MAKNA DAN PENGGUNAAN ULOS DALAM UPACARA ADAT BATAK TOBA

Pendahuluan

Sebelum orang Batak mengenal textil, dahulu orang Batak menggunakan ulos sebagai pakaian sehari-hari. Ulos yang dipakai kaum laki-laki pada bagian atas tubuh disebut handehande, sedangkan bawahannya disebut singkot. Dan penutup kepala disebut talitali, bulangbulang  atau detar.
Ulos yang dipakai pada bagian di bawah tubuh perempuan disebut haen, yang dipakai hingga batas dada. Pakaian penutup punggung perempuan disebut hobahoba. Bila digunakan berupa selendang yang diselempangkan disebut sampesampe dan yang digunakan sebagai penutup kepala disebut saongsaong. Sedangkan ulos yang digunakan sebagai kain gendong anak disebut parompa.
Namun, tidak semua jenis ulos Batak Toba dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Jenis ulos; ragi idup, sadum, jugia, ragi hotang dan ulos runjat adalah ulos yang marhadohoan, bernilai tinggi. Biasanya kelima jenis ulos ini adalah tergolong ulos simpanan yang hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu saja. Dengan demikian, sejalan dengan perkembangan masyarakat Batak,  ulos bukan saja digunakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi kemudia ulos menjadi benda yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan upacara adat.

Proses pembuatannya.
Pada dasaranya bahan untuk membuat ulos adalah sama, yakni benang dipintal dari kapas. Namun proses dan tehnik bertenun dalam menghasilkan ulos adalah penentu jenis, motif dan kualitas ulos. Dahulu, dalam hal menghasilkan pewarna benang para penenun menggunakan pewarna alami, yakni warna alam yang dihasilkan dari aneka tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan salaon  adalah sejenis dedaunan nila yang dipergunakan sebagai pewarna ulos. Tumbuhan itu dimasukkan ke dalam periuk tanah dan direndam selama berhari-hari hingga getahnya keluar. Setelah larutan itu betul-betul sudah berubah warna, kemudian diperas dan ampasnya dibuang. Sekarang tinggallah hanya cairan berwarna kebirubiruan yang disebut itom.
Pada periuk lain yang disebut dengan pallabuan disiapkan wadah sebagai penampungan air hujan yang tertampung pada lekuk batu, yang dicampur air kapur secukupnya. Cairan berwarna hitam kebirubiruan (itom) dimasukkan ke dalam pallabuan lalu diaduk hingga larut. Setelah diaduk secara merata, ke dalam cairan inilah benang dicelupkan (disop).  Sebelum dicelup, benang dililit lebih dulu dengan benang lain pada bagian-bagian tertentu menurut warna yang diinginkan. Setelah itu, proses pencelupan dilakukan berulang-ulang hingga dihasilkan  warna yang diinginkan. Proses ini memakan waktu yang cukup lama, berbulan bulan bahkan kadang sampai bertahun-tahun.
Setelah dihasilkan warna yang diinginkan, lalu benang tersebut disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan “arabu” yang dimasak hingga mendidih sampai benang kelihatan mengkilat. Jika warna yang diharapkan sudah cukup matang, lalu lilitan benang dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat tak mudah putus. Namun sebelumnya, benang itu direndam dengan nasi lembek. Setelah cairan telah meresap ke seluruh benang, lalu benang digantung pada pangunggasan untuk diunggas. Kemudian benang dihulhul (digulung) pada galapang, gulungan berbeda. Inilah kemudian yang “diani” (dirajut), dan benang yang sudah diani inilah benang yang sudah siap ditenun.
Bila kita diperhatikan, semua proses pembuatannya ulos dikerjakan secara manual. Pekerjaan yang diawali dari pemisahan biji dari kapas hingga menjadi kain tenun dikerjakan tanpa sentuhan mesin. Warna ulos yang didominasi hitam, putih dan merah adalah warna alami yakni tanpa pewarna buatan atau sintesis (kimiawi). Pendeknya, ulos Batak Toba dihasilkan secara tradisional namun bernilai seni yang cukup tinggi.

Macam-macam ulos
Ulos Batak Toba memiliki jenis dan memiliki nilai tertentu, dipergunakan untuk maksud dan kesempatan. Iklim Tapanuli umumnya dingin. Karena itu ulos juga merupakan penghangat untuk kepentingan kesehatan dan juga untuk melindungi tubu dari rasa dingin. Jadi makna dan falsafah pemberian ulos oleh pihak hulahula kepada boru selalu mengayomi borunya, memberi perlindungan demi menjaga keselamatan dan kesehatan badaniah.
Dengan memberikan ulos sebagai satu pertanda yang dapat dilihat disertai dengan ungkapan pepatah dan petitih. Hula-hula memanjatkan doa kepada Tuhan supaya diberi rahmat kepada borunya yang menerima ulos, kebahagiaan kesehatan dan umur yang panjang serta rejeki yang berlimpah. Disamping yang lebih penting dan pokok agar diberi hagabeon yaitu anak lelaki sebagai penyambung turunan dan anak perempuan yang diharapkan mampu memberi kebahagiaan pada orang tuannya.

Jenis-jenis Ulos
Ulos Mangiring, sebagai pakaian sehari-hari, ulos ini sering dipakai laki-laki sebagai tali-tali (detar) dan untuk perempuan sering digunakan sebagai saongsaong. Ulos mangiring juga sering diberikan oleh orang tua sebagai parompa kepada cucunya agar seiring dan sejalan. Jenis ulos ini mempunyai ragi yang saling iring-beriring yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan.
Ulos Bintang marataur sebagai pakaian sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande dan juga tali-tali atau saong. Ulos ini raginya menggambarkan jejeran bintang yang tersusun secara teratur. Bintang yang berjejer tersebut adalah sebagai lambang yang menggambarkan orang yang patuh, rukun dan seia sekata dalam ikatan kekeluargaan.
Ulos Sibolang, biasanya digunakan pada saat berduka. Namun sibolang juga terkadang digunakan pada acara suka cita tetapi ada sedikit perbedaannya. Bila untuk acara duka cita warna hitamnya lebih menonjol (pekat), sementara untuk acara suka cita warna putihnya lebih menonjol.
Pada acara berduka atau acara kematian, ulos sibolang biasa disampaikan sebagai ulos saput (penutup jenajah) atau ulos tujung (ulos yang diberikan kepada suami atau istri yang meninggal. Sedangkan pada acara perkawinan, ulos ini dipakai sebagai tutup ni ampang, namun jenis ulos sibolang yang warna putihnya menonjol.  Jenis sibolang yang seperti inilah yang disebut dengan sibolang pamontari.
Ulos Surisuri ganjang, sebagai pakaian sehari-hari ulos ini digunakan sebagai hande-hande. Pada acara margondang misalnya, ulos ini digunakan pihak hula-hula untuk manggabei borunya. Dalam pesta perkawinan, ulos ini dapat diberikan sebagai ulos hela kepada pengantin. Ulos ini disebut  ulos surisuri ganjang, karena jenis ulos ini memiliki ragi berbentuk sisir memanjang.
Ulos Sadum,  di Tapanuli Selatan ulos ini biasanya digunakan sebagai ulos panjangki (kain gendong) bagi keturunan “daulat, baginda atau mangaraja”. Oleh karena ulos ini penuh dengan corak dan warna warni ceria,  sehingga cocok digunakan atau dipakai pada acara suka ria. Untuk mengundang raja bagi masyarakat Angkola-Mandailing, ulos ini digunakan sebagai alas sirih di atas pinggan godang. Selain itu, oleh karena begitu indahnya ulos ini sering juga diberi sebagai kenang-kenangan untuk tamu dan pejabat yang dihormati.
Ulos Sitoluntuho, disebut sitoluntuho karena ulos ini memiliki ragi berjejer tiga sekaligus merupakan tuho (alat yg dipakai sebagai pelobang tanah). Sebagai pakaian sehari-hari, jenis ulos ini dipakai sebagai pengikat kepala atau selendang wanita. Namun pada acara adat, ulos ini sering dipakai sebagai ulos tambahan, istlahnya disebut ulos panoropi yang diberikan pihak hula-hula kepada parboru yang sudah tergolong keluarga jauh. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada anak yang baru lahir sebagai digunakan sebagai parompa (kain gendong)
Ulos Jungkit, pada jaman dahulu ulos ini dipakai anak gadis dari kalangan keluarga raja sebagai hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Selain itu ulos ini juga dipakai pada penyambutan tamu terhormat pada upacara perkawinan.
Ulos Runjat, ulos ini biasa digunakan oleh orang kaya sebagai ulos edang-edang pada saat pergi ke undangan pesta. Selai itu jenis ulos ini dapat juga diberikan pada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi Dalihan Natolu di luar hasuhuton bolon. Disamping itu, ulos ini dapat diberikan pada acara mangupa-upa (tepung tawar)
Ulos Ragi Hotang, pada jaman dahulu, rotan adalah alat yang digunakan sebagai tali pengikat yang dianggap paling kuat dan tak mudah putus. Inilah yang dilambangkan ulos ragi hotang. Biasanya ulos ini diberikan kepada pengantin sebagai ulos hela. Dengan pemberian ulos ini diharapkan supaya ikatan batin pengantin dapat bersatu teguh seperti rotan.
Ulos Ragi idup, ulos ini dapat dipakai pada acara sukacita dan duka cita. Jenis ulos ini adalah tergolong jenis ulos yang bernilai tinggi, sehingga ulos ini sering dipakai oleh raja adat, terutama yang sudah bercucu. Biasanya pada acara perkawinan ulos ini diberikan sebagai “ulos Pargomgom”. Sedangkan pada acara orang tua meninggal ulos ini diberikan sebagai “ulos panggabei.
Bila dilihat dari segi motif dan bentuk tenunannya yang rapi, banyak yang beranggapan ulos ragi iduplah yang lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ulos jenis lain. Cara menenun ulos ini memang sangat sulit harus teliti sekali, dipercayakan kepada penenun yang sudah berpengalaman.
Ulos Ragi idup ditenun secara terpisah yang terdiri dari lima bagian, setelah itu baru disatukan menjadi satu ulos. Bagian sisi kedua ulos disebut “ambi”. Bagian tengah ada tiga bagian yaitu pinggir atas dan bawah disebut kepala ulos serta yang hampir mirip bentuknya disebut “tinorpa” dan bagian tengahnya merupakan badan ulos. Masing-masing motif memberikan arti tersendiri.

Ulos Jugia. Sesungguhnya ulos ini lah yang lebih tinggi nilainya. Jenis ulos ini tidak boleh dipakai secara sembarangan kecuali oleh orang yang memakai itu sudah saur matua.    

Penulis : Manguji Nababan      

0 Response to "MAKNA DAN PENGGUNAAN ULOS DALAM UPACARA ADAT BATAK TOBA"

Posting Komentar