PUSTAHA • ARTIKEL

Patahan Sumatera dan Segmen-Segmennya: Dari Aceh hingga Lampung

Menelusuri pembagian Sesar Besar Sumatera menjadi segmen-segmen aktif, lokasi setiap segmen dari bagian utara hingga selatan Sumatera, karakter pergerakannya, serta mengapa segmentasi penting untuk memahami sumber gempa di sepanjang pulau.

Dipublikasikan 3 September 2026
Patahan Sumatera dan Segmen-Segmennya: Dari Aceh hingga Lampung

Patahan Sumatera Bukan Satu Garis Patahan Tunggal

Sesar Besar Sumatera atau Great Sumatran Fault membentang memanjang mengikuti Pulau Sumatera. Namun gambaran sebuah garis panjang pada peta dapat menimbulkan kesan seolah-olah seluruh sistem tersebut merupakan satu patahan sederhana yang tidak terputus.

Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Sistem Sesar Sumatera memiliki perubahan arah, percabangan, step-over, tekukan, dan struktur lain yang membuatnya dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang disebut segmen.

Segmentasi menjadi sangat penting dalam penelitian gempa karena bagian-bagian sesar dapat memiliki geometri, panjang, laju pergeseran, dan sejarah aktivitas yang berbeda.

Salah satu penelitian yang menjadi rujukan penting adalah karya Kerry Sieh dan Danny Natawidjaja pada tahun 2000, "Neotectonics of the Sumatran Fault, Indonesia".

Dalam pemetaan tersebut, Sesar Sumatera digambarkan sebagai sistem yang sangat tersegmentasi. Kerangka segmentasi ini kemudian banyak digunakan dalam literatur mengenai tektonik Sumatera.

Namun perlu dipahami sejak awal: pembagian segmen bukan sesuatu yang harus dianggap mutlak dan tidak dapat berubah.

Semakin banyak data tersedia, para peneliti dapat mengusulkan batas atau pengelompokan segmen yang berbeda.

Mengapa Jumlah Segmen Bisa Berbeda?

Ini merupakan salah satu bagian penting dalam memahami literatur Sesar Sumatera.

Pembaca dapat menemukan sumber yang menyebut 19 segmen, penelitian lain yang membentuk 16 segmen berdasarkan pengelompokan seismisitas, serta pemetaan yang memperlihatkan struktur tambahan atau subdivisi tertentu.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu penelitian keliru.

Metode yang digunakan dapat berbeda.

Segmentasi dapat ditentukan berdasarkan antara lain:

  • geometri jejak sesar;
  • perubahan arah patahan;
  • step-over;
  • bentang alam;
  • distribusi gempa;
  • rupture gempa historis;
  • data geodesi;
  • serta interpretasi struktur geologi.

Sebagai contoh, penelitian Burton dan Hall tahun 2014 menggunakan pengelompokan seismisitas dan menghasilkan model 16 segmen seismogenik. Dalam model tersebut, beberapa segmen pada pembagian sebelumnya digabungkan.

Sementara itu, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang disusun PuSGeN melakukan pemutakhiran terhadap jalur dan geometri sesar, segmentasi, sumber gempa aktif, skenario rupture, magnitudo potensial, serta slip rate dalam model sumber gempa nasional.

Karena itu PUSTAHA menggunakan pembagian klasik sebagai kerangka untuk mengenal nama-nama utama Sesar Sumatera, bukan sebagai pernyataan bahwa hanya terdapat satu pembagian segmentasi yang benar untuk semua kepentingan ilmiah.

Menelusuri Sesar Sumatera dari Utara ke Selatan

Dalam kerangka segmentasi klasik yang banyak dirujuk, perjalanan sepanjang sistem Sesar Sumatera membawa kita dari Aceh di bagian utara, melewati kawasan Pegunungan Barisan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan hingga Lampung dan kawasan Selat Sunda.

Berikut adalah pengenalan terhadap bagian-bagian utamanya.

1. Segmen Seulimeum

Segmen Seulimeum berada di bagian utara sistem Sesar Sumatera, di wilayah Aceh.

Nama Seulimeum telah lama digunakan dalam penelitian mengenai struktur Sesar Sumatera di kawasan tersebut.

Penelitian modern menunjukkan bahwa geometri patahan di Aceh tidak sesederhana satu garis. Segmen Seulimeum dan sistem sesar di sekitarnya menjadi objek penelitian geologi, geofisika, seismologi, dan magnetotelurik.

Wilayah Aceh juga memperlihatkan dengan jelas bahwa pembahasan mengenai sebuah "segmen" tidak selalu berarti hanya terdapat satu jejak patahan sederhana di permukaan.

2. Segmen Aceh

Segmen Aceh merupakan bagian penting lainnya dari sistem Sesar Sumatera di ujung utara Pulau Sumatera.

Dalam berbagai penelitian, Segmen Aceh dibahas bersama Segmen Seulimeum karena keduanya merupakan struktur utama sistem patahan di wilayah Aceh.

Penelitian terhadap kedua segmen penting dilakukan karena jalurnya berada relatif dekat dengan kawasan berpenduduk.

Namun keberadaan sesar aktif tidak berarti sebuah wilayah dapat dinyatakan akan mengalami gempa pada waktu tertentu.

Pemetaan sesar digunakan untuk memahami sumber bahaya dan mendukung mitigasi, bukan menentukan tanggal gempa berikutnya.

3. Kawasan Batee

Literatur mengenai Sesar Sumatera juga mengenal struktur atau bagian yang disebut Batee di Aceh.

Batee menjadi contoh mengapa menghitung jumlah segmen Sesar Sumatera tidak selalu sesederhana membaca satu daftar.

Dalam pemetaan geometris tertentu, Batee diperlihatkan sebagai bagian tersendiri dari sistem di Sumatera bagian utara, sementara berbagai daftar ringkas "19 segmen" dapat memperlakukannya secara berbeda.

Karena itu PUSTAHA mempertahankan nama Batee dalam pembahasan ini sebagai struktur yang dikenal dalam literatur, tanpa memaksakan bahwa semua model segmentasi harus memberikan status yang sama kepadanya.

4. Segmen Tripa

Bergerak ke arah selatan, sistem Sesar Sumatera memasuki kawasan Segmen Tripa.

Segmen ini merupakan salah satu bagian panjang sistem patahan di Sumatera bagian utara.

Seperti segmen lainnya, penentuan batas Tripa bergantung pada interpretasi geometri dan struktur sesar yang digunakan dalam penelitian.

5. Segmen Renun

Segmen Renun berada lebih jauh ke selatan dan menjadi salah satu bagian penting sistem patahan di kawasan Sumatera Utara.

Dalam penelitian klasik, Renun termasuk salah satu segmen panjang Sesar Sumatera.

Kawasan ini juga menunjukkan hubungan spasial yang menarik antara jalur patahan, Pegunungan Barisan, dan lingkungan vulkanik Sumatera Utara.

Namun kedekatan antara patahan dan sistem vulkanik tidak berarti bahwa keduanya merupakan proses yang sama.

Keduanya berkembang dalam lingkungan tektonik regional yang saling berkaitan tetapi memiliki mekanisme masing-masing.

6. Segmen Toru

Selanjutnya terdapat Segmen Toru.

Kawasan Toru dan Tarutung merupakan salah satu bagian Sesar Sumatera yang menarik secara struktural karena penelitian seismologi menemukan kompleksitas patahan dan struktur di kawasan tersebut.

Hal ini kembali menunjukkan bahwa nama sebuah segmen merupakan penyederhanaan untuk membantu memahami sistem yang pada kenyataannya dapat terdiri atas beberapa struktur.

7. Segmen Angkola

Segmen Angkola berada di kawasan Sumatera Utara dan mengikuti jalur utama Sesar Sumatera ke arah tenggara.

Nama Angkola dikenal luas dalam pembagian klasik Sesar Sumatera.

Kajian mengenai segmen seperti Angkola penting karena membantu peneliti memahami bagaimana deformasi geser didistribusikan sepanjang bagian tengah-utara sistem patahan.

8. Segmen Barumun

Bergerak ke selatan terdapat Segmen Barumun.

Segmen ini merupakan bagian dari transisi sistem patahan menuju kawasan Sumatera Barat.

Perubahan geometri sepanjang wilayah Barumun dan segmen di sekitarnya menjadi salah satu alasan mengapa batas segmentasi dapat berbeda ketika dianalisis menggunakan metode yang berbeda.

9. Segmen Sumpur

Segmen Sumpur merupakan salah satu bagian Sesar Sumatera di kawasan sekitar peralihan Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Dibanding beberapa segmen yang sangat panjang, Sumpur relatif lebih pendek dalam kerangka segmentasi klasik.

Panjang sebuah segmen penting dalam kajian sumber gempa, tetapi panjang saja tidak cukup untuk menentukan bagaimana gempa masa depan akan terjadi.

Geometri, kedalaman, slip rate, kondisi tegangan, interaksi dengan struktur sekitar, dan data paleoseismologi juga harus dipertimbangkan.

10. Segmen Sianok

Segmen Sianok berada di Sumatera Barat dan berkaitan dengan kawasan sekitar Bukittinggi serta Ngarai Sianok.

Jejak geomorfologi sesar di kawasan ini menjadi salah satu contoh bagaimana pergerakan tektonik dapat tercermin pada bentang alam.

Penelitian geofisika modern terus mempelajari struktur bawah permukaan Segmen Sianok.

Beberapa penelitian juga menghasilkan estimasi slip rate untuk kawasan ini, tetapi nilainya bergantung pada metode dan model yang digunakan.

Karena itu angka slip rate sebaiknya selalu disertai sumber dan ketidakpastiannya, bukan diperlakukan sebagai angka tunggal yang berlaku mutlak.

11. Segmen Sumani

Ke arah selatan dari kawasan Sianok terdapat Segmen Sumani.

Segmen ini berada di wilayah Sumatera Barat dan merupakan bagian penting sistem patahan di sekitar kawasan Solok dan sekitarnya.

Danau, lembah, gunung api, serta jejak sesar di Sumatera Barat membentuk bentang alam yang sangat kompleks.

Karena banyak penduduk tinggal di sekitar sistem tersebut, penelitian sumber gempa di Sumatera Barat memiliki arti penting bagi mitigasi.

12. Segmen Suliti

Segmen Suliti melanjutkan jalur sistem patahan ke arah selatan.

Dalam pembagian geometris klasik, Suliti dipisahkan dari segmen tetangganya berdasarkan karakter struktur sesar.

Namun penelitian yang menggunakan clustering seismisitas dapat menggabungkan beberapa bagian yang sebelumnya dianggap terpisah.

Ini merupakan contoh nyata bahwa "segmen" adalah model ilmiah untuk memahami perilaku sebuah sistem patahan kompleks.

13. Segmen Siulak

Memasuki kawasan sekitar Kerinci terdapat Segmen Siulak.

Wilayah Kerinci memiliki hubungan spasial yang sangat menarik antara patahan aktif, pegunungan, cekungan, dan sistem vulkanik.

Sekali lagi, kedekatan tersebut tidak berarti bahwa setiap gempa pada patahan berkaitan langsung dengan aktivitas gunung api.

Sumber gempa harus ditentukan berdasarkan data seismologi dan tektonik.

14. Segmen Dikit

Di sebelah selatan Siulak dikenal Segmen Dikit.

Dalam beberapa model yang menggunakan pola seismisitas, bagian Dikit dapat digabungkan dengan bagian lain yang lebih panjang.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan data dapat menghasilkan model segmentasi alternatif.

15. Segmen Ketaun

Lebih jauh ke selatan sistem memasuki wilayah Bengkulu dan terdapat Segmen Ketaun, yang dalam berbagai literatur juga dapat dijumpai dengan variasi ejaan seperti Ketahun.

Perbedaan ejaan nama geografis juga perlu diperhatikan ketika membandingkan publikasi lama dengan dokumen modern.

Segmen ini tetap merupakan bagian dari jalur utama Sesar Sumatera yang mengikuti Pegunungan Barisan.

16. Segmen Musi

Segmen Musi merupakan bagian berikutnya dari sistem Sesar Sumatera.

Namanya berkaitan dengan kawasan aliran sungai dan bentang alam Sumatera bagian selatan.

Dalam kajian sesar aktif, nama geografis sering digunakan untuk membantu mengidentifikasi bagian tertentu dari sistem patahan.

Namun batas geologinya tidak selalu sama dengan batas administratif provinsi atau kabupaten.

17. Segmen Manna

Segmen Manna berada lebih jauh ke selatan di kawasan Bengkulu dan sekitarnya.

Seperti bagian lain Sesar Sumatera, Manna merupakan bagian dari sistem sesar geser menganan yang mengakomodasi komponen deformasi tektonik Sumatera.

Penelitian mengenai sejarah gempa dan jejak rupture lama menjadi penting untuk memahami perilaku jangka panjang bagian ini.

18. Segmen Kumering

Memasuki Sumatera bagian selatan terdapat Segmen Kumering.

Nama ini juga sering ditulis Komering dalam berbagai sumber.

Perbedaan transliterasi atau penamaan tersebut tidak selalu menunjukkan struktur yang berbeda.

Segmen Kumering berada dalam sistem patahan yang berlanjut menuju kawasan Lampung.

Wilayah Sumatera bagian selatan memperlihatkan bahwa Sesar Sumatera tetap memiliki segmentasi dan perubahan geometri hingga mendekati Selat Sunda.

19. Segmen Semangko

Segmen Semangko merupakan salah satu nama yang paling dikenal masyarakat ketika membicarakan Patahan Sumatera.

Segmen ini berada di kawasan Lampung dan berhubungan secara geografis dengan Teluk Semangka.

Karena popularitas nama tersebut, keseluruhan Great Sumatran Fault terkadang disebut "Sesar Semangko".

Namun dalam konteks ilmiah yang lebih rinci, istilah tersebut perlu digunakan dengan hati-hati.

Semangko dapat merujuk pada bagian tertentu dari sistem, sedangkan Sesar Besar Sumatera merupakan sistem yang jauh lebih panjang dan melintasi hampir seluruh Pulau Sumatera.

Bagaimana dengan Segmen Sunda?

Pada ujung tenggara sistem, literatur ilmiah juga mengenal bagian yang disebut Sunda.

Penelitian Sieh dan Natawidjaja memperlihatkan struktur ini menuju kawasan Selat Sunda.

Dalam penelitian segmentasi berikutnya, kawasan Sunda bahkan dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian berdasarkan pola seismisitas.

Hal ini menjadi pengingat bahwa sistem Sesar Sumatera tidak berhenti begitu saja pada sebuah batas administratif.

Hubungannya dengan tektonik Selat Sunda dan kawasan sekitarnya jauh lebih kompleks dan layak mendapatkan pembahasan tersendiri.

Jadi Ada 19, 20, atau Jumlah Lain?

Jawabannya bergantung pada definisi dan model segmentasi yang digunakan.

Kerangka 19 segmen sangat luas digunakan sebagai referensi untuk mengenal Sesar Sumatera.

Pemetaan geometris dalam penelitian klasik juga memperlihatkan struktur tambahan seperti Batee dan Sunda sehingga pembaca dapat menemukan penyajian jumlah yang berbeda.

Kemudian Burton dan Hall pada 2014 menggunakan distribusi seismisitas untuk menghasilkan 16 segmen seismogenik.

Sementara pemetaan nasional Indonesia terus diperbarui.

Karena itu pertanyaan yang secara ilmiah lebih berguna bukan sekadar:

"Berapa jumlah Patahan Sumatera?"

melainkan:

"Model segmentasi mana yang digunakan, berdasarkan data apa, dan untuk tujuan analisis apa?"

Pendekatan tersebut menghindarkan kita dari memperlakukan sistem geologi yang kompleks sebagai daftar yang tidak dapat berubah.

Apakah Batas Segmen Dapat Menghentikan Gempa?

Batas segmen dapat memengaruhi bagaimana rupture berkembang, tetapi tidak boleh dianggap sebagai tembok mutlak.

Step-over, perubahan arah sesar, percabangan, dan perubahan geometri dapat memengaruhi propagasi rupture.

Namun gempa besar merupakan proses fisika yang kompleks.

Dalam berbagai sistem patahan di dunia, rupture dapat berhenti pada batas struktur tertentu, tetapi dalam kondisi lain dapat melewati beberapa bagian sistem.

Karena itu segmentasi digunakan sebagai salah satu unsur dalam pemodelan bahaya gempa, bukan sebagai jaminan bahwa gempa akan selalu mengikuti satu segmen secara sempurna.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 bahkan memasukkan kajian skenario rupture sebagai bagian dari pemutakhiran model sumber gempa nasional.

Mengapa Slip Rate Setiap Segmen Berbeda?

Sesar Sumatera mengakomodasi deformasi tektonik sepanjang pulau yang sangat panjang.

Geometri sistem, kondisi regional, distribusi deformasi, dan hubungan dengan struktur lainnya berubah dari utara ke selatan.

Karena itu laju pergeseran tidak harus sama pada setiap bagian.

Pengukuran slip rate dapat dilakukan menggunakan berbagai pendekatan, antara lain:

  • pengukuran geologi terhadap fitur yang tergeser;
  • penentuan umur bentang alam;
  • GPS/GNSS;
  • geodesi;
  • paleoseismologi;
  • dan pemodelan tektonik.

Metode berbeda dapat menghasilkan estimasi yang berbeda beserta rentang ketidakpastiannya.

PUSTAHA karena itu tidak menggunakan satu angka slip rate untuk mewakili seluruh Sesar Sumatera.

Segmen Bukan Batas Administratif

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa patahan tidak mengikuti batas kabupaten, provinsi, atau negara.

Nama segmen biasanya diambil dari sungai, lembah, kota, gunung, atau unsur geografis yang berada di dekatnya.

Satu segmen dapat melintasi beberapa wilayah administratif.

Sebaliknya, sebuah kabupaten atau provinsi dapat berada dekat dengan lebih dari satu struktur tektonik.

Karena itu pernyataan mengenai bahaya gempa suatu daerah harus didasarkan pada peta bahaya dan kajian resmi, bukan hanya berdasarkan nama segmen terdekat.

Pandangan PUSTAHA: Mengenal Patahan Bukan untuk Menakut-nakuti

Keberadaan begitu banyak segmen aktif di Sumatera dapat terdengar mengkhawatirkan apabila informasi disampaikan tanpa konteks.

Namun bagi PUSTAHA, tujuan mempelajari patahan justru sebaliknya.

Pengetahuan mengubah sesuatu yang tidak diketahui menjadi sesuatu yang dapat dipelajari.

Kita mungkin tidak dapat menentukan kapan gempa berikutnya akan terjadi, tetapi kita dapat mengetahui bahwa suatu wilayah berada dalam lingkungan tektonik aktif.

Dari pengetahuan tersebut masyarakat, ilmuwan, pemerintah, perencana kota, dan pembangun infrastruktur dapat meningkatkan kesiapsiagaan.

Pertanyaan yang paling bermanfaat bukan:

"Kapan patahan ini akan gempa?"

melainkan:

"Bagaimana kita mempersiapkan masyarakat dan infrastruktur jika suatu hari gempa kembali terjadi?"

Gempa bumi adalah proses alam.

Besarnya dampak terhadap manusia sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita membangun, merencanakan, mempersiapkan diri, dan meresponsnya.

Dari Patahan Daratan Menuju Laut Barat Sumatera

Setelah menelusuri segmentasi Sesar Besar Sumatera, masih ada bagian sangat besar dari sistem tektonik Sumatera yang belum kita bahas secara mendalam.

Sumbernya berada di sebelah barat Pulau Sumatera.

Di sana terdapat Palung Sunda dan zona subduksi tempat berlangsungnya pertemuan lempeng.

Di antara kawasan tersebut juga terdapat forearc, Kepulauan Mentawai, berbagai struktur patahan, serta bidang megathrust yang mampu menghasilkan gempa sangat besar.

Sesar Sumatera di daratan dan zona subduksi di laut bukan dua fenomena yang sepenuhnya terpisah.

Keduanya merupakan bagian dari sistem deformasi regional yang berkaitan dengan konvergensi miring di sepanjang Sumatera.

Karena itu perjalanan kita berikutnya akan bergerak dari Pegunungan Barisan menuju Samudra Hindia.

Pada artikel selanjutnya, PUSTAHA akan membahas:

Patahan Sumatera dan Zona Subduksi Sunda: Memahami Pertemuan Lempeng di Barat Sumatera.

Di sana kita akan melihat lempeng mana yang bergerak, ke arah mana pergerakannya, bagaimana proses penunjaman berlangsung, di mana posisi palung, bagaimana terbentuknya megathrust, dan mengapa sistem tersebut berkaitan dengan keberadaan Sesar Besar Sumatera.


Catatan Redaksi PUSTAHA

Artikel ini disusun sebagai materi informasi dan edukasi berdasarkan sumber resmi, publikasi ilmiah, serta literatur yang tersedia pada saat penulisan. Informasi mengenai patahan aktif, segmentasi sesar, laju pergerakan, sejarah gempa, dan struktur tektonik dapat diperbarui atau mengalami perubahan interpretasi seiring berkembangnya data dan penelitian.

Nama dan pembagian segmen dalam artikel ini terutama digunakan untuk membantu pembaca mengenali sistem Sesar Sumatera. Pembagian tersebut tidak dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa seluruh penelitian menggunakan jumlah, batas, atau nomenklatur segmen yang sama.

PUSTAHA tidak menggunakan artikel ini untuk memprediksi kapan, di mana, atau seberapa besar gempa bumi berikutnya akan terjadi. Untuk informasi gempa bumi terkini, peringatan dini tsunami, dan arahan kebencanaan, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi pemerintah terkait.

PUSTAHA berupaya menyajikan informasi secara akurat dan mencantumkan sumber yang dapat ditelusuri. Apabila pembaca menemukan kekeliruan data, penulisan, sumber, atau informasi yang memerlukan pembaruan, silakan menghubungi PUSTAHA melalui menu Kontak yang tersedia di situs ini agar dapat ditinjau dan diperbaiki.

Sumber dan Referensi

  1. Sieh, K. & Natawidjaja, D. H. (2000). "Neotectonics of the Sumatran Fault, Indonesia." Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 105(B12), 28295–28326. DOI: 10.1029/2000JB900120.

  2. Burton, P. W. & Hall, T. R. (2014). "Segmentation of the Sumatran Fault." Geophysical Research Letters, 41. DOI: 10.1002/2014GL060242. Penelitian ini mengembangkan model 16 segmen berdasarkan clustering seismisitas dan memperlihatkan bahwa segmentasi dapat berbeda menurut metode yang digunakan.

  3. Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024." Diterbitkan 2025, ISBN 978-602-9095-53-1. Referensi nasional terkini untuk pemutakhiran sumber gempa, geometri sesar, segmentasi, skenario rupture, magnitudo potensial dan slip rate.

  4. Frontiers in Earth Science (2022). "Subsurface structures of Sianok Segment in the GSF (Great Sumatran Fault) inferred from magnetic and gravity modeling." Digunakan sebagai salah satu referensi mengenai Segmen Sianok dan perbandingan model segmentasi Sesar Sumatera.

  5. Applied Sciences (2024). "Interpretation of a 3D Magnetotellurics Model of the Aceh and Seulimeum Segments of the Sumatran Fault Zone." Digunakan sebagai referensi tambahan mengenai struktur Segmen Aceh dan Seulimeum.

  6. Literatur dan peta sumber gempa nasional serta penelitian lanjutan mengenai Great Sumatran Fault digunakan sebagai pembanding karena nomenklatur, batas, dan parameter segmen dapat mengalami pemutakhiran seiring bertambahnya data.