PUSTAHA • ARTIKEL

Siapa Pendiri PUSTAHA.com? Mengenal Armando Sinaga dan Awal Berdirinya PUSTAHA

Dari perjalanan membangun berbagai proyek digital hingga lahirnya sebuah rumah karya dan arsip pengetahuan, inilah cerita Armando Sinaga di balik awal berdirinya PUSTAHA.

Dipublikasikan 31 Agustus 2026
Siapa Pendiri PUSTAHA.com? Mengenal Armando Sinaga dan Awal Berdirinya PUSTAHA

PUSTAHA dibangun dari sebuah perjalanan yang panjang, bukan dari sebuah perusahaan besar, ruang kerja mewah, ataupun tim teknologi yang beranggotakan banyak orang. Di balik awal berdirinya PUSTAHA terdapat seorang pekerja bernama Armando Sinaga, yang selama bertahun-tahun mencoba membangun berbagai rumah digital untuk gagasan dan karyanya sendiri.

Pada 31 Agustus 2026, PUSTAHA mulai dibangun. Tanggal tersebut bahkan belum dapat disebut sebagai hari peluncuran besar. Pada saat itu, website masih berada pada tahap awal pengerjaan: struktur dibangun, database mulai dihubungkan, halaman demi halaman disusun, dan konsepnya terus dikembangkan.

Namun justru dari titik sederhana itulah perjalanan PUSTAHA dimulai.

Siapa Pendiri PUSTAHA?

PUSTAHA didirikan oleh Armando Sinaga, yang juga membangun LIEDTEXTER.com sebagai ruang terpisah untuk karya yang berkaitan dengan lirik dan musik.

Armando berasal dari Dalan Baru, Parbuluan II, Tobbak Lumban Julu, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Indonesia.

Perjalanannya tidak dimulai dari latar belakang perusahaan teknologi ataupun industri media.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Sitellu Tali Urang Jehe Lae Ikan, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Satu Atap Lae Ikan, Sitellu Tali Urang Jehe, Pakpak Bharat, dan selanjutnya di SMA Negeri 1 Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Dalam perjalanan hidupnya, Armando pernah menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari bertani, menjadi kondektur, bekerja sebagai karyawan toko, hingga melakukan pekerjaan fisik seperti mengangkat barang.

Latar belakang tersebut berada cukup jauh dari gambaran umum seorang pendiri platform digital.

Namun PUSTAHA justru lahir dari perjalanan itu.

Sebelum PUSTAHA Ada

PUSTAHA bukan percobaan digital pertama Armando Sinaga.

Jauh sebelum nama PUSTAHA ditemukan, berbagai nama domain dan proyek digital pernah dicoba. Beberapa di antaranya adalah Sawaca.com, Sawacana.id, ArmandoSinaga.com, Exporid.com, Exporid.is, Indomora.com, dan Indomora.id, selain berbagai percobaan lainnya.

Sebagian proyek berkembang hanya dalam waktu tertentu. Sebagian berubah arah. Sebagian lainnya akhirnya berhenti.

Ada biaya yang telah dikeluarkan untuk domain, hosting, dan berbagai kebutuhan digital yang pada akhirnya tidak menghasilkan rumah karya permanen seperti yang diharapkan.

Bagi seseorang dengan penghasilan terbatas, biaya tersebut bukan sesuatu yang kecil.

Namun kegagalan dari satu nama ke nama lainnya perlahan memberikan satu pelajaran penting: persoalannya bukan sekadar menemukan domain yang terdengar menarik.

Yang perlu ditemukan adalah identitas.

Dari LIEDTEXTER Menuju Gagasan yang Lebih Besar

Sebelum PUSTAHA, Armando membangun LIEDTEXTER.com sebagai tempat untuk mempublikasikan dan mengembangkan karya yang berkaitan dengan tulisan, lirik, dan musik.

LIEDTEXTER memiliki identitas yang jelas.

Namun seiring berkembangnya gagasan, muncul sebuah keterbatasan alami. Nama dan konsep LIEDTEXTER sangat kuat untuk dunia lirik dan musik, tetapi tidak selalu dapat mewakili seluruh hal yang ingin ditulis dan disimpan.

Bagaimana dengan sejarah?

Bagaimana dengan berita dan informasi?

Bagaimana dengan budaya?

Bagaimana dengan sebuah desa yang jarang ditulis media?

Bagaimana dengan foto, dokumentasi, pengalaman, pemikiran, atau sebuah peristiwa kecil yang suatu hari mungkin memiliki nilai sejarah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya mengarah pada kebutuhan akan rumah yang jauh lebih luas.

Dari sanalah pencarian sebuah nama baru dimulai.

Mengapa Namanya PUSTAHA?

Nama PUSTAHA dipilih bukan sekadar karena terdengar unik.

Penelusuran terhadap istilah tersebut membawa pada kata pustaha yang dikenal dalam tradisi Batak dan berkaitan dengan naskah atau kitab tradisional. Secara konsep, nama itu kemudian dikembangkan dalam PUSTAHA sebagai sebuah pustaka—ruang penyimpanan pengetahuan, tulisan, karya, dan dokumentasi.

Nama tersebut terasa mampu menggambarkan gagasan yang selama ini dicari.

Jika LIEDTEXTER menjadi rumah khusus bagi karya lirik dan musik, PUSTAHA dapat menjadi rumah yang jauh lebih luas.

Sebuah tempat untuk tulisan.

Sebuah tempat untuk karya.

Sebuah tempat untuk informasi.

Sebuah tempat untuk dokumentasi.

Dan sebuah tempat untuk hal-hal yang dianggap layak disimpan agar tidak begitu saja hilang bersama berjalannya waktu.

Bagi pendirinya, PUSTAHA bukan sekadar nama sebuah website. PUSTAHA adalah usaha untuk membangun rumah digital bagi sesuatu yang ingin ditinggalkan, ditemukan kembali, dan diwariskan.

PUSTAHA Tidak Dibatasi oleh Satu Daerah

Walaupun nama PUSTAHA memiliki hubungan yang kuat dengan akar budaya Batak dan pendirinya berasal dari Sumatera Utara, PUSTAHA tidak dibangun sebagai platform yang hanya membahas satu daerah, suku, atau kebudayaan.

Cakupannya dirancang seluas kemampuan platform ini untuk berkembang.

PUSTAHA dapat memuat pengetahuan lokal, tetapi juga dapat berbicara mengenai dunia.

Ia dapat menyimpan cerita sebuah desa, tetapi juga membahas peristiwa internasional.

Ia dapat mendokumentasikan musik, tetapi juga teknologi.

Ia dapat menerbitkan sejarah, budaya, pengetahuan, informasi umum, karya pribadi, maupun perkembangan yang sedang terjadi.

Tujuan jangka panjangnya tidak dibatasi oleh wilayah geografis tertentu.

Dari Indonesia, PUSTAHA ingin membangun sebuah ruang yang pada akhirnya dapat berguna bagi pembaca di mana pun mereka berada.

Mengapa PUSTAHA Didirikan?

Tidak ada satu jawaban sederhana untuk pertanyaan ini.

PUSTAHA lahir dari banyak hal sekaligus: keresahan, pengalaman hidup, kegagalan membangun proyek sebelumnya, kecintaan terhadap karya, keinginan untuk menulis, keterbatasan ekonomi, serta kesadaran bahwa tidak semua hal akan sempat dicatat oleh sejarah ataupun media besar.

Media memiliki keterbatasan.

Tidak semua desa akan diberitakan.

Tidak semua perjalanan seseorang akan ditulis.

Tidak semua karya akan ditemukan.

Tidak semua peristiwa kecil dianggap penting ketika peristiwa itu sedang terjadi.

Padahal sesuatu yang terlihat kecil hari ini mungkin memiliki arti yang berbeda puluhan tahun kemudian.

Karena itulah PUSTAHA ingin memberikan ruang bagi hal-hal yang dianggap layak untuk didokumentasikan.

Menulis Apa yang Tidak Sempat Ditulis

Salah satu gagasan penting di balik PUSTAHA adalah sederhana: tidak semua yang layak diingat sempat ditulis.

Sejarah manusia dipenuhi oleh ruang kosong.

Ada cerita keluarga yang hilang karena tidak pernah dicatat. Ada budaya yang perlahan berubah. Ada bangunan yang menghilang tanpa dokumentasi. Ada orang-orang biasa yang menjalani kehidupan luar biasa tetapi tidak pernah masuk ke halaman media.

PUSTAHA tidak mengklaim dapat mengisi seluruh ruang kosong tersebut.

Namun platform ini dapat mencoba menyimpan sebagian kecil darinya.

Satu tulisan demi satu tulisan.

Satu foto demi satu foto.

Satu karya demi satu karya.

Dibangun Secara Mandiri

Pada awal berdirinya, PUSTAHA tidak berada di bawah perusahaan tertentu dan tidak dibangun melalui kerja sama dengan perusahaan media ataupun investor.

PUSTAHA merupakan proyek independen yang dibangun oleh pendirinya sendiri.

Kondisi ini tentu memiliki keterbatasan.

Media besar dapat memiliki reporter, editor, fotografer, pengembang, peneliti, dan berbagai sumber daya lainnya. PUSTAHA pada tahap awal tidak memiliki struktur sebesar itu.

Karena itu, publikasinya tidak ditujukan untuk mengejar kecepatan secara agresif.

Sesuatu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu: apakah informasi tersebut perlu ditulis, apakah memiliki nilai dokumentasi, dan apakah sesuai untuk disimpan di dalam PUSTAHA.

Keterbatasan tersebut sekaligus membentuk karakter awal platform ini.

Dibangun dengan Bantuan Teknologi dan AI

PUSTAHA juga merupakan produk dari zamannya.

Pada 2026, seseorang tidak selalu harus memiliki tim teknologi besar untuk mulai membangun sebuah platform digital. Perkembangan perangkat lunak dan kecerdasan buatan membuka kesempatan bagi individu untuk mengerjakan sesuatu yang dahulu membutuhkan sumber daya jauh lebih besar.

Armando Sinaga secara terbuka mengakui bahwa pembangunan PUSTAHA dilakukan dengan bantuan ChatGPT sebagai pendamping dalam proses teknis dan pengembangan.

Mulai dari penyusunan fondasi website, pemecahan masalah kode, pengembangan struktur database, hingga penyempurnaan berbagai bagian tampilan, teknologi AI digunakan sebagai alat bantu selama proses pembangunan.

Hal tersebut tidak disembunyikan karena transparansi merupakan bagian dari cerita PUSTAHA.

AI digunakan sebagai alat, sementara keputusan mengenai apa yang ingin dibangun, karya yang diterbitkan, arah platform, dan tanggung jawab terhadap publikasi tetap berada pada manusia yang mengelolanya.

PUSTAHA tidak dirancang untuk menciptakan cerita palsu mengenai bagaimana dirinya dibangun.

Karya Pribadi dan Informasi Umum Harus Dibedakan

PUSTAHA memiliki dua wilayah yang perlu dibedakan dengan jelas.

Pertama adalah karya original Armando Sinaga. Untuk karya yang dibuat dan diterbitkan sendiri, sumber dan kepemilikannya dapat dijelaskan secara langsung.

Kedua adalah informasi mengenai dunia di luar PUSTAHA.

Untuk berita, peristiwa, sejarah, ilmu pengetahuan, dan informasi umum lainnya, PUSTAHA harus bergantung pada sumber, dokumentasi, referensi, dan proses verifikasi yang tersedia.

Karena PUSTAHA pada awalnya dikelola secara mandiri, kemungkinan kesalahan tetap ada.

Oleh sebab itu, koreksi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Ketika ditemukan kekeliruan yang dapat dibuktikan, informasi seharusnya diperbaiki.

Tidak Dibangun untuk Berbohong

Salah satu prinsip yang ingin dibawa sejak awal adalah bahwa PUSTAHA tidak didesain untuk berbohong.

Prinsip tersebut tidak berarti bahwa PUSTAHA akan selalu sempurna.

Kesalahan penulisan dapat terjadi. Sumber dapat berkembang. Informasi baru dapat mengubah pemahaman terhadap sebuah peristiwa.

Yang penting adalah bagaimana kesalahan diperlakukan.

Informasi faktual harus sebisa mungkin memiliki dasar yang dapat diperiksa. Pendapat harus dapat dibedakan dari fakta. Karya original harus disebut sebagai karya. Bantuan teknologi tidak perlu disembunyikan.

Transparansi semacam inilah yang diharapkan menjadi salah satu fondasi PUSTAHA.

Dari Keterbatasan Menuju Sebuah Rumah Digital

Membangun berbagai proyek digital membutuhkan biaya.

Domain harus dibeli. Infrastruktur membutuhkan biaya. Waktu harus disediakan. Kesalahan terkadang berarti harus memulai kembali.

Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, keputusan untuk terus mengeluarkan sebagian penghasilan demi proyek digital tidak selalu dipahami oleh orang lain.

Bahkan ada teman yang menganggap perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang terlalu nekat.

Namun setelah berbagai nama dan proyek datang dan pergi, pengalaman itu justru menjadi bagian penting dari kelahiran PUSTAHA.

Setiap kegagalan membantu memperjelas apa yang sebenarnya dicari.

Bukan sekadar sebuah website.

Bukan sekadar sebuah nama domain.

Tetapi rumah.

Rumah bagi karya yang sudah dibuat.

Rumah bagi tulisan yang belum dibuat.

Dan, apabila mampu bertahan cukup lama, rumah bagi sesuatu yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

PUSTAHA sebagai Warisan Digital

Ambisi jangka panjang PUSTAHA jauh lebih besar daripada sekadar menambah jumlah artikel.

Pendiri PUSTAHA berharap platform ini suatu hari dapat menjadi tempat yang direkomendasikan ketika seseorang ingin mencari atau menelusuri sesuatu yang memiliki nilai dokumentasi dan sejarah.

Namun terdapat tujuan yang lebih personal.

PUSTAHA juga ingin menjadi jejak.

Suatu hari, generasi setelah pendirinya mungkin dapat membuka halaman-halaman lama dan melihat apa yang pernah dipikirkan, dibuat, diperjuangkan, dan didokumentasikan oleh orang yang hidup sebelum mereka.

Mereka tidak hanya mendengar cerita bahwa seseorang pernah mencoba.

Mereka dapat melihat hasil percobaannya.

Mereka dapat membaca tulisannya.

Mereka dapat menemukan karyanya.

Dan mereka dapat mengetahui bahwa di suatu titik dalam sejarah keluarganya, pernah ada seseorang yang mencoba membangun sesuatu meskipun dimulai dengan kemampuan yang sangat terbatas.

31 Agustus 2026: Sebuah Titik Awal

Ketika tanggal 31 Agustus 2026 dicatat sebagai awal pembangunan PUSTAHA, platform ini belum menjadi sebuah pustaka besar.

Belum ada ribuan artikel.

Belum ada organisasi besar.

Belum ada jaringan koresponden di berbagai negara.

Bahkan banyak bagian masih dalam proses pengerjaan.

Tetapi hampir semua sesuatu yang besar pernah berada dalam kondisi seperti itu.

Ada hari ketika semuanya masih kosong.

Ada halaman pertama.

Ada artikel pertama.

Ada database yang baru mulai diisi.

Dan ada seseorang di depan komputer yang belum mengetahui sejauh apa sesuatu yang sedang dibangunnya akan bertahan.

Tanggal tersebut karena itu tidak dicatat sebagai perayaan keberhasilan.

Ia dicatat sebagai titik awal.

Apa yang Ingin Ditinggalkan Armando Sinaga?

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai PUSTAHA kembali kepada alasan paling mendasar mengapa manusia menulis.

Manusia menulis karena ingatan memiliki batas.

Manusia mendokumentasikan karena waktu terus berjalan.

Dan manusia menciptakan karya karena ada sesuatu yang ingin ditinggalkan setelah sebuah masa berakhir.

Bagi Armando Sinaga, PUSTAHA menjadi tempat untuk melakukan ketiganya.

Menyimpan karya.

Mendokumentasikan sesuatu yang dianggap penting.

Dan menulis sebagian hal yang mungkin tidak sempat ditulis oleh orang lain.

PUSTAHA mungkin akan berubah berkali-kali setelah artikel ini diterbitkan. Teknologinya dapat berubah. Desainnya dapat berkembang. Koleksinya dapat menjadi jauh lebih besar.

Tetapi alasan awal pendiriannya diharapkan tetap dapat ditemukan di sini.

Perjalanan PUSTAHA Baru Dimulai

PUSTAHA tidak lahir dari sebuah kisah keberhasilan yang sudah selesai.

Justru sebaliknya.

Kisahnya sedang dimulai.

Tidak ada kepastian bahwa setiap rencana akan berhasil. Tidak ada jaminan bahwa setiap mimpi akan tercapai. Tetapi perjalanan panjang sebelum lahirnya PUSTAHA telah memberikan satu alasan untuk terus mencoba.

Banyak proyek sebelumnya telah datang dan pergi.

Kali ini, harapannya sederhana sekaligus sangat besar:

semoga PUSTAHA menjadi rumah yang bertahan.

Rumah bagi karya Armando Sinaga.

Rumah bagi pengetahuan dan dokumentasi.

Rumah bagi cerita kecil yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Dan apabila waktu mengizinkannya, sebuah pustaka digital yang suatu hari dapat dibuka oleh generasi berikutnya dan berkata:

“Seseorang pernah memulai ini pada 31 Agustus 2026.”

Siapa Pendiri PUSTAHA? Mengenal Armando Sinaga | PUSTAHA