Tokoh - tokoh Batak Mendaftarkan Ulos ke UNESCO

Perbincangan tentang ulos saat ini semakin santer saja. Bahkan, sejumlah tokoh Masyarakat Batak kini sudah sepakat untuk mendaftarkan Kain Ulos yang secara umum dipahami masyarakat sebagai kain tenun ikatnya masyarakat Batak ke lembaga dunia, UNESCO.
Hal itu mencuat saat Harian Kompas turut mengupasnya dengan menghadirkan Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos dan sejumlah tokoh Adat Batak di Redaksi Kompas Gramedia Jalan K.H Wahid Hasyim No 37 Medan, Kamis (4/8/2016). Berawal dari prakarsa Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos yang juga menjadi panitia Hari Ulos tahun 2016 yang berencana mengadakan sejumlah kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Ulos yang kedua.

Sejumlah upaya telah dilakukan panitia yang diketuai Enni Martalena Pasaribu untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Pada acara diskusi yang dimoderatori Manguji Nababan dan pembicara utama Prof Robert Sibarani dan Torang MT Sitorus, dikatakan Enni bahwa pada 17 Oktober 2014 Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan ketetapan bahwa Ulos menjadi warisan tak benda nasional. Sehingga pada 17 Oktober 2015 telah digelar peringatan hari ulos pertama di Jl Sei Galang Medan.
Untuk itu lah, semakin besar kerinduan para warga pecinta ulos, agar kiranya 17 Oktober menjadi hari nasional dan Ulos juga terdaftar sebagai warisan budaya dunia di UNESCO.
Dari sejumlah tokoh yang hadir seperti, Parlindungan Purba MM yang juga Ketua Komite II DPD RI, ND Malau, Mangatas Pasaribu, Jadi Pane, Robinson Nababan, RAY Sinambela, Dr RE Nainggolan MM, JP Sitanggang, Bukti Hutagalung, Drs Thompson Hutasoit dan sejumlah tokoh lainnya, menyatakan sepakat untuk mengusulkan ulos ke UNESCO.

Seperti disampaikan  Parlindungan Purba mengatakan mendukung juga menyebutkan pernah berbicara dengan pimpinan DPD mengenai keunikan ulos. Harapannya dunia akan mengenal Ulos.
“Saya sudah berbicara dengan pak Irman Gusman terkait hal ini,” ucap Parlindungan.
Sebagai akademisi dan yang paham budaya Batak serta aktif di lembaga budaya nasional Prof Robert Sibarani menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan. Persiapan daerah harus matang sebelum melangkah ke tingkat UNESCO.
Terutama tentang kesamaan perspektif tentang ulos ini harus bisa dibentuk. Karena dalam upaya mempertahankan nilai-nilai kebudayaan ada yang akan dicapai, bukan sekedar melestarikan atau melindungi ulos tapi harus mengembangkan.
Demikian halnya dengan tokoh yang aktif memperjuangkan kawasan Danau Toba ke UNESCO, Dr RE Nainggolan,M.M juga terlihat antusias dengan rencana pendaftaran ulos ke UNESCO. Ia meminta masyarakat Batak untuk bersatu.
“Pasti bisa. Kedepan kita harus bersatu. Masyarakat batak punya beragam perspektif, ini yang barus disatukan terlebih dahulu. Kita harus menerima pikiran dan mengembangkanya. UNESCO tidak akan menerima ulos kalau kita belum bersatu. Ini awal gerakan yang bagus,” ucapnya.
Dalam diskusi ini juga dibahas mengenai langkah selanjutnya sebelum menggelar seminar yang telah direncanakan panitia Hari Ulos pada tanggal 24 Agustus 2016 mendatang. Masukan dan saran yang muncul di pertemuan tersebut menjadi agenda penting bagi panitia untuk melaksanakan seminar yang akan menjadi kajian akademik tentang pengusulan Ulos ke UNESCO maupun penetapan hari ulos.
Sumber : Batak Today

0 Response to "Tokoh - tokoh Batak Mendaftarkan Ulos ke UNESCO"

Posting Komentar