Batakolog: Batak Memang Sangat Menghayati Dirinya sebagai Parjambar

Peristiwa pembunuhan Jonter Sirait yang menggemparkan akibat keributan soal jambar, masih terus jadi bahan pembincangan. Batakolog Manguji Nababan menilai jambar memiliki arti penting dalam Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang atau sekelompok orang.
“Orang Batak memang sangat menghayati dirinya sebagai parjambar,” ujar Nababan.
Menurut Manguji Nababan, secara umum ada 3 jenis jambar, yaitu hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan (jambar juhut), hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak untuk mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (jambar ulaon).
Dia menjelaskan, tiap orang Batak atau kelompok dalam masyarakat Batak (hula-hula, dongan sabutuha, boru, dongan sahuta dll) sangat menghayati dirinya sebagai parjambar. “Ini yang mendasari bila ada orang Batak yang tidak mendapatkan atau merasa disepelekan soal jambarnya maka dia bisa marah besar,” jelasnya.
Menurut Manguji, persoalan jambar pada hakikatnya bukan pada nilai atau besar bagian daging yang diterima tetapi lebih kepada penghargaan. Sering ditemukan ada perdebatan serius dalam sebuah pesta ketika pembagian jambar tidak sesuai. Tentunya sangat disayangkan jika memang pembagian jambar berujung pada kekerasan.
“Sangat disesalkan jika akibat pembagian jambar terjadi aksi kekerasan. Karena dalam ada Batak dilandasi konsep dalihan natolu, harusnya diutamakan konsep musyawarah mufakat. Parjambaron memang harus dijalankan tetapi harus melalui mufakat. Arga pe jambar juhut, umarga jambar hata. Ini mengartikan bahwa penghargaan atau pengakuan terhadap hak seseorang itu sangat penting di adat Batak,” ungkap Batakolog UHN tersebut.
Hal senada disampaikan salah seorang pemerhati adat Batak di Siantar, James Hutasoit. Dia mengatakan, parjambaron (juhut) dalam batak juga tergantung pada jenis acaranya. Apakah untuk kemalangan atau justru pesta pernikahan. Kemudian secara detail juga ada perbedaan pemotongan jambar di beberapa daerah. Ada yang disebut dengan namarngingi, osang, ihur-ihur, soit, somba-somba dan panambolik.
James menilai jambar juhut ini merupakan simbol bahwa setiapborang berhak mendapat bagian berkat yang diberikan Tuhan. Sebab itu bukan potongan daging (atau tulang) itu yang terpenting tetapi pengakuan akan keberadaan dan hak tiap-tiap orang.
Sebab itulah, katanya, dalam even pertemuan Batak bukan hanya hasil pembagian hewan itu yang penting tetapi terutama proses membagi-baginya (acara mambagi jambar). Sebab proses pembagian jambar itu pun harus dilakukan secara terbuka (transparan) dan melalui perundingan dan kesepakatan dari semua pihak yang hadir dan tidak boleh langsung diputuskan tuan rumah atau seseorang tokoh.
“Jolo sineat hata asa sineat raut. Setiap kali potongan daging atau juhut diserahkan kepada yang berhak maka protokol (parhata) harus mempublikasikan (manggorahon) di depan publik. Selanjutnya setiap kali seseorang menerima jambar maka ia harus kembali mempublikasikannya lagi kepada masing-masing anggotanya bahwa jambar (hak) sudah mereka terima,” tandasnya. 
sumber : metro siantar

0 Response to "Batakolog: Batak Memang Sangat Menghayati Dirinya sebagai Parjambar"

Posting Komentar