Karhutla Kalimantan Meningkat: Kalimantan Tengah Tetapkan Tanggap Darurat, Ribuan Hektare Lahan Terdampak
Kebakaran hutan dan lahan meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan di tengah puncak musim kemarau dan pengaruh El Niño. Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat setelah ribuan kejadian karhutla tercatat, sementara peningkatan titik panas juga terpantau di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Karhutla Kalimantan Meningkat di Tengah Musim Kemarau
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi ancaman serius di Pulau Kalimantan pada penghujung Agustus hingga awal September 2026. Kondisi kering yang semakin meluas, tingginya jumlah titik panas serta kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah membuat pemerintah meningkatkan operasi penanganan di darat maupun udara.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kondisi paling serius. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Status tersebut ditetapkan setelah meningkatnya potensi dan dampak kebakaran di berbagai wilayah provinsi tersebut.
2.285 Kejadian Karhutla Tercatat di Kalimantan Tengah
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah per 31 Agustus 2026, sebanyak 2.285 kejadian karhutla telah tercatat dengan total luas terdampak mencapai sekitar 6.587,84 hektare.
Besarnya jumlah kejadian tersebut membuat pemerintah daerah memperkuat koordinasi bersama pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta instansi terkait lainnya.
Penetapan tanggap darurat diharapkan mempercepat pengerahan personel, peralatan dan sumber daya untuk pemadaman, penanganan dampak asap serta pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas.
Sejumlah peralatan juga telah diterima untuk mendukung operasi di lapangan, di antaranya 10 unit ekskavator, sekitar 100 unit peralatan pemadam kebakaran, selang air dan perlengkapan pendukung lainnya.
Ratusan Titik Panas Terdeteksi
Ancaman karhutla tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar. Pemantauan satelit juga menunjukkan peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan.
BMKG berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus 2026 mencatat peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Di Kalimantan Barat, jumlahnya meningkat dari 92 menjadi 140 titik. Kalimantan Tengah mengalami peningkatan lebih besar, dari 113 menjadi 352 titik. Sementara Kalimantan Timur meningkat dari 30 menjadi 63 titik.
Kalimantan Selatan pada periode pemantauan tersebut mengalami penurunan dari 89 menjadi 60 titik, tetapi ancaman kebakaran belum berakhir.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak selalu berarti setiap titik merupakan kebakaran. Namun dalam kondisi kemarau dan vegetasi kering, peningkatan hotspot menjadi indikator penting dalam pemantauan potensi karhutla.
Asap Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Kalimantan
BMKG juga mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Sebagian asap dapat terbawa pola angin menuju wilayah sekitarnya sehingga perkembangan arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam pemantauan karhutla.
Jika kebakaran berlangsung dalam skala luas dan terus-menerus, asap berpotensi mengganggu kualitas udara, jarak pandang dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencegah munculnya titik kebakaran baru.
Kalimantan Selatan Juga Hadapi Kebakaran
Situasi karhutla juga mendapat perhatian serius di Kalimantan Selatan.
BNPB pada awal September menyatakan lima helikopter dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di provinsi tersebut.
Menurut data yang disampaikan BNPB, kebakaran di Kalimantan Selatan telah mencapai sekitar 348 hektare dengan 29 titik api. Tim gabungan dilaporkan telah berhasil memadamkan lebih dari 80 hektare lahan terbakar.
Pengerahan helikopter menunjukkan bahwa operasi pemadaman kini tidak hanya dilakukan dari darat, tetapi diperkuat melalui operasi udara untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani secara langsung.
Pemerintah Perkuat Armada Udara
Skala penanganan karhutla juga terlihat dari pengerahan sumber daya udara.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada 2 September 2026 menyatakan pemerintah telah memberikan izin kepada 35 pesawat registrasi asing untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan.
Sebagian besar armada tersebut berupa helikopter yang dapat digunakan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara.
Pesawat berasal dari sejumlah negara dan digunakan karena kebutuhan peralatan udara untuk penanganan karhutla belum sepenuhnya tersedia di dalam negeri.
BNPB menjadi salah satu lembaga yang mengoordinasikan kebutuhan armada tersebut dalam operasi penanggulangan kebakaran.
Langkah ini menunjukkan bahwa karhutla yang sedang terjadi telah menjadi perhatian pemerintah pusat dan membutuhkan pengerahan sumber daya dalam skala besar.
Operasi Modifikasi Cuaca Menghadapi Tantangan
Selain pemadaman langsung, operasi modifikasi cuaca atau OMC juga menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk membantu penanganan kondisi karhutla.
Namun operasi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memungkinkan penyemaian.
BNPB pada awal September menyatakan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan di Kalimantan Tengah belum menghasilkan hujan karena pertumbuhan awan di atmosfer wilayah tersebut sangat rendah.
Kondisi ini menggambarkan tantangan penanganan kebakaran pada periode sangat kering. Ketika kandungan uap air dan pertumbuhan awan rendah, peluang menghasilkan hujan melalui operasi modifikasi cuaca juga menjadi terbatas.
El Niño Sangat Kuat dan Kondisi Kering
Karhutla Kalimantan berlangsung ketika sebagian besar Indonesia sedang berada dalam musim kemarau.
BMKG sebelumnya mencatat sekitar 80 persen wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan puncaknya di banyak wilayah berlangsung pada Agustus.
Pada saat bersamaan, pemantauan BMKG terhadap ENSO pada Agustus 2026 menunjukkan El Niño berada pada intensitas sangat kuat.
El Niño pada umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di banyak wilayah Indonesia. Ketika fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan musim kemarau, kondisi vegetasi dan lahan dapat menjadi semakin kering.
Namun penting dibedakan bahwa El Niño dan musim kemarau bukan penyebab langsung setiap kejadian kebakaran.
Cuaca dan iklim menciptakan kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap api, sedangkan sumber penyalaan kebakaran harus ditentukan berdasarkan penyelidikan pada masing-masing kejadian.
Risiko Kebakaran Belum Berakhir
Memasuki September 2026, risiko karhutla masih perlu mendapatkan perhatian.
Kondisi lahan yang kering memungkinkan api menyebar dengan cepat, terutama apabila kebakaran terjadi pada vegetasi kering maupun lahan gambut.
Kebakaran pada lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan pasokan air yang besar.
Api yang tampak telah padam di permukaan juga dapat kembali muncul apabila bagian gambut di bawahnya masih terbakar.
Karena itu, pemadaman harus diikuti dengan proses pendinginan dan pemantauan untuk memastikan api benar-benar tidak kembali menyala.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Di tengah kondisi kering, aktivitas pembakaran terbuka memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk berkembang menjadi kebakaran yang tidak terkendali.
Masyarakat perlu menghindari pembukaan atau pembersihan lahan menggunakan api dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran atau aktivitas pembakaran yang berpotensi meluas.
Pencegahan menjadi sangat penting karena kemampuan pemadaman memiliki keterbatasan ketika banyak titik kebakaran muncul secara bersamaan.
Satu titik api yang berhasil dicegah dapat mengurangi kebutuhan pengerahan personel, kendaraan pemadam hingga helikopter yang jauh lebih besar setelah kebakaran meluas.
Kalimantan Memasuki Periode Kritis Karhutla
Perkembangan hingga awal September menunjukkan Kalimantan sedang menghadapi periode yang perlu diawasi secara ketat.
Kalimantan Tengah telah menetapkan tanggap darurat setelah ribuan kejadian karhutla tercatat dan ribuan hektare lahan terdampak. Kalimantan Selatan memperkuat operasi menggunakan helikopter, sementara pemantauan BMKG menunjukkan hotspot dan sebaran asap di sejumlah provinsi Kalimantan.
Pemerintah pusat juga memperkuat kemampuan operasi udara dengan memberikan izin penggunaan puluhan pesawat registrasi asing untuk mendukung penanganan karhutla.
Dalam kondisi El Niño sangat kuat dan musim kemarau yang masih berlangsung, upaya pemadaman harus berjalan bersama dengan pencegahan.
Perkembangan titik panas, kualitas udara, luas kebakaran dan kondisi cuaca masih dapat berubah. Karena itu masyarakat perlu mengikuti informasi terbaru dari BNPB, BMKG, pemerintah daerah dan instansi resmi terkait.
Sumber dan Referensi
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) — Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Agustus–2 September 2026 dan pemantauan hotspot menggunakan citra satelit Himawari-9.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) — Analisis Dinamika Atmosfer Agustus 2026.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) — informasi operasi penanganan karhutla Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah/Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla — data kejadian dan luas karhutla per 31 Agustus 2026.
- ANTARA — laporan penetapan status tanggap darurat Kalimantan Tengah dan perkembangan operasi penanganan karhutla.
- Kementerian Perhubungan Republik Indonesia — dukungan perizinan pesawat registrasi asing untuk operasi penanganan karhutla.
PUSTAHA — 3 September 2026

