PUSTAHA • ARTIKEL

El Niño 2026 Mengancam Dunia: 22 Negara Masuk Zona Risiko Tinggi, Indonesia Mulai Hadapi Kekeringan

El Niño menguat dan mulai memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Puluhan negara menghadapi peningkatan risiko kekeringan, banjir, gangguan produksi pangan, krisis air, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Dipublikasikan 2 September 2026
El Niño 2026 Mengancam Dunia: 22 Negara Masuk Zona Risiko Tinggi, Indonesia Mulai Hadapi Kekeringan

El Niño 2026 Menguat, Ancaman Cuaca Ekstrem Meluas

El Niño kembali menjadi perhatian dunia pada 2026 setelah anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis berkembang dan memengaruhi pola atmosfer serta curah hujan di berbagai wilayah. Dampaknya tidak terjadi dalam bentuk yang sama di setiap negara. Di sebagian wilayah, El Niño berkaitan dengan kondisi yang lebih kering dan meningkatnya risiko kekeringan, sementara di wilayah lain perubahan sirkulasi atmosfer dapat meningkatkan peluang hujan lebat dan banjir.

Kondisi tersebut membuat El Niño bukan hanya persoalan cuaca. Ketika berlangsung kuat dan berkepanjangan, dampaknya dapat menjalar ke sektor pertanian, ketersediaan air, ketahanan pangan, kebakaran hutan dan lahan, kesehatan masyarakat hingga perekonomian.

Indonesia Mulai Menghadapi Tekanan Kondisi Kering

Indonesia menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena El Niño secara umum berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG dalam pemantauan dinamika atmosfer dan iklim terus mengamati perkembangan ENSO serta kondisi kekeringan meteorologis di berbagai daerah. Kondisi panas dan berkurangnya hujan dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air dan sektor pertanian serta memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan pada wilayah yang rentan.

Namun dampak El Niño di Indonesia tidak selalu seragam. Kondisi geografis, musim lokal, suhu laut di sekitar kepulauan Indonesia dan berbagai fenomena atmosfer lainnya dapat menyebabkan satu wilayah mengalami kondisi sangat kering sementara daerah lain masih menerima hujan.

Karena itu, perkembangan El Niño perlu dilihat bersama prakiraan dan peringatan resmi BMKG untuk masing-masing wilayah.

22 Negara Menjadi Prioritas Antisipasi FAO dan WFP

Ancaman El Niño juga menjadi perhatian lembaga internasional. Food and Agriculture Organization (FAO) bersama World Food Programme (WFP) mengidentifikasi sejumlah negara yang membutuhkan perhatian dalam menghadapi potensi dampak El Niño, terutama karena kerentanan terhadap cuaca ekstrem dan kerawanan pangan.

Sebanyak 22 negara menjadi bagian dari prioritas antisipasi, yaitu Kamerun, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mozambik, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Uganda, Zimbabwe, Afghanistan, Pakistan, Filipina, Timor-Leste, Kolombia, El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras, dan Venezuela.

Daftar tersebut tidak berarti seluruh negara telah mengalami bencana El Niño dengan tingkat yang sama. Status prioritas menunjukkan adanya kombinasi antara potensi bahaya iklim dan kerentanan masyarakat yang membuat tindakan antisipasi diperlukan sebelum dampak yang lebih berat terjadi.

FAO dan WFP menyiapkan langkah antisipatif untuk membantu melindungi jutaan penduduk yang berpotensi menghadapi konsekuensi cuaca ekstrem dan gangguan ketahanan pangan.

Afrika Menghadapi Risiko Besar

Afrika menjadi kawasan dengan jumlah negara prioritas yang cukup besar.

Kamerun, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Malawi, Mozambik, Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Uganda dan Zimbabwe termasuk dalam perhatian terhadap risiko El Niño.

Bagi masyarakat yang sangat bergantung pada pertanian tadah hujan dan peternakan, perubahan waktu maupun jumlah curah hujan dapat memberikan konsekuensi serius. Musim hujan yang terlambat, periode kering berkepanjangan ataupun hujan ekstrem dapat memengaruhi produksi tanaman, kondisi ternak dan ketersediaan pangan.

Risiko tersebut menjadi semakin berat di wilayah yang sebelumnya telah menghadapi konflik, kemiskinan, pengungsian atau kerawanan pangan.

Karena itulah tindakan sebelum bencana terjadi menjadi bagian penting dalam menghadapi El Niño.

Asia dan Pasifik Ikut Bersiap

Di kawasan Asia dan Pasifik, Afghanistan, Pakistan, Filipina dan Timor-Leste termasuk negara yang mendapat perhatian dalam langkah antisipasi tersebut.

Filipina memiliki kerentanan tersendiri karena perubahan curah hujan dapat berdampak terhadap pertanian dan sumber daya air. Timor-Leste juga menghadapi risiko karena sebagian masyarakatnya sangat bergantung pada produksi pertanian lokal.

Indonesia, meskipun tidak termasuk dalam daftar 22 negara prioritas tersebut, tetap menghadapi pengaruh El Niño berdasarkan pemantauan kondisi iklim nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa daftar negara prioritas kemanusiaan tidak dapat digunakan sebagai daftar lengkap seluruh negara yang secara klimatologis dipengaruhi El Niño.

Amerika Latin dan Karibia Menghadapi Ancaman Berbeda

Kolombia, El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras dan Venezuela termasuk dalam kelompok negara prioritas di kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Dampak El Niño di kawasan Amerika juga sangat beragam. Perubahan sirkulasi atmosfer dapat mengurangi curah hujan di suatu wilayah tetapi meningkatkan hujan di wilayah lainnya.

Inilah salah satu karakteristik penting El Niño: fenomena yang sama tidak menghasilkan bencana yang sama di seluruh dunia.

Bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pertanian, perubahan musim hujan dapat mengganggu waktu tanam dan hasil panen. Sementara hujan ekstrem dapat menimbulkan ancaman lain seperti banjir dan tanah longsor.

Kekeringan dan Banjir Bisa Terjadi dalam Periode El Niño yang Sama

Masyarakat sering mengidentikkan El Niño hanya dengan kekeringan. Padahal dampaknya jauh lebih kompleks.

El Niño berawal dari perubahan kondisi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer dalam skala besar sehingga pola hujan di berbagai bagian dunia ikut berubah.

Akibatnya, dalam satu periode El Niño, Indonesia dan beberapa wilayah lain dapat mengalami kecenderungan lebih kering, sementara bagian dunia lainnya justru dapat menghadapi peningkatan curah hujan.

Karena itu istilah "dampak El Niño" tidak otomatis berarti kekeringan di setiap negara.

Ancaman Berikutnya: Air, Pangan dan Pertanian

Salah satu dampak yang paling perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap produksi pangan.

Ketika curah hujan turun jauh di bawah kebutuhan tanaman, petani dapat menghadapi kekurangan air, penurunan produktivitas hingga gagal panen. Sebaliknya, curah hujan yang terlalu tinggi dan banjir juga dapat merusak lahan pertanian.

Gangguan produksi di banyak wilayah pada saat bersamaan berpotensi memberikan tekanan terhadap pasokan dan harga komoditas pangan. Dampaknya bahkan dapat dirasakan negara yang tidak mengalami bencana secara langsung karena perdagangan pangan dunia saling terhubung.

Itulah sebabnya FAO dan WFP menempatkan tindakan antisipasi sebagai bagian penting dalam menghadapi El Niño.

Dunia Perlu Menghadapi El Niño Berdasarkan Data

El Niño merupakan fenomena alam yang telah berulang sepanjang sejarah. Namun besarnya dampak pada manusia sangat dipengaruhi oleh kesiapan suatu negara, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, pengelolaan sumber daya air, sistem pangan serta kemampuan memberikan peringatan dini.

Karena perkembangan fenomena ini dapat berubah dari waktu ke waktu, masyarakat perlu mengikuti informasi dari lembaga meteorologi dan institusi resmi serta menghindari kesimpulan bahwa setiap kekeringan, banjir atau gelombang panas otomatis disebabkan oleh El Niño.

Per September 2026, perkembangan El Niño menjadi peringatan bahwa perubahan kondisi di Samudra Pasifik dapat membawa konsekuensi jauh melampaui kawasan asalnya.

Bagi Indonesia, perhatian utama adalah kesiapan menghadapi periode kering, menjaga ketersediaan air, mengantisipasi gangguan pertanian serta mencegah kebakaran hutan dan lahan. Bagi negara-negara rentan lainnya, persiapan sebelum kondisi ekstrem mencapai puncaknya dapat menentukan seberapa besar dampak kemanusiaan yang akhirnya terjadi.

El Niño mungkin bermula di Samudra Pasifik, tetapi pengaruhnya dapat melintasi batas negara dan benua. Karena itu, perkembangan fenomena ini akan menjadi salah satu kondisi iklim global yang penting untuk terus dipantau sepanjang 2026 dan memasuki 2027.

Sumber dan Referensi

  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) — pemantauan dan analisis dinamika atmosfer serta kondisi iklim Indonesia.
  • National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Climate Prediction Center — pemantauan ENSO dan perkembangan El Niño.
  • Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) — laporan dan program tindakan antisipatif menghadapi El Niño.
  • United Nations World Food Programme (WFP) — laporan risiko El Niño, ketahanan pangan dan tindakan antisipasi kemanusiaan.

PUSTAHA — September 2026