PUSTAHA • ARTIKEL

Mentawai Fault dan Struktur Forearc Sumatera: Sistem Patahan di Antara Megathrust dan Daratan Sumatera

Mengenal kawasan forearc di barat Sumatera, Kepulauan Mentawai, sistem Mentawai Fault, struktur backthrust, serta deformasi kerak yang berlangsung di antara Palung Sunda, megathrust, dan Sesar Besar Sumatera.

Dipublikasikan 3 September 2026
Mentawai Fault dan Struktur Forearc Sumatera: Sistem Patahan di Antara Megathrust dan Daratan Sumatera

Mentawai Fault dan Struktur Forearc Sumatera

Setelah mengenal Sesar Besar Sumatera, zona subduksi Sunda, dan megathrust, perjalanan memahami tektonik Sumatera belum selesai.

Masih terdapat sebuah kawasan luas di antara Palung Sunda dan daratan utama Sumatera.

Kawasan tersebut dikenal sebagai forearc atau busur muka.

Di Sumatera, forearc bukan sekadar ruang kosong antara palung dan daratan.

Di dalamnya terdapat prisma akresi, forearc high, cekungan forearc, Kepulauan Mentawai, serta berbagai struktur patahan dan lipatan yang merekam deformasi selama jutaan tahun.

Salah satu struktur yang paling menarik adalah Mentawai Fault Zone atau Zona Sesar Mentawai.

Nama ini terdengar sederhana.

Namun sejarah penelitian menunjukkan bahwa interpretasi mengenai struktur Mentawai telah mengalami perubahan besar.

Struktur yang dahulu banyak ditafsirkan sebagai patahan geser ternyata berdasarkan penelitian berikutnya memperlihatkan karakter backthrust dan kompresi yang jauh lebih kuat.

Inilah salah satu contoh terbaik bagaimana ilmu kebumian berkembang ketika data baru tersedia.

Apa Itu Forearc?

Dalam sistem subduksi, forearc adalah kawasan yang secara umum berada di antara palung subduksi dan busur vulkanik.

Jika sistem Sumatera disederhanakan dari barat menuju timur, susunannya dapat dibayangkan seperti berikut:

SAMUDRA HINDIA ↓ PALUNG SUNDA ↓ PRISMA AKRESI ↓ FOREARC HIGH ↓ KEPULAUAN MENTAWAI ↓ MENTAWAI FAULT ZONE DAN STRUKTUR FOREARC ↓ CEKUNGAN FOREARC ↓ PANTAI BARAT SUMATERA ↓ PEGUNUNGAN BARISAN / BUSUR VULKANIK ↓ SESAR BESAR SUMATERA

Diagram ini hanya gambaran konseptual.

Struktur sebenarnya berbentuk tiga dimensi dan susunannya dapat berubah sepanjang Sumatera.

Apa Itu Prisma Akresi?

Ketika lempeng samudra menunjam di zona subduksi, sebagian material sedimen yang berada di atas lempeng dapat mengalami deformasi, terlipat, tersesarkan, dan terakumulasi pada lempeng atas.

Kumpulan material yang mengalami deformasi tersebut dapat membentuk accretionary wedge atau prisma akresi.

Prisma ini bukan tumpukan sedimen sederhana.

Di dalamnya dapat terdapat jaringan thrust, lipatan, bidang décollement, fluida bertekanan, serta struktur kompleks lainnya.

Di Sumatera, prisma akresi menjadi salah satu komponen penting kawasan antara Palung Sunda dan forearc basin.

Kepulauan Mentawai Berada di Mana?

Kepulauan Mentawai berada di sebelah barat daratan Sumatera.

Dalam konteks tektonik, pulau-pulau seperti Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan berada pada kawasan forearc ridge atau forearc high di atas sistem subduksi Sumatera.

Posisi tersebut membuat Kepulauan Mentawai sangat penting dalam penelitian tektonik.

Pulau-pulau ini berada di atas kawasan yang mengalami deformasi akibat interaksi lempeng.

Di bawah dan di sekitar kawasan tersebut terdapat megathrust serta berbagai struktur pada lempeng atas.

Karena itulah Mentawai menjadi salah satu laboratorium alam penting untuk mempelajari deformasi zona subduksi.

Megathrust Mentawai dan Mentawai Fault Bukan Struktur yang Sama

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Mentawai Megathrust

merujuk pada bagian antarmuka subduksi Sunda di kawasan Mentawai, tempat lempeng yang menunjam bersentuhan dengan lempeng atas.

Sedangkan:

Mentawai Fault Zone

merupakan sistem deformasi pada lempeng atas di kawasan forearc.

Jadi keduanya berada dalam lingkungan tektonik yang saling berkaitan, tetapi bukan bidang patahan yang sama.

Secara sederhana:

LEMPENG ATAS ├── Mentawai Fault Zone / struktur forearc │ ├── Kepulauan Mentawai │ └────────────── \ \ MEGATHRUST
\ LEMPENG YANG MENUNJAM

Karena letaknya berdekatan jika dilihat pada peta dua dimensi, kedua struktur ini mudah tertukar.

Tetapi secara geologi, posisi dan mekanismenya berbeda.

Apa Itu Mentawai Fault Zone?

Mentawai Fault Zone atau MFZ merupakan zona struktur yang memanjang di kawasan forearc Sumatera.

Penelitian geofisika memperlihatkan bahwa sistem ini berada di sekitar batas antara bagian dalam prisma akresi dan kawasan forearc basin.

Jejak deformasinya dapat diamati melalui bentuk dasar laut, lipatan, punggungan antiklinal, serta struktur patahan di bawah sedimen.

Namun interpretasi mengenai mekanismenya tidak selalu sama sepanjang sejarah penelitian.

Dan di sinilah kisah ilmiahnya menjadi menarik.

Dahulu Dianggap Patahan Geser

Penelitian terdahulu pernah menafsirkan Mentawai Fault sebagai sistem strike-slip.

Interpretasi tersebut antara lain didasarkan pada bentuk struktur pada profil seismik, linearitasnya pada peta struktur, serta kebutuhan untuk menjelaskan bagaimana komponen gerakan sejajar busur akibat konvergensi miring Sumatera diakomodasi.

Hipotesis tersebut masuk akal berdasarkan data yang tersedia saat itu.

Sumatera mengalami konvergensi miring.

Sesar Besar Sumatera mengakomodasi komponen strike-slip yang penting.

Maka para peneliti mempertanyakan apakah sebagian komponen lainnya juga ditampung oleh patahan di forearc.

Mentawai Fault kemudian menjadi salah satu kandidat.

Tetapi ilmu pengetahuan tidak berhenti pada hipotesis awal.

Data Baru Mengubah Interpretasi

Perkembangan survei batimetri dan pencitraan seismic reflection beresolusi lebih tinggi memberikan gambaran bawah permukaan yang jauh lebih baik.

Penelitian kemudian menunjukkan bahwa struktur Mentawai Fault Zone di banyak bagian lebih cocok ditafsirkan sebagai sistem backthrust dan fold-thrust belt daripada sebagai patahan strike-slip besar yang sederhana.

Penelitian M. Ma'ruf Mukti dan rekan-rekannya menggunakan data deep seismic reflection dan swath bathymetry untuk mempelajari struktur tersebut.

Hasil interpretasi menunjukkan adanya backthrust berlapis yang mengarah ke daratan serta thrust dengan sudut lebih tinggi yang mendeformasi sedimen forearc basin.

Dengan kata lain:

pemahaman ilmiah terhadap Mentawai Fault berubah ketika tersedia data bawah permukaan yang lebih baik.

Apa Itu Backthrust?

Pada zona subduksi, arah utama thrust umumnya berkaitan dengan pergerakan kompresional sistem.

Namun deformasi pada wedge tidak selalu hanya menghasilkan patahan yang bergerak dalam satu arah.

Backthrust adalah thrust fault yang vergence atau arah gerak geometrinya berlawanan dengan arah thrust utama sistem.

Dalam konteks Mentawai, penelitian menemukan struktur backthrust yang mengarah ke sisi daratan.

Struktur tersebut dapat membentuk lipatan dan punggungan pada dasar laut.

Karena itu istilah Mentawai Backthrust muncul dalam berbagai penelitian.

Namun kembali perlu berhati-hati:

Mentawai Backthrust tidak selalu berarti satu bidang patahan tunggal yang lurus sepanjang ratusan kilometer.

Penelitian menunjukkan sistem yang dapat terdiri atas beberapa backthrust dan struktur terkait.

Main Backthrust dan Frontal Backthrust

Pencitraan seismik menunjukkan bahwa sistem backthrust Mentawai dapat memiliki lebih dari satu komponen.

Dalam beberapa penelitian digunakan istilah seperti:

Main Backthrust

dan

Frontal Backthrust.

Penelitian lebih rinci bahkan menunjukkan bahwa apa yang sebelumnya tampak sebagai satu struktur dapat terdiri atas sejumlah imbricated backthrust.

Imbricated berarti terdapat beberapa bidang thrust yang tersusun berulang atau bertumpuk dalam sebuah zona deformasi.

Hal ini kembali menunjukkan bahwa istilah "Mentawai Fault" tidak boleh dibayangkan sebagai satu retakan tunggal seperti garis yang digambar menggunakan penggaris.

Panjang Sistem Mentawai

Berbagai penelitian memberikan gambaran panjang yang berbeda tergantung struktur dan definisi yang digunakan.

Literatur awal menggambarkan Mentawai Fault sebagai fitur memanjang dari sekitar Nias menuju Selat Sunda.

Penelitian geodesi dan seismologi kemudian membahas Mentawai backthrust dengan skala hingga sekitar 900 kilometer.

Sementara penelitian lain menggunakan panjang yang lebih pendek untuk bagian struktur tertentu.

Perbedaan angka tersebut bukan sesuatu yang harus dipaksakan menjadi satu nilai.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

struktur mana yang sedang diukur dan definisi apa yang digunakan?

Karena itu PUSTAHA tidak menggunakan satu angka panjang Mentawai Fault sebagai angka mutlak untuk seluruh literatur.

Bukti dari Dasar Laut

Salah satu keunggulan penelitian modern adalah kemampuan melihat morfologi dasar laut dengan jauh lebih detail.

Swath bathymetry dapat memetakan bentuk dasar laut secara tiga dimensi.

Pada Mentawai Fault Zone, penelitian menemukan punggungan antiklinal melengkung di dasar laut.

Di bawah punggungan tersebut, data seismic reflection menunjukkan lipatan dan thrust yang mendeformasi sedimen.

Hubungan antara bentuk dasar laut dan struktur bawah permukaan membantu peneliti memahami bagaimana deformasi berlangsung.

Apa yang tampak sebagai bukit atau punggungan bawah laut dapat merupakan ekspresi dari proses tektonik yang berlangsung jauh di bawahnya.

Forearc Basin

Di antara forearc high dan daratan Sumatera terdapat cekungan yang dikenal sebagai forearc basin.

Selama jutaan tahun, cekungan ini menerima sedimen.

Lapisan sedimen tersebut kemudian menjadi semacam arsip perkembangan tektonik kawasan.

Ketika terjadi deformasi, lapisan dapat terlipat atau terpotong patahan.

Dengan membaca hubungan antar lapisan pada profil seismik, peneliti dapat memperkirakan kapan struktur tertentu mulai berkembang dan bagaimana aktivitasnya berubah.

Penelitian terhadap Mentawai Fault Zone menunjukkan sejarah deformasi yang berlangsung sejak jutaan tahun lalu.

Struktur Ini Sangat Tua

Penelitian struktur forearc menunjukkan bahwa perkembangan backthrust Mentawai bukan fenomena yang baru muncul dalam beberapa abad terakhir.

Interpretasi stratigrafi dan seismic reflection menunjukkan perkembangan struktur sejak Miosen.

Beberapa backthrust diperkirakan mulai berkembang pada Miosen Awal hingga Tengah.

Struktur dengan sudut lebih tinggi kemudian berkembang pada Miosen Akhir.

Kontraksi berkelanjutan membantu membentuk fold-thrust belt menuju sisi timur pada Pliosen.

Artinya, bentang tektonik yang kita lihat sekarang merupakan hasil proses yang berlangsung selama jutaan tahun.

Apakah Mentawai Backthrust Masih Aktif?

Inilah bagian yang membutuhkan kehati-hatian.

Penelitian tidak selalu menghasilkan interpretasi yang sama mengenai tingkat aktivitas seluruh bagian sistem.

Studi geodesi dan mekanisme sumber gempa yang diterbitkan pada 2011 mengaitkan cluster gempa tahun 2005 dan 2009 dengan rupture pada Mentawai backthrust dan menyimpulkan bahwa setidaknya bagian struktur tersebut menunjukkan aktivitas modern.

Penelitian struktur tahun 2012, di sisi lain, menyimpulkan berdasarkan evolusi stratigrafi bahwa aktivitas backthrust pada bagian yang mereka teliti tampak menurun dalam skala geologi.

Dua hasil tersebut tidak perlu dipaksakan menjadi pertentangan sederhana.

Keduanya mempelajari aspek, lokasi, skala waktu, dan dataset yang berbeda.

Karena itu PUSTAHA memilih kesimpulan yang lebih hati-hati:

terdapat bukti aktivitas seismik modern pada bagian sistem backthrust Mentawai, sementara tingkat aktivitas dan potensi masing-masing struktur tetap merupakan objek penelitian.

Gempa Tahun 2005 dan 2009

Penelitian menggunakan data Sumatran GPS Array atau SuGAr serta focal mechanism gempa menghubungkan cluster gempa pada 2005 dan 2009 dengan aktivitas Mentawai backthrust.

Gempa-gempa tersebut memberikan bukti bahwa struktur pada lempeng atas di kawasan forearc dapat menjadi sumber gempa tersendiri.

Ini penting karena perhatian masyarakat sering hanya tertuju pada megathrust.

Padahal sebuah zona subduksi dapat memiliki banyak sumber gempa:

  • megathrust;
  • patahan pada slab;
  • patahan di forearc;
  • backthrust;
  • serta sesar kerak lainnya.

Dengan demikian, peta bahaya gempa tidak cukup hanya menggambar satu garis megathrust.

Apakah Mentawai Backthrust Bisa Menghasilkan Tsunami?

Secara fisika, patahan bawah laut yang menghasilkan perpindahan vertikal dasar laut dapat berkontribusi terhadap pembentukan tsunami.

Karena Mentawai backthrust merupakan struktur thrust/reverse di kawasan offshore, sejumlah penelitian telah membahas potensi tsunamigeniknya.

Penelitian Wiseman dan rekan-rekan pada 2011 menyatakan bahwa struktur ini dapat menjadi sumber tambahan bahaya gempa dan tsunami bagi kawasan pesisir Sumatera tengah.

Namun "dapat menjadi sumber bahaya" tidak sama dengan:

"akan menghasilkan tsunami besar dalam waktu dekat."

Ukuran gempa masa depan, luas rupture, jumlah slip, kedalaman, geometri patahan, deformasi dasar laut, dan interaksi dengan struktur lain tidak dapat ditentukan secara pasti untuk kejadian yang belum terjadi.

Karena itu hasil penelitian tersebut harus dipahami sebagai kajian bahaya, bukan prediksi.

Bisakah Megathrust dan Backthrust Berinteraksi?

Secara mekanis, struktur-struktur di zona subduksi tidak sepenuhnya terisolasi.

Gempa besar dapat mengubah distribusi tegangan dan deformasi pada kawasan di sekitarnya.

Penelitian telah mempertimbangkan kemungkinan hubungan antara gempa megathrust dan aktivitas backthrust Mentawai.

Beberapa studi juga membahas skenario interaksi atau rupture yang lebih kompleks.

Tetapi kemungkinan fisik dalam model tidak boleh diterjemahkan menjadi pernyataan bahwa dua struktur pasti akan rupture bersama pada gempa berikutnya.

Itu belum dapat diketahui.

Skenario digunakan untuk memahami kemungkinan dan konsekuensi, bukan untuk menyatakan masa depan secara pasti.

Forearc Sliver dan Konvergensi Miring

Untuk memahami mengapa Sumatera memiliki begitu banyak struktur, kita kembali kepada konsep konvergensi miring.

Gerakan relatif lempeng terhadap Palung Sunda tidak sepenuhnya tegak lurus.

Akibatnya deformasi dapat terbagi.

Komponen thrust terutama diakomodasi pada sistem subduksi.

Komponen lateral sebagian besar berkaitan dengan pergerakan strike-slip pada Sesar Besar Sumatera.

Kawasan di antara keduanya dapat dipandang sebagai bagian dari forearc sliver yang mengalami gerakan dan deformasi tersendiri.

Namun model pembagian gerakan tersebut juga tidak sempurna.

Struktur forearc memperlihatkan bahwa deformasi dapat tersebar pada beberapa patahan dan lipatan.

Mengapa Forearc Sumatera Begitu Kompleks?

Setidaknya terdapat beberapa proses yang bekerja bersama:

  1. subduksi lempeng samudra;
  2. konvergensi miring;
  3. pembentukan prisma akresi;
  4. deformasi forearc;
  5. thrust dan backthrust;
  6. sedimentasi cekungan forearc;
  7. pergerakan Sesar Besar Sumatera;
  8. perubahan geometri lempeng yang menunjam;
  9. aktivitas gempa besar yang mengubah distribusi tegangan;
  10. evolusi geologi selama jutaan tahun.

Karena itu tidak realistis menggambarkan seluruh tektonik Sumatera menggunakan satu patahan saja.

Sumatera adalah sebuah sistem.

Dari Palung Sampai Sesar Sumatera

Sekarang kita dapat menyusun gambaran yang lebih lengkap.

Jika bergerak dari Samudra Hindia menuju daratan:

1. Lempeng Samudra

Bergerak menuju zona subduksi dan membawa sedimen serta struktur kerak samudra.

2. Palung Sunda

Menandai kawasan morfologi utama di dekat tempat lempeng memasuki sistem subduksi.

3. Frontal Megathrust dan Prisma Akresi

Di sinilah deformasi sangat kuat terjadi pada bagian depan sistem.

4. Forearc High

Kawasan yang mengalami pengangkatan dan deformasi di atas wedge.

5. Kepulauan Mentawai

Bagian forearc ridge yang muncul di atas permukaan laut.

6. Mentawai Fault Zone / Backthrust

Sistem deformasi pada lempeng atas yang mencakup thrust, backthrust, dan lipatan.

7. Forearc Basin

Cekungan antara forearc high dan daratan Sumatera.

8. Daratan Sumatera

Di sini terdapat Pegunungan Barisan, busur vulkanik, serta Sesar Besar Sumatera.

Semua bagian tersebut saling berada dalam satu lingkungan tektonik regional.

Jangan Menyamakan Semua Garis pada Peta

Peta tektonik Sumatera dapat memperlihatkan banyak garis.

Tetapi setiap garis dapat berarti sesuatu yang berbeda.

Garis Palung Sunda menunjukkan fitur berbeda dari garis megathrust.

Garis Mentawai Fault berbeda dari Sesar Besar Sumatera.

Batas rupture gempa historis juga berbeda dari batas patahan permanen.

Sementara garis segmentasi merupakan hasil interpretasi ilmiah.

Membaca legenda dan sumber peta karena itu sangat penting.

Tanpa konteks, peta tektonik dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Pandangan PUSTAHA: Perubahan Pendapat Adalah Bagian dari Ilmu

Sejarah penelitian Mentawai Fault memberikan pelajaran yang sangat baik.

Pada suatu masa, bukti yang tersedia membuat para peneliti menafsirkan struktur tersebut sebagai patahan strike-slip.

Kemudian teknologi dan data berkembang.

Pencitraan bawah permukaan menjadi lebih baik.

Data batimetri semakin detail.

Jaringan GPS dan seismometer memberikan informasi baru.

Interpretasi kemudian berubah menuju sistem yang didominasi backthrust dan deformasi kompresional.

Bagi PUSTAHA, perubahan tersebut bukan kelemahan ilmu pengetahuan.

Justru itulah kekuatannya.

Ilmu tidak seharusnya mempertahankan kesimpulan lama ketika bukti yang lebih baik tersedia.

Karena itu artikel PUSTAHA juga tidak dimaksudkan sebagai catatan yang tidak boleh berubah.

Apabila penelitian baru memperbaiki pemahaman tentang Mentawai Fault, informasi di dalam artikel ini layak diperbarui.

Tujuan kita bukan mempertahankan sebuah klaim.

Tujuan kita adalah mendekati pemahaman yang paling sesuai dengan bukti yang tersedia.

Mengapa Informasi Forearc Penting bagi Masyarakat?

Bagi masyarakat, nama struktur mungkin terasa sangat teknis.

Megathrust.

Backthrust.

Forearc basin.

Accretionary wedge.

Namun penelitian terhadap struktur tersebut memiliki tujuan praktis.

Semakin baik sumber gempa dipetakan, semakin baik pula dasar ilmiah untuk:

  • pemetaan bahaya gempa;
  • pemodelan tsunami;
  • perencanaan infrastruktur;
  • tata ruang;
  • desain bangunan;
  • sistem evakuasi;
  • dan pendidikan kebencanaan.

Pengetahuan tersebut tidak menghilangkan gempa.

Tetapi dapat membantu mengurangi risiko ketika gempa terjadi.

Sumatera Bukan Hanya Sesar dan Megathrust

Setelah lima artikel, gambaran tektonik Sumatera mulai terlihat lebih utuh.

Kita telah mengenal:

Sesar Besar Sumatera di daratan.

Segmentasi Sesar Sumatera.

Zona Subduksi Sunda.

Sunda Megathrust.

Dan sekarang struktur forearc serta Mentawai Fault Zone.

Namun masih ada pertanyaan besar:

Bagaimana seluruh bagian tersebut bergerak bersama sebagai satu sistem?

Itulah pembahasan selanjutnya.

Artikel berikutnya akan menyatukan semua bagian yang telah kita pelajari:

Bagaimana Sistem Tektonik Sumatera Bergerak Bersama? Dari Subduksi hingga Sesar Besar Sumatera.

Di sana kita akan mengikuti satu gerakan lempeng dari Samudra Hindia menuju palung, megathrust, forearc, Kepulauan Mentawai, Pegunungan Barisan, gunung api, dan Sesar Besar Sumatera.

Dengan demikian, seluruh seri tidak lagi terlihat sebagai kumpulan patahan terpisah.

Kita akan melihat Sumatera sebagai satu mesin tektonik besar yang terus bergerak dalam skala waktu geologi.


Catatan Redaksi PUSTAHA

Artikel ini disusun sebagai materi informasi dan edukasi berdasarkan publikasi ilmiah serta literatur yang tersedia pada saat penulisan.

Istilah Mentawai Fault, Mentawai Fault Zone, Mentawai Backthrust, Main Backthrust, Frontal Backthrust, dan struktur forearc lainnya dapat digunakan dengan definisi atau cakupan yang berbeda dalam publikasi ilmiah. Interpretasi mengenai geometri, mekanisme, panjang, dan tingkat aktivitas struktur tersebut juga berkembang seiring tersedianya data geofisika yang lebih baik.

PUSTAHA tidak menggunakan artikel ini untuk memprediksi kapan, di mana, atau seberapa besar gempa berikutnya akan terjadi. Pernyataan mengenai suatu struktur sebagai sumber bahaya gempa atau tsunami merupakan penilaian ilmiah terhadap kemungkinan sumber bahaya, bukan prediksi waktu kejadian.

Untuk informasi gempa bumi terkini, peringatan dini tsunami, serta arahan keselamatan di Indonesia, masyarakat dianjurkan mengikuti informasi resmi BMKG dan instansi pemerintah terkait.

PUSTAHA berupaya menyajikan informasi secara akurat dan mencantumkan sumber yang dapat ditelusuri. Apabila pembaca menemukan kekeliruan data, penulisan, sumber, interpretasi, atau informasi yang memerlukan pembaruan, silakan menghubungi PUSTAHA melalui menu Kontak yang tersedia di situs ini agar dapat ditinjau dan diperbaiki.

Sumber dan Referensi

  1. Mukti, M. M., Singh, S. C., Deighton, I., Hananto, N. D., Moeremans, R., & Permana, H. (2012). "Structural evolution of backthrusting in the Mentawai Fault Zone, offshore Sumatran forearc." Geochemistry, Geophysics, Geosystems, 13. DOI: 10.1029/2012GC004199. Digunakan sebagai referensi utama mengenai struktur backthrust, fold-thrust belt, forearc basin, dan evolusi Mentawai Fault Zone.

  2. Wiseman, K., Banerjee, P., Bürgmann, R., Sieh, K., Dreger, D. S., & Hermawan, I. (2011). "Another potential source of destructive earthquakes and tsunami offshore of Sumatra." Geophysical Research Letters, 38. DOI: 10.1029/2011GL047226. Digunakan untuk pembahasan bukti geodesi dan mekanisme sumber gempa pada Mentawai backthrust serta cluster gempa 2005 dan 2009.

  3. Collings, R., Lange, D., Rietbrock, A., Tilmann, F., Natawidjaja, D., Suwargadi, B., Miller, M., & Saul, J. (2012). "Structure and seismogenic properties of the Mentawai segment of the Sumatra subduction zone revealed by local earthquake traveltime tomography." Journal of Geophysical Research: Solid Earth. DOI: 10.1029/2011JB008469. Digunakan untuk pembahasan struktur kerak forearc, seismisitas, dan interpretasi backthrust Mentawai.

  4. Schlüter, H. U., Gaedicke, C., Roeser, H. A., Schreckenberger, B., Meyer, H., Reichert, C., Djajadihardja, Y., & Prexl, A. (2002). "Tectonic features of the southern Sumatra–western Java forearc of Indonesia." Tectonics, 21. DOI: 10.1029/2001TC901048. Digunakan sebagai referensi mengenai struktur forearc, Mentawai Fault Zone, forearc basin, dan evolusi tektonik kawasan.

  5. Singh, S. C. dan rekan-rekan. Penelitian seismic reflection dan bathymetry kawasan Mentawai yang mengidentifikasi struktur backthrust pada forearc Sumatera. Penelitian ini menjadi bagian penting perubahan interpretasi Mentawai Fault dari model strike-slip sederhana menuju sistem thrust/backthrust yang lebih kompleks.

  6. Sieh, K. & Natawidjaja, D. H. (2000). "Neotectonics of the Sumatran Fault, Indonesia." Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 105(B12), 28295–28326. DOI: 10.1029/2000JB900120. Digunakan sebagai referensi regional mengenai Sesar Besar Sumatera, konvergensi miring, dan hubungan tektonik forearc.

  7. Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), Kementerian Pekerjaan Umum. "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024." Diterbitkan 2025. Digunakan sebagai referensi nasional mengenai sumber gempa aktif dan pemodelan bahaya gempa Indonesia.

Mentawai Fault dan Struktur Forearc Sumatera: Sistem Patahan di Antara Megathrust dan Daratan Sumatera | PUSTAHA