, dan industri telah mengubah banyak bentang alam, tetapi istilah Antroposen belum ditetapkan sebagai kala geologi resmi.
Dalam sejarah manusia, periode ini berada pada:
- perkembangan lanjutan Revolusi Industri;
- awal penggunaan kereta api umum bertenaga uap;
- gelombang revolusi dan kemerdekaan;
- meluasnya kekuasaan kolonial Eropa;
- penyebaran pandemi kolera pertama;
- mendekati berakhirnya Dalton Minimum;
- pemulihan iklim secara bertahap setelah gangguan besar pada 1810-an;
- pembagian pengaruh Britania dan Belanda melalui Perjanjian London 1824;
- letusan Gunung Galunggung pada 1822;
- campur tangan Belanda dalam Perang Padri;
- serta Perang Jawa atau Perang Diponegoro pada 1825–1830.
Rentang Catatan ini terutama memotret keadaan sejak 1820 hingga penghujung 1829. Peristiwa yang mencapai penyelesaian pada 1830 tetap disebutkan apabila tidak mungkin memahami dasawarsa ini tanpa mengetahui kelanjutannya.
Penduduk Dunia Terus Bertambah
Tidak ada sensus dunia serentak pada 1820 atau 1830. Jumlah penduduk global pada periode ini merupakan hasil estimasi dan rekonstruksi historis.
Berdasarkan dataset penduduk jangka panjang, jumlah manusia telah melampaui satu miliar jiwa dan terus bertambah sepanjang 1820-an.
Asia masih menampung bagian terbesar penduduk dunia. Tiongkok dan Asia Selatan memiliki populasi yang sangat besar. Eropa juga mengalami pertumbuhan, urbanisasi, dan perpindahan penduduk menuju kawasan industri.
Namun, peningkatan jumlah manusia tidak berarti kehidupan menjadi lebih aman. Kematian bayi dan anak masih sangat tinggi. Wabah, kekurangan gizi, perang, persalinan, serta infeksi yang belum dapat diobati terus membatasi usia kehidupan.
Sebagian besar manusia masih tinggal di desa. Kota industri memang tumbuh, tetapi dunia belum menjadi masyarakat perkotaan seperti masa modern.
Kehidupan Masyarakat dan Ketimpangan
Kondisi kehidupan sangat ditentukan oleh tempat seseorang lahir, kepemilikan tanah, kelas sosial, jenis kelamin, pekerjaan, dan kekuasaan politik.
Kelompok bangsawan, penguasa, pedagang besar, serta pemilik pabrik memiliki akses lebih besar terhadap kekayaan dan pendidikan. Sebaliknya, petani kecil, buruh, pelayan, masyarakat terjajah, dan manusia yang diperbudak menghadapi kehidupan yang lebih berat.
Di kawasan industri, pekerjaan mulai dipusatkan di dalam pabrik. Jam kerja panjang dan penggunaan tenaga anak menjadi bagian dari produksi. Keselamatan kerja belum menjadi perlindungan umum.
Di daerah pertanian, keluarga tetap bergantung pada hasil panen. Pajak, sewa tanah, utang, kegagalan hujan, atau perubahan harga dapat menyebabkan keluarga kehilangan lahan dan mata pencarian.
Perubahan teknologi menghasilkan barang lebih banyak, tetapi manfaatnya tidak dibagikan secara merata. Kemampuan manusia untuk memproduksi meningkat lebih cepat daripada kemampuannya menjamin kehidupan yang layak bagi seluruh masyarakat.
Pangan, Air, dan Kesehatan
Sebagian besar pangan berasal dari pertanian lokal. Beras, gandum, jagung, kentang, singkong, millet, sagu, dan berbagai tanaman lain menopang kehidupan di wilayah berbeda.
Perdagangan membantu memindahkan pangan, tetapi transportasi masih mahal dan lambat. Jalan serta kapal tidak selalu dapat menjangkau masyarakat yang mengalami kekurangan.
Air bersih belum tersedia secara luas. Sungai, sumur, saluran, dan sumber air dapat tercemar oleh limbah manusia serta hewan.
Teori kuman belum diterima dan bakteri penyebab penyakit belum dapat diidentifikasi secara tepat. Karena itu, hubungan antara air tercemar dengan kolera, disentri, dan penyakit diare belum dipahami sebagaimana sekarang.
Vaksinasi cacar mulai digunakan di sejumlah wilayah, tetapi penyebarannya tidak merata. Malaria, tuberkulosis, tifus, cacar, infeksi pernapasan, dan penyakit setelah persalinan masih menyebabkan banyak kematian.
Belum ada antibiotik. Luka kecil, infeksi gigi, atau komplikasi persalinan dapat menjadi penyebab kematian.
Pandemi Kolera Terus Menyebar
Pandemi kolera pertama telah dimulai di Bengal pada 1817. Memasuki 1820-an, penyakit tersebut bergerak lebih jauh melalui jalur perdagangan, pelayaran, perjalanan, dan pergerakan pasukan.
Pada 1821, kolera telah mencapai Muskat di Oman. Penyakit kemudian menjangkau bagian lain Asia dan kawasan di sekitar Teluk Persia.
Kolera menyebabkan diare akut dan kehilangan cairan secara cepat. Tanpa penggantian cairan yang memadai, seseorang dapat meninggal dalam waktu singkat.
Pada masa itu, penyebab kolera belum diketahui. Banyak orang menghubungkannya dengan udara buruk atau keadaan lingkungan secara umum. Peranan air serta makanan yang tercemar bakteri Vibrio cholerae baru dipahami kemudian.
Jaringan perdagangan yang mempercepat pengiriman barang juga mempercepat perpindahan penyakit. Kapal, pelabuhan, sungai, pasukan, pedagang, dan peziarah menjadi bagian dari jalur penyebaran.
Gelombang pandemi pertama berangsur menurun pada pertengahan 1820-an, tetapi kolera tidak menghilang. Pada 1829, gelombang pandemi berikutnya mulai berkembang dan kemudian menyebar lebih jauh pada dasawarsa selanjutnya.
Jalur yang dibangun manusia untuk menghubungkan dunia membawa makanan, barang, dan pengetahuan. Namun, jalur yang sama juga membawa penyakit.
Revolusi Industri Terus Berkembang
Pada 1820-an, Revolusi Industri masih terutama terkonsentrasi di Britania Raya dan sejumlah kawasan Eropa serta Amerika Utara.
Batu bara menjadi semakin penting untuk menggerakkan mesin uap, mengolah logam, memanaskan bangunan, dan mendukung produksi pabrik.
Industri tekstil berkembang dengan mekanisasi pemintalan dan penenunan. Produksi meningkat, tetapi hubungan kerja juga berubah. Banyak pengrajin rumah tangga kehilangan posisi ketika barang pabrik dapat dibuat lebih cepat dan murah.
Pertumbuhan industri menciptakan permintaan terhadap:
- batu bara;
- besi;
- kapas;
- kayu;
- tenaga kerja;
- pelabuhan;
- jalan;
- kanal;
- serta pasar yang lebih luas.
Permintaan bahan mentah tidak hanya memengaruhi pusat industri. Ia ikut mengubah pertanian, perdagangan, perbudakan, dan penguasaan wilayah di bagian dunia lainnya.
Kapas yang diproses di pabrik Eropa, misalnya, dapat berasal dari perkebunan yang menggunakan tenaga manusia yang diperbudak. Karena itu, kemajuan industri tidak dapat dipisahkan dari sistem kerja dan perdagangan global yang menopangnya.
Kereta Api Membuka Zaman Baru
Pada 27 September 1825, Stockton and Darlington Railway dibuka di Inggris. Jalur tersebut dikenal sebagai jalur kereta api umum pertama yang menggunakan tenaga uap.
Lokomotif Locomotion No. 1, yang dibangun oleh George dan Robert Stephenson, menarik gerbong batu bara serta penumpang.
Kereta api belum langsung menyebar ke seluruh dunia. Teknologinya masih berkembang, jalur rel terbatas, dan biaya pembangunannya besar.
Namun, peristiwa itu menjadi tanda perubahan penting. Sebelumnya, kecepatan angkutan darat sangat bergantung pada manusia dan hewan. Mesin uap kini mulai memungkinkan barang serta manusia bergerak dalam jumlah lebih besar tanpa menggunakan tenaga hewan sebagai penggerak utama.
Pada 1829, kompetisi Rainhill Trials menguji lokomotif untuk jalur Liverpool–Manchester. Rocket, yang dikembangkan George dan Robert Stephenson, menunjukkan kemampuan yang membantu membentuk perkembangan lokomotif berikutnya.
Kereta api kelak mengubah perdagangan, kota, waktu perjalanan, peperangan, migrasi, dan pemanfaatan sumber daya. Namun, pada 1820-an perubahan besar tersebut baru mulai terlihat.
Listrik, Magnet, dan Pengetahuan Baru
Pada 1820, Hans Christian Ørsted menemukan bahwa arus listrik dapat memengaruhi jarum kompas. Pengamatan ini menunjukkan hubungan antara listrik dan magnet.
André-Marie Ampère kemudian mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan tersebut.
Pada 1821, Michael Faraday menunjukkan gerakan elektromagnetik yang berkelanjutan melalui eksperimen laboratorium. Percobaan itu menjadi salah satu dasar awal perkembangan motor listrik.
Listrik belum menjadi sumber penerangan rumah atau tenaga industri pada masa tersebut. Namun, para ilmuwan mulai menemukan bahwa listrik dan magnet bukanlah gejala yang berdiri sendiri.
Pengetahuan yang pada 1820 hanya terlihat sebagai gerakan kecil pada jarum serta kawat kelak menjadi dasar bagi motor, generator, komunikasi, dan jaringan listrik.
Mesin Penghitung Charles Babbage
Pada 1822, Charles Babbage mengusulkan rancangan Difference Engine, sebuah mesin mekanis yang dirancang untuk menghitung tabel matematika secara otomatis.
Tujuannya adalah mengurangi kesalahan manusia dalam pembuatan tabel yang digunakan dalam navigasi, ilmu pengetahuan, dan pekerjaan teknis.
Mesin lengkap sesuai rancangan awal tidak berhasil diselesaikan pada masa Babbage. Hambatan teknis, biaya, presisi pembuatan komponen, dan persoalan pengelolaan proyek mengganggu pembangunannya.
Namun, gagasan bahwa perhitungan dapat dilakukan oleh mesin menjadi langkah penting dalam sejarah komputasi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa revolusi teknologi tidak hanya bergerak melalui keberhasilan. Rancangan yang tidak selesai juga dapat menyimpan gagasan yang baru diwujudkan pada masa berikutnya.
Louis Braille dan Akses terhadap Pengetahuan
Louis Braille kehilangan penglihatannya sejak kecil. Ketika masih muda, ia mengembangkan sistem tulisan melalui pola titik timbul yang dapat dibaca dengan sentuhan.
Versi awal sistem tersebut disusun pada 1824, ketika Braille masih berusia remaja. Sistemnya kemudian terus disempurnakan dan diterbitkan pada 1829.
Braille tidak sekadar menciptakan bentuk huruf baru. Ia membuka cara baru bagi penyandang tunanetra untuk membaca, menulis, belajar, dan berkomunikasi secara mandiri.
Penerimaannya tidak langsung terjadi di seluruh dunia. Seperti banyak penemuan lainnya, sistem tersebut membutuhkan waktu sebelum digunakan secara luas.
Di tengah dasawarsa yang penuh mesin, perang, dan perluasan kekuasaan, perkembangan tulisan Braille memperlihatkan bentuk kemajuan lain: teknologi yang memperluas kemampuan manusia mengakses pengetahuan.
Cahaya Mulai Diabadikan
Pada pertengahan 1820-an, Joseph Nicéphore Niépce berhasil membuat salah satu citra fotografi permanen paling awal yang masih bertahan.
Prosesnya membutuhkan waktu pencahayaan sangat lama dan belum dapat digunakan seperti kamera modern. Namun, percobaan tersebut menunjukkan bahwa cahaya dapat digunakan untuk menciptakan gambar yang bertahan pada suatu permukaan.
Fotografi belum menjadi bagian kehidupan masyarakat pada 1820-an. Teknologi tersebut masih berada dalam tahap eksperimen.
Namun, kelak fotografi mengubah dokumentasi sejarah. Wajah manusia, kota, perang, bencana, dan perubahan lingkungan dapat direkam secara visual.
Catatan periode ini masih bergantung pada tulisan, lukisan, peta, benda, serta kesaksian. Dunia baru saja mendekati masa ketika cahaya sendiri dapat menjadi pencatat.
Iklim Setelah Tambora
Dampak terkuat Tambora terhadap iklim terjadi setelah letusan 1815, terutama pada 1816 dan beberapa tahun berikutnya.
Memasuki 1820-an, konsentrasi aerosol vulkanik dari Tambora di atmosfer telah menurun dan suhu bergerak menuju keadaan yang lebih normal. Namun, pemulihan tidak berlangsung dengan pola yang sama di setiap wilayah.
Periode ini masih berada di sekitar bagian akhir Little Ice Age dan Dalton Minimum. Aktivitas Matahari mulai bergerak keluar dari fase rendah jangka panjang, meskipun batas waktu Dalton Minimum berbeda menurut definisi yang digunakan.
Penelitian pemodelan menunjukkan bahwa suhu setelah minimum pasca-Tambora mengalami pemulihan bertahap. Namun, pengaruh aktivitas vulkanik, Matahari, laut, atmosfer, dan variasi iklim alami saling berinteraksi.
Tidak tepat menyatakan bahwa seluruh cuaca ekstrem pada 1820-an disebabkan oleh Tambora atau Dalton Minimum.
Setiap peristiwa harus dinilai berdasarkan bukti wilayah, waktu, dan mekanismenya.
Aktivitas Matahari dan Akhir Dalton Minimum
Dalton Minimum biasanya ditempatkan sekitar 1790–1830, meskipun beberapa sumber menggunakan batas yang sedikit berbeda.
Periode ini memiliki aktivitas bintik Matahari yang relatif rendah dibandingkan beberapa fase setelahnya. Namun, Dalton Minimum tidak sama dengan Maunder Minimum yang terjadi lebih dahulu dan memiliki tingkat aktivitas sangat rendah.
Penelitian terhadap catatan pengamat Matahari pada masa tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan kelengkapan data berbeda-beda. Karena itu, rekonstruksi jumlah bintik Matahari memiliki ketidakpastian.
Aktivitas Matahari dapat memengaruhi sistem iklim, tetapi tidak boleh digunakan sebagai penjelasan tunggal untuk seluruh perubahan suhu.
Tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa perubahan aktivitas Matahari menyebabkan letusan gunung api, gempa bumi, perang, revolusi, atau wabah.
Bencana Alam Dunia yang Terdokumentasi
Gempa bumi, banjir, badai, letusan gunung api, dan kekeringan terus terjadi pada 1820–1830. Namun, catatannya belum merata.
Wilayah dengan pemerintahan, surat kabar, pelabuhan, atau lembaga ilmiah memiliki kemungkinan lebih besar meninggalkan laporan. Bencana di daerah terpencil dapat tidak tercatat atau hanya tersimpan dalam tradisi lisan serta bukti geologi.
Pada 1822, gempa besar melanda wilayah Aleppo dan sekitarnya di Kekaisaran Ottoman. Berbagai sumber sejarah menyebut kerusakan luas serta korban dalam jumlah besar, tetapi angka pastinya berbeda.
Pada 1828, gempa bumi di Jepang menyebabkan kerusakan besar di wilayah Echigo atau Niigata. Seperti banyak gempa sebelum era seismograf modern, magnitudo serta jumlah korbannya merupakan hasil rekonstruksi dari laporan dan kerusakan.
Angka korban bencana historis tidak boleh diperlakukan sebagai jumlah pasti apabila sumber-sumbernya berbeda. Perhitungan penduduk, komunikasi, dan pendataan pada masa tersebut belum mampu mencatat seluruh korban.
Dunia Politik Setelah Napoleon
Kongres Wina telah menata ulang Eropa setelah Perang Napoleon, tetapi tatanan tersebut tidak menghapus keinginan masyarakat terhadap perubahan politik.
Pada 1820, gerakan revolusioner muncul di Spanyol dan beberapa wilayah Italia. Para pendukung konstitusi menentang pemerintahan absolut.
Kekuatan monarki Eropa berusaha mempertahankan tatanan yang dibentuk setelah Napoleon. Revolusi ditekan melalui intervensi, penangkapan, dan kekuatan militer.
Dasawarsa ini memperlihatkan pertentangan antara dua arah:
- kerajaan dan kekuatan konservatif berusaha memulihkan keteraturan lama;
- kelompok liberal, nasionalis, dan revolusioner menuntut konstitusi, kemerdekaan, atau pemerintahan baru.
Pertarungan tersebut belum selesai pada 1820-an. Ia menjadi bagian penting dari perubahan politik abad ke-19.
Perang Kemerdekaan Yunani
Pada 1821, pemberontakan melawan kekuasaan Ottoman berkembang menjadi Perang Kemerdekaan Yunani.
Konflik tersebut melibatkan pasukan, masyarakat sipil, pembantaian, pengungsian, dan campur tangan kekuatan asing.
Dukungan terhadap kemerdekaan Yunani tumbuh di berbagai bagian Eropa. Gerakan tersebut dipengaruhi nasionalisme, agama, kepentingan geopolitik, serta kekaguman terhadap kebudayaan Yunani kuno.
Britania Raya, Prancis, dan Rusia kemudian campur tangan. Pada 1827, armada gabungan mereka menghancurkan armada Ottoman–Mesir dalam Pertempuran Navarino.
Kemerdekaan Yunani memperoleh pengakuan internasional melalui proses diplomatik yang mencapai hasil pada 1830.
Perang ini memperlihatkan bahwa gagasan nasionalisme mulai mengubah kerajaan-kerajaan besar yang menaungi berbagai kelompok masyarakat.
Namun, perjuangan kemerdekaan juga menghasilkan korban sipil dan kekerasan dari berbagai pihak. Sejarahnya tidak dapat diringkas hanya sebagai kemenangan tanpa mencatat penderitaan manusia.
Amerika Latin Setelah Kemerdekaan
Pada 1820-an, berbagai gerakan kemerdekaan di Amerika Latin mencapai kemenangan penting.
Meksiko memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada 1821. Di Amerika Selatan, pasukan yang dipimpin tokoh seperti Simón Bolívar dan José de San Martín membantu mengakhiri kekuasaan kolonial Spanyol di berbagai wilayah.
Pertempuran Ayacucho pada 1824 menjadi salah satu kekalahan penentu bagi kekuasaan Spanyol di Amerika Selatan.
Bolivia dibentuk pada 1825 dan mengambil nama dari Bolívar.
Namun, kemerdekaan tidak otomatis menghasilkan kestabilan, kesetaraan, atau persatuan. Negara-negara baru menghadapi:
- persaingan elite;
- utang;
- konflik perbatasan;
- ketimpangan rasial dan sosial;
- kedudukan masyarakat adat;
- persoalan kepemilikan tanah;
- serta perdebatan mengenai bentuk pemerintahan.
Kekuasaan kolonial dapat berakhir secara resmi, tetapi struktur ekonomi dan sosial yang dibangunnya dapat bertahan.
Doktrin Monroe
Pada 1823, Presiden Amerika Serikat James Monroe menyampaikan kebijakan yang kemudian dikenal sebagai Doktrin Monroe.
Kebijakan tersebut menolak kolonisasi baru oleh kekuatan Eropa di benua Amerika dan menyatakan bahwa campur tangan Eropa di wilayah tersebut akan dipandang sebagai ancaman.
Pada saat diumumkan, kemampuan militer Amerika Serikat untuk menegakkan kebijakan itu masih terbatas. Kekuatan laut Britania dan kepentingan geopolitiknya juga membantu mencegah upaya Eropa menguasai kembali bekas koloni Spanyol.
Doktrin Monroe kelak menjadi bagian penting kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Namun, penggunaannya pada masa berikutnya juga berhubungan dengan perluasan pengaruh Amerika di kawasan.
Pemberontakan Desembris di Rusia
Setelah Kaisar Alexander I meninggal pada 1825, Rusia mengalami kebingungan mengenai pergantian kekuasaan.
Pada Desember 1825, sekelompok perwira dan pendukung perubahan politik melakukan pemberontakan di Saint Petersburg. Mereka menolak mengucapkan sumpah setia kepada Kaisar Nicholas I dan menuntut perubahan, meskipun tujuan antarkelompok tidak sepenuhnya sama.
Pemberontakan tersebut gagal. Para pemimpinnya dihukum mati atau dibuang, sedangkan pemerintahan Nicholas I memperkuat pengawasan dan kekuasaan.
Pemberontakan Desembris berjumlah terbatas dan tidak mewakili seluruh masyarakat Rusia. Namun, peristiwa tersebut menjadi simbol awal perlawanan terhadap autokrasi pada abad ke-19.
Perbudakan Masih Menopang Ekonomi
Perdagangan budak telah dilarang oleh Britania dan beberapa negara lain, tetapi perbudakan tetap berlangsung di berbagai wilayah.
Perkebunan kapas, gula, kopi, dan komoditas lain masih bergantung pada tenaga manusia yang diperbudak.
Produksi tekstil yang tumbuh di Eropa dan Amerika Utara berhubungan dengan meningkatnya permintaan kapas. Sebagian besar kapas berasal dari perkebunan di Amerika Serikat yang menggunakan tenaga budak.
Dengan demikian, pabrik modern dan sistem perbudakan tidak selalu berada pada dua dunia terpisah. Keduanya dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang sama.
Angkatan Laut Britania melakukan operasi untuk menekan perdagangan budak Atlantik, tetapi perdagangan ilegal terus berlangsung.
Pada 1820-an, hukum mulai berubah di sejumlah tempat, tetapi kebebasan bagi seluruh manusia masih jauh dari kenyataan.
Nusantara pada Awal 1820-an
Negara Indonesia belum terbentuk pada 1820–1830. Wilayah yang sekarang menjadi Indonesia masih terdiri atas kerajaan, kesultanan, komunitas adat, pusat perdagangan, dan daerah dengan tingkat campur tangan kolonial berbeda-beda.
Belanda telah memperoleh kembali Jawa dari Britania pada 1816. Setelah itu, pemerintah kolonial berusaha memulihkan pendapatan, memperkuat administrasi, dan memperluas pengaruhnya.
Namun, kekuasaan Belanda belum mencakup seluruh Nusantara secara langsung. Banyak kerajaan dan masyarakat tetap mengatur wilayahnya sendiri.
Hubungan antara pemerintah kolonial dan penguasa lokal berlangsung melalui:
- perjanjian;
- pajak;
- perdagangan;
- utang;
- monopoli;
- bantuan militer;
- campur tangan dalam pergantian penguasa;
- serta perang.
Perluasan kekuasaan kolonial bukan satu proses yang berlangsung seragam. Setiap daerah memiliki sejarah perlawanan, negosiasi, dan perubahan kekuasaan yang berbeda.
Palembang dan Kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II
Kesultanan Palembang memiliki kedudukan strategis karena perdagangan, Sungai Musi, serta hubungan dengan Bangka yang kaya timah.
Persaingan antara Palembang, Britania, dan Belanda telah berlangsung sejak periode sebelumnya.
Pada 1821, Belanda melancarkan ekspedisi besar terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II. Pasukan Belanda berhasil menguasai Palembang dan Sultan kemudian diasingkan.
Peristiwa tersebut memperkuat kendali kolonial Belanda terhadap Palembang dan Bangka. Kekuasaan kesultanan semakin dibatasi, lalu struktur pemerintahan serta ekonomi mengalami perubahan.
Sejarah Palembang memperlihatkan bahwa perluasan kolonial tidak hanya terjadi melalui perdagangan. Ketika perjanjian dan tekanan politik tidak memenuhi kepentingan kolonial, kekuatan militer digunakan.
Perang Padri dan Campur Tangan Belanda
Konflik Padri telah berkembang di Minangkabau sebelum 1820-an. Konflik tersebut berhubungan dengan gerakan pembaruan Islam, adat, kekuasaan lokal, perdagangan, dan persaingan politik.
Penyebutan konflik ini hanya sebagai perang antara “kaum agama” dan “kaum adat” terlalu menyederhanakan keadaan. Hubungan antarkelompok berubah dari waktu ke waktu, sedangkan kepentingan keluarga, nagari, perdagangan, dan kekuasaan turut berperan.
Pada 1821, sebagian pemimpin adat meminta bantuan Belanda. Pemerintah kolonial menggunakan kesempatan tersebut untuk memperluas campur tangannya di Sumatra Barat.
Perang kemudian melibatkan benteng, serangan, perjanjian, perubahan aliansi, dan perlawanan masyarakat.
Ketika Perang Jawa meletus pada 1825, perhatian serta sumber daya militer Belanda terbagi. Belanda melakukan gencatan atau pengaturan sementara di Sumatra Barat agar dapat memusatkan kekuatan di Jawa.
Perang Padri belum selesai dalam periode ini. Konfliknya terus berlanjut hingga dasawarsa berikutnya.
Letusan Gunung Galunggung Tahun 1822
Pada 1822, Gunung Galunggung di Jawa Barat mengalami letusan besar.
Smithsonian Global Volcanism Program mencatat bahwa letusan tersebut menghasilkan aliran piroklastik dan lahar yang menewaskan lebih dari 4.000 orang.
Sumber lain menyebut sekitar 4.011 korban dan lebih dari seratus desa hancur. Namun, seperti angka korban bencana historis lainnya, jumlah tersebut harus dipahami sebagai estimasi berdasarkan catatan yang tersedia.
Aliran piroklastik merupakan campuran gas panas, abu, dan material vulkanik yang bergerak cepat menuruni lereng. Lahar membawa campuran material vulkanik dan air melalui lembah serta sungai.
Masyarakat pada 1822 belum memiliki pemantauan seismik, peta bahaya modern, komunikasi cepat, atau sistem evakuasi terorganisasi seperti sekarang.
Bencana Galunggung kembali memperlihatkan bahwa Nusantara tidak hanya menghadapi perang dan kolonialisme. Masyarakat juga hidup di wilayah geologi yang sangat aktif.
Tujuh tahun setelah Tambora mengguncang Sumbawa dan dunia, Galunggung kembali memperlihatkan besarnya ancaman gunung api bagi masyarakat Nusantara.
Perjanjian Inggris–Belanda Tahun 1824
Pada 17 Maret 1824, Britania Raya dan Belanda menandatangani Perjanjian London atau Anglo-Dutch Treaty.
Perjanjian tersebut bertujuan menyelesaikan persaingan kolonial dan perdagangan kedua negara di Asia Tenggara.
Dalam pengaturan wilayahnya:
- Belanda menyerahkan Malaka dan kepentingan tertentu di Semenanjung Malaya kepada Britania;
- Britania menyerahkan Bengkulu serta wilayahnya di Sumatra kepada Belanda;
- Belanda mengakui kedudukan Britania di Singapura;
- kedua kekuatan membagi lingkungan pengaruhnya secara lebih tegas.
Perjanjian itu membantu membentuk pemisahan kolonial antara wilayah yang kemudian berkembang menjadi Indonesia serta Malaysia dan Singapura.
Namun, perundingannya dilakukan oleh Britania dan Belanda, bukan oleh seluruh kerajaan serta masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.
Dunia Melayu yang telah lama terhubung melalui perdagangan, keluarga, bahasa, kebudayaan, dan kekuasaan lokal dibagi berdasarkan kepentingan kolonial.
Batas kekuasaan digambar di meja perundingan Eropa, sedangkan masyarakat yang wilayahnya dibagi tidak menjadi pihak yang setara dalam menentukan hasilnya.
Jawa Menjelang Perang Besar
Pada awal 1820-an, kehidupan di Jawa dipengaruhi pertumbuhan penduduk, perubahan ekonomi, pajak, sewa tanah, pungutan, serta campur tangan kolonial terhadap istana.
Di Yogyakarta, hubungan antara keluarga kerajaan, pejabat kolonial, penyewa tanah Eropa, elite lokal, dan masyarakat desa semakin tegang.
Pemerintah kolonial serta pihak istana memberikan hak penyewaan tanah kepada orang Eropa dan Tionghoa dalam berbagai bentuk. Sistem tersebut dapat memengaruhi hak masyarakat, tenaga kerja, pajak, serta penguasaan hasil pertanian.
Pada 1823, pemerintah kolonial mengambil kebijakan yang mengakhiri banyak kontrak sewa tanah Eropa. Penyelesaian dan ganti rugi menimbulkan beban keuangan baru bagi istana.
Pungutan di jalan, pasar, dan gerbang juga menjadi sumber ketidakpuasan. Sebagian pungutan dijalankan melalui sistem penyewaan pajak kepada pihak swasta.
Ketegangan tidak hanya disebabkan satu kebijakan. Ia terbentuk melalui gabungan persoalan politik, ekonomi, tanah, budaya, agama, pergantian kekuasaan istana, serta campur tangan kolonial.
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubuwono III. Ia hidup dekat dengan lingkungan keagamaan dan lebih memilih tinggal di Tegalrejo daripada menetap sepenuhnya dalam kehidupan istana.
Diponegoro memiliki hubungan kuat dengan tokoh agama, masyarakat pedesaan, dan berbagai kelompok yang tidak puas terhadap keadaan politik serta ekonomi.
Ia menentang campur tangan kolonial, kemerosotan kewibawaan istana, beban terhadap masyarakat, dan perubahan yang dianggap merusak tatanan Jawa.
Namun, Diponegoro bukan tokoh yang dapat dipahami melalui satu identitas saja. Ia merupakan bangsawan Jawa, pemimpin politik, tokoh keagamaan, dan panglima perang dengan pandangan mengenai kekuasaan serta perubahan zaman.
Salah satu sumber penting mengenai dirinya adalah Babad Diponegoro, naskah autobiografis yang kemudian ditulis ketika ia berada dalam pengasingan. Naskah tersebut sangat berharga, tetapi seperti semua sumber, harus dibaca bersama arsip serta kesaksian lainnya.
Pecahnya Perang Jawa pada 1825
Pada Juli 1825, ketegangan di Tegalrejo berubah menjadi perang terbuka.
Salah satu peristiwa yang sering disebut sebagai pemicu adalah pemasangan tanda atau pembangunan jalan yang melewati tanah Diponegoro, termasuk kawasan yang dianggap memiliki nilai penting bagi keluarganya.
Namun, perang tidak terjadi hanya karena sebuah jalan atau patok.
Peristiwa tersebut menjadi pemicu dalam keadaan yang telah dipenuhi ketegangan:
- campur tangan Belanda terhadap urusan istana;
- beban pajak dan pungutan;
- persoalan penyewaan tanah;
- ketidakpuasan masyarakat desa;
- konflik di dalam elite kerajaan;
- perubahan ekonomi;
- serta harapan keagamaan dan politik mengenai datangnya pemimpin yang memulihkan keadilan.
Pasukan kolonial menyerang Tegalrejo. Diponegoro berhasil meninggalkan tempat tersebut dan membangun pusat perlawanan di Selarong.
Perlawanan kemudian menyebar di berbagai bagian Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Perang Gerilya dan Dukungan Masyarakat
Pada tahap awal perang, pasukan Diponegoro menggunakan pengetahuan medan, jaringan masyarakat, serangan bergerak, dan dukungan lokal.
Pegunungan, hutan, desa, dan jalur yang sulit menjadi bagian dari strategi perlawanan.
Tokoh agama, bangsawan, pemimpin lokal, petani, serta kelompok masyarakat lain bergabung dengan alasan yang berbeda-beda. Sebagian mendukung Diponegoro karena keyakinan agama, kesetiaan politik, kebencian terhadap pajak, penderitaan ekonomi, atau penolakan terhadap kekuasaan kolonial.
Tidak seluruh masyarakat Jawa berada di pihak yang sama. Sebagian penguasa dan pasukan lokal bekerja bersama Belanda. Perang saudara, persaingan elite, dan tekanan untuk memilih pihak membuat keadaan semakin rumit.
Perang Jawa bukan pertempuran sederhana antara dua kelompok yang sepenuhnya terpisah. Ia berlangsung di dalam masyarakat yang telah terpecah oleh kepentingan, kedudukan, dan pengalaman berbeda.
Strategi Benteng Belanda
Pada tahap awal, Belanda kesulitan menghentikan perlawanan Diponegoro.
Pemerintah kolonial kemudian mengembangkan strategi yang dikenal sebagai Benteng Stelsel. Benteng-benteng kecil dibangun dan dihubungkan dengan jalan untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.
Strategi tersebut memungkinkan Belanda:
- menguasai jalur pergerakan;
- menjaga wilayah yang telah direbut;
- memindahkan pasukan lebih cepat;
- memutus hubungan antarbasis perlawanan;
- mengawasi masyarakat;
- serta membatasi pasokan makanan dan informasi.
Pembangunan benteng menunjukkan bahwa infrastruktur dapat digunakan sebagai alat militer dan pengendalian wilayah.
Jalan yang mempercepat pergerakan barang juga dapat mempercepat gerakan pasukan. Benteng yang dikatakan memberikan keamanan juga dapat digunakan untuk mengawasi masyarakat.
Korban Perang Jawa
Perang Jawa menjadi salah satu konflik paling menghancurkan di Jawa pada abad ke-19.
Peter Carey menyebut estimasi sekitar 200.000 orang Jawa meninggal selama perang. Ribuan pasukan kolonial Eropa dan pasukan pribumi yang bekerja untuk Belanda juga tewas.
Jumlah tersebut merupakan estimasi sejarah, bukan hasil pencatatan lengkap setiap korban.
Kematian tidak hanya terjadi dalam pertempuran. Masyarakat menghadapi:
- kelaparan;
- penyakit;
- pembakaran serta kehancuran desa;
- hilangnya lahan pertanian;
- perpindahan;
- perampasan persediaan;
- dan gangguan terhadap perdagangan.
Perang juga menghabiskan keuangan pemerintah kolonial. Beban biaya besar tersebut menjadi salah satu konteks yang mendorong Belanda mencari sistem baru untuk memperoleh pendapatan dari Jawa setelah perang.
Perang belum selesai pada penghujung 1829. Penangkapan Diponegoro dan berakhirnya fase utama perang terjadi pada 1830, sehingga bagian akhirnya berada di batas antara Catatan ini dan periode berikutnya.
Kehidupan Masyarakat Nusantara
Di luar pusat perang dan pemerintahan kolonial, sebagian besar masyarakat Nusantara tetap menjalani kehidupan melalui pertanian, perikanan, pelayaran, perdagangan, peternakan, kerajinan, serta pemanfaatan hutan.
Beras penting di banyak daerah, tetapi bukan satu-satunya makanan. Sagu, jagung, singkong, umbi, hasil laut, dan tanaman lokal menjadi penopang kehidupan di berbagai pulau.
Jaringan perdagangan menghubungkan:
- Jawa;
- Sumatra;
- Kalimantan;
- Sulawesi;
- Maluku;
- Bali;
- Nusa Tenggara;
- Semenanjung Malaya;
- Filipina;
- Tiongkok;
- India;
- Timur Tengah;
- dan Eropa.
Masyarakat Nusantara memiliki pengetahuan mengenai musim, angin, arus laut, tanaman, pengobatan, pertanian, gunung, serta lingkungan.
Namun, banyak pengetahuan tersebut diwariskan melalui tradisi lisan dan tidak selalu masuk ke dalam arsip kolonial.
Catatan yang bertahan lebih sering menggambarkan kepentingan pemerintah, perdagangan, pajak, perang, dan elite. Suara petani, nelayan, perempuan, pekerja, masyarakat adat, serta korban bencana lebih sedikit tersimpan.
Jejak Alam dan Rekonstruksi Bencana Nusantara
Pada 1820–1830 belum terdapat jaringan pemantauan cuaca, gempa, dan gunung api modern di Nusantara.
Keadaan alam periode tersebut ditelusuri melalui:
- laporan pemerintahan;
- surat dan catatan perjalanan;
- naskah kerajaan;
- tradisi lisan;
- laporan pelabuhan;
- katalog gunung api;
- endapan abu;
- lapisan tanah;
- sedimen;
- karang;
- endapan tsunami;
- serta penelitian geologi modern.
Letusan Galunggung memiliki catatan sejarah dan bukti geologi yang cukup kuat untuk ditempatkan sebagai bencana utama periode ini.
Namun, bukan berarti hanya Galunggung yang mengalami aktivitas. Banyak kejadian alam lain mungkin tidak tercatat, belum ditemukan, atau tidak dapat ditentukan waktunya dengan tepat.
Katalog modern dapat memberikan perkiraan magnitudo gempa atau skala letusan masa lalu. Angka tersebut merupakan hasil rekonstruksi dan tidak boleh ditulis seolah-olah berasal dari alat pemantau pada saat kejadian.
Bumi mencatat peristiwa melalui batuan, abu, sedimen, dan perubahan bentang alam. Manusia hanya mampu membaca kembali sebagian kecil dari catatan tersebut.
Hubungan antara Mesin, Kolonialisme, dan Sumber Daya
Revolusi Industri sering diceritakan sebagai sejarah penemuan mesin. Namun, mesin tidak dapat bekerja tanpa energi dan bahan mentah.
Pabrik membutuhkan kapas. Mesin membutuhkan besi. Mesin uap membutuhkan batu bara. Kapal membutuhkan pelabuhan. Perdagangan membutuhkan wilayah aman menurut kepentingan penguasa.
Kebutuhan tersebut mendorong negara serta perusahaan memperluas pengaruh, menguasai jalur perdagangan, dan menekan wilayah penghasil bahan mentah.
Perjanjian Inggris–Belanda 1824 memperlihatkan bagaimana perdagangan dan geopolitik dapat membagi kawasan.
Perang di Palembang, Sumatra Barat, dan Jawa memperlihatkan bahwa perluasan kekuasaan kolonial tidak selalu berlangsung melalui kesepakatan damai.
Teknologi dapat mempercepat produksi dan perjalanan, tetapi kekuasaan menentukan siapa yang mengendalikan teknologi dan untuk tujuan apa teknologi digunakan.
Apa yang Berubah Selama 1820–1830?
Dalam dasawarsa ini:
- penduduk dunia terus bertambah melampaui satu miliar jiwa;
- Revolusi Industri berkembang;
- penggunaan batu bara meningkat di pusat-pusat industri;
- hubungan listrik dan magnet mulai dipahami;
- Faraday menunjukkan gerakan elektromagnetik;
- Babbage merancang mesin penghitung mekanis;
- Louis Braille mengembangkan sistem tulisan melalui sentuhan;
- Niépce menghasilkan salah satu citra fotografi permanen paling awal;
- jalur kereta api umum bertenaga uap dibuka;
- wabah kolera bergerak melalui jalur perdagangan;
- revolusi muncul di Eropa;
- Yunani berperang untuk memperoleh kemerdekaan;
- negara-negara baru tumbuh di Amerika Latin;
- Doktrin Monroe diumumkan;
- pemberontakan Desembris terjadi di Rusia;
- Belanda menguasai Palembang;
- Belanda ikut campur dalam Perang Padri;
- Galunggung meletus dan menghancurkan banyak desa;
- Britania dan Belanda membagi lingkungan pengaruh melalui Perjanjian London 1824;
- serta Perang Jawa meledak di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.
Perubahan ini memperlihatkan dunia yang semakin terhubung, tetapi hubungan tersebut tidak selalu membawa kebebasan.
Jalur perdagangan membawa barang dan penyakit. Mesin meningkatkan produksi sekaligus kebutuhan bahan mentah. Perjanjian menciptakan batas kolonial. Jalan serta benteng mempercepat komunikasi sekaligus pengawasan. Pertumbuhan ekonomi berjalan berdampingan dengan perbudakan, perang, dan pemiskinan.
Kesimpulan Catatan #003
Periode 1820–1830 adalah dasawarsa ketika kecepatan perubahan manusia mulai meningkat.
Kereta api menunjukkan bahwa perjalanan darat tidak selamanya bergantung pada tenaga manusia dan hewan. Eksperimen elektromagnetik membuka dasar bagi dunia listrik. Mesin penghitung, tulisan Braille, dan fotografi awal menunjukkan bahwa manusia sedang menemukan cara baru untuk menghitung, membaca, dan merekam.
Namun, kemajuan tersebut berlangsung dalam dunia yang masih dipenuhi ketimpangan.
Perbudakan menopang produksi bahan mentah. Kolonialisme memperluas penguasaan wilayah. Penyakit bergerak melalui jaringan perdagangan. Masyarakat tidak dilibatkan secara setara ketika Britania dan Belanda membagi pengaruh di Asia Tenggara.
Di Nusantara, Gunung Galunggung menewaskan ribuan manusia. Belanda memperluas kekuasaan di Palembang dan Sumatra Barat. Di Jawa, tekanan politik, ekonomi, budaya, dan agama berubah menjadi perang besar.
Perang Diponegoro memperlihatkan bahwa tanah bukan hanya sumber ekonomi. Tanah juga berkaitan dengan keluarga, leluhur, kekuasaan, kehormatan, kehidupan masyarakat, dan keyakinan.
Ketika penguasaan tanah berubah, seluruh tatanan kehidupan dapat ikut terguncang.
Analisis Penulis — Armando Sinaga
Catatan #001 memperlihatkan permulaan perubahan energi dan industri. Catatan #002 memperlihatkan bagaimana satu letusan gunung api dapat memengaruhi kehidupan dalam skala global.
Catatan #003 memperlihatkan dunia yang mulai mempercepat geraknya melalui mesin, tetapi juga mempercepat penguasaan manusia terhadap manusia lainnya.
Kereta api membuka kemungkinan perjalanan lebih cepat. Namun, jalan dan benteng di Jawa juga digunakan untuk mempersempit ruang perlawanan.
Perjanjian internasional dapat menghentikan persaingan antara dua negara Eropa. Namun, perjanjian yang sama dapat membagi wilayah masyarakat lain tanpa memberikan kedudukan setara kepada mereka.
Teknologi tidak memiliki satu akibat yang berdiri sendiri. Dampaknya bergantung pada siapa yang menguasainya, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang membayar biayanya, dan tujuan apa yang ingin dicapai.
Perang Diponegoro juga memperlihatkan bahwa perlawanan besar jarang lahir dari satu penyebab. Jalan yang melewati tanah Diponegoro menjadi pemicu, tetapi di belakangnya telah terkumpul persoalan pajak, sewa tanah, campur tangan kolonial, kekuasaan istana, agama, budaya, dan penderitaan masyarakat.
Dari periode ini muncul satu pertanyaan:
Ketika dunia bergerak semakin cepat melalui mesin dan perdagangan, apakah keadilan juga bergerak maju—atau justru kekuasaan memperoleh alat baru untuk memperluas kendalinya?
Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dari penemuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Jawabannya harus dilihat dari kehidupan manusia yang berada di balik angka produksi, jalur perdagangan, perang, dan perubahan wilayah.
Catatan Penelusuran
Catatan ini bukan daftar lengkap seluruh peristiwa yang terjadi di Bumi selama 1820–1830.
Masih banyak kehidupan, bencana, konflik, penemuan, wabah, serta perubahan lingkungan yang tidak pernah dicatat, belum terdigitalisasi, tersimpan dalam bahasa yang belum berhasil ditelusuri, atau belum dapat dibuktikan melalui sumber yang tersedia.
Angka penduduk dunia merupakan rekonstruksi historis karena tidak pernah ada sensus global serentak.
Angka korban letusan Galunggung dan Perang Jawa juga merupakan estimasi. Pencatatan penduduk, korban perang, kematian karena penyakit, dan perpindahan masyarakat belum dilakukan secara lengkap.
Istilah Indonesia digunakan hanya untuk menjelaskan hubungan wilayah masa lalu dengan negara Indonesia sekarang. Pada 1820–1830, negara Indonesia belum terbentuk dan Nusantara terdiri atas banyak kerajaan, kesultanan, masyarakat adat, serta wilayah dengan tingkat kekuasaan kolonial berbeda-beda.
Arsip kolonial lebih banyak mencatat pemerintah, militer, pajak, perdagangan, dan elite. Kehidupan petani, nelayan, perempuan, anak-anak, pekerja, masyarakat adat, serta korban perang dan bencana jauh lebih sedikit tercatat dari sudut pandang mereka sendiri.
Bumi dari Masa ke Masa merangkum gambaran umum berdasarkan arsip, naskah, penelitian ilmiah, katalog kebencanaan, dataset, dan sumber institusional yang masih dapat ditelusuri kembali.
Ketika informasi merupakan estimasi atau rekonstruksi, hal tersebut dinyatakan sebagai estimasi atau rekonstruksi. Ketika bukti belum menghasilkan kepastian, ketidakpastian tetap dipertahankan.
Apa yang tertulis dalam Catatan ini bukanlah seluruh sejarah dunia. Ini adalah bagian dari sejarah yang masih berhasil ditemukan, dikumpulkan, dan dicatat kembali agar jejaknya tidak ikut hilang oleh waktu.
Sebab kemajuan tidak hanya perlu diukur dari seberapa cepat mesin bergerak, tetapi juga dari apakah manusia menjadi lebih bebas, lebih aman, dan lebih dihargai kehidupannya.
Sumber dan Referensi
Seluruh sumber daring berikut diakses pada 2 September 2026.
-
Our World in Data. Population. Dataset penduduk historis dunia.
https://ourworldindata.org/grapher/population -
Our World in Data. Population Sources. Penjelasan sumber serta metode rekonstruksi penduduk historis.
https://ourworldindata.org/population-sources -
Our World in Data. Global Primary Energy Use by Source. Rekonstruksi penggunaan energi historis.
https://ourworldindata.org/grapher/global-primary-energy-by-source -
Science and Industry Museum. Who Were the Stephensons? Part II. Pembukaan Stockton and Darlington Railway serta perkembangan lokomotif.
https://blog.scienceandindustrymuseum.org.uk/the-stephensons-part-ii/ -
World Health Organization. Cholera. Penjelasan mengenai penyebab dan penularan kolera.
https://www.who.int/health-topics/cholera -
S. Swaroop. Cholera. World Health Organization. Sejarah penyebaran pandemi kolera pertama.
https://iris.who.int/bitstreams/86b1ff87-7d6c-4175-a020-516df3386eee/download -
R. Pollitzer. Cholera Studies. World Health Organization, 1954.
https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/265902/PMC2542143.pdf -
Christoph C. Raible dan rekan-rekan. Tambora 1815 as a Test Case for High Impact Volcanic Eruptions: Earth System Effects. Wiley Interdisciplinary Reviews: Climate Change, 2016.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6686350/ -
J. G. Anet dan rekan-rekan. Impact of Solar Versus Volcanic Activity Variations on Tropospheric Temperatures and Precipitation During the Dalton Minimum. Climate of the Past, 2014.
https://cp.copernicus.org/articles/10/921/2014/ -
Hisashi Hayakawa dan rekan-rekan. Thaddäus Derfflinger’s Sunspot Observations During 1802–1824: A Primary Reference to Understand the Dalton Minimum.
https://arxiv.org/abs/2001.02367 -
Smithsonian Institution, Global Volcanism Program. Galunggung. Riwayat letusan dan dampak letusan 1822.
https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=263140 -
Smithsonian Institution, Global Volcanism Program. Volcanic Activity Report on Galunggung.
https://volcano.si.edu/showreport.cfm?doi=10.5479%2Fsi.GVP.SEAN198204-263140 -
Oregon State University, Volcano World. Galunggung. Pembahasan letusan 1822, aliran piroklastik, lahar, korban, dan desa terdampak.
https://volcano.oregonstate.edu/galunggung -
Peter Carey. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. KITLV Press, 2007–2008. Versi akses terbuka OAPEN.
https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/34573 -
Peter Carey. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Brill.
https://brill.com/display/title/26673 -
UNESCO Memory of the World. Babad Diponegoro/Negarakretagama Collections. Informasi mengenai kedudukan Babad Diponegoro sebagai warisan dokumenter.
https://www.unesco.org/en/memory-world -
The National Archives, United Kingdom. Territory and Commerce, East Indies: Anglo-Dutch Treaty or Treaty of London, 1824. Referensi arsip FO 93/46/17.
https://images.nationalarchives.gov.uk/asset/68248/ -
National Library Board Singapore. Signing of the Anglo-Dutch Treaty of 1824.
https://www.nlb.gov.sg/main/article-detail?cmsuuid=5005d886-9c27-421e-a22d-44fb5965350c -
Peter Borschberg. Dutch Objections to British Singapore, 1819–1824: Law, Politics, Commerce and a Diplomatic Misstep. Journal of Southeast Asian Studies, 2019.
https://www.cambridge.org/core/journals/journal-of-southeast-asian-studies/article/dutch-objections-to-british-singapore-18191824-law-politics-commerce-and-a-diplomatic-misstep/7BD7A8372F2F106DE16D9DD3D192D658 -
National Heritage Board Singapore. Surrender of Sultan Mahmud Badaruddin II After the Dutch Expedition to Palembang, 1821.
https://www.roots.gov.sg/collection-landing/listing/1407976 -
Royal Museums Greenwich. Medal Commemorating the Expedition to Palembang, 1821.
https://www.rmg.co.uk/collections/objects/rmgc-object-37718 -
Where Are the Palembang Kraton Manuscripts? Archipel. Pembahasan konflik Belanda dengan Kesultanan Palembang dan perjalanan manuskrip keraton.
https://journals.openedition.org/archipel/8530 -
Endang Rochmiatun, Maryam, dan Nispa Gusela. The Impact of the Palembang War and Dutch Colonial Domination on Socio-Economic Changes in Palembang.
https://www.researchgate.net/publication/369219540 -
British Museum. Collecting and Empire. Latar kolonialisme dan pengumpulan benda serta naskah di Asia.
https://www.britishmuseum.org/visit/object-trails/collecting-and-empire-trail -
Nationaal Archief Nederland. Arsip pemerintahan dan koleksi Hindia Timur Belanda.
https://www.nationaalarchief.nl/
